Bang Duda

Bang Duda
54. Pelajaran



Dengan sangat keras Amanda membanting pintu ruangan Rion. Di meja asisten, Arya sedang duduk dengan tenang.


"Kenapa keluar? Gak nemenin laki lu," ujar Arya.


"Ngerusak mata gua," sahut Amanda yang berbicara santai kepada Arya.


"Makanan lu mane?" Tanya Arya.


"Ambil noh di dalem. Sekalian lu kasih racun tuh makanan biar pelakor sama laki lembek di dalam mati," sarkasnya. Arya hanya tertawa girang mendengar ocehan Amanda. Sedangkan Amanda memilih untuk pergi.


"Salut gua sama tuh cewek. Semoga lu bisa nyadarin laki lu yang kelewat gobl*g itu." Harap Arya.


Rion mendorong tubuh Dinda yang sedang duduk di pangkuannya. Dia berlari mengejar istrinya.


"Istri gua mana?" tanya Rion.


"Pergi ke dokter mata, katanya matanya rusak ngeliat lu berdua," sahutnya yang masih fokus ke ponselnya.


Rion berlari ke bawah, Amanda sudah tidak ada. Dia mulai mencoba menghubungi Amanda namun tak pernah dijawab. Hingga Rion memutuskan untuk kembali ke ruangannya dengan rasa bersalah.


Di sinilah Amanda di toko roti langganannya. Dia memesan heart cake ukuran kecil untuk dia santap sendiri. Tak lupa hot chocolate untuk menenangkan hati dan pikirannya.


Sudah puluhan kali Rion menghubungi Amanda namun, tak pernah dijawabnya. Amanda lebih memilih menikmati kue kesukaannya dibandingkan harus mendengar permohonan maaf Rion.


Hari pun mulai senja, Rion sudah sampai rumah. Menanyakan istrinya sekarang sudah menjadi kebiasaan rutin untuk Rion. Dan apa yang dijawab Mbak Ina kali ini.


"Ibu belum pulang Pak, sedari siang."


Rion pun khawatir, dia mencoba menghubungi Amanda lagi namun tetap tak ada jawaban.


"Kemana kamu?" gumamnya.


Amanda enggan sekali beranjak dari duduknya. Malas rasanya dia kembali ke rumah Rion. Hatinya masih panas sepanas ciuman Rion dan Dinda siang tadi. Akan tetapi, dia selalu saja teringat akan pesan almarhumah Mamihnya.


Seburuk-buruknya kelakuan suami harus sebisa mungkin kamu tutupi. Jangan pernah mengumbarnya ke orang lain meskipun itu mertuamu. Jika kalian ada masalah bicaralah, jangan selalu menghindar. Itu tidak akan menghasilkan jalan keluar.


Hanya helaan nafas yang terdengar, Amanda pun beranjak dari duduknya dan pulang ke rumah Rion. Baru saja Amanda melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Senyuman hangat Mbak Ina menyambutnya.


"Biarkan Mbak. Ini simpan di lemari pendingin," sahut Amanda dan langsung menyerahkan cake ke Mbak Ina. Dia pun melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Khawatirmu hanya karena Mamah menyuruhmu menjagaku, Bang, batinnya.


Rion terus mencari Amanda, namun tidak dia jumpai. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menelepon orang rumah, dan kali ini mbak Ina menjawab jika Amanda sudah pulang. Dengan hati yang lega Rion melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Setelah sampai di rumah, Rion bergegas naik ke kamar Amanda. Dia terus mengetuk pintu kamarnya namun tak sahutan dari dalam. Rion mencoba membuka pintunya, terdengar gemericik suara air di kamar mandi. Hatinya sekarang tenang, Amanda sudah kembali ke rumahnya.


Rion menunggu Amanda di samping tempat tidurnya. Aroma sabun menusuk hidungnya. Mata Rion tak berkedip, Amanda baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan baju handuk dan lilitan handuk kecil di rambutnya. Kaki jenjang Amanda terlihat sangat mulus dan menggoda. Hanya tatapan datar dan dingin yang Amanda tunjukkan.


"Kamu kemana aja?" tanya Rion ketika Amanda mengambil baju tidurnya di lemari.


"Apa peduli kamu Bang? Abang aja gak peduli sama perasaan Manda," jawabnya pedas.


"Maaf, tadi dia ...."


"Jika si wanita itu yang godain duluan dan iman Abang kuat pasti Abang akan menolaknya. Tapi apa yang tadi Manda liat? Abang juga menikmatinya, kan. Gak usah berkilah Bang. Itu namanya sama-sama mau," ucapnya dengan nada sedikit tinggi.


Rion hanya terdiam, Dinda yang meminta ciuman itu. Dan Dinda berjanji kepadanya setelah mereka berciuman Dinda tidak akan mengganggunya lagi.


"Abang sadar gak sih kalo Abang itu udah punya istri. Manda ini istri Abang, bukan boneka pajangan. Manda juga punya perasaan," lirih Amanda.


"Manda hanya minta satu hal dari Abang. Tolong jaga perasaan Manda. Sebelum Abang bisa menjaga perasaan Manda, Manda tidak ingin melihat muka Abang," jelasnya.


Rion benar-benar syok dengan ucapan Amanda. Mereka satu rumah tapi Amanda tidak ingin melihat mukanya. Jadi ...


"Sekarang Abang silahkan keluar, atau Manda yang pergi untuk sementara waktu dari sini," ancamnya.


"Jangan!" tolak Rion seraya memegang tangan Amanda.


Mata Amanda menyiratkan pengusiran kepada Rion dan akhirnya Rion yang mengalah. Hati kecilnya sudah nyaman dengan keberadaan Amanda. Akan tetapi, kehadiran Dinda selalu bisa menggoyahkan hatinya.


Pelajaran kecil ini semoga sedikit menyadarkan mu Bang. Manda bisa melawan kelicikan Dinda, tapi rasa sakit hati tetap saja sakit Bang, batinnya.