
Seorang ibu mana yang akan tega melepaskan anak perempuannya ke negeri orang seorang diri. Anak yang selalu bersamanya dari bayi dan sekarang dia harus berpisah jauh dari putri tercintanya.
Ayanda bisa menutupi semuanya dengan senyuman manis. Namun, hati kecilnya menangis sangat keras. Dia merindukan Echa, dia ingin menemani Echa dalam masa penyembuhannya.
Berkali-kali Ayanda meminta kepada sang ayah mertua untuk bertemu dengan putri tercinta. Tapi, Genta selalu melarangnya. Dengan alasan belum ada satu bulan Echa meninggalkan mereka semua yang berada di Indonesia.
Segala bujuk rayu Ayanda keluarkan kepada Gio, tapi tidak mendapat respon yang baik dari suaminya. Jawabannya sama seperti apa yang ayahnya bilang. Yang Ayanda bisa lakukan hanyalah menangis di saat semua orang terlelap tidur.
Seperti malam ini, sudah tiga Minggu Ayanda jauh dari putri tercintanya. Ketika semua orang terlelap, dia akan masuk ke dalam kamar Echa. Menangis di sana dengan mendekap hangat foto putrinya.
"Dek, apa pengobatannya sakit? Mamah ingin selalu berada di samping kamu. Meredam rasa sakit yang kamu rasakan," lirihnya.
Dia teringat ketika pertama kali dokter memvonis sakit Echa dan Echa harus mendapatkan serangkaian pengobatan. Dia akan menangis keras karena sakitnya jarum suntik yang menancap di tangan mungilnya.
"Mamah kangen kamu, tanpa kamu satu bagian dari diri Mamah terasa kosong."
Di lain negara pun seorang gadis cantik sedang memegang secangkir kopi dengan asap yang mengepul. Dia berdiri di atas balkon memandang indahnya kota Canberra dari atas. Kerinduannya akan sosok pahlawan utama dalam hidupnya kini memenuhi hatinya.
"Mah, Echa kangen," ucapnya dengan tatapan kosong ke depan.
Ikatan batin seorang ibu dan anak tidak bisa terbantahkan. Mereka terikat sangat kuat, hingga sulit untuk dipisahkan.
Yang bisa Echa lakukan adalah memandang foto Mamahnya yang sedang tersenyum dan memeluk dirinya. Echa hanya bisa memejamkan matanya dan membayangkan jika sekarang sang mamah sedang memeluknya erat.
Lengkungan senyum hadir di bibirnya, tak lama kemudian setetes bulir bening keluar dari ujung matanya.
Setelah merasa puas memandang kota Canberra, Echa masuk ke kamarnya. Dia melihat almanak yang berada di atas meja belajar. Echa hanya menghela napas kasar.
"Echa tidak bisa berkumpul bersama Mamah dan yang lainnya," gumamnya yang terdengar sangat sedih.
****
Setiap pagi Ayanda selalu membersihkan kamar Echa dan duduk di samping tempat tidur cukup lama. Gio hanya dapat menghela napas kasar karena dia pun tidak bisa melakukan apapun.
Bertemu dengan putrinya pun hanya bisa dilakukan ketika Echa sudah 2 bulan berada di sana. Masih tersisa waktu 35 hari lagi untuk bertemu putrinya.
"Mom, tapan nait cawat? tapan temu tata?"
Pertanyaan itu yang setiap hari selalu si kembar tanyakan. Ayanda hanya bisa menjawab dengan senyuman dan ucapan lembut. Sedangkan hatinya ingin menangis sangat keras. Dia pun sangat merindukan Echa.
Hari seakan lama berputar, rindu Ayanda sangat menggebu kepada Echa. Gio menghampiri Ayanda yang sedang duduk di sofa kamarnya uang sedang menatap ponsel.
"Mom," panggil Gio. Ayanda pun menoleh dan menyunggingkan senyuman.
Gio duduk di samping Ayanda dan merangkul mesra pundak istrinya. "Mommy mau kado ulang tahun apa dari Daddy?" tanya Gio.
Sejenak Ayanda berpikir, lalu dia menatap Gio dengan penuh harap. "Mommy ingin bertemu dengan putri Mommy," jawabnya.
"Apa tidak ada yang lain? Itu sangat sulit Daddy kabulkan. Ulangtahun Mommy tinggal 2 Minggu lagi dan waktu kita untuk bertemu Echa pun masih 1 bulan lagi," tutur Gio.
Ayanda menggeleng. "Tidak ada hadiah terindah kecuali putri Mommy. Mommy sangat merindukan Echa," lirihnya. Tak terasa bulir air mata pun menetes membasahi pipinya. Gio benar-benar tidak tega melihatnya.
"Akan Daddy coba membujuk Ayah. Siapa tahu kita diperbolehkan menjenguk Echa lebih cepat." Ayanda pun mengangguk dan memeluk erat tubuh suaminya.
Sedangkan di ruang bawah sedang ada pertikaian antar dua pria dewasa dan juga dua bocah lelaki kecil. Mereka sedang bermain ludo dan siapa yang kalah wajahnya akan dicoret-coret memakai bedak bayi dan juga cat warna.
"Astaghfirullah," pekik Ayanda.
Keempat manusia itu menoleh ke arah Ayanda dan juga Gio yang baru saja turun. Mereka menunjukkan senyum bahagia.
"Muka kalian diapain?" tanya Gio seraya menggelengkan kepala.
"Yukis," sahut Ghassan.
"Badut," sahut Gatthan.
Ayanda dan Gio pun tertawa. Apalagi melihat Rion atau Arya yang kalah. Si kembar akan sangat bahagia. Karena yang menjadi algojonya adalah si kembar.
Sedangkan dua ibu-ibu di dapur sedang asyik memasak dengan chef yang dijadwalkan datang hari ini. Mereka selalu antusias ketika ada chef yang akan memasak di kediaman Gio.
"Dek, kamu tuh boleh kangen sama Echa. Tapi, jangan lupa kamu juga punya si kembar yang mesti kamu rawat. Dan jangan sampe kamu sakit," imbuh Rion ketika si kembar asyik mencoret-coret wajahnya.
"Iya, Mas."
"Lu gak cemburu Ndra? Mantan laki bini lu perhatian begitu?" goda Arya. Rion pun berdecak kesal. Arya senang sekali membuat panas keadaan.
"Ngapain dicemburuin Pak Gio. Hanya sebatas perhatian dari mantan gak usah dimasukin ke dalam hati. Kan mantan mah sesuatu yang udah dibuang," sahut Amanda yang sedang membawa hasil masakannya mendekat kearah yang lain.
"Tuh denger, bininya mantan laki bini gua yang jawab," balas Gio.
"Masa lalu dan masa depan yang akur judulnya," tukas Beby.
"Lagian ngapain sih masih mempermasalahkan masa lalu. Tidak akan ada perpisahan jika hubungan rumah tangga baik-baik saja," jelas Ayanda yang sekarang sudah membantu Beby membawa makanan di tangannya.
"Kami bertemu baik-baik, berpisah juga baik-baik. Hak asuh anak juga berdua, harta gono-gini juga dibagi rata. Terus mau meributkan apa lagi? Lebih baik kami menjadi keluarga supaya tidak ada kecanggungan diantara kami berdua," lanjutnya.
"Adem ya kalo ngedenger Mbak Aya bicara. Seperti gak ada dendam di hatinya," kata Amanda.
"Kayaknya sifat ini ya, yang bikin Kak Gi ogah berpaling," ujar Beby.
Ayanda memicingkan matanya, matanya seakan mencari tahu kejujuran dari suaminya.
"Gosip itu," jawab Gio.
"Benernya?" Rion pun penasaran. Begitu juga Amanda yang sedang sibuk menyuapi si kembar.
"Pas pertama gua ketemu istri gua, itulah malam di mana kita berdua putus. Bapaknya si Sarah itu gak setuju sama hubungan kita karena lu tau bapaknya pan kaya raya. Sedangkan pada waktu itu, nama gua gak pake nama belakang Ayah gua."
"Oh, jadi bokapnya Sarah nyangkanya lu kere," balas Arya.
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Repot ya kalo pacaran sama anak orang kaya," imbuh Rion.
"Putusnya sih karena si Sarah ternyata diam-diam udah tunangan sama lelaki yang bapaknya pilihin. Dan gak ada gunanya gua berjuang, dia juga gak mau berjuang untuk hubungan kita."
"Wow, amazing," kata Beby.
"Cocok banget ya, Mbak Aya yang punya hati sangat baik bertemu sama Pak Gio yang gentleman." Rion menatap istrinya dengan tatapan kesal. Karena sedari tadi memuji Gio.
"Emang aku gak gentleman?" tanya Rion.
"Abang mah duda judes," sahut Amanda.
Semua orang pun tertawa mendengar jawaban Amanda. Ya, memang betul Rion adalah duda judes yang tidak bisa bersikap manis kepada wanita.
Ponsel Gio berdering, dan bibirnya melengkung dengan sempurna.
"Echa," katanya.
Semua orang pun tersenyum bahagia, apalagi si kembar yang sudah berada di depan layar.
"Tata,"panggil si kembar berbarengan.
"Lagi apa kalian?" tanya Echa.
Si kembar pun beringsut menjauh dan memperlihatkan wajah Rion dan Arya ke depan layar ponsel. Echa pun tertawa terpingkal-pingkal.
"Seneng banget lu rupanya," geram Arya.
"Di sini gak ada badut soalnya, Om."
"Gak jauh gak Deket, lu mah tetep nyebelin," gerutu Arya.
"Ayah, ayah semakin ganteng di make up seperti itu," imbuh Echa. Tidak dipungkiri ada kerinduan dari sorot mata ayahnya. Makanya, Echa tidak akan membahas hal yang membuat ayahnya dan dia sedih.
"Ayah kangen kamu." Semua orang pun terdiam. Ayanda hanya bisa menundukkan kepala, menahan sedih hatinya.
"Echa juga sangat merindukan kalian semua. Mamah mana?" Gio memberikan ponselnya ke sang istri.
"Mamah jangan nangis, di sini Echa ntar nangis. Lihat Mah, Echa sedang berada di rumah sakit tempat Kak Radit praktek. Echa baru selesai terapi pengobatan yang pertama." Ayanda hanya diam dan air matanya pun menetes.
"Mah, Echa baik-baik saja." Tidak dipungkiri hati Echa pun sakit melihat sang Mamah seperti ini.
Gio langsung mengambil ponselnya. Dan mengarahkan wajahnya. "Kamu gak nyapa Papa?"
"Love you Papa tampan. Muach." Echa dan Gio pun tertawa.
"Di sini juga lagi pada kumpul." Gio mengarahkan ponselnya ke wajah-wajah orang-orang yang berada di sana.
"Bunda, Riana mana?" Wajah Amanda dibuat tidak boleh sedih. "Sedang pergi sama Mamih Sheza dan juga Papih Azka."
"Kaka gendut," sapa Echa kepada Beby.
"Kakak lahiran kamu pulang ya," pinta Beby.
"Izin Kakek," jawab Echa seraya tertawa.
Mereka pun berbincang sebentar dan akhirnya Echa menyudahi panggilan videonya. Setelah panggilan itu selesai, wajah semua orang yang berada di ruangan keluarga Gio terlihat sangat murung. Begitu pun si kembar yang kini sedang berada di pangkuan Daddy dan Mommy-nya dengan tangan yang melingkar di leher kedua orangtuanya. Si kembar selalu sedih jika telah selesai mengobrol dengan kakak mereka.
Dan di Canberra pun, Echa menundukkan kepalanya sangat dalam. Menangis dalam kesendirian dan sedang berjuang demi sebuah kesembuhan.
"Sayang, sudah waktunya terapi lagi." Echa pun segera menghapus air matanya.
"Nangis lagi?" Echa pun hanya tersenyum.
Radit menggenggam tangan Echa dan membawanya masuk ke dalam ruang pengobatan. Sakit dan bosan mengkonsumsi obat-obatan tidak menyurutkan semangat Echa untuk menjalani semuanya. Apalagi jika dia membaca sepucuk surat yang beberapa hari lalu Mamahnya kirimkan untuknya.
Peluk Mamah, Sayang. Dan katakan jika kamu sudah sehat. Itulah yang selalu Mamah impikan.
***
Sebelumnya mohon maap kalo ada yang bosen dengan cerita Echa yang aku sisipkan di cerita Bang Duda yang muter-muter terus. Sebenarnya aku hanya menyisipkan masalah besarnya saja tanpa pernah menjelaskan asal muasal masalah itu terjadi. Karena itu aku tulis di cerita baru aku yang berjudul Yang Terluka (Elthasya).
Padahal memutar-mutar cerita ini juga pusing say. Sampe palaku sakit dan perutku mual. Tapi, aku ucapin makasih banyak atas semua komentar kalian.🙏
TERUS DUKUNG BANG DUDA YA KALO ADA NOTIF UP LANGSUNG BACA, JANGAN DITIMBUN-TIMBUN OKE. BIAR KARYA LEVEL AKU GAK TURUN. AKU LAGI DIKEJAR DEADLINE SOALNYA.🤧