Bang Duda

Bang Duda
373. HPL (Musim Kedua)



Amanda pun bertolak ke Surabaya. Dan satu jam setelahnya, Satria bertolak ke Kalimantan. Seolah semesta tidak mengijinkan mereka untuk bersatu. Amanda memilih pergi dan Satria memilih untuk menuruti sang kakak meninggalkan Kota di mana namanya dibesarkan.


Kepergian Amanda pun sudah sampai ke telinga Rion. Namun, Rion memilih acuh. Riana serta Iyan pun sudah mulai lelah dengan sikap sang bunda. Padahal, setiap malam mereka selalu berdoa agar sang bunda bertaubat.


"Terserah dia lah, Yah. Ri, udah gak peduli. Ri, sudah hidup bahagia dengan Ayah, dengan Iyan serta Kak Echa."


"Kok Abang gak disebut?" protes Radit.


"Makhluk astral Abang mah. Gak perlu Ri sebut," sungut Riana.


Sebelum Rion memanggil anak-anak dan menantunya, Radit sedang asyik mengganggu Riana yang sedang membuat video untuk tugasnya. Hingga adu mulut pun terjadi. Itulah yang membuat Echa terkadang pusing akan tingkah suaminya. Semenjak pacaran dan hidup berdua. Radit adalah sosok pria yang cool. Tetapi, setelah tinggal bersama adik-adiknya dia menjelma menjadi kakak yang super jahil.


Di kamar, Radit sedang mengajak ngobrol anak-anaknya yang masih ada di dalam perut. Setiap ada gerakan, Radit tertawa lepas. Hingga senyuman pun selalu terukir di bibir Echa.


"Ba, kenapa sih kamu jahil banget sama Riana?" tanya Echa sambil mengusap lembut rambut Radit.


Radit menegakkan tubuhnya dan bergeser mensejajarkan diri dengan sang istri yang tengah bersandar di kepala ranjang.


"Itu terapi yang aku lakukan, Sayang. Ucapan Riana itu tidak sesuai dengan hatinya. Luka yang ditorehkan ibunya sangat menyakitkan. Masih ada sorot kesedihan di matanya," terang Radit.


Wajah Echa pun berubah sendu. "Butuh waktu yang lama, Ba. Aku pernah mengalami berada di posisi Riana. Dan itu sangat tidak mudah." Radit membelai rambut sang istri dan menariknya ke dalam pelukan.


"Itu sudah berlalu. Sekarang, sudah waktunya kamu bahagia bersama aku dan anak-anak kita."


Di lain Kota, Amanda bak seorang ratu. Dimanjakan di rumah mewah dengan segala fasilitas di dalamnya. Ada sedikit kejanggalan, tidak ada foto Sha dan keluarganya di rumah itu. Tetapi, tak dia hiraukan. Yang terpenting, hidupnya enak.


"Kak Manda," panggil Sha. Amanda yang sedang menikmati udara malam pun menghampiri Sha di ruang keluarga.


Sha menyodorkan sebuah kertas kepada Amanda. "Tanda tanganlah," ucap Sha.


Amanda membaca semuanya. Tanpa ragu dia menandatangi surat perjanjian itu. Sha tersenyum ke arah Amanda.


"Suamimu mana?" tanya Amanda.


"Dia tidak bisa ke sini. Mungkin beberapa bulan lagi dia ke sini. Dia sangat sibuk," jawab Sha.


"Dan besok aku harus sudah kembali ke Jakarta," lanjut Sha lagi.


Kemudian, Sha mengambil selembar kertas di dalam tasnya. Menyerahkannya kepada Amanda.


"Ini lima ratus juta di awal. Setelah bayi itu lahir, aku akan memberikan lima ratus juta lagi." Amanda pun mengangguk dan rona bahagia terpampang nyata di wajahnya.


"Hasil penjualan mobil dari mantan suami dua ratus lima puluh juta. Ini lima ratus juta dan empat bulan lagi dapat lagi lima ratus juta. Satu milyar seperempat," soraknya dalam hati.


Berbeda dengan Amanda. Di bawah langit yang sama, tapi di Kota yang berbeda seorang pria terlihat sedih. Hidup seorang diri di sebuah hunian kecil yang hanya memiliki satu kamar, kamar mandi dan juga dapur yang sempit. Layaknya sebuah kontrakan. Dia hanya mampu menatap langit-langit kamar dengan tatapan pilu.


"Di mana kamu, Nak?" Itulah yang Satria gumamkan. Yang dia khawatirkan bukanlah Amanda. Melainkan calon anaknya. Dia takut, Amanda melakukan hal bodoh. Yang akan mencelakai anaknya.


Waktu terus saja berputar, hari berganti Minggu dan mingu berganti bulan. Tak terasa kandungan Echa sudah memasuki masa HPL. Dan hari ini adalah hari pemeriksaan kandungan serta USG terakhir sebelum Echa melakukan persalinan secara Caesar


"Hati-hati, Sayang," ucap Radit yang kini menggandeng tangan istrinya. Kehamilan Echa sangatlah besar tidak seperti ibu hamil pada umumnya. Berat badannya pun naik lebih dari 20 kg. Tetapi, tidak membuat Radit berpaling. Malah sebaliknya, Radit semakin gemas pada istrinya.


Mereka sudah mengatur janji dengan dokter Sarah. Mantan kekasih dari Papa Gi sewaktu muda.


"Siang Tante," sapa Echa.


"Hai, gimana? Ada keluhan?" tanya Sarah.


"Kehamilan kembar memang seperti itu. Apalagi kehamilan kembar tiga pasti lebih berat dari hamil kembar dua yang pernah Mamah kamu rasakan."


"Perjuangan kamu, keluhan kamu nanti akan terbayarkan ketika kamu melihat bayi yang berlumuran darah dengan suara tangisan yang cukup memekik telinga." Hanya seulas senyum yang Echa berikan.


"Berbaring, yuk," titah Sarah.


Dress Echa dinaikkan dan Sarah mulai mengoleskan gel di atas perut buncit Echa. "Kali ini semoga anak-anak kalian memperlihatkan jenis kelaminnya, ya. Karena Tante sudah tidak tahan dicecar pertanyaan oleh Papa dan Mamah kamu. Sampe kuping Tante pengeng dikatain dokter abal-abal," keluhnya pada Echa.


Dengusan kecil keluar dari bibir Sarah. "Selalu aja ngumpet. Gak mau nunjukin," gerutunya.


Radit dan Echa hanya tertawa mendengarnya. "Emang itu kemauan kita, Tan. Kami tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak-anak kami. Yang terpenting, mereka sehat," sahut Radit.


"Pantes," balas dokter Sarah.


Setelah di USG, Echa mulai duduk di hadapan dokter Sarah. "Minggu depan kamu harus datang ke rumah sakit ini, ya. Kita akan lakukan operasi untuk kamu." Echa pun mengangguk mengerti.


"Jangan stres, jaga kesehatan. Dan jangan takut. Karena banyak orang yang menantikan maha karya kalian," imbuh dokter Sarah.


Kepulangan Radit dan Echa sudah ditunggu banyak orang. Apalagi, mereka berdua tidak langsung pulang ke rumah melainkan mengunjungi sang papih dulu di kantor.


Baru saja masuk, Echa sudah diberondong pertanyaan oleh ketiga orangtuanya.


"Apa jenis kelaminnya?" Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Ayanda, Gio dan juga Rion.


"Sama kayak kemarin-kemarin," jawab Radit.


Raut kecewa terlihat jelas di mata calon Kakek dan nenek. Echa hanya menggedikkan bahunya lalu memeluk tubuh sang mamah dari samping.


"Minggu depan persalinan Echa. Doakan Echa ya, Mah," katanya pada Ayanda.


"Mamah pasti selalu mendoakan kamu, Kak."


Setelah dokter Sarah mengatakan hal seperti itu, ada sedikit ketakutan di hati Echa. Dia takut, jika dia tidak mampu berjuang untuk anak-anaknya. Dan ada tiga nyawa yang harus dia perjuangkan.


"Jangan dipikirkan, Sayang. Aku akan selalu menemani kamu. Menggenggam tangan kamu, ketika kamu merasakan kesakitan." Bulir bening pun menetes begitu saja di pipi Echa.


Semua orang sudah siap mengantar Echa ke rumah sakit. Membawa semua yang Echa butuhkan. Radit terus memeluk tubuh Echa menyalurkan ketenangan. Dia sangat tahu, ada rasa takut di dalam hati Echa.


Tibanya di rumah sakit, Addhitama sudah menyiapkan kamar khusus untuk sang menantu. Dokter yang bertugas untuk persalinan Echa esok hari pun adalah dokter-dokter terbaik pilihan Addhitama sendiri.


Ketakutan Echa tergantikan oleh sikap siaga seluruh anggota keluarganya. Rasa takut itu berubah menjadi rasa bahagia. Dan Echa tidak akan menyerah begitu saja. Dia tidak akan mengecewakan orang-orang yang mencintainya dengan tulus.


Setelah melalui proses pemeriksaan. Dan wajib puasa sebelum dilakukan operasi. Pagi ini, Echa dibawa ke ruang operasi. Didampingi oleh suami tercintanya yang tidak pernah melepaskan genggaman tangannya walaupun hanya sedetik pun.


Sedangkan para orangtua dan juga keluarga Echa menunggu dengan harap-harap cemas. Ponsel Addhitama berdering.


"Apa? Dilarikan ke rumah sakit?"


...****************...


Lunas ya ...


Aku mau tari selimut dulu, dingin dan mabok kata aku. 4 rebu kata lebih hari ini demi memanjakan kalian.


Kalo bab ini komen sedikit, besok aku libur ya 😜