Bang Duda

Bang Duda
382. Jenguk Adik (Musim Kedua)



Hari berganti minggu. Waktu seakan cepat berlalu. Usia baby's triplets sudah memasuki usia tiga Minggu. Kondisi Echa pun sudah semakin membaik. Tetapi, masih dalam pengawasan suaminya. Radit lah yang paling bawel akan apa yang boleh dikonsumsi oleh Echa yang sehabis melahirkan secara Caesar. Dan apa saja yang tidak boleh dikonsumsi. Echa sendiri tidak pernah membantah semua ucapan Radit. Karena apa yang dikatakan oleh Radit itu benar adanya. Dia sendiri yang merasakannya.


Seperti pagi ini, kediaman Echa pasti dikunjungi oleh kakak nenek si kembar. Siapa lagi jika bukan Ayanda dan juga Gio yang tidak pernah absen melihat sang cucu-cucu cantik bermata indah.


"Semalam rewel gak?" tanya sang mamah.


"Nggak, Mah. Cuma ngajak mainnya lama," jawab Echa yang sedang memakaikan baju anak pertamanya. Sedangkan anak kedua dan ketiganya masih diasuh oleh Radit dan Rion.


"Eena udah cantik, Mimo," ucap Echa menirukan suara anak kecil. Ya, Ayanda tidak ingin dipanggil nenek atau Oma karena terlalu tua baginya. Dan sebutan yang dia pilih adalah Mimo.


Ayanda segera mengambil baby Eena dan membawanya menuju para pria yang tengah asyik berbincang sambil menjemur dua anak Echa yang lain.


"Kakak Na udah cantik. Sekarang Adek Sa, ya, yang mandi." Radit mengajak bicara Aleesa yang sedang terjaga. Lalu, menuju kamar sang istri yang tengah menunggunya. Begitulah kegiatan rutin Echa setiap pagi serta suasana rumah Echa di pagi hari.


Ketiga anak Echa adalah anak yang sangat pengertian. Mereka tidak pernah rewel jika semua orang sudah pergi bekerja dan juga sekolah. Echa juga tidak sendiri. Dia dibantu Mbak Ina setelah pekerjaan Mbak Ina selesai. Karena dia belum ingin menyewa baby sitter. Echa ingin melihat tumbuh kembang ketiga anaknya. Merawat mereka dengan baik dan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka.


"Hai, kurcaci." Begitulah sapaan sayang dari Iyan untuk si triplets.


"Ganti baju dulu, terus makan." Iyan pun mengangguk patuh. Iyan sudah menganggap Echa sebagai ibu kandungnya sendiri. Dan tidak berusaha menanyakan perihal sang bunda. Iyan cukup kecewa, apalagi Iyan mendengar obrolan Radit dengan sang ayah bahwa Amanda telah menjual sang adik. Meskipun dia tidak tahu siapa yang membeli adiknya yang tak seayah dengannya itu.


"Kak, boleh Iyan bertanya?" Echa mengerutkan dahinya karena tidak biasanya Iyan seperti ini.


"Ada apa, Iyan?"


"Apa Bunda baik-baik saja?"


Echa pun terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya Iyan. Jujur saja, Echa juga tidak tahu bagimana kabar Amanda setelah melahirkan di Surabaya. Karena yang tahu semuanya adalah keluarga Radit. Namun, Echa pun memiliki batasan. Tidak akan mencampuri urusan keluarga sang suami. Dan hubungan Amanda dan ayahnya pun sudah berakhir di meja hijau.


"Kakak tidak tahu, Yan. Nanti, Kakak tanya sama Abang Radit, ya."


"Gak perlu, Kak," tolak Iyan.


"Kenapa?" tanya Echa.


"Sudah tiga malam ini, Iyan mimpi Bunda. Bunda datang dengan tubuh yang kurus dan wajah yang sangat pucat."


"Apa jangan-jangan Bunda sakit?" Terka Iyan.


Echa membelai rambut Iyan dengan penuh kasih sayang. "Selalu doakan Bunda, agar senantiasa sehat terus. Bagaimana pun, wanita itu adalah ibu kandung Iyan. Yang dengan susah payah mengandung Iyan selama sembilan bulan. Dan berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan Iyan."


"Baik buruk perilaku ibu Iyan, tidak dapat mengubah takdir jika Iyan terlahir dari rahimnya." Iyan pun mengangguk.


"Iyan memang merindukan Bunda. Tetapi, Iyan lebih memilih untuk tidak melihat Ayah bersedih lagi," pungkas Iyan.


Echa tersenyum dan memeluk hangat tubuh Iyan yang memang kurang mendapatkan belaian hangat sang ibu. Kini, sebisa mungkin Echa memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk sang adik.


Anak yang masih berusia delapan tahun dipaksa dewasa sebelum waktunya. Sama halnya dengan Echa dulu. Sifat anak-anak Rion seperti Echa. Menyembunyikan semua kesedihannya demi membuat orang lain agar tidak kepikiran.


Sore hari, kening Echa mengkerut ketika melihat Riana sedang bersama seorang laki-laki di ruang keluarga. Echa pun mendekat dan sudah mulai berkacak pinggang.


"Riana!"


Baru saja Echa hendak marah-marah, sapaan sopan dari laki-laki yang sedang bersama Riana membuat emosinya redam seketika.


"Ini teman Ri, Kak. Ri, gak ngerti matematika. Makanya minta ajarin sama Kevin." Riana mulai menjelaskan kepada sang kakak yang akan berubah menjadi singa betina jika sudah marah.


Mata Echa terus menyelidik inchi demi inchi wajah teman Riana. Hingga nyali Kevin sedikit menciut melihat tatapan tajam penuh ancaman yang sedang menyorot ke arah dirinya.


"Lanjutkan." Kevin dan Riana pun bisa bernapas lega. Baru beberapa langkah menjauhi adiknya. Langkah Echa berbalik arah kembali. Mendekat ke arah Riana dan Kevin dengan wajah garang.


"Galak amat." bisik Kevin setelah dirasa Echa semakin menjauh.


"Aslinya Kakak aku baik kok orangnya," bela Riana.


"Kayak kamu, dong," goda Kevin. Riana hanya tersenyum simpul. Tak menanggapi ucapan Kevin. Karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menutup hatinya sampai dia benar-benar bisa membahagiakan ayah dan kakaknya.


Sebelum senja, sesi belajar mereka selesai. Kevin pamit pulang kepada Riana dan juga Echa. Ketika selesai makan malam, Radit dan Echa seperti biasa bersantai dengan di halaman belakang.


"Yang, anak Om Satria besok pagi udah dibolehkan pulang, loh. Apa kamu mau ikut menjemputnya?" Echa terdiam, menimbang-nimbang ajakan Radit. Karena sudah pasti akan ada Rindra. Orang yang sangat tidak ingin Echa temui.


"Apa Ri boleh ikut?" Pertanyaan yang datang dari Riana membuat Echa dan Radit terkejut. Pasalnya, di gazebo tersebut hanya ada mereka berdua.


"Ri, ingin bertemu dengan adik, Ri." Ucapan yang terdengar sangat lirih dan menyakitkan. Riana menatap Radit dan Echa dengan tatapan memohon.


Radit dan Echa hanya saling pandang. Saling melemparkan tanya dari sorot mata mereka. Hingga Echa menghembuskan napas kasar. "Tanya ke Ayah," titah Echa.


"Ta-tapi ...."


"Kalo kamu memang mau ikut, izin sama Ayah. Tanpa izin, Abang tidak akan pernah membawa kamu bertemu dengan adik kamu." Suara yang terdengar sangat tegas yang membuat Riana mengangguk patuh. Inilah Radit yang sebenarnya. Jika, Radit sudah berbicara A seisi rumah pasti menurutinya.


Dengan keraguan, Riana menghampiri sang ayah yang sedang bermain dengan si triplets. Setiap kedua lelaki yang super sibuk datang. Mereka bertiga langsung terjaga. Inilah penghilang lelah untuk Rion. Karena semua usaha Echa diserahkan kepada kedua orangtua kandungnya. Karena Echa tidak ingin meninggalkan anak-anaknya. Bukan karena Radit melarang, justru Radit mendukung. Hanya saja, Echa yang menolaknya.


"Ayah, bolehkah besok Ri ikut dengan Kak Echa dan Bang Radit?" tanya Riana.


"Mau ke mana?" Rion menjawab tanpa memalingkan wajahnya dari tiga cucu cantik yang sedang berada di atas karpet bulu.


"Jenguk adik bayi," ujar Echa dengan suara pelan. Seketika mata Rion beralih kepada Riana. Membuat Riana semakin takut.


"Ta-tapi, kalo Ayah ng ...."


"Ayah ijinin, kok. Bagaimana pun Ayah tidak mau melarang. Dia tetap ibu kandung kamu. Darah dia mengalir di tubuhmu." Nasihat dari sang ayah.


Yang awalnya Riana takut, kini malah memeluk sang ayah dengan bulir bening yang sudah terjatuh di pipinya. Ribuan ucapan terimakasih Riana ucapkan kepada sang ayah. Karena telah menjadi ayah yang sangat bijak. Dan tidak mementingkan egonya.


Paginya, Riana sudah siap dan akan berangkat bersama Radit dan Echa. Jangan khawatirkan baby's teriplets. Jika, weekend datang kediaman Echa berubah menjadi pasar kaget. Semua keluarga Echa berkumpul di sana.


Sesampainya di rumah sakit. Radit segera menuju ruang NICU. Di sana sudah ada sang papih dan kedua kakaknya serta Nesha.


"Echa gak ikut?" tanya Addhitama.


Radit menatap ke arah Rindra. Kemudian, Addhitama menatap sang putra sulung dan menantunya. Mereka berdua paham dan menganggukkan kepala. Setelah Rindra dan Nesha pergi, Radit menghubungi Echa via telepon. Dia tidak akan menjemput istrinya karena sudah ada Riana bersama istrinya.


Riana dan Echa pun mulai memasuki rumah sakit beriringan. Dan mencari ruangan yang Radit beritahukan.


"Pemisi."


Suara perawat lelaki yang memecah keheningan di lorong rumah sakit. Beberapa perawat sedang membawa pasien darurat. Membuat Echa dan Riana sedikit menepikan langkah mereka untuk memberikan jalan.


Mata Riana melebar ketika di atas brankar itu wanita yang dia kenali.


"Bunda."


...****************...


Komen di atas 60 up lagi ..