Bang Duda

Bang Duda
91. Penyesalan



Setiap hari Rion selalu meluangkan waktunya untuk pulang ke rumah, menyuapi istrinya makan siang meskipun terkadang Amanda muntahkan kembali. Morning sickness pun masih terjadi pada Amanda, membuat Rion sedikit frustasi karena tidak tega melihat istrinya mual-mual dan muntah-muntah hingga tubuhnya lemas.


Sudah berkali-kali Rion meminta Amanda untuk dirawat di rumah namun, selalu Amanda tolak.


"Bukan hanya Manda yang seperti ini. Banyak wanita-wanita hamil di luaran sana merasakan hal yang sama seperti Manda. Ini bawaan bayi, Abang." Selalu ucapan itu yang keluar dari mulut Amanda.


"Rajin banget setiap jam istirahat pulang mulu," ujar Arya yang melihat Rion baru masuk ruangannya setelah jam makan siang.


"Manda gak bisa makan kalo gak gua yang suapin," balas Rion.


"Uluh uluh, co cuit," ejek Arya.


"Nikah makanya, biar lu ngerasain ngadepin bini lu kalo ngidam," geram Rion.


"Ceileh, sensi amat Bang. Lagi datang bulan," ledek Arya lagi.


Rion tidak menanggapi ucapan Arya, dia malah merenung. Wajahnya berubah menjadi sendu.


"Napa lu?" tanya Arya heran.


"Amanda ngidamnya parah banget kasian gua, beda dengan Yanda pas hamil Echa," imbuhnya.


Arya duduk di hadapan Rion dengan wajah yang serius. Dia menatap Rion lekat.


"Kalo menurut gua, Ayanda juga ngidamnya sama parahnya kayak Amanda. Hanya saja dia tidak mau menambah pikiran lu," ujar Arya.


Rion mengerutkan dahinya seakan tak mengerti dengan ucapan Arya.


"Ketika Ayanda hamil, lu lagi sibuk-sibuknya nyusun skripsi dan bangun usaha ini dari nol. Sampe lu lupa pulang, inget kan lu," jelas Arya lagi.


Ingatannya mulai kembali lagi, Rion hanya bisa menunduk dalam. Menyesali setiap perbuatannya terhadap Ayanda.


"Sekarang, gua mohon dengan sangat berikan cinta lu hanya untuk Amanda dan calon anak lu. Cukup Ayanda dan Echa yang lu sakiti," pinta Arya.


Rion hanya mengangguk pelan. Dia memang sudah bertekad jika Amanda adalah yang terakhir untuknya. Cukup dia menyia-nyiakan Ayanda di masa lalu, dan sekarang dia sudah diberikan istri yang sama baiknya dengan Ayanda.


Bukan tanpa alasan Arya berkata seperti itu. Sudah banyak kebodohan yang Rion lakukan terhadap keluarga kecilnya dulu. Hati yang sudah hancur berkeping-keping tidak akan bisa kembali utuh. Begitulah hati Ayanda dulu. Kasih sayang yang seharusnya Echa rasakan sedari kecil, baru bisa Echa dapatkan ketika dia menginjak usia lima tahun.


Berjuang sendiri di saat anaknya di vonis penyakit serius dan mematikan, di situlah awal kehancuran yang sebenarnya. Ayanda wanita baik dan dia pun selalu dikelilingi orang-orang yang baik juga. Hingga dia dipertemukan dengan keluarga Wiguna yang sangat menyayanginya dan juga Echa.


"Ayanda sudah bahagia dengan Andra dan sekarang waktunya lu juga bahagia dengan Amanda. Cukup Amanda jangan ada wanita-wanita tambahan lagi. Jangan sampai lu nyesel untuk kedua kalinya," tutur Arya.


****


Di kediaman Rion, Echa yang sedari tadi sudah pulang sekolah langsung menemani bundanya dan terus mengusap lembut perut rata Amanda. Bahagia sekali hati Amanda saat ini. Anak yang dulu dia anggap sebagai pengganggu ternyata memiliki hati yang sangat baik. Jangan lihat buku dari sampulnya tapi, lihatlah isinya.


"Kamu senang gak punya adik lagi?" tanya Amanda.


"Senang lah Bun, nanti ada yang jagain Ayah dan juga Mamah ketika Echa pergi," jawabnya.


"Kamu mau pergi kemana?" sergah Rion yang baru saja masuk kamarnya.


"Sebentar lagi kan Echa kuliah, Echa ingin mencoba hal baru, Yah," terangnya.


"Gak! Kamu gak boleh kuliah di luar kota ataupun luar negeri," tegas Rion.


"Dengar Dek, Mamah dan Ayah gak akan ngizinin kamu jauh dari kami. Ayah dan Mamah sudah berjanji akan membesarkan kamu dalam pantauan kami berdua. Kamu anak perempuan, Ayah tidak mau kamu salah pergaulan," jelasnya.


"Echa hanya di Singapura atau di Yogyakarta. Ada kakek di sana dan juga Om Andri di Yogya," sanggahnya.


"Tidak, Sayang. Ayah dan Mamah tidak akan pernah mengijinkan kamu. Masih banyak tempat kuliah di Jakarta yang bagus. Mau kamu kuliah di universitas mahal pun Ayah masih sanggup membiayai kamu. Asalkan jangan jauh-jauh dari Ayah dan Mamah," ungkapnya.


"Kamu adalah mutiara hati Ayah dan juga Mamah," sambungnya.


Echa mengangguk pelan dan mengeratkan pelukannya terhadap ayahnya. Semua perkataan orangtuanya dia coba untuk turuti karena pasti semuanya sudah dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang oleh kedua orangtuanya. Semua yang dilakukan ayah dan mamahnya adalah yang terbaik untuk masa depannya.


Amanda yang menyaksikan pemandangan haru biru di depannya pun menyeka ujung matanya. Betapa besarnya kasih sayang Rion dan juga Ayanda untuk Echa. Hingga mereka kompak dalam segala hal menyangkut putri mereka satu-satunya.


Amanda bisa belajar dari kisah hidup Ayanda dan juga suaminya. Meskipun mereka berpisah tidak ada kata "mantan" untuk seorang anak. Mereka mengenyampingkan ego masing-masing demi membesarkan Echa secara bersama agar Echa tumbuh seperti anak-anak yang memiliki keluarga utuh.


Ditambah kedekatan suaminya dan juga suami dari Ayanda membuat hatinya merasa hangat. Keikhlasan suaminya untuk melepaskan Ayanda dan juga betapa luasnya hati Gio yang dapat menerima Ayanda dengan segala masa lalunya.


"Bunda ikutan melow," ucap Amanda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Rion dan Echa pun memeluk tubuh Amanda. Hati Amanda sangat bahagia merasakan ketulusan cinta dan kasih yang suaminya dan juga anak tirinya berikan untuknya.


"Bunda, jika adik kecil Echa sudah lahir jangan lupakan Echa dan tetaplah sayangi Echa," pinta Echa dengan lirih.


Amanda memeluk tubuh Echa dan membelai rambut sebahu putrinya. "Kamu akan tetap jadi anak pertama, Bunda," ucapnya.


Senyum lebar melengkung di bibir Rion. Dia sangat bersyukur memiliki istri yang memiliki sifat yang sama seperti Gio. Doanya dijawab oleh Allah.


Ketukan pintu terdengar dari arah luar, membuat kebersamaan mereka terganggu. Rion dengan langkah malas berjalan ke arah pintu.


"Pak ada tamu," ucap Mbak Ina.


"Siapa?"


"Seorang wanita," jawab Mbak Ina sedikit ragu.


Echa dan juga Amanda yang samar-samar mendengar jawaban Mbak Ina hanya saling pandang. Mata mereka seolah bertanya siapa?


"Bilang saya gak ada," balas Rion.


"Tapi Pak, dia tetap bersikukuh ingin menunggu Bapak. Apalagi dia melihat mobil Bapak yang terparkir di depan," tutur Mbak Ina.


Rion hanya menghela napas kasar. Dia bertanya-tanya siapa yang datang. Akan tetapi, kebersamaannya dengan anak dan istrinya membuatnya tidak mau keluar kamar untuk hari ini. Biarkanlah tamu itu menunggunya hingga lumutan. Rion akan tetap menemani istrinya dan bercengkrama bersama putrinya di dalam kamar.


***


Mon maap telat lagi up-nya🙏


Mataku sepet gak bisa melek, badanku greges-gregea karena terlalu lelah di dunia RL.


Jangan lupa like, komen dan juga vote ya biar mataku bisa melek dan up lagi hari ini.


Happy reading ..