Bang Duda

Bang Duda
362. Aliran Darah (Musim Kedua)



"Bolehkah Ri tinggal bersama Om Jun saja?"


"Tidak!" jawab tegas Rion.


"Om Juna itu bukan Om kandung kamu. Ayah tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu. Lagi pula, Bundamu akan bisa menemui kamu di sana. Tidak akan Ayah biarkan itu terjadi," terang Rion dengan tatapan serius.


"Kamu tidak nyaman tinggal di sini?" Pertanyaan Echa mendapat respon sebuah anggukan dari Riana.


"Bukan karena Aksa, kan," ejek Radit.


Hanya delikan kesal yang Riana tunjukkan. Sedangkan Echa sudah memukul pundak Radit cukup keras. Hingga suaminya mengaduh. Radit senang sekali menggoda adik-adik Echa. Entah itu si kembar ataupun Riana.


"Kalo kamu gak nyaman tinggal di sini. Kamu dan Ayah tinggal aja di apartment Kakak. Lagi pula, Kakak tidak akan diperbolehkan keluar dari rumah ini oleh Mamah."


"Bagaimana dengan Iyan, Kak?" tanya Riana.


"Biarkan Iyan memilih, dia mau tinggal sama Kakak di sini atau sama Ayah dan kamu di apartment Kakak." Rion dan Riana pun mengangguk mengerti.


Mereka memutuskan, setelah kondisi Iyan membaik barulah Rion dan Riana akan pergi dari rumah Ayanda. Alasan yang mendasar adalah sungkan. Terlalu baik Ayanda dan Gio kepada mereka. Sedangkan mereka sampai saat ini masih belum bisa membalas kebaikan pasangan suami-istri itu. Malah sebaliknya, mereka sering mengecewakan keluarga Ayanda.


Waktu begitu cepat berlalu, sudah tiga hari Rion dan Riana tinggal di rumah Ayanda. Dan hari ini Iyan sudah dinyatakan sembuh total oleh dokter. Rona bahagia sangat terlihat jelas di wajah Rion dan yang lainnya. Ayanda pun akan mengadakan makan malam bersama dengan mengundang sahabat suaminya serta sepupu-sepupu Giondra. Meskipun mereka sering berkeliaran di rumah Giondra semenjak Iyan dan Echa dirawat di sana.


Rumah besar milik Giondra sudah Arya, Kano, Sheza dan Beby anggap seperti rumah utama. Semau mereka melakukan hal apapun. Apalagi, di dalam rumah itu menyediakan fasilitas lengkap. Para pelayan lah yang akan menggerutu kesal jika para hot Daddy dan hot mommy berkumpul. Ditambah anak-anak mereka yang senang sekali berulah. Menambah beban para pelayan di rumah Ayanda ketika mereka sudah pulang.


Iyan bersorak gembira ketika melihat semua makanan kesukaannya terhidang di atas meja. Apalagi halaman belakang yang disulap menjadi tempat bakar-bakar. Wajah Iyan sangat berbinar.


"Mommy ini ada acara apa?" tanya Iyan yang bermulut bawel.


"Ini Mommy persiapkan untuk kesembuhan kamu, Sayang."


"Makin sayang deh sama Mommy," ucap Iyan sambil memeluk pinggang Ayanda.


"Kamu senang tinggal di sini?" Iyan pun mengangguk dengan cepat. Membuat lengkung senyum terukir indah di wajah Ayanda. Meskipun, Ayanda melihat masih ada kesedihan di mata Iyan. Karena tidak dipungkiri, perpisahan kedua orangtua Iyan memiliki luka tersendiri. Yang tidak bisa orang ketahui.


Malam pun tiba, Rion mengerutkan dahinya ketika melihat ruang makan dipenuhi berbagai macam makanan. Ditambah halaman belakang disulap menjadi tempat bakar-bakar yang nyaman.


"Ada apa ini, Dek?" tanya Rion yang sedang mengaduk kopinya setelah berganti pakaian.


"Acara syukuran kecil-kecilan untuk kesembuhan Iyan dan juga Echa."


"Kenapa repot-repot begini, sih."


"Gak repot, Mas. Aku sudah izin kok sama Echa dan Papanya." Rion hanya menghela napas kasar.


Ini waktu terbaik untuknya mengatakan jika besok dia tidak akan tinggal di rumah Ayanda lagi kepada semua orang. Raut wajah Iyan berbanding terbalik dengan raut wajah Riana. Itulah yang membuat Rion sedikit kesusahan. Walaupun, Riana belum bercerita apa yang membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan keluar dari rumah Ayanda, setidaknya Rion mencoba mengerti hati putrinya.


Tak lama, teman-teman Rion beserta istri dan anak mereka datang ke rumah Ayanda dengan membawa kegaduhan. Untung saja, Echa sedang pergi ke rumah mertuanya. Jadi, tidak terlalu heboh suasana rumah Ayanda kali ini.


"Kak Ri," panggil Beeya sambil memeluk tubuh Riana. Sekesal-kesalnya Beeya, dia tidak pernah memendam rasa dendam kepada Riana. Dia tetap menganggap Riana seperti kakaknya sendiri. Begitu juga Key, dia masih setia menjadi sahabat Riana.


Mereka pun menikmati hidangan yang tersedia dengan penuh gelak tawa. Inilah yang disukai Gio, kebersamaan mereka membuat suasana rumah mereka menjadi ramai. Tidak sepi seperti pemakaman.


"Setelah makan ada yang mau gua sampein," ucap Rion kepada para sahabatnya.


Semua orang mengerutkan dahi mereka. Karena tidak seperti biasanya Rion bersikap seperti ini.


"Uhuk!" Riana tersedak makanan yang sedang dia telan. Aksa memberikan segelas air putih kepada Riana. Key dan Beeya pun saling tatap sambil melemparkan senyum jahil.


"Sembarangan! Endro udah mempercepat proses persidangan gua. Lagi pula, gua gak mau ada mediasi atau apalah. Hak gono-gini pun masih gua kasih. Itung-itung sedekah ke kaum dhuafa," jelas Rion.


"Lalu apa yang mau lu omongin?" selidik Gio.


"Nanti aja pas udah selesai makan."


Setelah selesai makan, Echa dan Radit baru saja tiba di kediaman sang Mamah. Mereka berdua disambut hangat oleh para sahabat Mamah dan Papa Echa.


"Kak Echa, satu dedeknya buat Bee, ya. Biar Bee gak kesepian." Kalimat yang sangat menusuk ulu hati Arya dan juga Beby.


Echa mengusap lembut kepala Beeya. "Kamu boleh minjem dedek bayinya, kok. Asal dedek bayinya kamu jajanin sama beliin mainan."


"Gampang itu mah," jawab percaya diri Beeya. Sedangkan Arya sudah menepuk dahinya.


"Nambah lagi beban gua. Mana anak si Bangor tiga lagi," keluh Arya.


Semua orang pun tertawa mendengar jawaban Arya. Selalu Arya yang menjadi korban keuangan oleh anak-anak Rion. Sekarang, cucu-cucu Rion pun akan menyusahkannya dalam segi materi.


Anak-anak sedang asyik membakar aneka bakso seafood dan jagung. Sedangkan para hot Daddy dan hot Mommy sudah duduk melingkar di atas tikar yang sudah disediakan.


"Apa sih yang mau lu omongin?" tanya Arya.


"Besok, gua dan Riana akan pindah ke apartment milik Radit," ucapnya.


Mata Ayanda dan Gio melebar. "Kenapa Mas?" tanya Ayanda kaget.


"Mas dan Riana tidak ingin merepotkan kamu dan juga suami kamu. Kalian berdua sudah terlalu baik kepada Mas dan anak-anak Mas."


"Gua gak merasa keberatan," sahut Gio.


"Tapi, gua yang segan, Gi. Biarkan gua keluar dari rumah kalian, ya. Lagi pula, Iyan ingin tinggal di sini bersama Echa. Jadi, gua akan sering ke sini."


Gio dan Ayanda tidak bisa memaksa apa yang sudah diputuskan oleh Rion dan Riana.


"Kalo Mas butuh bantuan, jangan sungkan datang kepada kami," balas Ayanda. Rion pun tersenyum hangat dan mengucapkan terima kasih.


Di lain tempat, Satria masih betah mengurung Amanda di kamar. Dia takut, Amanda bersikap nekat dan mencelakai orang lain. Tidur pun, Satria dan Amanda terpisah.


Setelah puas menyesap kopi sambil menikmati udara malam. Satria memeriksa keadaan Amanda di kamarnya.


Matanya terbelalak ketika dia melihat Amanda yang tengah menahan kesakitan.


"Kamu kenapa, Manda?"


Dilihatnya wajah Amanda sudah pucat dan sudah ada aliran darah yang membasahi kakinya.


"Sakit, Mas."


...****************...