
"Siapa wanita yang berhijab?" desak Echa yang kini sudah menatap tajam sang ayah.
"Wanita cantik penjaga toko mainan di depan sana," jelas Arya. Membuat Rion mendengus kesal.
"Apa Ayah merasa kesepian?" tanya Echa pada Rion. Namun, pertanyaan itu sarat akan kekecewaan.
"Apa tidak bisa, Ayah seperti Papih Addhitama? Ditinggalkan Mamih sedari suami Echa lahir dan sampai sekarang masih mampu menjaga cintanya hanya untuk mendiang Mamih. Apa Ayah tidak bisa seperti itu? Atau belum cukupkah kasih sayang Echa dan adik-adik Echa berikan untuk Ayah?" Nada bicaranya mulai melemah, menandakan dia tidak suka. Dan melarang pun dia tidak bisa.
"Echa lelah, terserah Ayah." Echa beranjak dari duduknya dan memilih pergi ke kamar.
"Ayah liat sendiri kan? Kakak itu sangat sayang sama Ayah. Tapi, kenapa masih selalu saja wanita yang Ayah pikirkan. Kenapa tidak sekali saja Ayah pikirkan perasaan kami, anak-anak Ayah," ucap Riana. Riana pun meninggalkan ruang keluarga diikuti oleh Iyan. Menandakan mereka semua kecewa.
"Dit," panggil Rion.
"Ayah yang harus bicara dengan Echa. Echa melakukan itu semua karena dia sayang sama Ayah. Dia tidak ingin melihat Ayah kecewa dan gagal lagi. Dia menuruti keinginan Ayah untuk kembali ke kantor karena Echa ingin Ayah bahagia bersama cucu-cucu Ayah. Padahal, setiap malam dia selalu mengeluh tidak bisa melihat tumbuh kembang si triplets. Tapi, dia mencoba terlihat baik-baik saja hanya untuk buat Ayah bahagia." Rion tersentak dengan apa yang diucapkan oleh Radit.
"Radit tahu, untuk menjadi seperti Papih itu Ayah pasti tidak bisa. Tolong lah, untuk sekarang ini mengerti perasaan anak-anak Ayah. Kasihan cucu-cucu Ayah. Mungkin, kalo sampai Ayah nikah kembali Radit yakin Echa yang akan pergi dari rumah ini."
Deg.
Ada ketakutan di hati Rion sekarang ini. Dia menatap ke arah Radit. Tidak ada kebohongan yang terpancar di mata Radit.
"Temui Echa, Ayah," pinta Radit.
Rion segera menyerahkan si triplets kepada Radit dan Arya. Dia membuka kamar sang putri yang tengah terduduk di tepian tempat tidur.
"Dek," panggil Rion. Echa masih terdiam, tak menghiraukan ayahnya yang kini masuk ke dalam kamarnya.
Satu kalimat yang menghentikan langkah Rion. Dia menatap wajah sendu putrinya.
"Dan ijinkan Echa membawa pergi anak-anak Echa. Lebih baik Echa menetap di Ausi dari pada di sini." Sakit, itulah yang Rion rasakan mendengar ucapan sang putri.
"Karena Echa tidak sanggup jika harus melihat Ayah tersakiti lagi," lirih Echa.
Air mata Rion luruh begitu saja mendengar ucapan tulus dari sang putri. Dia memeluk tubuh Echa begitu eratnya.
"Maafkan Ayah, Dek."
"Jika, Echa dan adik-adik Echa mengekang Ayah. Echa minta maaf. Jika, Ayah merasa kesepian dan butuh pendamping. Echa tidak bisa egois. Meskipun, hati Echa tidak mengijinkan."
"Ayah tidak akan bahagia di atas kesedihan kalian, Dek. Kalian adalah nyawa untuk Ayah. Permata yang berharga untuk Ayah. Ayah tidak ingin membuat kalian kecewa," tutur Rion.
"Maafkan Ayah, jika Ayah tidak bisa menjaga mata Ayah. Ayah hanya sebatas mengagumi. Tanpa berniat untuk mendekati apalagi menikah lagi. Belum terpikirkan oleh Ayah, Dek."
Echa hanya terdiam, air matanya mengalir begitu saja. Dia tahu, ayahnya pasti kesepian. Tetapi, dia juga tidak ingin ayahnya gagal kembali.
"Satu pinta Echa, Ayah. Bahagialah cukup bersama kami, anak-anak Ayah, cucu-cucu Ayah serta menantu Ayah. Kami akan berusaha membuat Ayah bahagia dan hidup nyaman. Meskipun kami yang harus banting tulang." Sungguh Rion tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hidup bersama putrinya sangatlah terjamin. Uang bulanan dari Echa yang lebih dari kata cukup. Black card yang Echa berikan. Fasilitas mobil mewah yang Echa sediakan, membuat Rion bak raja di rumah sang putri. Itu semua Echa berikan karena ingin membuat ayahnya bahagia. Keinginan sederhana dari seorang anak.
...****************...
Komen dong. ....