Bang Duda

Bang Duda
256. Tidak Berkelas (Musim Kedua)



Di rumah sakit.


Amanda dan Rion baru saja daftar untuk bertemu sebuah dokter kandungan. Berhubung Rion daftarnya sudah siang hari, maka dia mendapat nomor antrian paling terakhir. Karena tadi Rion harus menemui rapat penting dahulu.


"Yang, maaf dapat antrian terakhir," sesal Rion.


"Gak apa-apa, Bang," jawab Amanda dengan seulas senyum.


"Masih lama ini, kita makan dulu, ya. Abang lapar." Amanda pun mengangguk.


Namun, sebelum ke restoran. Amanda izin untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Karena dia sudah tidak tahan. Tak sengaja, Amanda menabrak seorang wanita berhijab seperti dirinya.


"Maaf," ucapnya.


Si wanita itu hanya terdiam melihat Amanda. Seakan wanita itu mengenal Amanda. Namun, tak Amanda hiraukan karena dia sudah tidak bisa menahan air seninya berlama-lama.


Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Amanda bergegas menuju sang suami. Dia takut Rion terlalu lama menunggu dirinya.


"Bang maaf, Manda lama ya," sesalnya.


"Gak kok. Abang juga baru selesai berbincang dengan dokter yang Abang kenal."


Mereka pun menuju restoran yang tak jauh dari rumah sakit. Rion menggandeng mesra tangan Amanda. Karena banyak sekali yang menatap Rion dengan penuh kekaguman.


"Berasa jalan sama artis, banyak fans-nya'" Amanda mencoba menggoda sang suami, tapi wajah Rion nampak sekali kesal.


"Ngejek lagi Abang cium di depan umum kamu," ancamannya.


Amanda pun akhirnya terdiam dan pasrah menerima perlakuan manis suaminya di depan banyak orang.


"Bang, kata Pak ustadz jangan keseringan mengumbar kemesraan. Kita juga harus menjaga perasaan orang lain. Meskipun kita sudah halal tapi, tetap tidak boleh," bisiknya.


Tanpa mereka sadari, bisikan Amanda terdengar hingga ke telinga seseorang yang merasa tersinggung atas apa yang dikatakan Amanda kepada suaminya.


Wanita itu terus menatap Amanda dan juga Rion dengan tatapan yang sangat tidak suka. Apalagi perlakuan Rion yang sangat manis kepada Amanda membuat hatinya semakin terbakar.


Ponsel Rion berdering, suasana di restoran ini nampak sekali ramai sehingga suara diseberang telepon sana tidak terdengar jelas.


"Yang, Abang angkat telepon dulu ya di luar." Amanda pun mengangguk.


Tatapan tajam masih mengarah ke arah meja Amanda. Hingga bisikan temannya pun terdengar, "maju, lalu singkirkan."


Wanita itu pun menghampiri Amanda dan dengan sengaja menumpahkan minumannya hingga membasahi gamis yang dikenakan oleh Amanda.


"Maaf," katanya.


"Gak apa-apa, Mbak." Amanda pun menatap ke arah wanita itu dan dia teringat kejadian di rumah sakit. Wanita itu yang Amanda tabrak.


"Mbak, maaf tadi saya sudah menabrak Mbak," ucap Amanda tulus.


"Iya gak apa-apa Mbak. Boleh saya duduk di sini?" Amanda pun mengangguk ramah.


"Sepertinya Anda tidak sendiri di meja ini," ujarnya.


"Iya, saya sama suami saya. Tapi, suami saya sedang keluar untuk mengangkat telepon dari rekan bisnisnya," jelas Amanda.


"Aish, kenapa Mbak membiarkannya begitu saja? Lelaki sekarang banyak bohongnya loh, Mbak. Ngaku telpon dari teman tapi nyatanya dari wanita idaman lain."


Amanda hanya tersenyum mendengar ucapan dari wanita yang baru saja dia kenal ini.


"Oh iya, ngomong-ngomong nama Mbak siapa?" Mereka sudah banyak mengobrol namun, belum sempat berkenalan.


"Dea, nama saya Dea," ucapnya.


"Manda, senang saya bisa bertemu dengan Anda."


Tiba-tiba ponsel Amanda berdering, panggilan masuk dari suaminya.


"Iya Bang."


.....


"Oh ya udah, hati-hati."


......


"Iya, nanti Manda pulang naik taksi online aja," pungkasnya.


Panggilan telepon berakhir. Amanda meletakkan ponselnya di atas meja hingga terlihat wallpaper yang Amanda pasang di ponselnya adalah fotonya bersama sang suami.


Ada rasa cemburu yang menjalar di hati Dea. Dadanya sangat bergemuruh, apalagi melihat foto mesra yang Amanda pasang.


"Tadi Mbak Dea ngapain di rumah sakit?' tanya Amanda.


"Keponakan saya sakit, makanya saya harus bergantian menjaga dia."


Amanda hanya mengangguk pelan. "Kalo Mbak sendiri ngapain di rumah sakit?" tanya balik Dea.


"Saya sedang kontrol ke dokter kandungan," sahutnya.


"Mbak sedang mengandung?" Wajah panik Dea terlihat jelas.


"Alhamdulillah."


Amanda menatap tajam ke arah Dea. "Kok Alhamdulillah?" tanya Amanda heran.


"Nggak kok, maksudnya Alhamdulillah Mbaknya gak kenapa-napa."


"Oh begitu, saya kira Mbak menyumpahi saya," sindir Amanda.


"Nggak lah Mbak," jawab Dea dengan memaksa untuk tersenyum.


"Suami Mbak pasti romantis." Dea mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak juga, hanya saja dia bisa membuat saya berbunga-bunga setiap hari. Perlakuannya sangtalah manis kepada saya. Hingga tidur pun harus mimi dulu layaknya bayi." Wajah Amanda nampak berbinar menceritakan sosok suaminya di hadapan Dea.


"Kalo kamu gimana?" tanya Amanda.


"Maksudnya suami kamu. Apa suami kamu juga romantis?" Dea hanya terdiam.


"Saya belum menikah."


"Maaf Mbak saya tidak tahu. Padahal Mbak cantik loh, pasti suaminya juga pasti tampan," puji Amanda.


"Sebenarnya ada yang saya sukai sejak awal perjumpaan kami, tapi sayangnya ada kendala besar yang menghalangi kisah kami."


Amanda mengerutkan dahinya tak mengerti. "Kendala apa?" tanya Amanda penasaran.


Dea hanya terdiam, dan tidak bisa menjawab pertanyaan Amanda. "Apa restu orang tua?"


Dea pun menggeleng. "Dia suami orang," jawab Dea.


"Hah?" Amanda sangat tidak menduga jika wanita yang nampak terlihat alim ini menyukai suami wanita lain. Padahal hukumnya dosa.


"Emang tidak ada laki-laki bujang yang mau sama Mbak? Sampe suami orang juga diembat," celetuk Amanda.


"Abisnya suami orang lebih menggoda," ujar Dea. Amanda hanya menggelengkan kepalanya.


"Bercanda Mbak," ucap Dea.


"Serius juga gak apa-apa. Toh saya tidak kenal dengan laki-laki yang Mbak sukai," cerca Amanda.


Dea. celingak-celinguk melihat ke arah luar restoran. Dia berharap bisa bertemu dengan pujaan hatinya.


"Mbak Manda, suaminya ke mana?"


"Oh suami saya, dia ada urusan mendadak. Katanya ada rapat mendadak."


"ApA semudah itu Mbak percaya dengan kata-kata suami, Mbak?"


"Lah kenapa memangnya? Bukannya suami-istri itu harus saling percaya ya," imbuh Amanda.


"Apa Mbak gak curiga?"


"Curiga gimana?"


"Ciri-ciri suami itu selingkuh itu salah satunya seperti itu. Awalnya ngangkat telpon jauh dari istri. Terus alasan pergi ketemu teman atau rekan bisnis."


"Kok ciri-ciri itu sama seperti suami saya lakukan ya," ucap Amanda.


"Makanya Mbak harus hati-hati. Pelakor sekarang lebih sadis-sadis loh," terang Dea.


"Wah serem juga dong ya," imbuh Amanda.


Dea pun mengangguk sambil menyantap pesanannya.


"Oh iya, saya jadi kepo sama pria yang kamu sukai itu ciri-cirinya kayak gimana sih?"


Dea pun tersedak mendengar pertanyaan dari dari Amanda. Sungguh polos ternyata istri dari Rion Juanda.


"Jika aku bilang ciri-cirinya seperti suamimu bagaimana?" Seringai jahat pun mulai Dea tampakkan.


"Ah, Mbak bisa aja bercandanya," kata Amanda.


"Aku tidak bercanda, aku serius. Akui mencintai suamimu, Rion Juanda."


Amanda nampak terkejut. "Ka-kamu mengenal suami saya?" tanya Amanda dengan wajah sendu.


"Ya, malah aku selalu memandanginya dari kejauhan. Dan aku ingin memilikinya,'" ucapnya.


Amanda nampak syok mendengar penuturan dari Amanda. Namun, keterkejutannya berubah menjadi tertawa renyah. Amanda menatap Dea dengan tajam.


"Memiliki? Jangan mimpi!" sarkas Amanda.


"Apa kamu kira suami saya akan tergoda dengan kamu? Cara kamu menggoda suami saya pun seperti wanita penggoda tidak berkelas," cibirnya.


Seringai licik pun menghiasi wajah cantik Amanda. "Sebelum jadi pelakor belajarlah terlebih dahulu pada ahlinya," bisik Amanda dan berlalu meninggalkan Dea dengan wajah yang sangat marah.


***


Ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun...