
Genta tidak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Beby. Karena sebenarnya juga Genta mencurigai orang itu. Tapi, dia tidak bekerja sendiri. Ada orang yang membantunya dari belakang, Dan orang itu juga bukan orang yang sembarangan.
"Tunggu Paman di rumah kamu. Sekalian Kano suruh datang ke rumahmu."
"Baik Paman. Apa Kak Gi perlu diberi tahu?"
"Jangan dulu, biar Paman yang selidiki terlebih dahulu. Barulah kita beri tahu Gio. Semua hukuman ada di tangan Gio. Karena ini sudah main-main dengan nyawa ketiga anaknya."
Begitulah akhir percakapan antara Beby dan juga Genta. Tanpa berpikir lama, Genta mengirim Ronald untuk terbang ke Indonesia terlebih dahulu dan mencari orang yang telah bekerja sama dengan wanita jahat itu.
Cukup sulit bagi Ronald untuk mencari siapa pemeran pembantu dalam masalah ini. Dan dia teringat memiliki teman yang ahli di bidang IT. Bisa dibilang teman Ronald adalah hacker kelas kakap. Dia mampu melakukan hack untuk akun luar negeri ataupun orang-orang penting.
Ketika di pesawat, Ronald menghubungi Sandy. Ronald langsung menceritakan duduk permasalahannya dan dengan cepat Sandy mengerti apa yang diinginkan Ronald.
"Beri waktu gua 30 menit untuk melacaknya." Ronald pun setuju.
Kurang dari 30 menit, Sandy memberitahukan jika dia sudah menemukan orang yang Ronald cari. "Dia tinggal di Aceh, tapi sering ke Jakarta untuk menemui ipar dan adik angkatnya di sana."
Ronald pun pun bergerak cepat, dia langsung menghubungi seseorang untuk mencari orang yang dimaksud Sandy. Ternyata Ronald bukan orang sembarangan. Dia memiliki koneksi cukup banyak jika menyangkut hal rahasia.
Dua jam mengudara, Ronald sudah disambut oleh Jodi dengan membawa orang yang dicari Ronald. Seringai licik pun terukir di wajah Ronald. Awalnya Ronald ingin bersikap baik kepada pria itu. Tapi, pria itu malah menyerang Ronald. Dengan senang hati Ronald memperlakukan orang itu dengan kasar.
Sedangkan Genta sedang mencari berbagai bukti tentang peneroran di rumah dan juga perusahaannya. Berkali-kali Genta meminta alamat pengirim kepada pihak ekspedisi, namun tak pernah diberi tahu. Kali ini Genta menawarkan beberapa keuntungan untuk ekspedisi tersebut. Barulah mereka mau membuka suara.
Setelah alamat diberikan, benar dugaan Genta selama ini. Dia pun tersenyum penuh arti.
"Bukan aku yang akan turun tangan, tapi putraku. Kekejamannya melebihi Fir'aun" gumamnya seraya tersenyum tipis.
Ronald sudah menahan dua manusia yang tidak memiliki hati. Apalagi, pria di hadapannya ini. Benar-benar sangat bodoh. Padahal yang dia celakai adalah keponakannya sendiri. Ronald segera menghubungi Genta untuk segera berangkat ke Indonesia.
"Dua tikus padi sudah saya amankan Tuan. Saya tunggu kedatangan Tuan," ucapnya melalui sambungan telepon.
Kabar berita ini pun masih disembunyikan dari siapapun. Termasuk kedatangan Genta akan menjadi kejutan bagi mereka semua. Tapi, Beby sudah memesan beberapa makanan sehat untuk menjamu paman tercintanya.
Sedangkan di rumah sakit, Gio menyuruh Echa untuk melakukan puasa selama 6 jam karena akan dialkukan endoskopi lambung.
"Itu gak sakit kok, Sayang. Hanya untuk memastikan lambung kamu saja. Apa ada luka atau yang lainnya."
"Jika parah, Papa akan membawamu ke Singapura. Kita lakukan pengobatan di sana."
"Tapi, Pa ...."
"Tidak ada penolakan, ini semua Papa lakukan untuk kesembuhan kamu," potong Gio.
Ketika Echa meringis menahan sakit, Gio akan menggenggam tangannya. Seakan memberikan ketenangan kepadanya.
"Pa, Mamah ...."
"Mamah tidak tahu keberadaan kita. Yang Mamah tahu Papa sedang mencari pelaku yang sudah mencelakai anak-anak Papa," sahutnya.
Di lain tempat, Rion dan Arya mengumpat kesal. Bagaimana tidak, mereka sudah datang pagi hari dan ternyata Addhitma sudah berangkat terlebih dahulu ke Bandung.
"Sepertinya ada hal urgent yang menyebabkan Papih ke sana malam-malam," ujar Rival.
"Maksud kamu?" tanya Rion.
"Radit menelepon Papih malam-malam dengan suara yang sedikit panik. Dan Papih pun menyebut nama Echa."
Mata Rion dan Arya membulat dengan sempurna. Mereka harus segera ke sana tapi, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat si kembar dirawat untuk menanyakan keberadaan Gio. Karena sudah dua hari ini Gio tak menampakkan batang hidungnya.
"Dek, Gio ke mana?" tanya Rion.
"Kata Remon mereka lagi di Bandung,"
"Bandung?" sahut Arya dan Rion berbarengan.
Ayanda menganggukkan kepalanya."Ada apa memangnya?"
"Echa ada di Bandung." Sontak wajah Ayanda pun terkejut. Dia langsung menghubungi suaminya. Namun, tak kunjung ada jawaban, Di panggilan ketiga barulah sambungan telepon dijawab.
"Daddy, bagaimana keadaan Echa?"
"Tenanglah, dia baik-baik saja."
"Daddy gak bohong, kan,"
Gio menatap Echa tapi, Echa menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan jika Gio tidak boleh berbicara yang aneh-aneh kepada sang mamah.
"Nggak, ya sudah ya ada panggilan masuk dari Remon."
Gio mengakhiri sambungan telepon, dia mengusap lembut kepala Echa.
"Kenapa Papa gak boleh jujur kepada Mamah?"
"Mamah pasti akan sedih, apalagi melihat luka sayatan serta luka tusuk yang ada di perut Echa," lirihnya.
"Tidak ada orangtua yang tidak sedih melihat anaknya terluka seperti ini. Pasti hati mereka sakit dan pilu, terlebih kamu tidak mau jujur dengan keadaan kamu yang sebenarnya," ujar Gio.
"Sebesar apapun masalah yang kamu hadapi, jujurlah kepada kami, orangtua kamu. Kami dengan senang hati pasti akan membantu kamu."
"Ketika beban yang kamu pikul terasa berat, letakkan bebanmu sejenak. Minta tolonglah kepada kami, agar semua beban yang kamu pikul menjadi lebih ringan. Tidak semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri, Sayang," ungkap Gio.
Mendengar penuturan kata dari sang papa membuat hati Echa menjadi tenang. Semarah-marahnya sang papa, dia tidak akan sampai marah besar. Marahnya hanya diam dan esok hari papanya sendiri lah yang akan meminta maaf kepada anak-anaknya.
"Ingat ya, kalo kamu sudah gak sanggup menyimpan beban seorang diri ada Papa yang akan membantu kamu." Echa pun mengangguk dan air matanya tanpa terasa sudah menetes.
"Abang, Adek," lirihnya.
"Mereka tidak apa-apa. Kondisi mereka sudah semakin membaik. Jadi, kamu jangan khawatir," imbuh Gio.
"Echa belum bisa jadi Kakak yang baik untuk mereka," sesalnya.
****
Di kediaman Beby, Genta sudah tiba dan disambut hangat oleh Beby dan juga Azkano.
"Detektif cilik Kakek," ucapnya sambil memeluk tubuh Beeya.
"Suamimu mana?" tanya Genta kepada Beby.
"Tadi sih bilang mau ke Bandung. Echa ada di sana," jawab Beby.
''Biarkan Echa di sana dulu, ada Gio serta Radit yang akan selalu menjaga Echa."
"Paman tahu keberadaan Echa?" tanya Kano.
"Apa yang terjadi antara Gio dan Echa pun Paman tahu. Tapi, Paman yakin Gio akan bisa menyelesaikan masalahnya dengan putrinya seorang diri," jelas Genta.
Genta masih memantau Echa beserta keluarga Gio di sini. Hanya saja, ketika musibah itu terjadi, Genta sedang dilanda maslahat yang cukup besar sehingga pengawasan terhadap Echa sedikit lalai. Dan rencana itulah yang sudah disusun secara matang oleh dua tikus padi.
"Paman, apa benar mantan pacar Kakak Gi itu pelaku dari semua peneroran di semua perusahaan Paman?" Genta hanya mengangguk.
"Dia tidak sendiri, dia merencanakan ini semua dengan seseorang yang mungkin juga kalian kenal," imbuhnya.
Kano dan Beby saling menatap. Mereka tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Genta.
"Orang yang kami kenal? Siapa Paman?" tanya Beby penasaran.
"Belum saatnya kita menemui mereka," jawabnya.
***
Sedangkan di rumah sakit tempat Echa dirawat, sudah ada Gio, Radit serat Addhitama yang mendampingi Echa. Karena dokter akan melakukan endoskopi lambung.
Wajah ketakutan Echa nampak terlihat jelas. Namun, wajah tiga dokter di depannya yaitu Gio, Radit serta Addhitama selalu tersenyum dan memberikan kehangatan kepadanya.
"Gak akan sakit kok," ujar Addhitama.
Echa pun dibawa ke ruang khusus untuk dilakukan endoskopi. Sedangkan ketiga pria itu menunggu di luar ruangan.
Tiba-tiba Remon datang dan membisikkan sesuatu kepada Gio. Kening Gio mengkerut dan menatap tajam ke arah Remon.
"Saya gak tau, Bos besar hanya menyuruh saya untuk membawa Anda ke Jakarta," tukas Remon.
Gio menghubungi ayahnya dan sambungan telepon pun dijawab.
"Ke Jakarta sekarang, dan langsung menuju markas besar."
"Tapi Yah, Echa ...."
"Di sana pasti ada Radit serta Addhitama. Percayakan kepada mereka. Ayah sudah mengerahkan beberapa penjagaan di sana."
Gio hanya menghela napas kasar. Sekali ayahnya berbicara seperti perintah dari sang Baginda.
Markas? Ada masalah genting apa?
Markas besar adalah rumah besar milik Genta di wilayah Bogor. Rumah itu digunakan ketika ada situasi genting. Dan semua orang kepercayaan ayahnya dari berbagai negara pasti akan datang ke rumah itu.
"Dit, Om titip Echa dulu ya. Om harus kembali ke Jakarta. Ada yang harus Om selesaikan."
"Iya Om, Radit akan menjaga Echa di sini. Makasih udah mempercayakan Radit untuk menjaga Echa." Gio pun hanya tersenyum seraya menepuk pundak Radit.
"Kamu anak yang baik. Om yakin, kamu bisa menjaga serta membahagiakan putri kesayangan Om."
Addhitama yang mendengar ucapan tulus dari seorang Giondra tersenyum penuh bangga. Jangan ditanya bagaimana perasaan Radit, dia amat bahagia. Seakan pintu restu sudah terbuka lebar.
Tak lupa Gio meminta tolong ke Addhitama. Addhitama pun menyanggupi, Dia juga sudah menganggap Echa seperti anaknya sendiri.
Gio pun pergi meninggalkan rumah sakit. Kali ini dia dan juga Remon hanya menggunakan kendaraan roda empat. Karena mereka akan langsung ke Bogor.
Sesampainya di Bogor, sudah banyak mobil yang terparkir di rumah itu. Salah satunya mobil milik Rion.
Ketika Gio masuk, ternyata sudah ada Arya, Azkano, dan juga Rion. Serta banyak orang kepercayaan Genta yang sudah menunggu perintah.
"Duduk Gi," titah Genta.
Ketika Gio sudah duduk, Genta menyerahkan beberapa lembar bukti kepada Gio. Pada saat itu juga tangan Gio mengepal dengan kera. Rahangnya sudah mengeras serta matanya sudah memerah.
"Cantika," geramnya sambil meremas kertas yang dia pegang.
"Dia tidak sendiri, ada pemeran pembantu dibelakangnya."
"Siapa?" tanya Arya, Rion serta Gio bersama-sama.
****
Ada notif up langsung baca ya jangan ditimbun-timbun,
Jangan lupa baca kisah tentang Echa dan Radit yang berjudul Yang Terluka.