
"Menangislah di dadaku. Setidaknya kamu tidak sendiri, ada aku di sini."
Echa menatap wajah Radit dengan raut yang sendu. Tanpa aba-aba Radit menarik tangan Echa ke dalam pelukannya. Air mata Echa pun tumpah ruah. Radit mengeratkan pelukannya dan tangannya membelai lembut rambut Echa.
"Jangan pernah meneteskan air matamu untuk orang yang tidak menghargai mu. Air matamu terlalu berharga untuk orang itu."
Tanpa Echa sadari, tangan Echa membalas pelukan Radit. Radit pun tersenyum.
"Tumpahkan lah semua beban dan sesak di dada mu. Jangan kamu pendam sendiri, karena itu akan membuatmu semakin sesak dan sakit."
Tangan Radit tak hentinya mengusap rambut Echa . Posisi Echa sedang duduk di ranjang pesakitannya dan Radit berdiri di hadapan Echa.
Dari balik kaca pintu, hati Gio benar-benar sakit melihat putrinya seperti itu. Tak terasa bulir bening pun jatuh di pelupuk matanya.
"Papa janji, akan menjauhkan mu dari orang-orang yang telah membuat mu sakit seperti ini," gumam Gio.
Tepukan pundak membuat Gio buru-buru menghapus air matanya. "Kamu kembali ke rumah saja, ada Radit yang akan menemani Echa," ujar Gio kepada Beby. Beby pun menuruti perintah Gio, sebelum Beby pergi Beby ingin masuk ke ruangan Echa. Namun, Gio cekal.
"Jangan ganggu dia dulu, kembali lah nanti bersama suamimu." Beby pun mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan Echa bersama Gio.
Di sekolah, Riza sedang menunggu Echa di depan gerbang. Bel masuk sudah berbunyi namun, Echa tidak nampak. Padahal, Riza sudah menunggunya dari pagi.
Riza bergegas ke kelas Echa, dia berpapasan dengan Dimas yang tak lain adalah kakak kelasnya. Tatapan permusuhan nampak jelas di mata Dimas dan juga Riza.
"Sa, Echa gak masuk?" tanya Riza.
Hanya tatapan tajam yang menjadi jawaban dari Sasa. Dengan sangat keras Mima mendorong tubuh Riza dengan sangat keras. "Keluar, lu!" teriak Mima.
"Mot, udah." Sasa pun menarik tangan Mima yang sudah kerah seragam Riza.
"Gak guna ngeladenin orang gobl*k kaya dia," imbuh Sasa.
Mima dengan kasar melepaskan cengkeramannya terhadap seragam Riza. Kesakitan Echa adalah kesakitan mereka berdua. Karena Riza, Echa harus mengalami kecelakaan.
***
Sudah satu jam Echa menangis dan Radit masih dengan sabar menenangkan Echa. Echa mulai melonggarkan pelukannya dan menunduk malu. Radit semakin gemas melihat sikap Echa.
"Lihat aku," titah Radit. Namun, Echa tetap menunduk.
Radit menangkup wajah Echa dan manik mereka pun bertemu. "Seorang lelaki sejati tidak akan pernah membuat wanitanya menangis," ujar Radit.
Echa pun tersenyum meskipun raut wajahnya sangat sendu dan pilu. "Makasih, Kak."
Hati Radit menghangat mendengar itu, dia langsung menyerahkan paper bag yang berisi ponsel kepada Echa.
"Kan aku udah bilang, ponselku tidak apa-apa," ujar Echa.
"Aku juga udah bilang ke papa kamu, kalo aku akan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kamu," balas Radit dengan senyum manisnya.
"Batu," sarkas Echa.
"Kamu juga batu," ucap Radit sambil mencubit hidung merah Echa.
Suasana kamar itu pun menghangat, Radit mampu membuat bibir Echa tersenyum. Meskipun hatinya masih menangis.
Di kantor, rahang Gio mengeras ketika mendapat semua laporan dari anak buahnya tentang kelakuan Riza.
"Apa saja yang dia katakan pada putriku?" tanya Gio ke pengawal Echa.
Pengawal Echa pun menceritakan semuanya tanpa satu pun terlewat. Wajah Gio merah menahan amarah.
Brugh!
Tangan Gio menggebrak meja dengan kerasnya. Membuat pengawal yang sedang memberikan informasi mundur satu langkah, melihat bosnya benar-benar murka.
"Pastikan dia tidak pernah mendekati putriku," tegas Gio.
"Baik, Tuan. Tapi ...."
Pengawal pun menjeda ucapannya, dia benar-benar takut sekarang ini. "Tapi apa? Bicara yang jelas," bentak Gio dengan emosi sudah di ubun-ubun.
"Ada sesuatu hal yang membuat pacar Non Echa seperti itu," ucapnya.
"Apa?"
***
Yang mau maki-maki Riza silahkan komen di kolom komentar.
Happy reading ...