
Sudah beberapa hari ini, kepala Amanda terasa berat. Badannya terasa lemas dan sering pusing. Mual, muntah pun kadang terjadi.
"Sayang, kamu di kamar aja, ya. Gak usak ke meja makan. Biar aku yang ngambilin sarapan buat kamu."
Amanda mengangguk, Rion membantu Amanda untuk naik lagi ke tempat tidur. Melihat keadaan Amanda seperti ini membuat Rion sedih. Ternyata tidak mudah hamil itu.
"Ibu tidak makan, Pak?" tanya Mbak Ina yang hanya melihat Rion keluar kamar seorang diri.
"Kepalanya pusing Mbak, siapkan makanan untuk Ibu dan setelah saya sarapan akan saya bawa ke kamar." Mbak Ina menuruti semua perkataan Rion.
Sepuluh menit berselang, Rion telah selesai dengan sarapannya dan langsung membawa nampan yang sudah ada dua piring. Yang satu berisi buah-buahan dan yang satunya lagi berisi sarapan untuk Amanda. Tak lupa, susu ibu hamil.
"Sayang, makan dulu, ya."
Rion duduk di samping Amanda dan menyuapinya dengan telaten. Tak dia hiraukan waktu sudah semakin siang. Yang terpenting, istrinya mau makan. Sudah dua hari ini dia mendapat info dari Mbak Ina, jika Amanda susah makan.
"Udah," tolak Amanda ketika sendok sudah berada di depan mulutnya.
"Baru sedikit loh, Yang."
"Enek." Amanda kembali bersandar di atas kepala ranjang.
Rion menyentuh dahi Amanda dengan punggung tangannya. Suhunya normal, namun Amanda sering mengeluh pusing dan kepalanya berat.
"Kita ke dokter, ya."
Amanda menggeleng, Rion menatap Amanda dengan penuh rasa iba. Mengandung bukanlah perkara yang mudah, melihat istrinya seperti ini sepertinya Rion akan melarang Amanda untuk hamil lagi.
"Abang gak tega ninggalin kamu dalam keadaan kayak gini," ujar Rion.
Perut Amanda seperti diaduk-aduk, mual dan ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah mendesak.
"Uwek." Rion yang hendak mencium kening Amanda malah terkena muntahan Amanda.
"Maaf, pakaian Abang jadi kena muntahan Manda." Rion hanya tersenyum, tak dia hiraukan pakaiannya. Dia langsung mengambil tissue basah dan mengelap mulut Amanda. Tidak ada rasa jijik di hatinya.
"Udah mualnya?" Amanda hanya mengangguk. Amanda hendak mengambil tisu basah yang Rion pegang namun, dilarang olehnya.
"Gak apa-apa, Sayang. Abang bisa ganti baju, kok. Kami istirahat, ya. Abang ganti baju dulu."
Setelah selesai ganti baju, dilihatnya Amanda sedang terlelap tanpa hijab. Wajahnya terlihat sangat pucat. Ingin rasanya dia menemani istrinya hari ini, namun ada pertemuan penting dan dia harus berangkat ke Bogor.
Rion menghampiri Amanda, mengecup lembut keningnya. Dan dia pun beralih ke bawah, ke perut buncit istrinya.
Rion pergi tanpa membangunkan Amanda. Melihatnya seperti itu membuat hati Rion menangis dan bersedih.
Setelah satu jam berselang, Amanda membuka matanya. Matanya mencari suaminya, tapi tidak ada.
Ketukan pintu membuatnya mengalihkan pandangannya. Mbak Ina datang dengan membawa teh hangat dan juga segelas jus.
"Bapak sudah berangkat, Bu. Beliau menyuruh saya untuk menemani Ibu," ucapnya.
Amanda pun tersenyum, lalu Mbak Ina masuk ke kamar majikannya.
"Mbak, kenapa ya akhir-akhir ini kepala saya berat dan sering pusing. Badan juga lemas banget," ujar Amanda.
"Kalo udah hamil besar biasanya seperti itu Bu, tapi lebih baik Ibu periksakan kandungan dan juga kondisi Ibu ke dokter. Supaya Ibu dan calon bayi Ibu tetap sehat."
Ponsel Amanda berdering, seulas senyum hadir di wajah Amanda.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Maaf ya, Abang gak bangunin kamu tadi. Liat kamu tidur nyenyak gak tega banguninnya."
"Iya gak apa-apa, Bang."
"Hari ini Abang pulang malam, ya. Abang harus ke Bogor."
"Iya, hati-hati, Bang."
Panggilan pun berakhir, Amanda menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
"Mbak, tolong pijit kaki saya."
Selama dipijat oleh Mbak Ina, Amanda merasakan sentuhan hangat ibundanya. Tak terasa, air matanya pun menetes.
Manda kangen Mamih. Apa Manda bisa melahirkan cucu Mamih dengan selamat?
****
Happy reading ...
Mon maap, up-nya sedikit. 🙏
Jangan lupa jempolnya dong sama komennya, 2 hal itu melebihi uang recehan yang aku dapat setiap hari.