Bang Duda

Bang Duda
268. Tawanan (Musim Kedua)



Hari ulang tahun Aksa dan Aska pun tiba. Para teman sekelas Aska dan Aksa sudah berkumpul di depan gerbang sekolah karena hari ini weekend, jadi sekolah tutup.


Ternyata orangtua Aksa dan juga Aska tidak main-main. Mereka menyewa bus untuk menjemput teman-teman si kembar serta orangtua yang mendampingi mereka.


"Ya ampun, ini kita mau ke rumah duo A apa mau karyawisata?" ucap salah satu teman si kembar.


Ternyata Vera dan Dea pun ikut berkumpul di seolah. Karena duo wanita tak berakhlak ini tidak tahu tempat tinggal Giondra Aresta Wiguna.


Setelah semuanya sudah masuk ke dalam bus. Bus melaju menuju kediaman si kembar. setelah lima belas menit, bus masuk ke kawasan rumah elite. Semua wali murid yang ikut dalam rombongan pun takjub dibuatnya.


"Ini rumah apa istana Presiden?" celetuk salah seorang wali murid.


"Kalo saya hidup seperti ini mah, gak akan saya sekolahkan anak saya di sekolah biasa seperti sekolah kita ini," sahut wali murid yang lain.


Begitulah didikan Gio dan Ayanda, mereka tidak akan meng-anak emaskan kedua putra mereka. Meskipun terlahir dari seorang ayah yang notabene pengusaha kaya raya, tapi si kembar juga harus mengenal dunia bawah. Tidak akan menjadi besar jika tidak melalui proses kecil terlebih dahulu.


Bus pun berhenti di salah satu rumah yang sangat megah dan mewah di banding rumah-rumah mewah yang lainnya. Beberapa orang berjas hitam sudah menyambut mereka di depan gerbang rumah Aksa dan juga Aska.


Pengamanan begitu ketat, hingga mereka harus melalui pemeriksaan satu per satu. Dua mobil hitam datang, dengan cepat security dan juga pria berpakaian jas hitam yang lainnya membukakan pintu gerbang untuk mereka. Disusul dengan mobil yang sangat Dea kenali. Mobil itu pun mendapat sambutan spesial dari petugas keamanan.


Setelah semua selesai diperiksa, mereka diperbolehkan masuk. Sungguh luar biasa kediaman orangtua di kembar.


"Main petak umpat di sini dijamin gak akan ketemu," cetus teman si kembar.


Dea melihat Rion yang baru saja turun dari mobil bersama anak dan istrinya. Mereka mengenakan pakaian yang senada. Hati Dea sakit melihat sikap Rion yang begitu manis kepada Amanda.


Rombongan para siswa dan juga wali murid sudah masuk terlebih dahulu. Namun, Rion dan keluarga menghentikan langkah mereka dan menyapa beberapa orang yang keluar dari mobil yang lain.


"De, itu yang sama Pak Rion ganteng-ganteng amat," ucap Vera.


"Liat istrinya juga, cantik-cantik banget, kan," sahut Dea.


Melihat wajah para istri pria tampan itu pun nyali Vera sudah ciut. Apalah wajahnya jika tanpa make-up. Hanya seperti rembulan yang dilihat dari dekat.


Mereka semua disambut hangat oleh kedua orangtua Aksa dan juga Aska. Ayanda terlihat sangat cantik dan Gio terlihat sangat tampan. Aura Gio menunjukkan jika dia bukanlah orang biasa. Apalagi kemesraan yang selalu Gio tunjukkan kepada tamu undangan.


"Ya Allah, pasangan yang sempurna banget. Pantes aja si kembar ganteng-ganteng," ucap salah seorang wali murid.


"Lihat deh tangan Papanya si kembar. Gak mau lepas dari pinggang istrinya. Jadi iri saya," sahut wali murid yang lain.


Vera merasa dipermalukan. Dia sangat melihat jelas kemesraan yang ditunjukkan oleh Gio dan juga Ayanda bukanlah pencitraan semata. Apalagi tatapan penuh cinta yang Gio tunjukkan kepada Ayanda.


Hingga tiga pria tampan dan juga tiga wanita cantik masuk ke rumah Gio. Si kembar pun berteriak histeris. Kedua anak itu sangat bahagia ketika tiga pria tampan memberikan hadiah berupa amplop cokelat. Sedangkan para anak-anak mereka memberikan kado berukuran cukup besar.


"Selamat ulang tahun Abang dan Adek. Semoga jadi anak Soleh," ucap Amanda.


"Makasih bunda," sahut si kembar bersamaan seraya mencium tangan Amanda.


Vera dan Dea terus memperhatikan keempat pasangan suami-istri tersebut. Mereka berdua tercengang ketika mendengar Aksa dan Aska memangil tiga pria dan juga tiga wanita yang bersama kedua orangtuanya dengan panggilan yang sama seperti anak-anak mereka biasa memanggil mereka.


"Kok aku kesal ya liat Pak Gio nempel terus kayak perangko ke istrinya," ujar Vera.


"Tuh liat Pak Rion, manis banget memperlakukan Amanda. Padahal di belakang Amanda maha dia lebih mesra sama istri mudanya," gerutu Dea.


Gio dengan posesifnya selalu merengkuh pinggang istrinya. Begitu pun Rion, yang selalu menggenggam tangan Amanda.


Gio dan Ayanda yang mengenakan pakaian senada yang terlihat sangat ellegant menghampiri para wali murid yang hadir. Mereka berbincang singkat hingga lengkungan senyum terukir di wajah Gio.


"Mom, gimana caranya memikat hati Papanya si kembar?" tanya Bu Wina salah satu wali murid yang sedang berbincang dengan Ayanda dan juga suaminya,


Ayanda hanya menjawab dengan senyuman dan menatap ke arah suaminya. "Istrin saya memiliki magnet yang sangat kuat yang tidak dia sadari. Hingga saya rela menunggu istri saya lebih dari 10 tahun," ungkap Gio


Wajah Ayanda merona mendengar ungkapan dari suaminya apalagi di hadapan para wali murid. Sedangkan wali murid yang mendengarnya tercengang mendengar penuturan dari pengusaha sukses di depan mereka ini.


"Gimana Papanya si kembar rela nunggu lama atuh, kalo Mamahnya si kembar cantik begini dan baik pula," sahut wali murid yang lain.


Vera benar-benar kesal mendengar perbincangan para wali murid dengan Gio dan Ayanda. Melihat kemesraan demi kemesraan antara pria idamannya dengan istri sahnya membuat otak Vera memanas dan tenggorokannya kering.


Seorang anak perempuan cantik menghampiri Vera yang akan menuju ke tempat disediakan berbagai minuman. Dia membawa segelas minuman dingin berwarna merah gelap yang menggugah selera.


"Tante haus?" tanya anak itu kepada Vera.


"Iya Tante haus," jawabnya.


Anak itu memberikan Vera gelas berisi minuman dingin yang sedang dia genggam. "Ini enak loh Tante, segar banget. Aku aja udah abis dua gelas," jelasnya.


Vera pun tersenyum dan menerima minuman pemberian anak itu. "Aku permisi Tante, mau gabung sama teman-teman yang lain," pamitnya.


Vera pun tersenyum menatap punggung anak itu yang semakin menjauh dan sekarang sudah masuk ke dalam kerumunan para teman Aska dan juga Aksa. Vera pun langsung meminumnya. Dan ....


"Pedas, pedas," serunya.


Pelayan yang tak jauh dari Vera menghampiri Vera. Dengan sigap dia memberikan air yang berada di dalam mangkok kecil karena melihat wajah Vera yang sudah memerah. Vera langsung menyambar air itu. Dan ketika masuk ke tenggorokan, air itu terasa ada asem-asemnya. Vera pun melihat apa yang sedang dia pegang. Dia menatap tajam ke arah pelayan.


"Ini air apa?" tanya Vera.


"Air untuk kobokan," sahut si pelayan dengan santainya.


Vera bergegas mencari kamar mandi. Sungguh sial nasibnya sekarang ini. Vera yakin, ini ulah si kembar. Vera pun terus mengumpat si kembar di dalam kamar mandi. Sumpah serapah pun keluar dari mulutnya untuk Akasa dan juga Aska. Karena hanya kedai anak itulah yang berani mengerjai dirinya.


Sedangkan diantara kerumunan para siswa ada seorang anak perempuan yang tersenyum puas melihat Vera kepedesan lalu minum air kobokan.


"Sukurin," ucap Keysha.


Setelah keluarga Keysha datang ...


Papih dan Mamihnya beserta Keysha serta Kaza masuk ke kediaman Gio. Sejak dari depan, Keysha sudah memperhatikan gerak-gerik Vera yang selalu menatap kagum kepada sang papih. Dan dia selalu mencari perhatian kepada Azkano. Hingga dia menyenggol tubuh Azkano dan dia pura-pura terjatuh. Axkano pun membantu Vera berdiri dan Vera menggunakan kesempatan itu untuk memeluk lengan Azkano. Keysha melihat kebohongan dan drama yang Vera lakukan.


"Emang Tante doang yang bisa akting," gumamnya.


Ketika ulang tahun Aksa dan juga Aska semakin ramai, Keysha pergi ke dapur untuk menemui ketua pelayan. Dia meminta saus sambal dan juga saus tomat dalam botol kaca. Lalu dia tuangkan kedua saus tersebut ke dalam gelas, dan dicampur air lalu Keysha memasukkan batu es. Seringai licik pun terlihat di wajah Keysha. Ketua pelayan sudah tidak aneh jika anak-anak dari sahabat majikannya meminta sesuatu yang diluar nalar. Kebiasaan mereka yaitu, saling menjahili satu sama lain.


Wajah alim dan polos Keysha mampu mengecoh Vera. Dia pun masuk ke dalam perangkap Keysha. Ketika. misinya berhasil Keysha tertawa puas.


"Tidak ada yang boleh menyentuh Papihku kecuali Mamih dan aku," gumamnya.


Sedangkan Dea masih setia menatap Rion dari kejauhan. Rion sedang asyik bercengkrama dengan sang tuan rumah dan juga dua pasangan suami-istri yang berada dimeja yang sama dengannya.


Mereka nampak akrab dan dekat sekali. Apalagi dengan mantan istrinya pun, seperti tidak ada jarak meskipun ada suami Ayanda di sampingnya.


"Kenapa mantan istri dan istri baru bisa akur kayak gitu, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Dea masih memperhatikan keempat pasangan itu. Ketika Amanda sendiri berada di sana, Dea menghampiri Amanda. Hanya tatapan malas yang Amanda tunjukkan. Terlebih dia sedang memangku Kaza, adik dari Keysha.


"Apa kamu sudah berhasil memikat hati suami saya?" ketus Amanda ketika Dea baru saja duduk.


"Bunda, Ka ingin dipangku Tante itu," tunjuk Kaza pada Dea.


Dea pun dengan senang hati mengambil Kaza dari pangkuan Amanda, lalu memangkunya. Seperti mendapat dukungan dari bocah kecil ini.


"Bukan aku yang berhasil, tapi wanita muda yang sangat cantik yang berhasil memikat suami kamu. Kemesraan yang dia berikan ke kamu tidak ada apa-apanya dengan kemesraan yang selalu suami kamu berikan untuk wanita muda itu," jawab Dea dengan nada mengejek.


Amanda tersenyum tipis ke arah Dea. Lalu, dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto suaminya dengan seorang wanita yang memakai pakaian senada dan tersenyum bahagia ke arah kamera.


"Wanita ini maksud kamu?" Dea pun terdiam melihat foto yang Amanda tunjukkan.


"Kalo dibandingkan dia, saya memang tidak ada apa-apanya. Karena dia memang sangat sempurna. Tapi hubungan antara kami, istri pertama dan istri kedua terjalin sangat baik. Dan saya pun ada ketika acara ini berlangsung," jelas Amanda seraya menatap gambar yang ada di ponselnya.


"Tapi, jika bersaing dengan kamu ... tidaklah sulit. Kamu hanyalah butiran debu jika ditiup ataupun terkena angin akan hilang dan terbang," sindirnya.


Wajah Dea sudah merah, sudah berapa kali dia direndahkan seperti ini oleh Amanda. "Masih bangga kamu jadi istri pertama yang tidak diperlakukan adil oleh suami kamu?" sinis Dea.


"Bagi yang melihat pasti mengatakan tidak adil. Tapi, bagi yang merasakan ini sangatlah adil. Kamu mau lihat buktinya?" Amanda mengangkat sedikit hijab yang dia pakai hingga terlihat leher putih Manda yang dipenuhi bercak-bercak merah.


"Jika, kamu berpengalaman, kamu pasti tahu berapa kali kami melakukannya dalam waktu semalam. Kamu bisa lihat kan ini tanda yang masih baru," bisiknya di telinga Dea.


Amanda tersenyum tipis melihat wajah Dea yang sudah seperti kepiting rebus. Marah karena malu mendengar ucapan Amanda atau marah karena ucapan Amanda.


"Wih, ada baby sitter baru rupanya," ejek Azkano yang datang membawa makanan di tangannya.


"Tolong jagain dulu ya, Mbaknya. Saya dan suami saya mau makan dulu," timpal Sheza.


"Yang, nih makanannya," ucap Rion yang baru saja tiba dengan piring di tangannya.


"Kok cuma satu?" tanya Amanda kepada Rion yang sudah mendudukkan bokongnya di kursi.


"Makan sepiring berdua lebih romantis kayaknya," ucap gombal Rion.


Azkano dan Sheza pun tertawa mendengar gombalan receh Rion. Berbeda dengan Dea yang sudah memancarkan api kemarahan dan api cemburu yang telah membakar hatinya.


Rion menyuapi Amanda tepat di hadapan Dea. Begitu juga Azkano dan juga Sheza yang sedang suap-menyuap satu sama lain. Sedangkan Dea hanya sebagai nyamuk dan juga penonton raelity show di dapannya sambil memangku Kaza yang sangat anteng.


Dut!


Pekikan gas beracun terdengar, semerbak wangi bunga raflesia Arnoldi pun menyeruak di udara. Amanda, Rion dan juga kedua orangtua Kaza sedang memperhatikan mimik wajah Kaza yang sedang berkonsentrasi penuh. Dea merasakan ada yang hangat-hangat di pangkuannya.


Dea mencoba mengangkat tubuh Kaza dan ternyata sudah ada bongkahan emas yang menempel di baju gamis Dea. Rion dan Amanda masih memperhatikan wajah Kaza dan ....


Brott!


Bongkahan emas lain keluar dan mengenai gamis Dea lagi. Dea pun berteriak histeris.


"Sorry, anak saya lagi belajar gak paket popok," ujar santai Azkano.


"Nanti aku pinjemin daster ketua pelayan rumah Pak Gio. Badan kamu seukuran sama dia kayaknya," timpal Sheza.


Rion dan Amanda tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Dea yang sangat sulit diartikan.


"Anggap aja itu hadiah perkenalan dari Kaza," imbuh Amanda kepada Dea yang sedang dikelilingi oleh petugas kebersihan.


Dea hanya menatap tajam dengan penuh kemarahan kepada Amanda. "Mang Boy, sekalian otak sama hatinya bersihin juga. Biar jadi orang bener," ledek Amanda.


"Perlu disiram pake air karbol gak Bu?" sahut Mang Boy.


"Jangan disiram, mending suruh diminum tuh air karbol," balas Amanda seraya tertawa.


"Langsung bersih alias metong itu mah Bu," canda Mang Boy.


Ingin rasanya Dea marah dan meremas-remas mulut Amanda dan juga petugas kebersihan yang mengejeknya. Namun, Dea seperti tawanan yang dikelilingi beberapa petugas kebersihan untuk membersihkan bongkahan emas Kaza. Dan tempat itu diteruskan atau perintah Gio agar tidak mengganggu kenyamanan para tamu undangan.


***


Ada notif UP langsung baca, jangan ditimbun-timbun,