
Perasaan Rion hari ini terasa sangat tidak enak. Pikirannya masih memikirkan Amanda. Sejam sekali dia melakukan video call kepada Amanda. Memastikan keadaan istrinya.
"Udah, kita fokus. Besok lu boleh nemenin bini lu Ampe lahiran," ujar Arya.
Rion pun bangkit dari duduknya dan melanjutkan pertemuan dengan orang-orang penting dalam memajukan usahanya.
Di rumah, Echa ditugaskan untuk menjaga sang Bunda. "Bun, kalo mau apa-apa bilang ke Echa, ya. Bunda harus istirahat," ucap Echa.
Amanda hanya tersenyum, dan menyuruh Echa duduk di sampingnya. "Echa, apa Bunda boleh tanya sesuatu?" Echa menatap sang bunda, dan dia menganggukkan kepala.
"Apa kamu kehilangan Radit?" Echa hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan bundanya.
"Bunda ingin lihat kamu bahagia, Bunda ingin menyaksikan kamu menikah dan memiliki anak-anak yang lucu. Bunda ingin jadi seorang mertua yang baik dan juga Oma yang baik untuk cucu-cucu Bunda," ocehnya.
"Echa bahagia kok, Bun. Doakan saja Echa, kelak dapat jodoh yang dapat membahagiakan Echa," sahutnya.
"Bunda takut, Bunda takut kalo Bunda gak bisa menyaksikan momen itu," lirihnya.
"Kok Bunda berbicara seperti itu, Bunda harus dampingi Echa terus sampai Echa menikah, punya anak dan cucu," imbuhnya dan memeluk tubuh Amanda
"Bunda jangan bicara yang aneh-aneh. Echa takut."
Air mata Amanda menetes begitu saja, ucapan tulus dari putri sambungnya membuat hatinya terenyuh.
"Bunda harus bisa melahirkan adik Echa dengan selamat ke dunia ini, dan Bunda juga harus selalu sehat. Membesarkan Echa dan juga adik Echa, menemani Ayah sampai maut yang memisahkan."
"Makasih, Sayang. Udah sayang sama Bunda. Maaf, belum bisa jadi Bunda yang baik untuk kamu. Belum bisa menjadi seperti mamah kamu." Echa pun menggeleng.
"Bunda dan Mamah adalah ibu terhebat untuk Echa. Dan Echa bersyukur memiliki kalian berdua, hidup dipenuhi kasih sayang Bunda dan juga Mamah."
"Tetaplah jadi anak kuat ya, Sayang. Jadi panutan untuk adik-adik kamu nanti."
"Iya, Bunda. Echa selalu berdoa supaya Bunda dan adik Echa ini selamat. Dan kita bisa jadi keluarga bahagia," imbuhnya sambil mengusap lembut perut Amanda.
Ya Allah, terimakasih sudah mengahadirkan putri yang sangat baik seperti ini. Terimakasih Engkau telah membuatku menjadi seorang Ibu sebelum aku mengandung.
Amanda mengecup hangat kening Echa dan memeluknya erat. "Makasih, Sayang. Kamu selalu menjadi penyejuk hati Bunda."
"Udah ah, Bun. Jangan drama kayak gini, udah kayak apa aja." Amanda tersenyum, dan Echa pun beranjak dari duduknya.
"Echa mau bikin mie rebus, Bunda mau?" Amanda pun mengangguk.
"Oke, Echa bikinin dulu, ya. Bunda tunggu di sini." Hati Amanda teramat bahagia, putrinya yang dulu dianggap sebagai pengganggu malah menjadi anak yang sangat membanggakan untuknya.
Rion dan Arya dalam perjalanan pulang. Namun, tiba-tiba Arya menepikan mobilnya mereka di pinggir jalan tol.
"Kenapa Bhas?"
"Ada yang gak beres."
Rion melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Cepet panggil orang lah," gerutu Rion.
"Ini juga gua lagi hubungin bengkel," balas Arya.
Setengah jam kemudian orang bengkel baru sampai di sana. Sedari tadi Rion sudah uring-uringan kepada Arya. Hatinya sungguh tidak tenang sekarang.
Echa menuangkan mie yang baru masak ke dua mangkok besar. Mie rebus dengan toping sayur, telur, bakso dan juga suwiran ayam goreng. Ditambah potongan cabe rawit merah yang semakin menggugah selera.
Setelah Echa masuk ke kamar Bundanya, tidak ada Bundanya di sana. Namun, suara air terdengar di dalam kamar mandi. Echa hanya bisa menunggu. Sepuluh menit kemudian, Echa merasa ada janggal. Bundanya tidak pernah lama jika berada di kamar mandi.
Dia ketuk pintu kamar mandi namun, tidak ada jawaban. Echa mencoba membuka knop pintu kamar mandi, ternyata tidak dikunci.
Echa melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi dan ....
****
Happy reading ...