
"Apa?" Mata Kanaya melebar ketika mengetahui Echa adalah anaknya.
Dia pikir usia Rion masih muda. Padahal usianya sudah kepala lima. Hanya saja wajahnya yang masih awet muda dan rambutnya masih hitam mengkilap. Jadi, bisa mengecoh pandangan orang lain.
"Bu-bu." Aleeya mendekat ke arah Echa.
"Kenapa Aleeya?" tanya Echa.
Mata Aleeya melebar ketika melihat wanita yang dekat dengan sang engkong tadi di taman.
"Hush-Hush-hush," ucapnya seperti mengusir anak ayam.
"Pigi!" ucap Aleeya lagi.
Tiba-tiba dua saudara Aleeya sudah berada di belakang Aleeya. Aleena mengambil sapu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hush!" usir Aleena sambil mengarahkan sapu kepada Kanaya.
"Eh, apa-apaan ini?" Kanaya mendapat serangan dari tiga kurcaci.
Saking kesalnya tiga bocah ini, akhirnya dengan kompak mereka menggigit tangan Kanaya hingga dia menjerit kesakitan. Membuat penghuni rumah lainnya keluar. Tak terkecuali Rion.
"Mas, tolong saya," ucap Kanaya ke arah Rion.
Rion sudah mendapat tatapan tajam dari dua pasang bola mata. "Apa perlu Iyan panggil teman-teman Iyan?" bisiknya pada sang ayah. Rion benar-benar merasa diancam oleh ketiga anak dan cucu-cucunya.
"Sayang, anak-anak kita itu bukannya diambil," ujar Radit.
"Biarin aja, biar Engkongnya tahu bagaimana garangnya cucu-cucunya," jawab Echa.
"Jangan pernah main-main, atau lama-lama kamu akan mati kena gigitan si kembar yang mengandung rabies," imbuhnya pada Kanaya.
"Ini anak orang apa anak guguk, sih?" keluh Kanaya yang masih mendapat serangan dari tiga kurcaci.
"Nonoh pigi!" usir Aleesa.
"Lebih baik kamu pergi dari sini. Sebelum ada keributan yang lain," ucap Rion. Rion sedikit cemas dengan pandangan Iyan yang tidak biasa. Sekali Iyan menjentikkan jari pasti akan terjadi sesuatu. Menandakan Iyan telah berhasil mengundang teman-temannya.
"Tapi, Mas ...."
"Mbak ini tuli apa Bolot sih? Kata Ayah saya pergi ya pergi!" usir Riana yang sudah di mode tidak sabar.
Lima belas menit berselang, tiga kurcaci bergandengan tangan menghampiri Rion. Mereka duduk di pangkuan Engkongnya.
"Uyul tayang Enton," ucap Aleeya yang sudah memeluk tubuh Rion.
"Dak boyeh tayang yang lain," tambah Aleena.
"Ti Eeca didit Agi tewena. Bial dalah-dalah," sambung Aleesa.
Rion tersenyum mendengar ucapan tiga cucu kesayangannya ini. Betapa mereka sangat menyayangi Rion.
"Ayah liat sendiri kan gimana posesifnya cucu-cucu Ayah," ujar Echa yang baru saja bergabung.
"Udah tua, Yah. Jangan mikirin istri melulu. Apa Ayah tidak bahagia hidup bersama kami?" cerca Riana. Dalam masalah ini Riana yang akan sangat menolak.
"Kok kalian malah nyerang Ayah?"
"Bukan nyerang, tapi ngingetin. Ketika Ayah nikah lagi terus punya anak, gak malu sama cucu-cucu Ayah?" terang Iyan.
"Dit, tolongin Ayah," pintanya pada Radit.
"Di luar kuasa Radit, Yah," ucapnya sambil terkekeh.
"Enton punya Eena, Eeca sama Eeya," ujar Aleena. Diangguki oleh dua saudaranya yang lain.
Rion semakin tidak bisa berkutik. Dikelilingi anak-anak dan cucu-cucu over posesif sungguh menyebalkan.
"Engkong ... oh ... Engkong ...."
Suara Arya menggema di dalam rumah Echa. Senyumnya merekah tatkala melihat sang sahabat ada di ruang keluarga.
"Gua udah dapat informasi tentang cewek yang berhijab itu." Sontak bola mata ketiga anak Rion melebar dengan sempurna. Menatap ayahnya dengan tatapan membunuh.
"Jangan dibongkar di sini," bisiknya dengan nada geram.
...****************...
Komen dong ....