Bang Duda

Bang Duda
73. Ketakutan



Pagi harinya, aktifitas di apartment seperti biasa. Echa adalah remaja yang mampu menyembunyikan kesedihannya di hadapan orang lain. Seperti sekarang ini, wajahnya sangat cerah melebihi cerahnya sinar mentari.


Akan tetapi, Gio dan Ayanda tidak bisa Echa bohongi. Mereka tahu Echa hanya pura-pura ceria agar kedua orangtuanya tidak mengkhawatirkannya.


"Papa sama Mama sore ini akan ke Singapura," ujar Gio.


Echa menghentikan kunyahannya, menatap Papa dan Mamahnya secara bergantian.


"How long?" tanya Echa.


Berapa lama?


"Two weeks," jawab Gio.


Dua minggu.


"Pa ...."


"Papa ada kerjaan penting, Sayang," jelas Gio.


"Mamah di sini aja ya temenin Echa," pinta Echa.


"One week in Singapore, one week in Ausi," sahut Ayanda.


Satu Minggu di Singapura, satu Minggu di Australia


"How with me?" lirih Echa.


Bagaimana denganku?


"Kan ada Ayah, Sayang. Kamu bisa tinggal dengan Ayah," balas Ayanda.


"Mah ...."


"No, sejak kapan kamu jadi manja kayak gini?"


"Papa harus meninjau perusahaan secara langsung dan Mamah harus selalu ikut dengan Papa. Si kembar kan sebentar lagi launching. Papa hanya tidak ingin Mamah melahirkan tanpa Papa di samping Mamah," jelas Ayanda.


"Katanya mau ponsel apel digigit? Nurut dong sama Papa dan Mamah." Echa hanya terdiam tidak menjawab apapun yang dilontarkan papanya.


Gio menyudahi makannya lalu menghampiri Echa. Memutar kursi yang diduduki putrinya agar menghadap ke arahnya.


"Don't look at the outside but look from the inside. Everyone wants to change." Echa langsung memeluk tubuh Papanya.


Jangan lihat dari luarnya tapi lihatnya dari dalam. Setiap orang ingin berubah.


"I'm scared," ungkapnya dalam pelukan Gio.


Aku takut.


"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Papa janji pulang dari Singapur kita beli ponsel yang kamu mau."


"Promise?"


Janji?


"Promise," balas Gio yang kini menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Echa.


Ayanda tersenyum bahagia melihat keakraban putrinya dan juga suaminya. Sebenarnya dia tidak suka jika Gio memanjakan putrinya. Gio selalu berpesan, mendidik anak tidaklah harus dengan keras. Gio banyak melakukan trik untuk meluluhkan kekeras kepalaan Echa. Dan selalu membuat Echa menuruti ucapan Gio.


Berbeda dengan kediaman Rion, sarapan sudah siap namun penghuni kamar utama belum muncul juga. Mbak Ina hanya membiarkannya saja. Namanya juga pengantin baru, begitulah pikirnya.


Di dalam kamar masih terjadi acara susu-menyusui antara Istri dan suami. Padahal Amanda sudah sangat pegal namun suaminya tak kunjung puas.


"Bang, udah siang. Manda lapar," ujar Amanda.


"Suruh siapa semalam Abang ditinggal tidur," kesalnya.


"Manda kan lelah Bang," sahutnya.


Mendengar cacing di perut istrinya berbunyi, Rion pun menghentikan aktifitasnya. Merapihkan bajunya dan juga baju istrinya, barulah mereka keluar kamar.


Setelah selesai makan, Amanda mengantar Rion menuju halaman depan. Amanda mencium tangan suaminya dibalas dengan kecupan kening oleh Rion.


"Sore nanti kita nyari kemeja sama bra kamu, ya," bisik Rion. Lengan Rion pun kena pukul oleh Amanda.


Di dalam kamar Amanda masih memandangi foto Echa. Ada sedikit ketakutan di hatinya. Terlebih sikapnya semalam sangat menyiratkan ketidak sukaan kepadanya.


Sore hari Rion pulang lebih awal, dia mendapat kabar dari Ayanda jika mantan istrinya dan juga suaminya akan berangkat ke Singapura untuk dua Minggu lamanya.


"Sayang," panggil Rion.


"Echa akan tinggal di sini karena Gio dan Ayanda harus terbang ke Singapura," ujar Rion.


"Ya sudah gak apa-apa. Jadi, Manda bisa lebih mengenal Echa," balas Amanda.


"Sayangi Echa," pinta Rion.


"Iya, Bang," jawab Amanda.


Tak lama orang yang mereka maksud pun datang, Ayanda, Gio dan juga Echa sudah ada di rumah Rion.


"Mas, jaga Echa ya. Kali ini kita akan pergi sedikit lama," ujar Ayanda.


"Iya, Dek. Jangan khawatir," sahut Rion.


Echa masih memeluk erat Papanya. Dia enggan sekali untuk tinggal dengan ayahnya. Apalagi, ada istri dari ayahnya. Sebenarnya Echa tidak ingin egois namun, hati kecilnya merasa takut. Jika, mamah sambungnya akan bersikap kasar kepadanya dan kasih sayang ayahnya akan terbagi.


"Papa pergi, ya," pamit Gio. Echa menatap Papa dan Mamahnya sendu.


"Jadi anak baik ya," ucap Ayanda dan langsung memeluk tubuh Echa.


"Cepat pulang," sahut Echa.


Moment yang baru pertama kali Amanda saksikan. Dia merasa salut kepada Gio, meskipun bukan anak kandungnya tapi kasih sayangnya benar-benar tulus kepada Echa. Dan Echa pun sangat dekat dengannya.


Akankah aku bisa seperti itu? batin Amanda.


Gio dan Ayanda pun pergi, wajah sedih Echa sangat terlihat. Rion merangkul tubuh putrinya dan membawanya masuk ke ruangan kerja.


"Kenapa?" tanya Rion yang kini menatap putri kesayangannya.


Echa hanya tertunduk menyembunyikan semua perasaan dan ketakutannya.


"Hey, lihat Ayah," pinta Rion.


Dilihatnya mata Echa sudah berkaca-kaca dan Rion pun memeluk tubuh putrinya. Rion masih mendekap tubuh Echa hingga tangisan Echa sedikit reda.


"Dengar ya, Ayah tidak akan pernah menggeser posisi kamu di hati Ayah. Kamu tetap nomor satu untuk Ayah, kamu prioritas Ayah. Dan kasih sayang Ayah tidak akan pernah berubah untuk kamu," jelas Rion.


Echa masih terisak, sekarang ayahnya bisa bilang seperti itu tapi nanti? Itulah yang sangat Echa takutkan.


"Apakah Ayah tidak boleh move on dari Mamah?" Echa hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.


"Ayah mencintai istri Ayah, Tante Manda. Izinkan Ayah untuk bahagia dengannya sama seperti Mamah yang sudah bahagia dengan Papa Gi," ungkapnya.


"Echa masih ragu," lirihnya.


"Ayah tidak akan memaksa kamu untuk menyukai istri Ayah. Biarlah kamu yang menilainya sendiri. Baik menurut Ayah belum tentu baik menurut kamu," imbuh Rion dengan membelai rambut sebahu putrinya.


Echa memeluk tubuh Ayahnya, menumpahkan segala ketakutannya kepada Rion. Di balik pintu Amanda hanya bisa menghela napas. Apa yang dia pikirkan ternyata benar. Echa belum bisa menerimanya.


Echa sudah merasa tenang dan meminta kepada Ayahnya agar kedua temannya menginap di sini menemaninya. Rion pun menyetujuinya.


Tak lama suara riuh terdengar, Mima dan Sasa tiba. Pelukan ala Teletubbies pun tak terelakan membuat Amanda tergelak.


"Siapa?" bisik Mima kepada Echa.


"Istri Ayah."


Mima dan Sasa menyapa Rion dan Amanda bergantian. Amanda sangat bahagia melihat keakraban Echa dan sahabat-sahabatnya.


Amanda menawarkan membuat makanan untuk Echa dan teman-temannya namun, Echa tolak. Ada sedikit rasa kecewa di hati Amanda.


"Echa bukan tipe anak yang mudah didekati. Bersabarlah, kamu hanya perlu membuktikan jika kamu memang mamah sambung yang baik untuknya," jelas Rion.


Amanda hanya menganggukkan kepala. Meskipun dia harus bekerja ekstra tapi, itu tidak masalah.


"Mending kita bikin baby buat adik Echa," bisik Rion.


Pukulan keras Amanda pun mendarat di lengan Rion. "Aku lagi datang bulan," jawab Amanda seraya tersenyum penuh kemenangan dan meninggalkan Rion dengan raut wajah kesal.


***


Mon maap up-nya lama lagi sibuk pake banget. Ini bisa nulis juga karena ada jeda 1,5 jam. Demi kalian nih aku up, karena kalian penyemangat terbesarku.


Untuk Minggu kalo aku gak u 2bab/hari jangan marah ya, karena akunya lagi banyak kegiatan banget.


Jangan lupa like, komen dan vote dong, makin ke sini makin melehoy ...🤧


Happy reading ....