
"Dad, kenapa ketika Mommy melihat Sheza seperti melihat diri Mommy sendiri ya," ucapnya pada Gio.
"Kenapa?" tanya Gio yang sekarang sudah merangkul tubuh istrinya.
"Banyak kesedihan yang Sheza rasakan, namun dia mencoba untuk tetap terlihat ceria di hadapan orang lain," jawab Ayanda yang sekarang menyandarkan kepalanya di bahu Gio.
"Berarti dia wanita kuat seperti Mommy," balas Gio.
"Banyak luka yang Mommy liat dari matanya." Gio tidak menjawab ucapan istrinya. Dia sedang fokus pada ponselnya.
"Daddy!" panggil Ayanda yang kesal karena diabaikan.
"Hmm." Ayanda merebut ponsel Gio.
"Lama-lama Mommy banting nih hp," kesalnya.
Gio hanya tertawa mendengar ucapan istrinya. Semakin hari tingkat kesensitifan istrinya semakin meningkat.
"Dari tadi Daddy mendengarkan Mommy bicara, hanya saja Daddy tidak suka Mommy membahas wanita ataupun pria lain ketika kita sedang berdua," jelas Gio.
"Fokuslah terhadap hidup kita jangan terlalu mencampuri urusan orang lain. Boleh kita peduli, tapi ada batasannya juga. Orang lain juga punya privacy masing-masing." Nasihat Gio untuk istrinya.
Gio memeluk tubuh Ayanda dan mengecup ujung rambut istrinya. "Daddy hanya tidak ingin Mommy dimanfaatkan oleh orang lain," ujarnya.
Di restoran ....
Setelah Sheza menjawab pertanyaan Rion, tak sepatah katapun keluar dari mulut Rion. Ada rasa tidak percaya dan juga kecewa di hatinya.
"Kita pulang," ajak Rion pada Sheza yang sedari tadi tidak menyentuh makanan di atas piringnya.
Sebelum pulang Rion meminta tagihan kepada pelayan, namun pelayan mengatakan jika semuanya sudah dibayar oleh ibu yang tadi. Rion tahu, siapa lagi jika bukan Ayanda.
"Dek, kamu tuh bikin hutangku makin menumpuk aja," gumamnya dengan bibir yang sedikit terangkat.
Mendengar gumaman kecil Rion, Sheza melirik Rion yang tersenyum samar ketika menyebut nama mantan istrinya. Sheza menyimpulkan sudah tidak ada harapan lagi untuknya. Apalagi, ketika Sheza menjawab tentang masa lalunya.
Saatnya aku mundur, batinnya.
***
Satu Minggu berlalu, hubungan Rion dan Sheza semakin renggang. Tidak ada obrolan ataupun ajakan makan siang dari keduanya. Hanya seorang atasan dan juga karyawan. Begitulah mereka sekarang.
Rion bersikap dingin dan acuh kepada Sheza. Sheza pun harus bisa menerimanya, terlebih Sheza sudah biasa pura-pura ceria di hadapan semua orang.
Di dalam ruangan, Rion hanya bisa mendesah kencang. Dia sebenarnya ingin menyapa Sheza hanya saja egonya terlalu mendominasi. Rion masih kecewa dengan masa lalu Sheza.
Hingga Rion mengadakan pertemuan setelah jam pulang kerja di ruangannya. Dia menghubungi Giondra dan juga Arya yang sedang berada di kantor cabang. Tak lupa dia membeli bir kaleng dan juga soda untuk teman minum mereka nanti.
Kantor sudah kosong, para karyawan sudah pulang. Tersisa hanya satpam dan juga Rion di ruangannya. Tak lama berselang, Arya tiba dengan mulut yang bersungut-sungut.
"Kalem aja bro," ucap Rion sambil menyodorkan bir kaleng.
"Kalem-kalem, gua cape pengen rebahan," sungut Arya. Lalu menenggak bir kaleng yang sudah ada di tangannya.
"Ada apaan sih?" tanyanya yang sudah merebahkan dirinya di sofa panjang.
Baru saja Rion hendak membuka mulut, suara pintu terbuka membuatnya mengurungkan niatnya.
"Lu undang siapa lagi?" tanya Arya yang sudah memejamkan matanya.
"Gio."
"Boleh keluar tuh si Daddy sama si Mommy," ejek Arya.
Lemparan bantal mengenai kepala Arya. Dia tahu pelaku pelemparan bantal itu siapa. Arya hanya tertawa mendengar umpatan yang dilontarkan Gio.
"Ada apa?" tanya Gio pada Rion.
"Kenapa lu Ndra?" tanya Arya yang sudah di posisi duduk.
"Biasanya hobi banget bir kaleng dari zaman sekolah," tambah Arya.
"Semenjak kita memutuskan untuk program kehamilan, gua udah gak pernah nyentuh yang beginian." Sambil menunjuk bir kaleng yang tersusun rapih di atas meja.
"Dokter bilang, itu akan mempengaruhi kualitas ******," lanjut Gio.
Kedua pria lain hanya ber-oh ria. Ada sedikit pelajaran yang mereka dapat dari si calon Daddy.
"Apa gua salah kalo gua kecewa dengan masa lalu Sheza?" Pertanyaan itu yang memulai obrolan serius mereka.
Arya dan Gio saling tatap, tak mengerti apa yang dimaksud oleh Rion.
"Sheza ... janda," ucap Rion dengan nada lirih.
Kedua pria yang berada di ruangan itu hanya tertawa keras mendengar kekalutan Rion.
"Kenapa lu harus kecewa? Lu gak nyadar diri kalo lu juga duda," balas Arya yang masih tertawa.
"Dia pengennya itu dapat cewek yang masih tersegel. Tapi dia gak nyadar kalo dia juga pernah menabur benih dimana-mana," ledek Gio. Arya pun tertawa girang.
"Temen kampret lu berdua," umpat Rion dan melemparkan bantal ke arah Gio dan juga Arya.
"Apa bedanya sih janda sama gadis? Banyak kok gadis yang hanya casingnya saja tapi onderdilnya udah tidak tersegel. Mau lu dapet gadis tapi rasa janda," jelas Gio.
"Tuh denger kata perjaka yang dapat janda," ejek Arya pada Gio.
"Sialan!" Gio melempar kaleng kosong ke tubuh Arya hanya gelak tawa yang terdengar dari mulut Arya.
"Kalo lu emang tulus sama Sheza, lu gak akan peduli sama masa lalunya. Masa lalunya adalah pembelajaran hidup untuknya. Bisa jadi masa lalu Sheza hanya menyimpan kenangan pahit. Di sinilah peran lu untuk terus mengukir kenangan indah agar lu gak mudah untuk dilupakan dan akan menjadi sesuatu yang berharga di hatinya," jelas Gio.
"Setuju banget tuh. Peduli amat sama masa lalu, toh lu juga punya masa lalu, kan. Harusnya lu dengerin cerita masa lalunya. Sebaliknya, lu juga cerita masa lalu lu kayak gimana," tambah Arya.
"Almarhum adek gua pernah bilang, ketika kita sayang sama seseorang dan berniat untuk memperjuangkannya, jangan pernah melihat masa lalunya. Biarlah masa lalu menjadi catatan hidupnya di masa lampau. Sekarang fokuslah pada masa depan yang akan kita ukir bersama, melewati suka duka bersama dan membangun sebuah hubungan yang bahagia," ujar Gio.
"Oh, dari situlah lu memperjuangkan cinta lu buat Ayanda sampe jungkir balik. Meskipun lu tau Ayanda masih istri nih orang." Sambil menunjuk ke arah Rion.
"Ya, tidak ada salahnya kan kita memperjuangkan. Meskipun hasil akhirnya akan berhasil atau gagal ya harus bisa kita terima dengan lapang dada," jawab santai Gio.
"Gua percaya dengan istilah the power of destiny (kekuatan takdir)," lanjut Gio.
"Dan takdir lu menjadi takdir yang baik dan ini orang memiliki takdir buruk," cela Arya pada Rion.
Rion hanya berdecak kesal mendengar celaan Arya. Rion mencerna baik-baik ucapan Gio. Dia paham maksud Gio karena Gio adalah lelaki yang sangat tulus mencintai mantan istrinya.
Tapi, apakah gua bisa memiliki hati seperti Gio?
Pikiran Rion berkecamuk saat ini. Hatinya masih ingin lebih dekat dengan Sheza tapi egonya menolak.
"Kadang logika dan hati tidak sejalan. Pesan gua, ikuti kata hati lu. Kalo hati lu bilang iya secara otomatis logika lu juga akan menerimanya," ujar Gio.
"Perjuangkan yang harusnya lu genggam, sebelum tangannya digenggam oleh pria lain," timpal Arya.
Rion semakin bingung dengan perasaannya. Semua yang diucapkan Gio dan juga Arya sangat benar. Hanya saja egonya masih terlalu tinggi.
***
Hy ...
Semoga kalian terhibur ya,
Jangan lupa like, komen dan juga vote
Happy reading semua ....