Bang Duda

Bang Duda
202. Aku Datang



Ucapan Echa sangatlah menusuk hati dan sanubari Amanda. Dibalik kehangatan Echa ada sisi dingin dan juga mulutnya menyimpan bisa yang sangat mematikan.


"Bagaimana lagi Bunda harus meminta maaf sama kamu, Cha? Bunda sangat menyesal," gumamnya.


Echa sudah tiba di rumahnya. Dia mengatur napasnya ketika masuk ke dalam rumah. Dia harus terlihat baik-baik saja.


"Pak, jangan katakan kepada Mamah atau Papa kalo aku ketemu istri dari Ayah," pintanya pada sopir.


"Baik, Non."


Echa pun turun dari mobil dan langsung masuk ke rumahnya. Dia disambut hangat oleh si kembar yang sudah memeluknya.


"Tata, ain yuk," ajak Ghassan.


"No, bata butu ma Ade," ucap Gatthan.


"Kakak ganti baju dulu, ya. Nanti Kakak akan bermain bersama kalian," ujar Echa sambil mencium gemas pipi gembul Ghassan dan Gatthan.


Echa merebahkan tubuhnya di kasur. Bayang wajah Bundanya masih memutari otaknya. Wajah Bundanya yang sendu dan tirus. Membuat Echa tak tega sebenarnya.


"Aku hanya ingin Bunda mengerti aku," gumamnya.


Setelah selesai membersihkan badannya, seperti biasa hanya memakai piyama pendek Echa turun ke lantai bawah. Sudah ada si kembar dan juga mamahnya.


Ayanda hanya menyunggingkan senyum ketika melihat Echa asyik bermain bersama si kembar. Mereka tertawa bersama, terkadang si kembar rebutan kakaknya membuat tubuh Echa ditarik ke sana ke mari oleh si kembar.


Tanpa mereka sadari, Gio sudah ada di dalam rumah. Sedari tadi Gio memperhatikan Echa dan kedua adiknya yang sangat terlihat kompak. Bibirnya tersungging dengan sempurna. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hatinya saat ini.


Gio menghampiri istri dan anak-anaknya membuat si kembar berlari riang ingin memeluk tubuh Daddy-nya. Echa hanya tersenyum bahagia melihatnya. Tidak ada rasa cemburu kepada si kembar. Karena Papanya selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.


"Kakak gak peluk Papa?" tanya Gio yang sedang melihat ke arah putrinya.


Echa pun bangkit dari duduk ya dan memeluk tubuh Papanya. "Echa merasa berharga berada dalam pelukan Papa," katanya.


Gio mengecup ujung kepala Echa. "Kamu memang sangat berharga untuk Papa dan Mamah." Echa merasa menjadi anak yang sempurna berada di keluarga ini. Penuh kasih sayang, kehangatan dan juga cinta yang berlimpah.


Malam pun tiba, Echa sudah masuk ke dalam kamarnya. Adik-adiknya pun sudah tertidur pulas karena lelah bermain dengannya.


Keadaan sepi seperti ini membuat Echa mengingat akan kesedihannya. Dia memang memiliki Radit, tapi hubungan mereka yang jarak jauh seperti ini membuat mereka sulit berkomunikasi kecuali hari libur. Apalagi Radit sedang sibuk praktek disalah satu rumah sakit besar di Canberra. Mengharuskan dia untuk menjauhi ponselnya ketika sibuk praktek.


Yang Echa lakukan hanya menyobek lembaran kertas. Tangannya menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Dan dia akan melipatnya menjadi sebuah pesawat kertas.


Sudah banyak pesawat kertas di mejanya. Hasil karya kesedihan yang dia rasakan. Dia menatap kalendar di meja belajarnya. Dia tersenyum ketika melihat tanggal esok hari. Dia mengambil figura yang dia simpan di dalam laci meja belajar. Matanya nanar dan bulir bening pun menetes ke kaca figura. Echa mengusap lembut foto yang berada di dalam figura dan memeluknya erat.


Sedangkan di kediaman Amanda, Amanda sedang memandang pilu foto pernikahannya dengan Rion. "Apa aku harus mempertahankan pernikahan ini? Sedangkan suamiku sendiri sudah acuh kepadaku?" gumamnya.


"Bunta, Napa nanis?" ucap Riana yang sudah ada di hadapan Amanda. Riana menghapus air mata di pipi tirus Amanda.


Riana menyerahkan selembar foto kepada Amanda. "Li ingin temu tata." Riana menunjuk foto Echa yang sedang bersamanya, Rion dan juga Amanda.


"Li, Ayah, Bunta, tata," tunjuk Riana satu per satu orang yang ada di foto tersebut.


"Nanti kita akan berempat lagi," sahut Amanda seraya menyeka air matanya.


Riana pun tersenyum dan berlalu meninggalkan Amanda. Begitulah Riana, dia akan menghampiri Amanda ketika dia menginginkan sesuatu. Ketika Amanda sudah mewujudkannya, dia akan pergi meninggalkan Amanda.


"Bunda di sini merasa sendiri, seperti orang asing," lirihnya.


Rion masih betah di kantornya. Dia semakin enggan pulang ke rumahnya. Dia akan pulang jika dia merindukan Riana, bermain bersama Riana dan setelah Riana terlelap dia akan meninggalkan rumahnya. Dia lebih nyaman tidur di kantornya ataupun di rumah yang baru dia beli.


Pernah sekali dia mendengar Amanda sedang berdoa setelah selesai solat dengan berlinang air mata. Hati Rion pun mencelos dan dia berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Amanda. Tapi, sebelum itu terjadi Amanda sudah membuat Rion murka ketika berada di rumah Ayanda. Hati yang menghangat kini terbakar lagi. Terbakar kebencian yang semakin dalam.


Rion memutuskan untuk pergi ke Bandung. Menemui Mamahnya, hanya mamahnya yang menjadi tempat mengadu ketika dia sedang dilanda masalah sangat besar. Tanpa memberitahu siapa pun Rion berangkat menuju Bandung ketika hari sudah malam.


Tengah malam, di saat semuanya terlelap Rion baru sampai rumah orangtuanya. Perlahan dia mengetuk pintu rumah sang mamah. Bu Dina yang baru saja selesai solat tahajud bergegas keluar. Dia melihat ke arah jam, sudah jam satu malam.


"Siapa yang bertamu tengah malam?" gumamnya. Ada perasaan was-was dan juga takut. Bukan takut hantu tapi orang jahat.


Dengan pelan Bu Dina membuka pintu, baru saja mulutnya terbuka Rion sudah berhambur memeluk tubuh sang mamah. Dia menumpahkan semua air matanya di pundak sang mamah. Dia tidak bisa berbicara hanya air mata yang mewakili hatinya saat ini.


Isakan tangis terdengar sangat lirih di telinga Bu Dina. Dia hanya bisa mengusap lembut punggung putranya. Ketika Isak tangis Rion mereda, Bu Dina menuntun Rion duduk di sofa.


"Ada apa, A?" tanya Bu Dina.


Melihat wajah putranya sendu seperti ini, membuat Bu Dina teringat akan lima tahun yang lalu. Kepergian Ayanda membuat Rion sangat terpuruk sama seperti sekarang ini.


Rion membaringkan kepalanya di pangkuan sang mamah. "Aa sudah gagal jadi seorang Ayah, Mah. Aa gagal jadi Ayah yang baik. Aa telah gagal, Mah," lirihnya.


"Aa tidak gagal, Aa sudah memberikan kasih sayang yang terbaik untuk putri Aa. Hanya saja, Aa kurang peka terhadap putri Aa. Bukan hanya Riana yang membutuhkan kasih sayang Aa. Echa pun membutuhkan kasih sayang Aa."


"Terkadang kita sebagai orangtua menganggap keinginan anak kita itu tidak penting. Tapi, menurut mereka itu sangatlah penting. Pemikiran kita sebagai orangtua dengan anak kita terkadang berbanding terbalik, A."


Bulir bening jatuh lagi membasahi wajah Rion. Bu Dina mengusap lembut rambut sang putra kesayangannya.


"Echa adalah anak yang telah Aa buang dan abaikan. Lalu, Aa cari lagi dan ambil dia lagi ketika dia sudah cantik dan sehat. Aa tidak tahu bagaimana dia setelah Aa buang. Aa tidak tahu bagaimana kerasnya hidup dia ketika dia hanya tinggal bersama si Teteh. Aa tidak tahu," jelas Bu Dina.


"Perlakuan Aa dulu terhadap putri Aa pasti meninggalkan jejak buruk yang menyakitkan untuknya. Memori otaknya tidak akan pernah menghilangkan ingatan buruk itu. Dan ketika Aa menggoreskan luka lagi, secara otomatis dia akan mengingat masa lalunya. Pasti akan timbul rasa kecewa di hatinya," lanjutnya.


"Aa tidak pantas disebut Ayah, Mah. Aa hanya bisa melukai perasaan Echa. Tanpa pernah bisa membuatnya bahagia,"ucapnya dengan nada yang sangat berat.


"Echa belum mau menemui Aa, Mah," ujarnya lagi.


"Berikan dia waktu, A. Ini seperti mengulang masa lalunya. Mamah yakin, Echa adalah anak baik, dia tidak menyimpan marah sama Aa. Hanya sebatas rasa kecewa," imbuh Bu Dina.


"Aa merindukan Echa, Mah. Aa ingin memeluk putri Aa," katanya.


"Sebentar lagi kecewa Echa akan mereda. Dia akan datang menemui Aa dan memeluk erat tubuh Aa. Karena dia pun sama seperti Aa, sangat merindukan pelukan hangat ayahnya."


Rion memejamkan matanya dan memeluk pinggang sang Mamah. Hanya Mamahnya lah yang bisa membuat hatinya tenang.


Pagi harinya Rion sudah kembali ke Jakarta. Karena masih banyak pertemuan yang harus dia lakukan. Hatinya sedikit tenang setelah bercerita kepada sang mamah. Dan hari ini, dia absen melihat putrinya di sekolahnya.


Ayanda mencari Ghassan yang tidak ada di kamarnya. Dan dia melihat kamar Echa sedikit terbuka. Dia mencoba mengintip ternyata Ghassan sedang bermain di kamar Echa. Di tangannya ada pesawat kertas.


"Abang, kok main di kamar Kakak?"


Ghassan menoleh ke arang sang Mommy dengan senyum lebar. "Cawat, banak," sahutnya.


Ayanda menghampiri Ghassan dan memang banyak sekali pesawat kertas di atas meja belajar Echa. Pesawat-pesawat itu Echa taruh di kardus ukuran sedang. Ayanda mengambil satu dari sekian banyak pesawat kertas. Dibukanya pesawat kertas dan dia hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya.


Di samping kardus itu ada sebuah kalendar duduk. Tanggal hari ini Echa lingkari, dan ada secarik kertas di sana. Hati Ayanda amatlah sakit membacanya.


"Abang, mau bertemu dengan Ayah?" tanya Ayanda.


"Tata."


Ayanda hanya tersenyum sambil mengusap rambut putra pertamanya. "Bawa semua pesawat dan kita kasih ke Ayah. Nanti Abang akan dibuatkan lebih banyak pesawat oleh Ayah. Abang mau?" Dengan semangatnya Ghassan mengangguk dan mulai menaruh pesawat yang sudah dia ambil. Dia masukkan kembali ke dalam kardus.


Menjelang siang, Ayanda dan kedua putranya tiba di kantor Rion. Mereka disambut hangat oleh para karyawan di sana. Ketika mereka sudah sampai lantai atas, di meja asisten tidak ada Kinanti. Ayanda dan si kembar langsung masuk ke dalam ruangan Rion tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rion tidak menyadari kedatangan Ayanda dan juga si kembar. Hingga pekikan suara si kembar membuat Rion beralih dari laptopnya.


"Ya-yah," panggil si kembar berbarengan.


Senyum Rion mengembang dengan sempurna dan dia langsung berlari memeluk tubuh dua jagoannya ini.


"Kok mau ke sini gak bilang dulu," imbuh Rion.


Ayanda hanya tersenyum dan memberikan kardus berukuran sedang kepada Rion. "Apa ini?"


"Buka saja," jawab Ayanda.


Rion mengerutkan dahinya ketika membuka tutup kardus tersebut. "Pesawat kertas?" Dia menatap Ayanda.


"Bukalah lipatan-lipatan pesawat itu." Rion menuruti perintah Ayanda.


Hatinya bergetar ketika pesawat pertama dibuka.


I love you more, Ayah. You always be hero in my life.


Pesawat kedua dia buka, dan matanya nanar ketika membacanya.


Pesawat ketiga membuat air matanya luruh.


Sesakit apapun luka yang Ayah goreskan, Ayah tetaplah pria terbaik dalam hidup Echa. Sampai kapan pun Echa tidak akan pernah membenci Ayah. Rasa sayang Echa lebih besar daripada rasa benci Echa.


Kemudian Ayanda memberikan secarik kertas kepada Rion. "Bacalah," titahnya.


Selamat ulang tahun Ayah. Semoga Ayah selalu bahagia dan terus bahagia ...


Maafkan Echa yang tidak bisa berada di tengah-tengah kebahagiaan Ayah. Tapi, doa Echa selalu mengalir untuk Ayah.


Jadilah Ayah yang baik dan penuh kasih sayang untuk adik Echa. Perlakukan dia dengan baik, jangan sampe ada lagi Echa-Echa yang lainnya.


Selalu tunggu Echa ya, Yah. Suatu saat nanti Echa akan menemui Ayah dan memeluk erat tubuh Ayah.


...I love you so much. You're the best father....


Rion memeluk tubuh Ayanda dan juga si kembar. "Makasih, Dek."


Di luar ruangan Rion, ada sepasang mata yang menitikan air mata. Dia mengurungkan niatnya untuk menemui suaminya.


"Ri, kita ketemu Ayahnya nanti malam saja, ya. Ayah sibuk," imbuhnya dengan suara sangat berat. Riana pun mengangguk.


Hati Amanda sangat sakit melihat suaminya memeluk mesra mantan istrinya. Apalagi mantan istrinya membalas pelukan suami Amanda.


Ternyata kamu masih memiliki rasa terhadap mantan istrimu, Bang. Perlakuan mu kepadanya amatlah manis, sedangkan kepadaku?


Amanda pulang dengan dada yang teramat sesak. Tidak dipungkiri hatinya sakit melihat suaminya memeluk mantan istrinya. Tanpa dia tahu ada alasan yang membuat Rion memeluk tubuh Ayanda.


Setelah Echa pulang sekolah dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Hari ini adalah hari yang berat untuknya. Ingatan-ingatan perayaan ulang tahun ayahnya menghiasi pikirannya. Senyum melengkung di bibirnya namun, kemudian berubah menjadi bulir air mata yang berjatuhan.


Suara ketukan pintu membuat Echa menyeka air matanya. Dia langsung membukakan pintu, ada Arya yang sudah memamerkan booba cokelat spesial dan juga sosis bakar kesukaannya.


"Boleh masuk?" Echa pun mengangguk. Mereka duduk di sofa panjang di depan tempat tidur.


"Ada apa?"


"Kangen keponakan Om, dong. Sebentar lagi kan Om jadi Ayah," sahutnya. Echa pun tersenyum dan menusuk gelas booba dan meminumnya.


"Apa lu lupa sama hari ini?" Echa terdiam mendengar pertanyaan Arya.


"Echa akan selalu ingat hari ini, Om."


"Apa lu gak mau nemuin Ayah lu?" Arya menatap manik mata Echa yang sudah berair.


"Untuk hari ini, Echa belum mau."


Arya menghela napas kasar. "Lu gak kangen Ayah lu?" Echa hanya tersenyum sebagai jawabannya.


"Ayah kamu kangen kamu, Dek. Ayah ingin memeluk kamu. Maafkan Ayah, Dek." Ternyata Arya dengan sengaja menghubungi Rion ketika dia berbicara dengan Echa.


Echa terdiam mendengarnya. Suara Ayahnya terdengar sangat lirih. Echa memejamkan matanya sejenak. "Echa mau istirahat, Om."


Sungguh jawaban yang sangat menusuk hati Rion di hari jadinya yang ke-40. Arya pun keluar kamar Echa. Apakah Echa menangis? Sudah pasti iya.


Echa memilih membuka pintu balkon. Hatinya sangat teramat sakit mendengar ucapan Ayahnya. Dia duduk di kursi santai yang ada di sana.


"Selamat ulang tahun, Ayah. Echa sayang Ayah."


Sedari tadi dia hanya duduk sambil memeluk gitar kesayangannya. Gitar itu adalah gitar pemberian dari Rion untuk Echa di usia Echa yang ke-10.


Jari lentik Echa mulai memetik senar gitar. Mengalunkan nada yang sangat melow.


🎶


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini, aku kesepian ...


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


"Aku di sini Bhul."


Echa mendengar suara yang sangat dia rindukan. suara yang akan membuatnya tenang dan baik-baik saja. Echa menghentikan petikan gitarnya dan menoleh ke asal suara. Bulir bening pun jatuh membasahi wajahnya. Dengan cepat Radit memeluk tubuh kekasihnya. Mengusap lembut punggung Echa yang sudah terisak.


Radit tahu, Echa bukan menangisi dirinya. Tapi, dia menangisi ayahnya. Setelah Isak tangisnya reda, Radit menghapus jejak air mata Echa. Lalu mengecup kening Echa sangat dalam.


"Aku bersama kamu sekarang. Aku akan menjadi penguat untuk kerapuhan kamu," ujarnya seraya menggenggam tangan Echa.


"Ikut aku, ya," ajak Radit kepada Echa.


"Kemana?" Radit hanya tersenyum. Dan dia membantu Echa berdiri dan terus menggenggam tangan Echa. Sudah ada Ayanda dan juga Gio di bawah.


"Tante, Om, Radit bawa Echa dulu, ya." Mereka pun mengangguk.


Sepanjang perjalanan Echa terus menanyakan kepada Radit tujuan mereka ke mana. Namun, Radit hanya menjawab dengan senyuman dan mengusap lembut pipi Echa.


Mobil Radit berhenti di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Echa seperti pernah datang ke sini. Rumah ini tampak sepi.


"Bhal ...."


"Jangan takut, aku tidak akan berbuat macam-macam," ucapnya.


Radit dan Echa masuk ke dalam rumah itu. Lampu-lampu sudah dimatikan. Hanya lampu di taman belakang yang menyala. Terlihat ada bayangan seseorang di sana.


Radit menarik tangan Echa dan membawanya ke sana. Langkah Echa terhenti, menatap ke arah meja dan kursi di sana.


Ada sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang sudah hampir habis. Dan juga figura besar berisi foto dirinya. Dan ada seorang pria yang duduk di sana menatap figura dan juga kue yang berada di atas meja.


"Lihatlah, Dek. Lilin itu sebentar lagi akan habis. Tapi, Ayah akan tetap menunggu kamu. Meniup lilin dan menghabiskan kue ini berdua. Seperti ulangtahun-ulangtahun Ayah sebelumnya," ucap Rion pada figura di depannya.


Air matanya pun tumpah dan tangan Radit tidak melepaskan genggamnya. "Temuilah, sudah waktunya berdamai dengan kecewa," imbuh Radit.


Echa berlari ke arah Rion dan memeluk tubuh Ayahnya dari belakang.


"Echa datang Ayah, datang ...."


Air mata Rion pun menetes dengan begitu deras. Suara yang sangat dia rindukan dan juga pelukan dari tangan mungilnya yang selalu dia impikan.


Rion membalikkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Echa. "Maafkan Ayah, Dek. Maafkan Ayah."


Ternyata di sana bukan hanya ada Rion seorang diri. Sudah ada Azka, Sheza, Arya, Beby, Gio dan juga Ayanda. Mereka merasakan keharuan yang tak terkira.


"Echa sayang Ayah. Echa kangen Ayah."


Rion terus memeluk tubuh putrinya dengan erat serta linangan air mata yang sudah membasahi pipinya. Begitu pun Echa. Inilah bukti ikatan Ayah dan anak yang sangat kuat. Sedalam apapun kekecewaan anak kepada orangtua, tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia masih sangat menyayangi orangtuanya.


****


Happy reading ...


Kalo terbitnya lama jangan salahin aku, ya. Ini aku setor jam 00.00


Ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun. Kesetiaan kalian mempengaruhi level karya aku dan gaji koin aku ...


Jangan lupa like, komen, dan juga vote ya ...


Makasih yang udah bagi koinnya untuk Aku😘