
Senja sudah menampakkan wajahnya, dan semua orang rumah nampak panik karena Echa belum juga kembali ke rumah setelah jam pulang sekolah berakhir. Amanda mencoba terus menghubungi Echa namun, selalu operator yang menjawabnya.
Mereka semua bingung harus bagaimana sekarang. Jika, Rion tahu pasti dia akan marah besar. Benar saja, melihat orang rumah yang hanya terdiam ketika ditanya membuat amarahnya muncul.
Rion mencoba untuk menghubungi Mima dan Sasa. tenyata Echa tidak ada di sana. Sekarang, Rion mulai panik sendiri. Dia sendiri bingung, harus mencari Echa kemana. Yang dia tahu hanya rumah Mima dan Sasa tempat Echa bermain.
"Dimana kamu, Dek?" gumam Rion dengan wajah paniknya.
Rion meminta nomor Riza kepada Sasa. Setelah Sasa mengirimkan nomor yang Rion minta, dia langsung menghubungi Riza. Hanya operator yang menjawab panggilannya.
"Pasti jalan sama Riza," tebak Rion.
"Jangan suudzon dulu," balas Amanda.
Ketika suasana mulai sedikit panas, pintu rumah terbuka. Echa baru saja tiba di rumahnya. Wajah geram Rion sangat terlihat jelas. Secara spontan, Echa menundukkan kepalanya.
"Dari mana kamu? Jalan sama Riza, iya?" bentaknya.
Echa hanya diam, dia sudah memprediksi ini akan terjadi. Ayahnya pasti akan marah.
"Bang, ngomongnya pelan-pelan," ujar Amanda.
"Sejak kapan kamu jadi anak pembangkang?" tanya ayahnya dengan nada sedikit tinggi.
Jika Echa bisa membangkang, akan Echa terima pernyataan cinta Riza tadi, jawabnya dalam hati.
"Ayah melakukan ini semua untuk kebaikan kamu, apa Ayah salah?" Semua yang berada di ruangan itu terdiam.
"Salah," jawab seseorang dengan lantangnya.
"Yang lu lakuin itu udah nyakitin hati anak lu sendiri," ucap Arya lagi.
"Ayah yang baik gak akan pernah membiarkan anaknya menangis." Arya berlalu meninggalkan Rion dan mengajak Echa ke kamarnya.
"Om, makasih," ucap lirih Echa.
"Jangan nangis lagi. Boleh kok sesekali lu bantah emak bapa lu," ujar Arya.
"Nggak Om. Echa udah berjanji kepada Tuhan jika, Mamah dan Ayah bersatu lagi dan kita menjadi keluarga bahagia. Echa gak akan pernah membantah sedikit pun ucapan kedua orangtua Echa. Merekalah yang Echa pinta di dalam setiap doa Echa," jelasnya.
Hati Arya benar-benar terenyuh mendengar ucapan Echa. Dia pun langsung memeluk tubuh Echa.
"Sekarang lu istirahat." Echa hanya mengangguk pelan.
Arya menutup pintu kamar Echa dan dia pun menuju lantai bawah. Dilihatnya Rion yang sedang duduk di sofa. Langkah Arya terhenti, memandang Rion dengan tatapan sinis.
"Kenali anak lu lebih dalam sebelum lu menyesal." Arya pun pergi dari kediaman Rion setelah mengatakan itu.
Echa menatap ponselnya nanar. Sedari tadi ponselnya dia matikan dan dia lebih memilih mengambil ponsel miliknya yang lain di apartment Papa dan Mamanya dengan meminta antar kepada Arya.
Ya, Arya bertemu Echa di danau. Arya dapat merasakan betapa sedihnya keponakannya yang satu ini. Hingga Arya terus mengikuti Echa dan mencoba menenangkannya.
"Cha, Bunda boleh masuk?" tanya Amanda di balik pintu kamar Echa.
"Masuk aja, Bun," jawabnya.
Amanda hanya menghela napas kasar melihat anak sambungnya sedang menatap ponselnya dengan wajah sendu.
"Kamu kemana tadi?" tanya Amanda lembut.
"Echa ke danau terus ketemu Om Arya dan ngambil hape ini di apartment Papa," jawabnya dengan masih fokus ke ponselnya.
"Ponsel ini?" Tunjuk Amanda ke ponsel yang dibelikan Rion belum lama ini.
"Disitu terlalu banyak kenangan, Echa gak sanggup kalo harus melihatnya," sahut Echa lirih.
"Cha." Amanda menggenggam tangan Echa. Menatap mata putrinya yang menyiratkan banyak kesedihan.
"Echa sudah menolaknya, Bun. Dan Echa juga udah minta maaf ke Tante Marta."
"Biarlah nantinya Echa akan dibenci oleh Riza dan juga Mamahnya. Itu tidak lebih menyakitkan jika, Echa dibenci oleh ayah kandung Echa sendiri," jelasnya.
Seandainya kamu mendengar ini, Bang. Masih kah kamu melarang Echa untuk membahagiakan sahabatnya sendiri?
Di depan kamar, Rion hanya dapat menyandarkan kepalanya di dinding. Mendengar ucapan Echa membuatnya sangat bersalah. Dia hanya berperan sebagai seorang ayah yang ingin melindungi anaknya.
Keesokan harinya, Echa terus mencari keberadaan Riza dalam diamnya. Namun, hingga jam pelajaran selesai dia tidak pernah melihat Riza.
Sudah tiga hari ini, Riza tidak pernah nampak di sekolah. Radio sekolah pun hanya diisi oleh suara Adit bukan Riza.
"Si Riza kemana, ya? Udah 3 hari ini gak ke sini?" tanya Mima.
"Kata Adit sih, dia mau pindah sekolah," jawab Sasa. Sontak Echa tersedak air yang sedang dia minum.
Gua udah jahat sama lu, Za. Maaf, kata hati Echa.
Baru saja Echa menginjakkan kakinya di di rumah, Bundanya sudah menyambutnya dengan senyuman sumringah.
"Temani Bunda ke mall, ya," pinta Amanda.
"Echa lelah Bun," sahut Echa.
"Ya ... padahal Om Jun pengen ketemu kamu banget loh." Mendengar nama Om Jun dengan cepat Echa menganggukkan kepalanya.
Amanda banyak sedikit menceritakan tentang Juna kepada Echa. Echa merasa sangat kagum kepada Juna dan ingin sekali bertemu dengan sosok pria yang sangat menyayangi bundanya.
Setibanya mereka di mall, Echa dan Amanda segera menuju ke food court karena Juna menunggu mereka di sana.
"Hai, Kak Jun," sapa Amanda seraya mencium tangan kakaknya.
"Nda." Juna melihat ke arah Echa dan dia mengerutkan kedua alisnya seolah bertanya kepada Amanda.
"Dia putri sambung Nda, Kak."
"Cantik banget kamu," puji Juna dan disambut senyuman manis Echa.
Mereka pun berbincang ringan layaknya adik kakak dan juga keponakan. Gelak tawa kadang pun terdengar karena Juna mampu mengimbangi kegilaan Echa dan juga Amanda.
"Kak Jun juga lagi nunggu keponakan ganteng Kak Jun. Dia lagi patah hati karena ditolak cewek dan untuk obat penawarnya minta dibelanjain," terang Juna sambil tertawa.
"Ih enak banget jadi ponakan Om. Mending tiap hari patah hati biar dibelanjain terus," canda Echa. Mereka pun tertawa sambil menikmati hidangan yang sudah mereka pesan.
"Echa ke toilet dulu, ya," pamit Echa.
Setelah Echa pergi ke toilet, seorang anak remaja menghampiri meja Juna dan juga Amanda. Dia menyapa kedua orang yang lebih tua darinya dengan sangat sopan.
"Gantengnya," puji Amanda.
"Makasih, Tante."
"Pesan makanan dulu sana, baru kita belanja." Anak remaja itu pun menuruti perintah Juna.
Amanda terus saja memperhatikan keponakan dari kakaknya. Dia pernah melihat anak itu tapi, lupa bertemu di mana. Akan tetapi, keadaan anak remaja itu terlihat lebih kurus.
"Kenapa Nda?" tanya Juna.
"Keponakan Kak Jun seperti pernah Nda lihat," jawabnya.
"Dia memang senang bermain ke mall. Mungkin tanpa sengaja kamu melihatnya di mall." Amanda hanya menganggukkan kepalanya.
Echa sudah kembali dari toilet. Dia sudah bergabung dengan Om dan bundanya. Echa sedang fokus dengan ponselnya hingga tak menyadari sudah ada orang baru di meja mereka.
"Lama banget antrinya," ucap keponakan Juna.
Seketika Echa terdiam, suara yang sangat dia kenali. Suara yang sudah tiga hari ini dia rindukan. Dengan pelan Echa menegakkan kepalanya. Matanya nanar ketika melihat seseorang yang ada di depannya. Sahabat yang sangat dia rindukan.
****
Happy Reading ....