
Ponsel Rion terus saja berdering, namun sama sekali tidak dihiraukannya. Ucapan Ayanda mampu membuatnya lemah tak berdaya. Jika dia menuruti permintaan seseorang yang tengah terbaring di ranjang pesakitan, berarti dia harus rela menjauh dari hidup Ayanda dan juga Echa. Walaupun dia tahu, Ayanda pasti tidak akan pernah memisahkannya dengan Echa.
Hidup Rion pun tidak akan kekurangan malah hidupnya semakin terjamin. Setengah dari semua usaha atas nama Ayanda akan diberikan kepada Rion dengan cuma-cuma. Apalah artinya harta jika pada akhirnya membuatnya menderita.
"Aku harus mencarimu, harus." Tekad Rion sudah bulat. Dia akan terus mencari Sheza kemana pun.
Sedangkan di apartment Gio, istrinya sudah tertidur setelah meluapkan semua emosinya. Suara bel berbunyi. Gio hanya mendengus kesal, siapa lagi yang kali ini berkunjung ke rumahnya.
"Hai Kak," sapa pria tampan dibalik pintu.
"Kano." Gio langsung memeluk tubuh Kano dan mengajaknya masuk.
Dua gelas minuman kaleng sudah ada di hadapan mereka. Belum ada yang memulai obrolan. Hanya baru sekedar basa-basi.
"Kak, Kano boleh nanya gak?" ucap Kano dengan hati-hati.
Gio hanya tersenyum ke arah sepupunya ini. Sifatnya yang tidak enakan masih tidak berubah.
"Apa? Ngomong aja," jawab Gio setelah meneguk minumannya.
"Apa salah Kano mencintai wanita yang mencintai orang lain?" tanyanya.
"Tidak ada yang salah selagi buku nikah belum di tangan. Kalo kamu benar-benar cinta sama dia kejarlah dan berjuanglah," jawab Gio yang kini menatap sepupunya yang tumbuh menjadi pria tampan.
"Jika dia tidak membalas cinta Kano gimana?"
"Disitulah keikhlasan hatimu diuji. Kamu harus menerima dengan lapang dada. Setidaknya kamu pernah berjuang tidak hanya jadi pecundang," balas Gio.
Kano tersenyum mendengar ucapan Gio, sangat dewasa berbeda dengan Gio sewaktu muda.
"Pantas saja perjuangan Kakak selama ini tidak sia-sia. Mendapatkan wanita yang Kakak inginkan karena ketulusan hati Kakak," puji Kano.
Gio memicingkan matanya. "Kamu tau darimana?" tanyanya.
"Kemarin aku ada urusan ke Singapur, aku mampir ke rumah Paman dan Paman menceritakan semuanya tentang Kakak dan juga istri Kakak," jawabnya.
Gio hanya tertawa, Ayahnya sekarang sudah bahagia melihat dirinya menikah dengan wanita yang sangat dia cintai.
"Siapa wanita yang kamu cintai itu?" tanya Gio.
"Dia ...."
Ponsel Kano berdering, dan dengan cepat dia menjawabnya.
"Kak, maaf aku harus pergi. Ada interview karyawan baru di restoran baru aku," ujarnya.
Kano pun pamit meninggalkan Gio dan tak lupa menitip salam untuk istri dari kakak sepupunya.
Di tempat lain, Sheza merasa sedikit lega karena lamaran kerjanya sudah diterima. Tinggal satu tahapan lagi bertemu dengan Bossnya.
"Semoga Bossnya baik dan aku bisa langsung kerja di sini," gumamnya.
Dari kejauhan Azka menajamkan penglihatannya. "Sheza," gumamnya.
"Apa ....?"
Azka langsung menelepon seseorang. Setelah pembicaraannya selesai Azka menghampiri Sheza.
"Hay," sapa Azka dengan tersenyum manis.
"Azka?" Sheza terkejut dengan kehadiran Azka dihadapannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Azka heran.
Azka mengerutkan dahinya seolah meminta penjelasan lebih dari Sheza. "Aku sudah resign dari kantor itu," lirihnya.
"Karena Bossmu?" sergap Azka.
"Jika aku masih berada di sana aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku ingin bahagia," ujar Sheza yang menatap ke arah Azka.
"Jika dia memang serius kepadamu, dia tidak akan pernah membuatmu menangis hingga terluka seperti ini," balas Azka seraya menggenggam tangan Sheza.
Seorang pegawai memanggil Sheza untuk bertemu manager restoran karena sang pemilik restoran tidak bisa datang.
"Doakan aku," ucapnya pada Azka.
Di kantor Rion, Arya baru saja turun dari mobilnya namun sudah ada makhluk yang enggan sekali dilihatnya. Dengan langkah cepat dan wajah angkuh Arya memasuki kantor.
"Arya," panggil Dinda.
Arya sama sekali tidak menggubris panggilan itu. Kakinya terus melangkah hingga tarikan baju belakangnya menghentikan langkah Arya.
Ck,
"Arya aku mohon tunggu dulu," ucap Dinda.
Arya hanya diam, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya ataupun membalikkan badannya.
"Rion ada kan di dalam, kenapa dia tidak mau manemuiku?" tanya Dinda.
"Lu gak liat gua baru aja datang," sarkasnya.
"Itu mobil Rion ada di depan," balas Dinda.
"Punya otak tuh pake buat mikir bukan hanya buat dipake mikir ngeruk harta orang dan merebut suami orang." Ucapan pedas Arya mampu membungkam mulut Dinda.
"Kalo Rion gak mau nemuin lu, berati dia udah sadar wanita mana yang harus dia perjuangkan," lanjut Arya dan langsung meninggalkan Dinda.
Arya langsung membuka pintu ruangan Rion, dilihatnya pria bodoh yang sedang tenggelam dalam kepiluan.
"Ada apa lagi?" tanya Arya dengan membanting map dihadapan Rion.
"Sheza pergi," lirihnya.
Arya hanya menghela nafas kasar. Dalam hatinya Arya sedanh memaki-maki sahabatnya.
"Biarin deh dia pergi, setidaknya dia gak bernasib kayak Ayanda. Kasian gua ngeliat cewek yang ujung-ujungnya lu sakitin. Terlebih lu nyakitinnya dengan masa lalu lu lagi dan lagi," geram Arya.
"Tuh masa lalu ada di bawah. Sonoh temuin, muak gua ngeliatnya." Arya berucap dengan sangat kesal.
Akhirnya, Rion pun menemui Dinda dengan wajah pilu yang tidak bisa dia tutupi.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Dinda yang kini melingkarkan lengannya di lengan Rion.
"Tolong jangan ganggu aku untuk beberapa hari ini," ujar Rion datar.
"Tapi Mas Er ...."
"Katakan pada suamimu, aku butuh waktu sendiri," tegasnya. Rion pun meninggalkan Dinda, dia pun melajukan mobilnya.
***
Happy reading ...