
Pertemuan Amanda dengan Ayanda sangat memukul ulu hati Amanda. Dia sadar, jika ketakutannya ini adalah hal bodoh yang tidak akan pernah terjadi.
Suaminya begitu menjaga Riana semenjak berada di dalam kandungan hingga Riana lahir ke dunia ini. Tidak pernah ada kata mengeluh, meskipun peluh bercucuran.
Amanda sungguh amat menyesal dengan sikapnya yang sangat keterlaluan kepada Echa. Tanpa restu dari Echa, dia tidak akan pernah bersama Rion dan memiliki Riana. Dan karena Echa lah, kini dia dan Rion bisa tinggal satu atap meskipun berbeda kamar.
Setiap malam Amanda selalu memandangi foto Echa yang ada di ponselnya. Foto Echa yang tersenyum bahagia dengannya dan juga Rion di acara ulangtahun Echa ke-17.
"Bunda kangen kamu, Cha," ucapnya lirih.
Rion yang melewati kamar Amanda, sedikit mengintip apa yang sedang Amanda lakukan. Dia hanya menghela napas. Rion membiarkan Amanda dengan kesalahannya. Agar dia mampu mendapatkan maaf dari putrinya.
Di kediaman Ayanda, Echa sedang menatap langit yang indah. Bibirnya melengkung dengan sempurna. Dia teringat masa kecilnya dulu jika, menatap langit malam yang indah ini.
Tuhan, langit malam ini sangat indah. Lebih indah lagi jika Echa melihatnya dengan Mamah dan juga Ayah.
Air matanya sudah mulai menggenang, terlalu sakit untuk diingat. Dan juga sangat sulit untuk dilupakan.
Mamah, kenapa Echa tidak ada Ayah seperti anak itu?
Pertanyaan itu yang selalu Echa lontarkan ketika dia dan Mamahnya jalan berdua. Ada sedikit iri di dadanya. Dia juga ingin seperti anak lain yang tertawa bahagia bersama keluarga lengkapnya.
Ayah Echa sedang sibuk. Dia belum bisa menemui Echa. Suatu saat Echa pasti bertemu dengan Ayah. Echa, Ayah dan Mamah.
Begitulah jawaban dari sang Mamah dengan wajah yang sendu ketika menjawabnya.
"Echa bahagia karena Mamah sudah bersama Papa. Laki-laki yang Echa panggil Papa ketika pertama kali kita bertemu. Laki-laki yang sangat tulus menyayangi Echa dari dulu hingga sekarang."
Ayanda mengusap lembut rambut putrinya dan dia memeluk tubuh Echa dari samping.
"Maafkan Mamah yang telah gagal menjadi seorang ibu. Maafkan Mamah," lirih Ayanda.
"Mamah adalah ibu terbaik, wanita terhebat yang Echa kenal. Terimakasih sudah melahirkan Echa, merawat Echa dan berjuang sendiri untuk menyembuhkan penyakit Echa. Makasih banyak, Mah. Maaf, Echa belum bisa membalas semua jasa Mamah," ucap Echa sambil memeluk erat tubuh Ayanda.
"Kekuatan Echa saat ini karena Echa melihat Mamah. Mamah wanita yang sangat kuat, mampu menyimpan semua yang telah menimpa Mamah seorang diri. Mamah mampu berdiri di atas kaki Mamah sendiri. Dan Mamah mampu mengesampingkan perasaan Mamah demi Echa. Padahal hati Mamah masih sakit, tapi Mamah rela kembali rujuk dengan Ayah karena Mamah ingin melihat Echa bahagia," ungkapnya.
"Semuanya akan Mamah lakukan untuk kamu, Kak. Kamu adalah penguat untuk Mamah. Tanpa kamu, Mamah tidak akan bisa berdiri seperti ini," imbuhnya.
Echa tersenyum dan terus memeluk tubuh sang Mamah. Rasa sayangnya kepada Ayah dan mamahnya sangatlah besar.
"Dari Mamah Echa belajar banyak hal. Tersenyum bukan berarti bahagia. Menangis bukan berarti bersedih."
Mereka berdua saling berpelukan melihat indahnya malam. Ada dua tangan yang merangkul pundak mereka. Echa memeluk tubuh Gio dari samping kiri dan Ayanda memeluknya dari samping kanan.
Ayanda dan Echa sangat beruntung karena memiliki laki-laki pelindung seperti Gio. Laki-laki yang ketulusannya tiada tandingnya.
Dari Gio lah, Echa belajar tentang ketulusan. Sebenarnya Cinta dan sayang itu sudah satu paket dengan tulus. Hanya saja, terkadang manusia lupa memasukkan ketulusan itu di dalam cinta dan sayangnya.
Berbeda dengan di kediaman Amanda dan juga Rion. Mereka berdua hanya bisa memeluk guling. Tidak ada kehangatan untuk Amanda. Dan sudah tidak ada rasa di hati Rion. Hatinya seolah membeku.
Pagi-pagi, Rion samar-samar mendengar percakapan Amanda dan juga Mbak Ina.
"Saya malu, Mbak," ucap Amanda. Ya, dia sedang bercerita tentang kejadian yang dia alami beberapa waktu lalu ketika hendak meminta maaf kepada Ayanda.
"Ibu Ayanda itu wanita yang lembut dan sangat baik, Bu. Tapi, dia akan bersikap layaknya singa ketika ada yang berani menyentuh putrinya. Neng Echa adalah anak yang sangat dia sayangi dan juga dia lindungi," jawab Mbak Ina.
"Jangan pernah ada pikiran macam-macam jika melihat Bapak dan Ibu Yanda berdua. Mereka sudah seperti adik-kakak. Begitu pun, Mamahnya Bapak, beliau sudah menganggap Ibu Yanda seperti putrinya sendiri."
"Sebaik itukah dia? Sehingga semua orang menyayanginya?" tanya Amanda.
"Jika menurut saya, Ibu Yanda sangatlah baik. Dia memiliki kelembutan hati yang luar biasa. Sekarang kesedihan dan kesakitan Ibu Yanda sudah tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara. Bu Yanda sekarang memiliki suami yang baik hati, mapan dan juga tulus menyayangi Ibu Yanda."
Rion tersenyum mendengar ucapan dari Mbak Ina. Mantan istrinya memang wanita baik, dan wanita baik pasti dipertemukan dengan pria baik juga. Berbeda dengan nasibnya, dia adalah pendosa dan dipertemukan lagi dengan wanita pendosa.
Kedatangan Rion membuat suasana jadi hening. Seperti biasa Amanda sudah menyiapkan nasi beserta lauk dan sayurnya di atas piring Rion. Mau dimakan atau tidak itu tidak jadi masalah. Yang terpenting, dia harus menjadi istri yang baik yang melayani suaminya.
Amanda selalu mencari tahu tentang jam sekolah Echa. Dia ingin sekali bertemu dengan putrinya dan meminta maaf. Namun, seperti ada dinding besar yang menghalanginya untuk bertemu dengan Echa.
Pulang sekolah hari ini Echa ingin sekali bertemu dengan Ayahnya. Dia meminta izin kepada Mamahnya untuk pergi ke kantor Rion.
Kedatangan Echa menjadi momok menakutkan untuk para karyawan Rion. Pernah dia bertengkar dengan karyawan baru karena menghalanginya untuk bertemu ayahnya. Dan kata-kata mematikan lah yang keluar dari mulut Echa.
Kinanti hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Echa langsung masuk ke ruangan ayahnya.
"Anak bos mah, bebas," gerutunya.
Echa langsung masuk ke ruangan Rion dan Arya tanpa mengetuk pintu. "Ngapain lu ke sini?" tanya Arya.
"Kangen Ayah." Rion pun merentangkan kedua tangannya dan Echa masuk ke dalam pelukan ayahnya.
Mereka bertiga berbincang santai. Hingga pertanyaan Arya sedikit menyerempet perihal masalah Echa dan juga Amanda.
"Cha, masih marah sama istri ayah lu?" Echa hanya menggeleng.
"Dari awal Echa sudah memaafkannya, Om. Memaafkan bukan berarti melupakan, kan," imbuhnya.
Echa mengatur napasnya sebelum melanjutkan bicaranya. "Om tau, Echa memiliki luka ketika kecil. Jika, luka itu tersentuh pasti sakitnya melebihi ketika pertama kali tergores," jelasnya.
"Inilah yang disebut sakit tapi, tak berdarah. Namun, meninggalkan bekas yang tidak pernah akan hilang dengan mudah."
"Maafkan Ayah, Dek. Ayah sudah menggoreskan luka itu. Ayah yang telah membuat hatimu sedikit cacat, maafkan Ayah," ucap Rion.
"Ayah tidak salah, ini sudah jalan takdir Echa, Yah. Echa sudah ikhlas dan Echa ingin berdamai dengan masa lalu Echa," terangnya.
Hati Rion dan Arya sangat terenyuh mendengar penuturan dari gadis ini.
"Yah, jangan sia-siakan istri Ayah jika Ayah masih sayang sama dia. Jangan sampai Ayah menyesal untuk kedua kalinya. Dan lihatlah Riana, dia masih membutuhkan Ayah dan juga Ibunya," tutur Echa.
"Echa tahu, Ayah marah dan kecewa sama istri Ayah. Ingatlah, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, jadi benarkanlah setiap kesalahan istri Ayah. Tuntutlah dia menjadi manusia yang lebih baik lagi. Terkadang ucapan yang terlontar dari mulut kita yang kita anggap biasa, malah bisa membuat orang lain sakit hati," ungkapnya.
Arya tersenyum mendengar semua yang diucapkan oleh Echa. Gadis yang luar biasa.
****
Echa jalan santai, langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang wanita berhijab sedang menggendong putri kecilnya. Dia sangat familiar dengan wanita dan anak itu.
Namun, matanya tertuju pada sosok berbaju hitam dan bertopi di seberang jalan sana. Orang itu sangat mencurigakan. Dan dia merogoh saku jaket kulitnya. Ternyata senjata berupa pistol yang dia ambil.
"Awas," teriak Echa sambil berlari ke arah Amanda dan juga Riana.
Dor!
Timah panas bersarang di punggung Echa. Hingga dia tersungkur ke dalam pelukan Amanda
Amanda melihat telapak tangannya bersimbah darah. Dan Echa hanya tersenyum. "Bunda dan Riana selamat," ucapnya pelan. Mata Echa pun tertutup.
"Echa," teriak Amanda. Riana sudah menangis keras dalam gendongan sang Bunda.
Rion berlari di lorong rumah sakit begitupun Ayanda dan juga Gio yang baru tiba di rumah sakit. Rion menatap Amanda dengan penuh kemarahan karena melihat baju yang dikenakannya bersimbah darah.
Riana berlari memeluk Rion dan menumpahkan semua tangisnya. "Tata, Yah. Tata," ucap Riana.
Hati Rion amatlah sakit, tak lama Ayanda datang bersama Gio dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kenapa dengan putriku?" tanya Ayanda kepada Rion dan juga Amanda. Apalagi baju dan kerudung Amanda penuh dengan darah.
"Kamu ingin membunuh anakku, iya?" teriak Ayanda kepada Amanda. Amanda hanya bisa menunduk. Dia juga masih syok dengan apa yang telah terjadi. Kejadian itu begitu cepat.
Gio menenangkan istrinya. "Tenang Mom, putri kita kuat. Dia akan baik-baik saja," ucap Gio.
"Jika terjadi apa-apa dengan putriku, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MU," sentak Ayanda.
Amanda hanya bisa menangis dan tertunduk. Dia tidak punya muka untuk melihat ke arah orangtua kandung Echa.
Ya Allah, kenapa cobaan ini terus datang kepadaku? Ketika hubunganku belum membaik dengan semuanya, kini kau beri cobaan ku lagi. Meraka akan semakin membenciku, Ya Allah.
Radit baru sampai di rumah sakit. Dia bergegas menghampiri Ayanda dan juga Gio. "Gimana Om?" tanya Radit.
"Dokter sedang menangani Echa."
"Maafkan Radit, Om. Harusnya Radit menemani Echa, jika Radit ...."
"Sudahlah, Dit. Ini cobaan untuk kita semua," sahut Gio.
Hanya Gio yang masih berpikir jernih di sini. Tak lama dokter pun keluar. "Tenang saja Pak, Bu. Putri kalian tidak apa-apa. Untungnya, timah panasnya hanya bersarang di punggungnya."
"Bisa saya bertemu putri saya?" tanya Ayanda.
"Sebentar lagi putri Bapak dan Ibu akan kami pindahkan. Jadi, silahkan tunggu di ruang perawatan."
Echa pun sudah ada di ruang perawatan. Mereka semua masuk ke dalam ruangan itu. Echa sudah sadar namun, dia belum bisa berbaring. Karena dokter baru saja mengambil peluru di punggungnya.
"Kenapa bisa seperti ini, Kak?" Ayanda sudah menitikan air mata.
"Echa tidak apa-apa, Mah." Echa menatap ke arah Riana. "Kamu tidak apa-apa. Ri?" Riana hanya menggeleng dan tangisnya pun pecah kembali.
Mata Echa mencari-cari sosok seseorang. Semuanya sudah ada tapi, bundanya tidak ada di sini.
"Kak, kenapa bisa seperti ini?" tanya Gio.
"Echa gak tau. Kejadian itu begitu cepat. Ada seseorang yang ingin mencelakai Riana ataupun ibunya," jelasnya.
Mata Rion melebar dan Gio pun menatap Rion heran. "Mas, apa kamu punya musuh?" Rion menggeleng.
"Ya sudah, biar ini jadi urusan Daddy. Biar Daddy dan ayahmu yang urus," ucap Gio.
Semua orangtua Echa pergi meninggalkan Echa. Malam ini Echa ditemani Radit. Hanya kepada Radit lah Echa mau terbuka.
"Bhul, kenapa kamu menyelamatkan Riana dan juga Tante Manda?" tanya Radit ketika mereka telah selesai makan.
"Aku hanya ingin melindungi adikku. Bagaimana pun, ada darah ayah ku yang mengalir pada tubuhku dan juga Riana," jawab Echa.
"Pistol itu seperti ingin membidik keduanya," tambahnya lagi.
"Kamu bukan hanya menyelamatkan Riana, Tante Manda pun ikut kamu selamatkan," imbuh Radit.
"Riana dan ibunya adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Ketika Riana yang terkena peluru, Ayah pasti akan sangat marah dan sudah pasti akan membenci istrinya sampai kapanpun."
"Jika, ibunya yang terkena peluru apalagi tepat di dadanya, kemungkinan Riana akan kehilangan ibunya. Riana akan tumbuh dan besar tanpa seorang ibu. Aku tidak ingin melihat itu. Biarlah hanya aku yang merasakan bagaimana hidup hanya dengan satu orangtua," jelasnya.
"Kamu tau kan, kalo tindakan kamu itu bisa membahayakan nyawa kamu," kata Radit.
"Aku sangat tahu, dan ketika aku berlari menyelamatkan mereka aku hanya bisa berpasrah. Aku hanya meminta kepada Tuhan, jika setelah ini aku masih diberi kesempatan hidup tolong buka hati Ayah untuk memaafkan istrinya. Karena dibalik ujian pasti ada hikmahnya."
"Dan jika kejadian itu menjadi jalanku untuk menghadap Tuhan, aku hanya ingin melihat ayah dan istrinya serta Riana bahagia. Karena Mamah, Papa dan si kembar pasti akan selalu bahagia," terangnya seraya tersenyum.
Tanpa Radit dan Echa sadari, ada Amanda yang sedang mendengarkan percakapan mereka berdua. Sebenarnya Amanda ingin menemui Echa ketika semua orangtua Echa sudah pulang. Namun, tangannya yang sudah ingin membuka pintu terhenti ketika Radit menanyakan alasan Echa meyelamatkan adiknya dan juga bundanya.
Air mata Amanda luruh begitu saja. Tubuhnya merosot ke bawah. Anak sebaik dan setulus Echa dia abaikan dan dia benci. Hanya karena ketakutannya dia berani membentak Echa, memaki Echa dan ucapan yang dia lontarkan kepada Echa sangatlah menyakitkan.
Dan sekarang, ketika seseorang mencoba membunuhnya dan juga putrinya. Echa lah yang memasang badan untuk mereka. Echa lah yang rela mengorbankan nyawanya untuk mereka.
Sungguh mulia sekali hatimu, Cha. Maafkan Bunda.
****
Happy reading ....
Ada notif up langsung baca ya, jangan ditimbun-timbun.
Jangan lupa like, komen dan juga vote dengan poin/koin agar aku semangat nulisnya.