Bang Duda

Bang Duda
287. Iri (Musim Kedua)



Terima kasih kepada kalian yang udah baca dan suka sama karya Bang Duda. Dan terima kasih juga bagi kalian yang udah menjadi pembaca setia Bang Duda. Yang belum jadi pembaca setia, ayo jadi pembaca setianya.


Baca di sini tidak memerlukan koin, jadi kalian cukup membaca setiap update Bab terbaru dari Bang Duda tanpa menimbun-nimbun bab yang sudah terbit. Dengan cara begitu, kalian telah membayar mahal karya ini.


Aku tunggu kalian untuk jadi pembaca setia ...


...****************...


"Bhal, aku ingin bertemu Mamah," pinta Echa.


Radit yang baru saja selesai mengecek ponselnya segera menghampiri Echa dan mengusap lembut rambutnya.


"Aku ambil kursi roda dulu, ya." Echa pun mengangguk.


Tak lama, Radit kembali dengan membawa kursi roda. Dia membantu Echa untuk turun dan dengan pelan Radit mendudukkan Echa di kursi roda. Lalu, dia mendorongnya menuju lantai satu di mana Ayanda dirawat.


"Maaf ya, kalo aku ngerepotin kamu terus," sesal Echa ketika mereka sedang menunggu lift terbuka.


Radit tidak menjawab apapun, dia hanya mengecup puncak kepala Echa yang sedang terduduk di kursi roda. Setelah sampai di lantai satu, Radit menghentikan dorongannya. Kemudian dia menggeser tubuhnya hingga berada di depan Echa seraya berjongkok.


"Ketika aku memilih untuk mencintaimu, di situlah aku harus siap untuk terus selalu menemanimu dan juga membuat kamu bahagia."


Mata Echa berkaca-kaca mendengarnya, terlebih Radit selalu memperlakukannya dengan sangat baik dan juga lembut.


"Ketika keadaan kamu dan Mamah kamu sudah pulih, aku akan mengikat kamu. Pengikatan yang resmi bukan seperti empat tahun yang lalu. Karena aku serius ingin menikah dengan kamu, Elthasya Afani."


Setetes bulir bening pun meluncur tanpa aba. Dengan sigap Radit menghapus air mata yang sudah membasahi pipi cantik Echa.


"Aku tidak suka melihat kamu menangis. Aku janji, aku akan selalu membuatmu bahagia," tukasnya.


Echa memeluk tubuh Radit dengan eratnya. Radit pun membalasnya. "Makasih Ayang, makasih."


Bibir Radit merekah ketika mendengar sebutan sayang dari Echa untuknya. Sangat jarang Echa memanggilnya dengan sebutan sayang.


Setelah adegan seperti di FTV, mereka melanjutkan langkah menuju kamar Ayanda. Pintu kamar separuh terbuka, jadi Echa dan Radit bisa melihat apa yang sedang mereka semua lakukan.


Melihat wajah Mamahnya yang sangat ceria membuat Echa bahagia. Baru saja Radit akan mendorong Echa masuk ke dalam, ponselnya berbunyi. Radit meminta izin kepada Echa untuk menjawab panggilan dan menjauhi Echa.


Lengkungan senyum terukir sangat indah ketika melihat Mamahnya bahagia bersama Papa sambungnya dan juga kedua adiknya. Di sana juga ada Ayah dan Bundanya yang tak kalah bahagia karena kehadiran Riana di tengah-tengah mereka.


Ada sedikit rasa iri di hatinya. Iri akan masa-masa kecilnya yang tidak seindah dan semenyenangkan ketiga adiknya. Iri karena di usia balita Echa tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya.


Kenangan-kenangan masa kecil dulu bermunculan di kepalanya. Hingga bulir bening pun tak kuasa untuk tidak menetes.


Andaikan masa kecil Echa seperti itu, pasti akan sangat bahagia.


22 tahun sudah usai Echa, namun masa lalunya masih terukir nyata di dalam memori otaknya.


"Echa tidak meminta untuk menjadi anak yang spesial, Tuhan. Echa ingin seperti anak-anak yang lain. Anak yang bebas bermain dan memilki orangtua yang lengkap."


Begitulah isi hati seorang anak yang menginjak usia 4 tahun. Ketika tangannya dimasukkan jarum infus, Echa hanya bisa menahan rasa sakitnya tanpa bersuara dan berkspresi. Bukan tanpa alasan, Echa hanya tidak ingin menambah kekhawatiran Mamahnya. Orang yang Echa miliki satu-satunya di dunia ini.


Sepahit apapun obat yang diberikan oleh sang Mamah. Berusaha Echa telan tanpa mengeluh. Karena Mamahnya pun tak pernah mengeluh ketika merawat dan menjaganya.


Ketika dirinya ditinggal oleh sang Mamah bekerja, di sinilah kesedihan Echa melanda. Perlahan Echa membuka lemari sang Mamah. Ada figura kecil di sana yang memperlihatkan senyuman yang sangat indah dari Mamahnya. Senyuman yang sudah jarang dan tidak pernah Echa lihat setelah pengusiran mereka dari rumah.


"Ini Ayah kamu."


Begitulah yang diucapkan Ayanda kepada Echa ketika menjelang tidur. Awalnya Echa menolak, karena Echa hanya memiliki satu orang ayah yaitu Papa Gi. Dengan sabar, Ayanda menjelaskan sedikit demi sedikit tentang siapa Papa Gi dan siapa ayah kandungnya. Echa pun mulai bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Mamahnya.


Diambilnya figura itu dan disentuhnya wajah pria yang berada di samping sang Mamah yang sedang tersenyum lebar.


"Ayah, Echa kangen Ayah. Kapan kita ketemu? Kapan Ayah kembali kepada Echa dan Mamah?"


Setelah puas memandang foto sang ayah Echa lantas keluar bermain bersama teman-temannya. Namun, apa yang dia dapat. Hanya ejekan dari temannya yang dengan keras mengatakan jika Echa anak yang tidak memilki ayah.


Echa memilih untuk pulang ke kontrakannya dan mengambil foto Mamah dan Ayahnya lagi.


"Kembalilah Ayah, Echa sedih diejek terus sama teman-teman Echa. Echa juga ingin memiliki Ayah seperti teman-teman Echa."


Echa memeluk figura foto Mamah dan Ayahnya. Tak lama kemudian, dia terlelap. Memeluk figura itu seperti Echa dipeluk oleh kedua orangtuanya.


Sesekali para tetangga mengecek keberadaan Echa. Karena yang menjaga Echa adalah para tetangga. Mereka iba melihat Ayanda dan juga Echa yang hidup hanya berdua tanpa adanya kepala keluarga.


Ketika sore tiba, perut Echa mulai keroncongan dan dia membuka tutup saji. Hanya ada nasi dan juga kecap. Echa pun hanya tersenyum.


"Apakah jika Ayah ada bersama Echa dan Mamah. Ayah bisa membawa Echa makan ke tempat ayam krispi yang ada di TV-TV?"


"Echa bosan, Yah. Tapi, Echa tidak boleh banyak mengeluh. Karena Echa lah uang Mamah selalu habis. Karena Echa lah Mamah harus bekerja keras."


Sebenarnya, Ayanda pulang jam empat sore di toko retail milik Genta. Hanya saja, setelah pulang dari toko Ayanda aja pergi ke sebuah rumah cukup besar untuk mencuci serta menggosok di sana. Ayanda harus mendapatkan uang yang cukup banyak untuk pengobatan anaknya. Meskipun hanya digaji 300 ribu per bulan. Ayanda tidak pernah mengeluh. Yang terpenting, ada uang untuk menebus obat Echa.


Sepulangnya Ayanda, Echa sudah mandi dan juga berganti pakaian. Diusianya yang masih empat tahun mengharuskan Echa untuk mandiri.


"Anak Mamah udah cantik," ucap Ayanda sambil mengecup pipi Echa.


"Kamu mau mie rebus? Mamah beli mie rebus sama telor untuk kamu."


Echa pun bersorak gembira. Akhirnya, malam ini dia tidak makan hanya dengan berlaukkan kecap lagi. Sudah lebih dari tiga hari dia memakan makanan itu.


"Kok cuma satu mie-nya? Buat Mamah mana?" Ayanda pun mengusap lembut rambutan Echa.


"Mamah biar makan pake yang ada aja, " ucap Ayanda seraya tersenyum.


Echa pun menggeleng, Echa tidak tega karena Mamahnya selalu saja berkorban untuknya. Apalagi dari segi makanan. Pernah ketika Mamahnya gajian, Ayanda membeli nasi goreng untuk Echa. Ketika Echa bertanya kenapa hanya satu? Ayanda menjawab dia sudah makan. Tapi, ketika malam tiba dan Echa sudah terlelap, Ayanda makan hanya dengan garam saja. Di situlah Echa tidak ingin menjadi anak yang egois. Apapun yang dia inginkan harus bisa dia redam.


"Kita makan sama-sama, Mah. Echa makan Mamah pun harus makan."


***


"Aku iri kepada hidup kalian sekarang," lirihnya.


Radit memeluk tubuh Echa dari belakang dan membuat air mata yang sedari tadi menganak akhirnya tumpah juga. Radit mendorong kursi roda Echa dan menjauhi kamar tersebut.


Berhentilah mereka di sebuah taman. Dan Radit mengusap air mata Echa yang masih mengalir.


"Sayang ...."


"Aku bahagia melihat mereka bahagia. Namun, selalu muncul di kepalaku kejadian demi kejadian ketika aku harus berjuang berdua bersama Mamah. Melewati hari-hari yang tidak mudah tanpa kehadiran Ayah."


"Hari-hari di mana aku harus menahan lapar serta menahan semua keinginanku. Aku dituntut harus baik-baik saja padahal aku menderita dan tersiksa," tambahnya dengan nada yang sangat lirih.


"Ingin rasanya aku bilang tidak suka dan tidak mau di depan Mamahku. Tapi, ketika melihat peluhnya yang bercucuran, tangannya yang kasar mulutku seakan tak tega mengatakan itu semua. Aku hanya akan mengatakan aku mau dan aku sangat suka."


"Andai Ayah tidak mengusirku dan Mamah, mungkin hidupku akan bahagia seperti Riana dan juga si kembar."


Radit menggenggam tangan Echa dengan sangat erat. Dadanya sesak ketika melihat bulir bening membasahi wajah kekasihnya.


"Kamu menyesal dengan takdir kamu?"


"Tidak ada yang harus aku sesali, terkadang takdir memang sangat kejam. Dan beginilah takdir yang sudah Tuhan tentukan untukku. Hanya sebuah rasa iri dari seorang anak yang mendambakan masa kecilnya bisa diulang lagi."


...----------------...


Yang nangis baca part ini coba ☝️