
Rahang Gio mengeras ketika mendengar penjelasan Sarah. Yang membuat Gio marah adalah Aksa ditampar lagi di depan umum. Itu yang akan membuat Aksa tidak mudah untuk melupakan masa lalunya.
"Siapa yang melakukannya?"
"Gua gak tahu, Ziva cuma cerita kalo Aksa ditampar sama cewek."
Gio menatap Remon dan seketika Remon mengangguk. Dia tahu apa yang diinginkan oleh bosnya ini.
"Lu ke sini cuma mau ngomong itu doang?" tanya Gio yang akan berdiri dari duduknya.
"Kagak, mau nawarin diri jadi dokter kandungan anak sambung lu," imbuh Sarah.
"Anak gua masih di London. Kemungkinan bulan depan baru balik ke sini."
"Ya gak apa-apa, dari pada dia ke dokter yang lain," ucap Sarah.
"Gratis."
"Sembarangan!" seru Sarah.
"Gua nawarin diri karena gua pengen dibayar lebih sama lu," jelas Sarah.
"Temen model apaan lu. Di mana-mana kalo sesama teman ada harga persahabatan," balas Gio.
"Gak ada begitu-begituan," tolak Sarah.
"Ck, terserah lah. Mending lu sekarang pergi. Gua masih banyak kerjaan," usir Gio.
"Giliran gua datang lu usir-usir, giliran bini lu datang gak boleh pergi," oceh Sarah dengan mulut bak Donald bebek.
"Ya iyalah. Bini gua mah gak bakal gua usir. Lah lu? Siapa lu?"
"Kampret emang!" seru Sarah. Gio hanya tertawa dan dengan hanya menggunakan kode, Remon segera membawa Sarah keluar dari ruangan Gio.
Makian terlontar dari mulut Sarah untuk Remon. Tapi, tak digubris olehnya. "Percuma gua ladenin lu. Sama-sama gak waras gua," gumam Remon.
Ketika Remon masuk, Gio sedang terlihat berpikir akan kejadian yang menimpa putra sulungnya.
"Kira-kira siapa yang menampar Aksa?" tanyanya pada Remon.
"Apa jangan-jangan ...."
"Selesaikan pekerjaan ini dulu, Bos. Sebentar lagi kita akan meeting."
Gio mendengus kesal mendengar perintah Remon. Ya, kali ini memang benar ucapan Remon. Dia harus fokus kepada pekerjaan terlebih dahulu. Setelah itu baru memikirkan tentang Aksa.
Di lain tempat, setelah perdebatannya dengan Amanda. Rion menuju kamar Riana. Dilihatnya Riana yang sedang murung. Rion mencoba mendekat dan mengusap lembut punggung putrinya.
"Jika, kamu menginginkan Aksa bersanding dengan kamu. Ubah sikap kamu." Sebuah kalimat yang terdengar seperti perintah di telinga Riana.
"Ada apa sih, Yah, dengan sikap, Ri? Apa karena, Ri tidak seperti Kakak, iya?" sahut Riana dengan suara yang sedikit meninggi.
"Membandingkan kamu dengan Kakak kamu hanyalah sia-sia. Kakakmu adalah permata yang berharga bagi Ayah. Sedangkan kamu, permata imitasi yang Ayah miliki."
"Parasmu memang cantik, tapi hati dan sikapmu tidak mencerminkan seperti wanita cantik dan baik. Ingat, Aksa adalah berlian hitam. Jika, kamu menginginkan dia, ukur dirimu. Mampukan kamu membeli berlian itu?"
"Kamu ingin berlian, berarti kamu harus jadi permata di mata keluarga Aksa." Rion berlalu meninggalkan Riana yang sedang mencerna kata-kata dari sang ayah.
Namun, hanya pikiran buruk yang muncul di kepala Riana. Ayahnya selalu menganak tirikan dirinya. Begitulah pikiran picik Riana. Hanya Echa dan Iyan yang Ayahnya sayang. Padahal, sifatnya lah yang membuat Rion berbeda. Jika, mendengarkan Riana sikap temperamennya akan muncul. Dan dia tidak ingin menyakiti anaknya.
Terkadang Rion merenungi jalan hidupnya ketika semua orang sudah terlelap. Apa salah dirinya sehingga harus menghadapi sikap Riana yang sungguh menguras emosi. Diam, itulah yang Rion lakukan. Bukan berarti tidak perhatian. Hanya saja, memperhatikan Riana dari jauh.
Dan Riana yang sudah menampar Aksa pun sudah Rion dengar dari mulut Beeya dan juga Keysha. Ingin rasanya Rion marah kepada Riana. Tapi, dia harus bisa meredam emosinya. Riana masih labil. Meskipun, labilnya sudah keterlaluan. Apalagi, anaknya itu selalu saja dilindungi oleh sang bunda.
Malu, satu kata yang Rion rasakan kepada keluarga Giondra. Dia tidak mampu mendidik Riana dengan baik. Sedangkan Gio dan mantan istrinya mampu mendidik si kembar menjadi anak-anak yang luar biasa.
Di kediaman Gio, Aksa pulang dengan wajah lesu. Dan dia segera masuk ke dalam kamarnya. Ketika dia membuka kamar, sudah ada si bocah petikilan di kamarnya dengan senyuman yang mengembang dengan sempurna.
"Gimana?" tanya Beeya.
"Air mata buaya," balas Beeya.
"Kok kamu suudzon sih," tegur Aksa kepada Beeya.
"Gak suudzon, emang kayak gitu. Sekarang nangis-nangis. Besok aja ada ide gila di kepalanya," terang Beeya.
"Entahlah, Abang lelah. Abang ingin segera pergi ke London."
Beeya segera memeluk erat tubuh Aksa. "Kalo Abang pergi, Bee sama siapa?"
"Kakak masih ada di sini. Lagi pula, Kak Echa juga akan tinggal di sini bersama anak-anaknya juga." Senyum Beeya mengembang mendengar nama Echa.
Keharmonisan keluarga hanya didapat oleh Gio dan Ayanda, Kano dan Sheza serta Arya dan Beby. Tidak untuk Rion, yang nasibnya sangat miris.
***
Rion menghampiri Iyan di gazebo. Dengan cepat Iyan memeluk tubuh Rion. Membuat Rion merasa heran dengan Iyan.
"Kenapa, Yan?" tanya Rion sambil membalas pelukan putra semata wayangnya.
"Bunda selalu saja bersikap lembut terhadap Kak Ri. Sedangkan kepada Iyan ...."
"Iyan gak boleh iri, kasih sayang Bunda kepada Kak Ri dan juga Iyan pastilah sama. Mungkin Kakak sedang ingin bermanja dengan Bunda." Sebisa mungkin Rion memberikan pengertian kepada Iyan agar dia tidak membenci bundanya. Bagaimana pun Iyan terlahir dari rahim Amanda.
"Kakak terlalu cengeng," ucap Iyan dengan begitu lantangnya.
"Dan Iyan gak suka dengan sikap pemaksa Kakak. Berbeda dengan Kak Echa. Kak Echa tidak pernah berkata kasar sama Iyan. Kak Echa selalu sayang sama Iyan," keluhnya.
Sakit mendengarnya. Sebisa mungkin, Rion harus menenangkan putranya ini. Dia tahu, Iyan menyimpan sedikit iri kepada Riana. Karena Iyan tidak bisa dekat dengan sang bunda. Bundanya lebih memilih memanjakan Riana dibanding Iyan. Iyan juga ingin seperti Riana bermanja dengan sang bunda. Tapi, apalah daya Iyan. Iyan lebih memilih diam daripada harus berdebat dengan kakak perempuannya.
"Meskipun kamu tidak bisa bermanja dengan Bunda. Masih ada Ayah dan juga Kak Echa. Anggap saja, Kak Echa adalah Bunda kedua kamu."
"Ucapan Ayah sama persis seperti kakak. Iyan sayang Ayah dan sayang Kakak," lirihnya.
Bibir Rion mampu tersenyum dalam hatinya dia menangis. Ingin rasanya dia membawa Iyan ke rumahnya yang berada di dekat rumah Ayanda. Tapi, Rion tidak ingin adanya pertengkaran. Rion berharap, Echa akan cepat pulang dan dia bisa memberikan pengertian demi pengertian terhadap Iyan. Iyan anak yang cerdas dan mandiri. Serta bisa berpikir dewasa. Sehingga Gio sangat menyukai Iyan.
Keesokan harinya, di kediaman Giondra sarapan terasa hening. Tidak ada obrolan di antara mereka.
"Bang, kalo ada yang macam-macam sama kamu. Bilang sama Daddy."
Aksa dan Aska terdiam. Mereka saling pandang dan Aska sedikit mengangkat bahunya. Karena bukan dia lah yang memberitahu akan hal itu kepada Daddy.
"Kamu memang terikat janji akan menjaga dan melindungi wanita. Tapi, kalo wanitanya kurang ajar. Kamu juga harus bertindak tegas. Daddy tidak ingin melihat putra kebanggan Daddy terpuruk lagi," pungkasnya.
Aksa mengangguk patuh tanpa berani menatap Giondra. "Hal ini berlaku bukan hanya untuk Abang. Ini juga berlaku untuk kamu, Dek." Aska ikut mengangguk pelan. Dan Ayanda hanya terdiam.
"Inilah alasan Daddy kenapa melarang kalian untuk pacaran. Daddy tidak ingin harga diri kalian diinjak-injak bagai keset. Daddy ingin membentuk kalian menjadi pria hebat agar tidak bisa ditindas oleh siapapun."
"Siapapun yang berani menyentuh kalian. Mau itu perempuan atau laki-laki, Daddy akan bertindak tegas. Bukan karena Daddy mempermasalahkan hal kecil. Tapi, Daddy merasa terhina. Semarah-marahnya Daddy, Daddy tidak pernah sampai main tangan kepada kalian. Apalagi menyakiti anggota tubuh kalian."
Deg.
Jantung Aksa dan Aska berdetak lebih kencang ketika mendengar keseriusan ucapan Daddy mereka. Tidak biasanya, Daddy mereka berbicara seperti ini. Setelah selesai sarapan, si kembar pamit kepada Mommy dan Daddy mereka. Tak lupa, mereka mencium tangan kedua orangtua.
Ayanda dan Gio masih berada di meja makan. Dan Gio menatap ke arah istrinya. "Apa Mommy tahu tentang Aksa?" Hanya anggukan yang Ayanda berikan. "De Javu," lanjut Ayanda.
"Mommy tahu orangnya?" Ayanda menggeleng. "Adek tidak melanjutkan ceritanya," jawab Ayanda.
"Tapi, Daddy curiga kepada satu orang."
"Siapa?" tanya Ayanda sangat cepat.
Gio tersenyum lalu menguap lembut rambut istrinya. "Nanti juga Mommy tahu."
****
Happy reading ...