
Rahang Gio mengeras ketika memegang kenop pintu. Ketika dia masuk suasana sangat aman, damai, tentram terkendali. Juna memang ada di sana, tapi dia duduk berjauhan dengan istrinya.
Gio menatap tajam ke arah Rion sedangkan Rion acuh dengan tatapan itu.
"Loh, katanya ada meeting? Kenapa ke sini?"
"Dia itu takut, Dek. Takut kamu kena tikungan," jawab Rion.
Gio mendelik kesal ke arah Rion dan dia menatap Juna dengan tatapan tidak bersahabat. Ayanda menghampiri Gio dan menarik tangannya lembut keluar ruangan Amanda. Karena dia tidak ingin istirahat Amanda terganggu.
"Kita bicara di mobil," ucap Ayanda.
Setelah di dalam mobil, mereka sengaja duduk di kursi penumpang. Ayanda menatap Gio dan menggenggam tangan suaminya.
"Daddy takut kalo Mommy tergoda?" tanya Ayanda.
Gio hanya terdiam tak menjawab apapun. "Daddy adalah sosok suami sempurna. Apa yang mau Mommy cari lagi di pria lain? Daddy memiliki semuanya, Daddy adalah paket lengkap. Dan hanya wanita yang sangat beruntung bisa memiliki suami macam Daddy," ungkapnya seraya tersenyum.
Gio langsung menyambar bibir Ayanda dan melum*tnya tanpa ampun. Ayanda sudah merasakan ada yang sedang berdiri di bawah sana.
"Mom." Ayanda hanya menghela napas kasar.
"Ya udah."
"Di kantor Daddy, ya. Kalo di rumah pasti diganggu si kembar," ucap Gio bersemangat.
Kembali ke ruang rawat Amanda.
Rion dan Juna sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Juna masih terbayang wajah cantik Ayanda dan Rion sedang memikirkan kondisi putri dan istrinya.
"Kenapa lu ngelepasin Ayanda?" tanya Juna.
Rion melirik ke arah Juna sekilas. "Bukan gua yang lepasin, dia yang melepaskan diri," sahutnya malas.
"Apa karena suaminya lebih baik?"
Rion menatap sinis ke arah Juna. "Ngapain kepo sih? Masih mau jadi pebinor?" sarkasnya.
Juna pun terdiam, tidak bisa menjawab ucapan Rion. "Dia gak bakal tergoda, apa sih kelebihan lu dari si Giondra? Kalah telak," cibir Rion.
Amanda pun membuka matanya, dan menatap ke arah suami dan juga kakaknya bergantian. "Kak, Mbak Yanda sudah memiliki suami yang sangat sempurna. Jadi, lupakanlah dia. Dia memang mirip Mamih dan dia juga sangat baik. Menyayangi Manda dengan tulus," jelasnya.
"Tuh denger, kalo lu sampe macam-macam gua orang yang pertama yang akan menjaga keutuhan rumah tangga Yanda dan juga Gio."
Juna hanya menghela napas kasar, dia memang sudah kalah. Kalah sebelum berjuang.
Sore harinya, tiga pasangan suami-istri sudah berada di ruangan Amanda. Ada juga Echa yang ikut mamah dan papanya.
Momen seperti inilah yang membuat Amanda tidak merasa sendiri. Membuat Amanda dicintai dan disayangi. "Nda, sakit kan?" tanya Sheza.
"Banget." Rion terus mengusap lembut rambut Amanda.
"Tuh denger Papih, sakit. Jangan ngerengek minta dedek buat Keysha terus," imbuh Sheza.
"Parah nih, baru juga anak lu dua bulan udah tancap gas aja," imbuh Arya.
"Adek ipar kagak ada akhlak lu," sentak Azka.
Gio pun tertawa, ternyata sepupunya ini kebalikan akan dirinya.
"Contoh nih bapak Giondra, dia melarang istrinya hamil lagi karena dia tidak ingin istrinya merasakan sakit," ucap Arya lagi.
"Kak Gi, kan udah punya 3 anak. Lah gua, masih satu," jawab enteng Azka.
"Suruh si Azka yang bikinnya," timpal Ayanda.
"Setuju," jawab Sheza sambil tertawa.
Para perempuan sibuk bercengkrama di ruangan Amanda. Rion dan para pria lain memilih untuk melihat putri Rion di ruang NICU. Mereka hanya bisa melihat dari luar.
"Gi, apakah anak gua bisa bertahan?" tanyanya penuh ketakutan.
"Tidak ada apa-apa kan dengan anak lu?" Rion hanya menggeleng.
"Bayi prematur emang harus ditaruh di ruangan ini. Dan untuk membantunya bernapas, dipasang selang oksigen dan nasal kanul."
"Bhas, makasih." Rion langsung memeluk tubuh Arya.
"Apa-apaan ini?" tanya Arya sambil melepaskan pelukannya.
"Makasih, pas Echa lahir lu udah ngadzanin Echa. Makasih banyak," ucap Rion dengan nada suara yang berat.
Gio dan Azka saling pandang. Mereka baru tahu semua ini.
"Udahlah, yang penting Echa sekarang tumbuh menjadi anak yang baik dan juga sehat."
# Flashback on.
Minggu ini kehamilan Ayanda sudah memasuki HPL. Perlengkapan bayi sudah dipersiapakan. Hari ini Ayanda melarang Rion untuk pergi ke Semarang. Karena Ayanda takut jika, dia melahirkan tanpa suaminya di sisinya.
"Aku cuma dua hari kok di sana, HPL kamu masih empat hari lagi. Jadi aku masih bisa nemenin kamu lahiran," imbuh Rion.
Ayanda hanya bisa pasrah, semakin dia melarang Rion akan semakin keras. "Nak, lahirlah ketika Ayahmu sudah kembali ya. Mamah ingin Ayah menemani Mamah melahirkan kamu, yang memberikan kekuatan kepada Mamah seperti suami pada umumnya," lirihnya.
Bukan hanya Ayanda yang melarang, Arya pun sangat melarang Rion. Otak Rion adalah batu kali, keras dan susah jika diajak bicara baik-baik.
"Ini pertemuan besar, kalo gua berhasil ini semua buat anak dan istri gua," ucapnya sangat percaya diri.
Berangkatlah Rion ke Semarang, perut Ayanda sudah mulai merasakan kontraksi kecil. Namun, Ayanda masih sangat tenang. Dia terus mengusap lembut perutnya yang buncit.
"Sabar ya, Nak. Dua hari lagi Ayah akan kembali," gumamnya.
Setiap jam kontraksi semakin terasa. Hanya saja, datang dan pergi. Ayanda masih berdiam diri di rumah. Hingga sore hari, kontraksi hebat mulai dia rasakan. Ayanda mengambil tas yang sudah dia persiapkan dan berjalan pelan menuju bidan tak jauh dari rumahnya dulu.
"Mbak, itu air ketubannya udah pecah," ucap tetangga Ayanda.
"Astaghfirullah."
Si ibu itu langsung mengeluarkan motor bebeknya dan membantu Ayanda menuju rumah bidan. Ketika sudah diperiksa, ternyata pembukaannya sudah masuk pembukaan sembilan. Tinggal menunggu sebentar lagi.
Keringat dan air mata menjadi satu, keringat karena menahan sakit dan air mata sedih karena ketika dia berjuang antara hidup dan mati tanpa seorang pun yang menemani.
Sakit perut dan sakit hatinya jadi satu. Dengan sekuat tenaga Ayanda berjuang untuk melahirkan Echa seorang diri. Hanya ditemani tetangganya yang baik hati menolongnya. Setelah satu jam berjuang, suara tangisan bayi memecah keheningan. Air mata Ayanda tak hentinya menetes, apalagi melihat bayi mungil yang sedang dibersihkan oleh bidan.
"Selamat, anak Mbak perempuan dan sangat cantik," ucap bidan.
"Mbak, ini yang akan mengadzani siapa?" tanya tetangga Ayanda.
Seketika Ayanda terdiam. "Suami saya baru aja keluar kota," imbuhnya.
Setelah kondisi Ayanda sudah mulai normal, bidan memberikan bayi mungilnya untuk disusui. Ayanda tersenyum bahagia ketika melihat putrinya lahir dengan sehat dan juga sempurna. Pipi yang gembul berwarna merah membuat Ayanda tak berhenti menciumi putrinya.
"Ayanda," panggil Arya.
"Kapan kamu melahirkan?" tanyanya.
"Tiga jam yang lalu."
"Sendiri?" Ayanda hanya menganggukkan kepala.
Betapa sakitnya hati Arya mendengar kenyataan ini. "Ar-ya, apa bisa kamu mengadzani putriku?" ucap Ayanda ragu.
"Karena Mas Ri ...."
"Iya aku bisa, dia juga keponakanku."
Bidan membantu Arya untuk menggendong bayi Ayanda. Dia mengadzani putri sahabatnya ini dengan penuh haru. Menatap bayi di tangannya membuat air mata Arya menetes.
"Jadilah anak yang sayang kepada Mamahmu, ya," gumamnya.
# Flashback off.
"Jangan pernah lu sakitin Amanda seperti lu sakitin Ayanda. Bukan hanya Amanda yang akan pergi, tapi gua juga akan pergi dan melupakan persahabatan kita."
****
Komen mana komen? Sedih tahu 🤧 lapak sepi komentar begini.😪
Happy reading ...