Bang Duda

Bang Duda
43. Pengagum Rahasia



Senyum merekah dan melengkung indah di bibir pasangan yang baru saja menyatakan perasaannya satu sama lain. Lain halnya dengan nasib pria yang satu ini. Hati Rion hancur seketika. Perasaan yang sama yang dia rasakan ketika Ayanda lebih memilih Gio dibanding dirinya.


"Kenapa gua jadi pria bodoh seperti ini?" gerutunya pada dirinya sendiri.


"Hubungan kalo gak ada kejujuran jangan harap bisa langgeng. Lu udah kayak terikat kontrak mati sama Dinda dan Erlan. Heran gua," ujar Arya yang baru saja masuk ke ruangan Rion.


"Gua bantu Dinda mencari tau siapa yang bayarin pengobatan Erlan yang jumlahnya gak sedikit itu," balas Rion.


"Sejak kapan lu jadi peduli sama Erlan? Bukannya Erlan musuh bebuyutan lu," tanya Arya.


Rion hanya terdiam, apa yang dikatakan Arya benar. Ada apa dengan dirinya sekarang?


"Kalo lu masih ada hati sama Dinda, nikahin dia. Toh umur si Erlan gak akan lama lagi." Ucapan Arya seperti malaikat maut seakan tahu kematian seseorang.


"Gua hanya kasihan," jelas Rion.


"Kasihan sampe lu lupa ngasih kabar ke Ceca kemana aja lu dua Minggu ini? Iya?" tanya Arya.


Rion hanya terdiam, di sinilah letak kesalahan terbesarnya. Tidak pernah jujur dan terbuka tentang kegiatannya kepada Ceca. Ketika rasa cinta Sheza masih ada untuk Rion, dengan teganya Rion menyakiti Sheza. Hingga rasa itu semakin hari semakin pudar.


"Kenapa semakin hari gua semakin bodoh?" imbuh Rion.


"Sejak kapan lu menjadi manusia pintar. Berlian yang udah lu genggam aja lu lepaskan hanya karena seonggok sampah. Dan sekarang itu terulang lagi. Penyesalan datangnya belakangan bro," sahut Arya.


Mulut Rion terbungkam. Semua yang diucapkan Arya menusuk hatinya. Perkataan yang tidak bisa dia sanggah, perkataan yang nyata adanya.


Terdengar suara ketukan pintu yang menghentikan acara curahan hati para jomblowan. Pak Karyo muncul dari balik pintu. Memberikan sebuah paper bag kepada atasannya.


"Dari siapa?" tanya Rion.


"Abang ojol, Pak," sahut Pak Karyo.


Arya hanya tersenyum geli sedangkan Rion berdecak kesal. "Maksud saya ini dari siapa?" tanya Rion sedikit emosi.


"Abang ojol hanya bilang itu untuk Pak Rion. Tidak mengatakan siapa pengirimnya," jelas Pak Karyo.


Setelah Pak Karyo pergi, Rion membuka paper bag tersebut. Dengan rasa kepo yang luar biasa Arya pun ikut membukanya. Ditemukan secarik kertas.


Patah hati boleh, tapi jangan lama-lama. Heart cake ini semoga bisa menyembuhkan patah hatimu.


- yang mengagumimu-


Arya hanya tertawa geli membaca tulisannya. "Berasa kembali ke zaman batu gua." Arya pun tertawa keras hingga perutnya sakit.


Sedangkan Rion masih fokus membaca surat itu. Di dalam paper bag ada kotak kue berukuran sedang. Benar saja cake cokelat berbentuk hati dengan hiasan sangat indah. Bibir Rion melengkung indah. Bukan karena hatinya yang sudah baik-baik saja tapi karena cake yang terlihat sangat indah dan cantik.


Di lain tempat, Azka terus saja memandangi wajah cantik Sheza dan tidak melepaskan genggamannya, meskipun kekasihnya sedang tertidur. Rona bahagia terpancar dari wajah Azka. Pencariannya selama ini tidak sia-sia. Meskipun awalnya dia harus mengetahui pahitnya cinta yang tak terbalas, hingga sekarang dia mampu merasakan manisnya cinta yang terbalas.


"Terimakasih telah mau membalas cintaku," ucap pelan Azka lalu mengecup kening Sheza.


Di balik pintu ada dua pasang mata yang memancarkan rona bahagia. Mereka menghampiri Azka dengan tentengan makanan dan juga baju di tangan mereka.


"Kenapa Kak Gi sama Kak Ay gak bilang mau ke sini?" ucap Azka pelan takut membangunkan Sheza.


Mereka menuju sofa yang letaknya sedikit jauh dengan ranjang pesakitan Sheza.


"Melihat perjuangan kamu, jadi ingat perjuanganku untuk mendapatkan hati istriku," ujar Gio yang kini merengkhh tubuh Ayanda. Hanya senyuman manis yang terulas di bibir Ayanda.


"Nasib kita sama, memperjuangkan cinta dengan lawan yang sama yaitu Rion," balas Azka. Diikuti kekehan lucu diantara mereka.


"Jaga dia dengan baik. Aku lihat banyak luka yang dia rasakan namun dia pendam sendiri," ucap Ayanda.


"Iya Kak Ay. Aku pasti jaga Sheza," balas Azkano.


"Apa kamu sudah tau statusnya?" tanya Gio.


Azkano tersenyum mendengar pertanyaan kakak sepupunya ini. "Apalah arti status Kak? Lebih baik statusnya janda daripada mengaku perawan tapi nyatanya tidak. Itu lebih menyakitkan," jawab Kano.


Gio dan Azka hanya tersenyum. "Kami masih memiliki ikatan darah yang kuat. Sikap Daddy menjadi cerminan Kano, secara tidak sadar dia mencontoh sifat baik Daddy," jelas Gio dan dibenarkan oleh Azkano.


Ayanda merasa sangat bersyukur dipersatukan dengan Gio dan dipertemukan dengan sepupu-sepupu suaminya yang sangat baik. Rasa syukur itu tidak hanya milik Ayanda namun orang yang berada di ranjang pesakitan pun terharu mendengar penuturan Azka hingga bulir bening pun jatuh di ujung matanya.


***


Rion tak sadar, ternyata dia mengantongi secarik kertas dari sang pengirim kue cokelat. Berulang kali Rion membacanya berulang kali juga dia tertawa lucu.


"Siapa dia? Kenapa bisa tahu jika hatiku sedang patah?" gumamnya dengan seulas senyum.


Esok hari, Rion sedikit melupakan rasa sakitnya. Meskipun belum sepenuhnya pulih.


Sembuh itu butuh waktu. Jangan pernah Ayah memaksa sembuh jika sebenarnya hati Ayah rapuh.


Kutipan dari Echalah yang sekarang menjadi panduan untuk menyembuhkan lukanya. Putri kecilnya kini berubah menjadi gadis dewasa. Rion akui, Ayanda dan Gio telah mendidik Echa menjadi gadis yang pintar dan selalu berpikiran positif.


Hingga suara pintu ruangannya terbuka, membuat Rion menoleh ke asal suara. Senyuman manis terukir dari bibir gadis yang baru saja masuk.


"Kamu gak sekolah?" tanya ayahnya.


"Hari ini libur, Echa bosan jadi Echa ke sini," jawabnya. Kini, Echa bergelayut manja di lengan ayahnya.


"Putri Ayah sudah menjadi gadis cantik," ujar Rion seraya mencium puncuk kepala Echa.


Echa semakin erat memeluk tangan ayahnya. Ayahnya akan tetap menjadi pahlawan untuknya sampai kapan pun. Terlepas dari sifat buruk yang Ayahnya miliki.


Ketukan pintu membuat Echa melepaskan rangkulannya di lengan Rion. Dia berjalan menuju pintu. Security menyerahkan papar bag kepada Echa.


"Ada kiriman lagi," ucap Pak Karyo.


Echa mengambilnya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


"Siapa Dek?" tanya Rion.


"Pak Karyo," jawab Echa dan langsung meletakkan paper bag itu di atas meja ayahnya.


"Itu apa sih Yah?" tanya Echa. Rion hanya mengangkat bahunya.


"Echa buka ya," pinta Echa dan langsung diiyakan oleh ayahnya yang sedang fokus pada laptopnya.


Echa membuka isi papar bag. Ada satu kotak makanan berukuran sedang. Echa mengeluarkannya dari dalam. "Ada suratnya," gumam Echa.


Bagaimana dengan hatimu hari ini? Apa hatimu sudah mulai membaik? Makanlah ini, semoga bisa menguatkan hatimu lagi.


- yang mengagumimu-


Echa mengerutkan dahinya, menerka-nerka siap yang mengirim bingkisan untuk ayahnya. Echa membuka kotak makan, makanan itu dihias ala bento seperti bekal anak TK. Echa pun tergelak melihatnya.


Echa mencicipi makanan itu, mulutnya berhenti mengunyah ketika dia merasakan masakan itu.


"Rasanya tidak asing," gumamnya.


Siapa pengagum rahasia Ayah? Kenapa dia bisa tau Ayah sedang patah hati?


***


Hay ...


Aku akan menerima komen manis maupun pedas kalian. Dan aku gak mau menjelaskan kenapa aku bikin cerita bla bla bla dan karakter utamanya bla bla bla. Cukup baca dan nikmati ...😄


Meskipun aku jarang bales komenan kalian tapi aku selalu membaca komen kalian semua. Komenan kalian juga kadang memberi ide untukku. So, jangan pernah lupa tinggalkan komen dan jempol kalian setelah membaca ya ...


Kalo punya poin votelah Bang Duda seikhlas kalian😁


Happy reading semua