Bang Duda

Bang Duda
247. Istri Pertama dan Istri Kedua (Musim Kedua)



Setelah memeriksakan ke dokter kandungan, Amanda pun dinyatakan hamil kembali. Rion dan Amanda sangat bahagia mendengar kabar itu. Mereka memang tidak merencanakan karena Rion sendiri masih trauma dengan keguguran Amanda lalu.


Anak adalah titipan dari Tuhan. Jika, Tuhan berkehendak maka terjadilah. Begitu pula jika Tuhan tidak mengijinkan. Maka, semuanya akan Tuhan ambil kembali.


Seperti hari ini, Rion sedang tergesa-gesa menuju rumah sakit. Dia baru saja mendapat kabar dari Pak Mat jika Amanda mengalami pendarahan. Rion hanya bisa menghela napas kasar. Ketakutannya terjadi lagi.


Rion sudah tiba di rumah sakit. Dilihatnya, Amanda sedang terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya terlihat sendu, hati Rion teriris melihatnya.


"Sayang." Amanda menatap wajah Rion dengan nanar. Dan air matanya terjatuh tanpa permisi.


"Anak kita, Bang," lirihnya.


Rion memeluk tubuh Amanda dengan sangat erat. Ini kali ketiga Amanda mengalami keguguran. Pertama, sebelum Riana lahir. Kedua, ketika Riana berumur empat tahun. Dan kali ini ketika Riana menginjak usia tujuh tahun.


"Gak apa-apa, Sayang. Allah belum mengizinkan kita untuk memiliki momongan lagi," sahutnya.


"Mungkin kita belum bisa menjadi orangtua yang baik, makanya Allah belum hanya menitipkannya sebentar. Lalu, mengambilnya lagi," lanjutnya.


Tangis Amanda tak reda, apalagi perkataan dokter masih terngiang-ngiang di kepala Amanda. Rion tahu istrinya sangat terpukul dan terguncang dengan kejadian ini. Dia terus menemani istrinya di rumah sakit. Dia harus selalu ada untuk istrinya di saat seperti ini.


Amanda pun dirawat di rumah sakit. Ketika jam dua belas siang, Rion meninggalkan Amanda sebentar untuk menjemput putrinya.


Selama perjalanan, Rion hanya bisa menghela napas berat. Kandungan istrinya sangatlah lemah. Dan kemungkinan istrinya tidak bisa mengandung lagi.


Rion sedikit kecewa, tapi dia juga harus menerima kenyataan ini. Toh dia sudah memiliki putri hasil buah cintanya bersama Amanda, yaitu Riana.


"Ayah," panggil Riana.


"Halo, Sayang."


"Keysha ke rumah Mommy bersama dua Abang," ujarnya.


"Ri, kangen Mommy?" Dengan cepat Riana pun mengangguk.


"Mau ke rumah Mommy dan menginap di sana?"


"Mau, mau, mau," jawab Riana riang gembira.


Rion pun mengusap lembut kepala Riana. Lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Ayanda. Sudah cukup lama mereka tidak berkunjung ke rumah Ayanda. Apalagi Ayanda dan Gio selalu sibuk dengan urusan mereka. Dan kali ini mereka baru pulang dari acara honeymoon. Merayakan hari ulangtahum pernikahan mereka.


Sesampainya di rumah Ayanda, Riana langsung berlari masuk ke rumah megah itu.


"Mommy, Ri datang." Rion hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Riana.


"Hay putri cantik Mommy." Riana langsung berhambur memeluk tubuh Riana.


"Mommy dan Daddy lama berliburnya. Ri kan kangen Mommy," keluhnya.


Ayanda pun tertawa. "Mommy juga kan ingin punya anak lagi. Makanya Mommy dan Daddy liburan panjang."


"No, Mommy udah punya Kakak, dua Abang dan juga Ri," tolaknya. Riana sudah menganggap Ayanda dan juga Gio seperti orangtuanya sendiri. Terlebih mereka sangat menyayangi Riana.


"Hahaha, gemes banget sih kamu." Ayanda mencubit pipi gembil Riana.


"Makan dulu sama Abang dan Key." Riana pun mengangguk patuh.


Setelah kepergian Riana, Ayanda menatap aneh ke arah Rion yang sedang duduk di sofa. "Kenapa Mas?" Kini, Ayanda pun ikut duduk bersama Rion.


"Amanda keguguran lagi," lirihnya.


Ayanda mengusap lembut pundak Rion. "Belum rezekinya, Mas."


"Amanda divonis tidak bisa hamil lagi," ujarnya.


Ayanda sedikit terkejut dengan penuturan Rion. Dia sangat melihat ada gurat kesedihan di wajah mantan suaminya.


"Mas, Mas sudah punya Echa dan juga Riana. Besarkan mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Mereka hadiah terindah yang Allah berikan," imbuhnya.


Rion hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab ucapan Ayanda. "Mas, yang paling terpukul dalam hal ini itu adalah istri Mas. Sama halnya dengan aku. Dulu, ketika divonis tidak bisa hamil lagi aku takut, takut kalo Mas akan kecewa sama aku."


Rion memicingkan matanya tajam. Tak mengerti apa yang dikatakan manta istrinya. "Maksud kamu apa?"


"Setelah kita kembali bersama, ternyata aku divonis tidak bisa memiliki anak lagi oleh dokter. Dan aku beralasan jika, kita berdua lebih baik fokus kepada Echa. Karena Echa kurang mendapat kasih sayang dari kita."


Rion pun menghela napas kasar. "Kenapa kamu gak bilang, Dek?"


"Kalo aku bilang, pasti Mas akan ngelakuin segala cara untuk kesembuhan ku. Jika, aku hamil dan kita memiliki anak lagi, bukan hanya Echa yang tersakiti di sini. Ada adik Echa juga yang tersakiti ketika Tuhan menakdirkan kita untuk berpisah," jelasnya.


"Bagaimana perasaanmu ketika divonis seperti itu?"


"Tubuhku seperti tidak bertulang. Hatiku hancur, seperti tidak ada harapan untuk hidup lagi," ungkapnya.


"Apa Manda merasakan itu juga?" tanya Rion.


"Kurang lebih sama Mas. Sekarang, Mas hanya perlu mendampingi Amanda. Dia membutuhkan Mas berada di sampingnya."


"Titip Riana, Dek. Jangan bilang apa-apa ke Riana."


"Iya, Mas. Kalo ada apa-apa langsung kabarin, ya." Rion pun mengangguk.


"Makasih Dek, kamu selalu ada untuk Mas. Makasih, sudah mau menjadi sahabat sekaligus saudara untuk Mas. Padahal kesalahan Mas sangat banyak sama kamu."


"Apakah setelah perpisahan kita harus bermusuhan? Padahal kita masih harus saling berhubungan, merawat anak kita bersamaan," imbuh Ayanda


"Kita suami-istri di masa lalu, tapi kita sahabat di masa sekarang hingga masa depan," sambung Ayanda.


Rion pun tersenyum dan mengusap lembut kepala Ayanda. "Kamu adalah adikku," kata Rion.


"Boleh dong aku minta uang," candanya.


Rion pun tertawa begitu juga Ayanda. Hubungan mereka setelah berpisah malah semakin akrab. Seperti tidak ada kecanggungan satu sama lain. Seperti adik-kakak pada umumnya.


"Ayah dan Mommy kenapa tertawa?" tanya Riana yang sudah selesai makan siang.


"Ri, sayang Mommy gak?" tanya Rion.


"Banget," sahutnya sambil memeluk tubuh Ayanda.


"Tapi, Mommy gak sayang Ri. Mommy lebih sayang Beeya." Wajah Riana merengut kesal, sedangkan Rion dan Ayanda tertawa melihat tingkah lucu Riana.


"Beeya lagi, Beeya lagi. Padahal anaknya nyebelin," gerutunya.


Ayanda pun tertawa dan berjongkok di depan Riana. "Mommy sayang Riana, sayang Keysha dan juga Beeya. Kalian anak-anak cantik Mommy."


Senyum Riana pun melengkung. Dia langsung mengecup pipi Ayanda. "Ri sayang banget sama Mommy," ucapnya sambil merangkul leher Ayanda.


Benar kata kamu, Dek. Masih ada Riana dan juga Echa yang harus aku jaga. Mereka titipan Tuhan yang sangat indah.


Sedangkan di rumah sakit, air mata Amanda terus saja menetes. Dia yakin suaminya pasti sangat kecewa.


"Kenapa Engkau memberiku cobaan yang begitu berat?" gumam Amanda.


Sudah satu jam lebih suaminya belum juga kembali ke rumah sakit. Amanda semakin berpikiran buruk terhadap suaminya.


Rion membuka pintu kamar perawatan Amanda. Dia melihat istrinya sedang terpejam. Terlihat jelas raut kesedihan yang mendalam dari wajah Amanda. Jejak air mata pun terlihat sangat jelas.


Aku tau, kamu yang sangat terpukul dengan kabar ini. Aku ikhlas, Yang. Walaupun nantinya kita tidak diizinkan untuk memliki anak lagi tapi, kita masih punya dua putri yang luar biasa.


Hari ini, hari kedua Amanda dirawat. Rion pun tidak berangkat ke kantor. Dia akan menemani sang istri yang harus bed rest.


"Abang ke kantor aja, Manda gak apa-apa kok sendiri." Rion pun menggeleng.


"Gak Yang. Abang akan nemenin kamu di sini," imbuhnya.


"Riana?"


"Dia masih menginap di rumah Yanda. Dia terlihat sangat bahagia karena bisa bertemu Mommy-nya lagi," jelas Rion seraya tersenyum.


"Riana kan lebih sayang Mommy-nya dibanding Bundanya," keluh Amanda.


"Mommy-nya itu royal tidak sepertinya Bundanya yang perhitungan," ledek Rion.


Amanda pun menatap Rion jengah. Sedangkan Rion malah tertawa bahagia.


Mas, aku tahu kamu hanya pura-pura bahagia. Padahal hati kamu sangat kecewa.


Semalam ....


Sekitar pukul sebelas malam, Arya datang ke rumah sakit. Dia sedikit khawatir dengan keadaan Rion. Terlebih, Rion mengatakan jika kemungkinan besar Amanda tidak bisa hamil lagi.


"Gimana kondisi Manda?" Arya langsung duduk di samping Rion.


"Secara fisik sih baik-baik aja, tapi hatinya gua gak tahu," sahut Rion sambil menatap Amanda yang sedang tertidur di ranjang pesakitan.


"Gimana dengan lu?" Arya sudah menatap wajah Rion meminta jawaban kepada sahabatnya ini.


"Gua juga sedih, Bas. Tapi, gua harus kuat demi istri gua," jawabnya.


"Jangan pernah tinggalin bini lu di kondisi apapun. Cukup sekali lu gagal, dan jangan pernah lu gagal lagi. Ada dua anak lu yang akan terluka jika, lu bertindak bodoh lagi," ujar Arya.


"Gua gak akan menjadi manusia bodoh lagi, Bhas. Sudah cukup gua salah langkah di pernikahan gua pertama. Dan kali ini gua gak akan menyia-nyiakan apa yang sudah gua miliki. Anak-anak dan istri gua adalah harta yang paling berharga," sahut Rion.


Ujung mata Amanda mengeluarkan bulir bening mendengar jawaban Rion. Jika, rumah tangganya akan berakhir seperti rumah tangga suaminya dengan Ayanda, dia harus ikhlas.


"Yang, kenapa kami ngelamun?" Sentuhan lembut tangan Rion membangunkan Amanda dari ingatannya semalam.


"Gak apa-apa, Bang."


Rion menggenggam tangan Amanda dan menatap manik mata Amanda sangat dalam. "Abang sudah ikhlas, Yang. Jika, Allah hanya mempercayakan Riana untuk kita rawat kita harus terima dengan lapang dada."


"Abang sudah memiliki dua malaikat cantik yang Allah berikan dan harus Abang jaga dan besarkan dengan baik," sambung Rion.


Mata Amanda berkaca-kaca mendengar ucapannya Rion. Namun, hati kecilnya masih bertanya. Apa benar suaminya sudah ikhlas? Atau ikhlasnya hanya di lisan saja.


Rion memeluk tubuh Amanda, air matanya pun luruh. "Bagaimana pun kondisi kamu sekarang, Abang akan tetap berada di samping kamu. Dan Abang janji, tidak akan pernah meninggalkan kamu."


Amanda mengeratkan pelukannya. Ada rasa syukur di hatinya, dan ada rasa bersalah yang menyelimuti hati Amanda.


Deheman seseorang membuat mereka melepaskan pelukan satu sama lain. Ayanda tersenyum ke arah mereka berdua.


"Maaf, aku ganggu ya," ujarnya.


"Gak kok Dek," sahut Rion.


"Ini Mas, aku bawain kesukaan Mas. Aku tahu pasti Mas belum makan." Senyum melengkung sempurna di wajah Rion.


"Makasih, Dek," ucapnya sambil menerima paper bag pemberian Ayanda.


"Ini buat kamu ada salad buah dan juga potongan-potongan buah." Ayanda memberikan paper bag yang lain untuk Amanda.


"Makasih banyak, Mbak."


"Gak usah sungkan, kita kan udah seperti keluarga," sahut Ayanda tulus.


"Kamu ke sini sendiri, Dek?" tanya Rion.


"Iya, Gio lagi ke Singapura. Ada beberapa perusahaan yang harus dia handle di sana."


"Mbak, Riana gak nakal, kan?" tanya Amanda.


"Gak kok, dia tetap jadi anak yang manis. Kamu gak usah khawatir. Fokus saja sama kesembuhan kamu," balas Ayanda.


"Mbak sudah begitu baik sama aku dan Bang Rion," kata Amanda.


"Sudah kewajiban manusia untuk baik terhadap sesama manusia, kan. Selagi aku masih bisa membantu kalian pasti akan aku bantu."


"Jangan sedih terus, vonis dokter belum tentu benar adanya. Jika, Tuhan sudah berkehendak maka terjadilah," sambung Ayanda.


Ayanda duduk di samping tempat tidur Amanda. Dia memegang erat tangan istri dari mantan suaminya.


"Kamu tahu, aku juga pernah berada di posisi seperti kamu sekarang ini. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Kita harus bisa bangkit. Dibalik ini semua pasti ada hikmahnya." Amanda pun tersenyum ke arah Ayanda.


"Si kembar adalah bukti nyata kehendak Tuhan. Padahal kondisi kandunganku lemah dan kemungkinan besar tidak bisa mengandung. Aku dan Gio sudah pasrah, dan ternyata Tuhan memiliki rencana yang lain. Menitipkan dua anak sekaligus di rahimku," jelasnya.


Rion merasa bangga kepada mantan istrinya. Disaat istrinya sedang terpuruk seperti ini, dia akan memberikan semangat kepada Amanda. Dan ketika dirinya dan istrinya dalam keadaan terpuruk, dia adalah orang pertama yang akan mengangkat tubuh lemah mereka dari keterpurukan.


"Makasih Mbak, aku gak ngerti harus bilang apa. Mbak seperti ibu dan sekaligus Kakak buat aku," lirihnya.


"Semangat terus ya. Masih ada Riana dan Echa yang memerlukan perhatian dan kasih sayang kamu." Amanda pun mengangguk.


Tidak pernah terlintas di pikiran Rion jika, dia dan Ayanda akan berpisah. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Tuhan memisahkan mereka dan malah menyatukan mereka dalam ikatan keluarga seperti ini.


Perpisahan adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan. Dengan perpisahan juga bisa menyatukan hubungan mereka menjadi lebih erat lagi, meskipun hanya hubungan adik-kakak dan keluarga.


"Rasanya adem melihat kalian berdua seperti ini. Seperti melihat istri pertama dan kedua akur," canda Rion. Ayanda dan Amanda pun tertawa.


"Mas, kalo kamu macam-macam lagi, aku akan menjadi orang pertama yang akan menghukum kamu," ancam Ayanda.


"Gak Dek, Mas udah insaf. Udah mau punya menantu masa gak berubah. Malu sama menantu atuh," imbuhnya.


"Echa udah dikasih tau?" Rion dan Amanda pun menggeleng. "Kita gak mau bikin dia sedih," imbuh Rion.


Setelah mereka asyik bercanda ria, berbincang ke sana ke mari. Ayanda pun pamit pulang. Dia selalu mengatakan kepada Rion, agar selalu mendampingi istrinya.


"Hati-hati, Dek." Ayanda pun mengangguk.


Ketika Ayanda hendak keluar dari rumah sakit, langkahnya terhenti karena samar-samar dia mendengar suara yang masih dia kenali.


"Sudah empat tahun, kenapa aku masih belum bisa melupakannya. Diam-diam aku selalu memperhatikannya dari jauh. Aku bahagia meskipun hanya melihatnya dari jauh. Tapi, hatiku sedih ketika dia bersama istrinya. Betapa mesranya mereka. Apalagi senyum yang istrinya selalu pancarkan untuk dia. "


"Kalo jodoh gak akan ke mana? Toh lelaki diperbolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri, kan," sahut suara yang berbeda.


****


Jangan bosen ya kalo aku UP tiap hari ...


Terus dukung karya aku dengan cara gak nimbun-nimbun bab. Kalo ada notif UP langsung baca.