Bang Duda

Bang Duda
260. Mengayomi (Musim Kedua)



Kepanikan terjadi di kediaman Rion. Ketika Amanda membuka kamar Riana, dilihatnya wajah Riana sudah pucat. Amanda meletakkan punggung tangannya di dahi Riana, ternyata tubuh Riana demam sangat tinggi.


Amanda mencoba membangunkan Riana, dengan pelan Riana membuka matanya. Namun, dia kembali terpejam.


"Bunda aku bukan orang jahat," rancaunya.


Amanda pun terhenyak mendengarnya. Apa maksud dari rancauaan putrinya ini. Melihat keadaan Riana yang semakin lemas, dia langsung membawa tubuh Riana ke rumah sakit terdekat dengan diantar Pak Mat.


Tibanya di rumah sakit, Amanda baru menghubungi suaminya. Sekarang, Riana masih berada di IGD.


"Sayang," panggil Rion yang terlihat panik.


Amanda yang hanya menggunakan daster batik panjang dan memakai blazer menoleh ke asal suara. Dia pun menghampiri suaminya dan memeluk tubuh Rion.


"Riana gimana, Yang?" tanyanya.


"Masih di IGD."


Dua orang ini nampak sekali khawatir. Rasa lapar dan lelah tidak mereka hiraukan, yang mereka pikirkan sekarang ini adalah anak mereka.


Setengah jam kemudian, dokter keluar dari IGD dan menghampiri kedua orangtua Riana.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Rion.


"Anak Anda sepertinya terlalu stress," jawab dokter.


Rion dan Amanda hanya saling tatap. Tidak menyanggah atau pun menjawab pertanyaan dokter.


"Sebaiknya anak Anda dirawat untuk sementara waktu."


"Lakukan yang terbaik, Dok," ujar Rion.


Di lain negara, Echa menatap langit malam Canberra yang cerah, namun hatinya seakan sedang berkabut. Lingkaran tangan di pinggang Echa membuatnya merebahkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.


"Tunggu aku ya, Yang. Minggu depan aja baru kita pulang ke Indonesia," pinta Radit.


Echa membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan Radit. "Untuk kali ini aku gak bisa, Bhal. Hati aku sangat tidak tenang. Setiap kali aku menghubungi Mamah dan juga Ayah mereka selalu bilang baik-baik saja. Tapi, hati aku mengatakan jika mereka sedang ada masalah," ungkap Echa dengan mata yang menahan tangis.


"Kamu rindu mereka?'" Echa pun mengangguk dengan air mata yang sudah menganak.


Radit memeluk tubuh Echa dengan eratnya. Dan dia mengecup ujung kepala Echa, seakan memberikan kekuatan kepada kekasihnya ini.


"Pergilah, dan tunggu aku di sana. " Echa pun mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Naik pesawat pribadi atau komersil?" tanya Radit.


"Menurutmu, apa Kakek akan membiarkanku kembali ke Indonesia seorang diri?" Radit pun tertawa, ternyata kekasihnya ini dikelilingi laki-laki yang sangat amat posesif. Dirinya, ayahnya, papahnya serta kakeknya.


Kembali ke Jakarta, Riana sudah dibawa ke ruang perawatan. Amanda masih betah memandang wajah Riana yang berangsur mulai membaik. Namun, matanya masih tertutup.


"Yang, Abang beli makan dulu, ya. Sekalian ambil baju ganti buat kamu dan juga Riana." Amanda pun mengangguk.


Setelah Rion pergi, Amanda yang masih menggenggam tangan Riana hanya bisa bergumam. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Ri? Kenapa kamu bilang Bunda itu orang baik?"


Ketika Rion sedang memesan makanan, ponselnya berdering. Azkano meminta untuk bertemu dengan dirinya. Rion pun menyanggupi namun, di cafe dekat rumah sakit tempat Riana dirawat.


Tak lama, Azkano pun tiba di cafe yang Rion maksud. Di sana sudah ada Rion yang sudah duduk sambil menikmati secangkir kopi panas.


"Ada apa?" tanya Rion.


"Riana," jawabnya setelah memesan secangkir kopi.


"Maksudnya?"


Azkano menceritakan semuanya, apa yang diceritakan Keysha dia ceritakan kembali ke Rion.


"Udah gak bener nih," tukasnya.


"Key gak bilang siapa orang yang bilang semua itu ke Riana. Cuma gua curiga sama yang ngejar-ngejar lu itu," tutur Azkano.


Rion hanya mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa sih masih aja ganggu keluarga gua," keluhnya.


"Gua yakin Riana syok. Lu sama Amanda jangan bahas ini dulu sama Riana. Biar dia aja yang duluan cerita. Key soalnya udah janji ke Riana." Rion pun mengangguk.


Dia juga tidak akan membicarakan masalah ini kepada istrinya. Bukannya menyelesaikan masalah, semua ini pasti akan menambah masalah yang ada.


Rion kembali ke rumah sakit hanya dengan membawa makanan, sedangkan baju-baju mereka akan dibawakan Pak Mat.


Sungguh sakit melihat istrinya yang terlelap dengan kepala yang diletakan di samping ranjang pesakitan Riana.


"Sebenarnya Abang tidak ingin putri kita mengetahui masa lalu kamu dan Abang. Meskipun dia tahu, Abang inginnya Riana tahu dari mulut kita bukan dari orang lain," ucapnya lirih.


Rion mendekat ke arah Riana dan juga Amanda. Dia kecup kening Riana dan dia kecup kepala sang istri yang sedang terbaring.


"Maafkan Abang. Maafkan Ayah juga, Ri."


Ketika sedang diterpa masalah seperti ini hati Rion selalu teringat kepada putrinya yang berada di belahan dunia sana.


"Jika kamu di sini, pasti kamu akan menjadi kekuatan untuk Ayah, Dek," gumamnya.


Ikatan batin antara ayah dan anak ini sangatlah kuat. Echa merengek ke Kakeknya agar malam ini juga dia terbang ke Jakarta. Seperti ada yang memanggil dirinya dan membutuhkannya saat ini.


Sebelum Echa terbang terjadi perdebatan kecil antara Radit dan juga Echa. Dan perdebatan itu dimenangkan oleh Echa.


"Sebelum aku datang, jangan pergi-pergian dulu. Kamu boleh pergi hanya dengan keluarga kamu." Echa pun mengangguk mengerti. Dia tahu Radit itu khawatir dengannya.


"Kalian ini, seperti truk gandeng aja," ledek Genta.


Akhirnya, Radit melepaskan genggaman tangannya dengan hati yang sangat berat. Echa meminta kepada Radit dan juga Genta agar tidak menghubungi Papa dan Mamahnya. Biarkan ini menjadi kejutan untuk kedua orangtua Echa.


Pada tengah malam, Riana tersadar. Dia menatap ke arah samping tempat tidurnya. Tangannya dibalut selang infus dan bundanya terlelap dengan terus menggenggam tangan Riana.


Mata Riana nanar melihat sang bunda seperti ini. Tapi, ucapan wanita itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.


Rion yang memang sedari tadi belum tidur, hanya dapat melihat putrinya dengan hati yang perih.


Kenapa mereka tega menodai hati dan pikiranmu, Ri? Maafkan Ayah, Ri.


Riana menoleh ke arah sofa, sang Ayah sedang menatap Riana dengan tatapan yang sulit diartikan. Mata Riana seakan mengatakan, "Riana butuh Ayah, Riana ingin dipeluk Ayah."


Rion pun melihat gurat kesedihan di hati Riana. Karena dia sangat dekat dengan Riana, dia bisa membaca sorot mata putri bungsunya ini. Rion menghampiri Riana dan memeluk tubuh mungilnya.


"Ada Ayah di sini, Ri," ucapnya seraya memberikan ketenangan kepada Riana.


Amanda pun terbangun karena merasakan ada pergerakan dari ranjang. Wajahnya amat bahagia tatkala melihat putrinya sudah sadar.


"Ri," panggil Amanda.


Riana dan Rion menoleh ke arah Amanda. Namun, hanya tatapan datar yang Riana tunjukkan. Hatinya menolak untuk percaya kepada ucapan wanita itu. Tapi logikanya berkata iya.


Rion yang merasakan ada sedikit kekecewaan yang putrinya rasakan, dia menyuruh Amanda untuk melanjutkan tidurnya.


"Biar Abang aja yang jaga Riana. Kamu lanjut tidur aja," imbuhnya.


Ada rasa kecewa yang dirasakan Amanda. Dia merasakan sikap Riana sedikit berubah kepadanya. Namun, Amanda harus mengalah. Karena semakin Amanda memaksa, Riana akan semakin keras kepala.


Semalaman, Riana hanya ingin berada dipelukan sang ayah. Hingga Rion harus tidur bersama Riana di ranjang pesakitan.


Keesokan paginya, Riana masih betah berada dalam dekapan sang ayah. Riana nampak nyenyak sekali tidur dengan memeluk tubuh kekar ayahnya, begitu juga Rion. Amanda hanya tersenyum melihatnya. Tapi, sedetik kemudian hatinya terasa kosong. Dia teringat akan Echa, si putri sambungnya. Biasanya Echa juga akan memeluk tubuh Rion ketika mereka memang sedang bermanja.


Sikap Riana seharian ini sangatlah berubah. Dia hanya ingin disentuh oleh ayahnya saja tanpa mau disentuh oleh sang bunda.


Rion melihat ada raut kesedihan di wajah istrinya. "Kan udah biasa kalo Riana sakit itu manjanya sama Abang. Kamu mending pulang, masakin makanan kesukaan Riana dan bawa cemilan kesukaannya juga." Amanda pun mengangguk.


Setelah Amanda pergi, Arya tiba di rumah sakit. Dia melihat Rion sedang menyuapi Riana dengan sangat telaten.


"Liat lu begini, kok gua jadi kangen si bocah Bangor ya," imbuhnya.


Rion hanya tersenyum mendengar penuturan dari Arya. Di lubuk hatinya yang paling dalam, sesungguhnya Rion juga merindukan putri pertamanya. Begitu juga Riana, mendengar nama sang kakak disebut, membuat mata Riana memerah.


Setelah Rion selesai menyuapi Riana, Rion meminta izin sebentar kepada Riana untuk keluar membeli kopi. Rion pun meninggalkan salah satu ponselnya untuk menghilangkan suntuk putrinya. Tak lupa, dia juga meminta perawat untuk menjaga Riana selama dia berbicara dengan Arya dia area luar rumah sakit.


Arya hanya mendengus kesal mendengar semua cerita dari Rion. Bagaimana pun, Riana sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Apapun masalah yang dihadapi Riana, akan menjadi masalahnya juga. Semenyebalkan apapun Riana, tidak membuatnya membenci Riana. Malah sebaliknya, Arya sangat menyayangi Riana.


"Semalam Echa telepon gua," imbuh Arya.


"Dia nanyain keadaan lu sama Ayanda," lanjutnya.


'Iya, dia juga hubungi gua. Gua terpaksa berbohong karena gua gak mau buat Echa kepikiran," sahutnya'


"Feeling anak lu itu kuat banget kayaknya." Rion pun mengangguk setuju dengan ucapan dari Arya.


Setelah selesai menyusun rencana dengan Arya, Rion kembali ke ruang perawatan Riana dan Arya menuju ke kantor. Sudah dipastikan hari ini pekrjaannya banyak. Karena sahabatnya ini tidak masuk.


Di sekolah, Aksa dan Aska sudah berdiri di depan kelas Riana. Namun, mereka berdua tidak melihat Riana. Hingga Keysha yang baru saja datang langsung menghampiri Abang dan Kakaknya.


"Riana gak sekolah," ucap Keysha.


"Kenapa?" tanya si kembar berbarengan.


"Sakit." Bel pun berbunyi, membuat si kembar tidak bisa menggali informasi lagi tentang Riana kepada Keysha.


Di rumah sakit, Riana masih saja menempel pada sang ayah. Dia tidak ingin sedetik pun lepas dari sang ayah. Sebenarnya, Riana ingin menanyakan perihal kebenaran tentang dirinya yang katanya bukan anak kandung kepada Rion, Namun, dia juga takut jika pada nyatanya dia memang bukan anak kandung dari Rion. Apa dia akan sanggup menerima kenyataan ini?


****


Hati Echa selama di pesawat sungguh tidak tenang. Dan dia memutuskan untuk pergi ke rumah Ayahnya. Tibanya di sana, dia melihat seorang wanita mengenakan pakaian tertutup dengan wajah yang tertutup pula dengan cadar sedang memperhatikan rumah ayahnya. Ada rasa curiga di hati Echa. Dia tidak segera turun dari mobil yang membawanya. Dia ingin mengetahui lebih lanjut tentang wanita itu.


"Patut dicurigai," gumamnya.


Kedatangan Echa disambut bahagia oleh Mbak Ina. Namun, rona bahagia di wajah Mbak Ina seketika memudar ketika Echa menanyakan perihal ayahnya dan juga Riana.


"Sakit?" Mbak Ina pun mengangguk.


Echa yang memang tidak membawa apa-apa, hanya membawa atas ransel sedang bergegas ke rumah sakit dengan diantar Pak Mat. Tibanya di sana, dia melihat punggung pria dewasa seperti ayahnya yang hendak masuk ke dalam rumah sakit.


"Ayah!" panggil Echa.


Tubuh Rion mematung seketika, suara itu sangat tidak asing dan seperti suara seseorang yang sangat dia rindukan. Rion pun mencoba menoleh ke arah belakang. Gadis cantik tdengan rambut berwarna bronze sebahu, memakai riasan tipis dan celaan jeans panjang serta kemeja lengan panjang tersenyum hangat ke arahnya.


Gadis itu langsung berlari ke arah Rion dan memeluk tubuhnya. "Echa kangen Ayah,'" lirihnya.


"Ayah juga kangen banget sama kamu, Dek."


Mereka pun duduk berdua di kursi taman ruang sakit. Rion menceritakan semuanya. "Pantes hati Echa selalu ingat Ayah dan Riana."


"Ayah gak usah sedih, mungkin memang sudah waktunya Riana tahu tentang ini semua. Kita juga gak bisa berlama-lama merahasiakan ini semua kan." Rion pun mengangguk.


"Nanti Echa bantu bicara sama Riana."


Echa dan Rion menuju ruang perawatan Riana. Ketika Rion membuka pintu, Riana sedang merajuk dan tidak mau disuapi oleh sang bunda. Dia terus memalingkan wajahnya dari hadapan Amanda.


"Ri, makan dulu," ucap sang Ayah. Riana menoleh ke arah sang Ayah dengan mata yang nanar. Rion pun menghampiri Riana dan memeluk tubuh putrinya.


"Ri, hanya ingin Ayah," lirihnya.


Hati Amanda sedikit sakit mendengarnya. Tidak dipungkiri, Riana memang lebih dekat dengan ayahnya daripada dengannya. Sama halnya dengan Echa, yang lebih dekat dengan ayahnya ketimbang mamahnya.


"Ri, makan dulu ya sama Bunda. Ayah punya kejutan untuk Ri. Ayah jamin, pasti Ri sangat suka."


Riana menatap manik sang ayah, tidak ada celah kebohongan dari sorot mata sang Ayah. Riana pun menuruti permintaan Rion. Amanda pun terlihat bahagia bisa menyuapi Riana meskipun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Riana.


"Udah." Hanya satu kata utang keluar dari mulut anak perempuan itu.


Rion pun tersenyum ke arah Riana dan mengusap lembut kepala putrinya. "Ayah ambil kejutannya dulu, ya." Riana pun mengangguk.


Rion keluar kamar dan mengangguk ke arah Echa. Echa berjalan di belakang ayahnya hingga tubuh mungilnya tertutupi tubuh sang Ayah. Perlahan Rion bergeser dan mata Riana seketika berkaca-kaca.


"Kakak!" panggilnya.


Bukan hanya Riana yang terlihat senang dengan kehadiran Echa, Amanda pun sangat bahagia melihat Echa pulang ke Indonesia. Echa mencium tangan sang bunda lalui memeluknya.


"Bunda kangen kamu, Kak."


"Echa juga kangen Bunda."


Echa beralih pada Riana yang sudah menahan air matanya. Dia memeluk tubuh adik perempuannya dan Riana pun menangis dipelukan Echa.


"Gak boleh nangis dong, Dek. Gak boleh cengeng," ucap Echa lembut kepada Riana.


Mendengar ucapan dari sang kakak, membuat air mata Riana mengalir deras. Rion yang mengerti suasana, mengajak Amanda keluar untuk meninggalkan Echa dan Riana berdua.


Setelah dirasa tenang, Riana mulai mengendurkan pelukannya. Echa tersenyum ke arah adiknya seraya mengusap lembut air mata yang sudah membasahi pipi Riana.


"Adik Kakak gak boleh cengeng dong," goda Echa.


Namun, wajah Riana terlihat semakin sendu. Echa menggenggam hangat tangan sang adik. Dia menatap Riana dengan penuh kelembutan. "Ada apa Ri?"


Baru mendengar pertanyaan itu saja dari Echa air mata Riana menetes lagi. Echa dapat melihat ada sebagian dari dirinya berada pada diri Riana.


"Cerita sama Kakak, gak baik semuanya kamu pendam sendiri," imbuhnya.


Riana memberanikan diri menatap mata Echa. "A-apa Ri bukan anak kandung Ayah?"


Echa pun sedikit tersentak mendengar pertanyaan Riana. "A-apa Bunda orang jahat? Su-sudah membunuh pacar Ayah?"


Echa semakin terkejut mendengar pertanyaan yang menurutnya tidak pantas ditanyakan oleh anak berusia tujuh tahun. Benar kata ayahnya, otak Riana sedikit-sedikit sudah mulai dicuci. Dan jika dibiarkan, Riana akan membenci ibu kandungnya sendiri.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Siapa yang mengajarkan kamu seperti itu?"


Melihat ketegasan di wajah sang kakak membuat Riana takut dan menunduk. "Ri, jawab pertanyaan Kakak," pintanya.


"A-ada yang bilang seperti itu kepada Ri," jawabnya.


"Terus kamu percaya?" Riana hanya diam.


Eccha hanya dapat menghela napas kasar. Dia menggenggam tangan Riana, menyalurkan ketenangan kepada adik perempuannya ini.


"Lihat Kakak!" Riana pun menatap ke arah Echa.


"Dengar Kakak ya, Ri. Riana itu anak kandung Ayah dan Bunda, Bunda yang telah mengandung kamu selama 9 bulan. Bunda yang hampir mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan kamu. Kamu itu adalah anak yang selalu Ayah dan Bunda jaga ketika masih di dalam perut Bunda. Karena mereka ingin melihat kamu lahir ke dunia."


"Dan kamu tahu gak, Bunda dan Ayah rela bolak-balik ke rumah sakit setiap hari hanya untuk melihat kamu. Uang yang Ayah keluarkan dalam pengobatan kamu di rumah sakit pun tidaklah sedikit, itu semua mereka lakukan demi putri mereka, yaitu kamu Ri."


Mata Riana sudah berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Echa. Echa pun membelai rambut Riana dengan sangat lembut.


"Bunda bukan orang jahat, Bunda bukan orang yang membunuh pacar Ayah. Lagi pula wanita itu bukan pacar Ayah. Dan wanita itu meninggal karena depresi. Anak dan suaminya yang menderita kanker otak meninggal dunia. Sedangkan Ayah, sudah menikah dengan Bunda. Meninggalnya wanita itu pun ketika Ayah dan Bunda berada di Jogja. Sedangkan wanita itu di Jakarta."


"Satu hal lagi yang harus kamu tahu, masa lalu Bunda memang kurang baik. Tapi, janganlah kamu membenci Bunda. Kamu lahir ketika Bunda sudah berubah ke arah yang lebih baik. Ketika Bunda sudah menutup auratnya."


"Coba lihatlah Bunda, tanpa pamrih Bunda merawat dan membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Menghabiskan waktunya hanya untuk menemani kamu bermain dan belajar. Meskipun kamu marah sama Bunda, tapi Bunda tidak pernah membalas kemarahan kamu. Malah Bunda selalu saja mengalah demi kamu, anaknya."


"Bunda," lirih Riana.


Mendengar ucapan dari Echa, memori tentang semua sikap buruknya terhadap sang bunda berputar di kepalanya. Riana yang sering merajuk, yang sering membantah dan sering merepotkan bundanya untuk dibuatkan ini dan itu. Padahal bundanya sudah masak makanan yang lezat.


"Jangan diamkan Bunda, pasti hati Bunda sangat sakit, Ri." Riana pun mengangguk dengan air mata yang sudah menganak.


"Orang mau berkata apapun tentang kedua orangtua kita, jangan pernah ditanggapi. Kita hanya perlu percaya sama kedua orangtua kita. Jika, kamu ragu kamu bisa menanyakannya kepada Om Arya ataupun Mommy. Karena mereka lebih tau tentang kedua orangtua kita."


Di balik pintu kamar perawatan, air mata Amanda menetes. Ternyata Riana sudah mengetahui masa lalunya dan kecewa dengan dirinya.


"Wajar kalo Riana kecewa, Abang yakin Echa bisa memberi pengertian kepada Riana."


Mereka terus mengamati dan tak terasa bulir bening membanjiri wajah Amanda tatkala mendengar penuturan Echa tentang dirinya. Meskipun Echa bukanlah anak kandung Amanda dan mengetahui masa lalunya yang kelam. Namun, Echa tidak pernah menjelek-jelekkan dirinya di depan Riana. Dia menjadi Kakak yang mengayomi adiknya.


****


Ada notif Up langsung baca ya. jangan ditimbun-timbun.


Bab ini udah 2678 kata ya, semoga kian puas bacanya.


Happy reading ....