Bang Duda

Bang Duda
388. Tak Kan Pernah Kembali (Musim Kedua)



Ponsel Rion berdering, dengan cepat Rion menjawabnya karena Radit lah yang menghubunginya.


"Iya, Dit."


Seketika tubuh Rion menegang mendengar penjelasan dari Radit. Dia membeku dan tak bisa bergerak sedikit pun. "Mimpi Iyan," gumam Rion.


Gio dan Arya yang mendengar gumaman Rion segera mendekat. Arya meraih ponsel dari tangan Rion dan hatinya seketika berdegup sangat hebat. Dia takut terjadi sesuatu terhadap Echa. Ketika Radit menjelaskan semuanya, Arya tertunduk. Membuat Gio semakin khawatir.


"Ada apa?" tanya Gio.


"Bayi Satria meninggal," jawab Arya.


Sungguh kabar yang mengejutkan untuk Gio. Bayi yang usianya sama dengan sang cucu. Dan ketika Arya menjelaskan semuanya, Gio menatap ke arah Rion, dia mengerti apa yang sedang Rion pikirkan.


"Mimpi Iyan ...." Dijawab anggukan oleh Rion.


"Firasat Iyan selalu benar," ucapnya.


Kabar duka itu sudah sampai ke telinga semua orang yang berada di kediaman Echa. Terkejut, mereka semua hampir tidak percaya.


"Mimo gak tau harus berbuat apa jika kalian mengalami kejadian tragis seperti itu?" ucap Ayanda pada tiga bayi yang tengah tertidur di karpet bulu.


Dan Gio putuskan hanya dirinya yang akan pergi melayat ke rumah sakit. Karena jenazah putra dari Satria akan segera dimakamkan. Gio mengajak kedua putranya untuk mewakili keluarga Rion. Dan tentunya Aksa yang sangat antusias. Apalagi, dia mendengar Riana sedang berada di rumah sakit itu. Namun, antusias Aksa berubah menjadi pilu ketika sang Daddy memberitahukan jika Echa celaka. Si kembar itu kembali dirundung duka.


Sedangkan di rumah sakit, Radit mencari sosok papihnya. "Papih sedang mengurus pemakaman Devandra. Karena dia akan dimakamkan di San Diego Hill's." Mata Radit melebar sempurna ketika mendengar tempat pemakaman mewah yang sang Abang sebutkan.


"Itu bentuk rasa sayang Papih ke keponakannya. Dan Papih menganggap, jika Devandra dimakamkan di sana itu sama dengan Papih memberikan sebagian warisan yang memang harus diterima Devandra. Kamu tahu kan, berapa biaya pemakaman di sana?" Radit mengangguk mengerti.


Uang satu sampai satu setengah milyar yang harus dikeluarkan bukanlah nominal yang besar bagi Addhitama. Addhitama ingin memberikan yang terbaik untuk sang keponakan. Baru saja Devandra merasakan gendongan hangat sang ayah, sekarang Devandra sudah menuju alam keabadian. Hanya menyisakan sebuah nama di atas batu nisan yang tertancap di gundukan tanah.


"Bang, boleh Ri ikut ke pemakaman?" Pertanyaan yang membuat Radit bimbang.


"Tapi, Abang harus jaga Kakak," jawab Radit. Dan Riana pun memilih mengalah.


Tak lama berselang, Gio dan kedua putranya datang ke rumah sakit. Dia berpapasan dengan Addhitama di lorong menuju kamar jenazah. Tak lupa, Gio mengucapkan bela sungkawa.


Sudah banyak orang yang menunggu Satria di depan kamar jenazah. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan masuk. Termasuk, Gio yang Addhitama ajak masuk.


Gio sudah tidak bisa melihat jenazah anak dari Satria karena sudah dikafani. Jenazah bayi mungil itu diangkat oleh sang ayah. Sebisa mungkin Satria tidak menangis meskipun hatinya sangat teriris. Ambulans sudah menunggu di pintu belakang rumah sakit. Begitu juga yang ingin mengantar sudah berada di dalam mobil masing-masing.


"Apa Papa mau ikut ke pemakaman?" tanya Radit.


"Iya, setelah itu Papa akan menjenguk Echa."


"Riana ingin pergi ke pemakaman. Mengantar adiknya ke tempat peristirahatan terakhir."


"Nggak, Bang. Ri, ingin jaga Kakak aja," kilah Riana. Jujur saja, dia tidak ingin berdekatan dengan Aksa. Apalagi sedari tadi Aksa memperhatikannya dengan tatapan aneh.


"Ikut saja, Ri. Mewakili Ayah kamu," ujar Gio.


"Ta-tapi ...."


"Abang akan hubungi kamu jika Kak Echa sudah bangun. Dan kamu juga harus istirahat. Biar Abang yang jaga Kakak." Dengan terpaksa, Riana mengangguk.


Sirine ambulans sudah dinyalakan, dan banyak mobil mewah yang mengikuti mobil ambulans itu dari belakang. Dan pengawalan polisi di depan ambulans sudah dikerahkan.


Kurang dari satu jam semua mobil berhenti di sebuah pemakaman yang sangat mewah. Hanya orang-orang tertentu dan berduit yang pastinya bisa membeli rumah abadi ini. Satria terus berjalan dengan diiringi oleh Addhitama dan juga Rindra. Sedangkan Rifal ditugaskan untuk menjaga keponakannya, Rio.


Ketika jenazah itu Satria berikan


kepada orang yang sudah berada di liang lahat, tubuhnya seperti tidak berdaya. Lemas, apalagi mendengar kumandang adzan yang begitu menyayat hati. Dia teringat ketika dia mengumandangkan adzan di telinga Devandra, dia menitikan air mata bahagia. Dan sekarang, kumandang adzan di telinga Devandra membuat Satria menangis lagi. Tetapi, menangis sedih karena sang malaikat hati itu telah pergi dan tidak akan pernah kembali.


Perlahan tapi pasti, liang lahat berukuran kecil itu tertutup oleh gundukan tanah merah. Ingin rasanya Satria berkata jangan. Tetapi, dia tidak boleh melawan ketentuan Tuhan. Rezeki, maut dan jodoh sudah Tuhan tentukan.


Gundukan tanah merah terlihat di depan mata Satria. Dan Nisan itu tertancap di bagian kepala gundukan tanah. Devandra bin Satria.


Ketika seorang ustadz membacakan doa, air mata Satria meluncur deras. Seperti sedang mengamini dengan keras.


Tabur bunga pun dilakukan. Sesak di dada Satria semakin terasa. Bertahan, itulah yang sedang Satria lakukan. Setelah itu, Satria mengusap lembut nisan sang putra. Lalu menciumnya.


"Papih sayang kamu. Tunggu Papih di sana. Ketika waktu Papih di dunia habis kita pasti akan bertemu. Bisa bermain bersama dan juga bercanda bersama. Papih sayang kamu, Dev," ucap lirih Satria.


Mendengar ucapan sang adik, ulu hati Addhitama seperti ditusuk pisau yang sangat tajam. Sakit dan perih. Sedangkan Riana sudah tertunduk dalam, menyembunyikan sedihnya di hadapan semua orang. Hingga tangan seseorang mendekap hangat tubuh Riana.


"Menangislah sesuka hatimu hari ini. Cukup hari ini, tidak untuk besok, lusa dan seterusnya. Kami berhak bahagia." Dekapan itu terasa hangat membuat Riana mengeratkan pelukannya ke pinggang Aksa.


Sedangkan Addhitama sudah beringsut mundur karena harus menjawab panggilan telepon dari orang suruhannya.


"Apa sudah ketemu?" Kalimat yang pertama kali Addhitama tanyakan pada orang suruhannya. Meskipun masih dirundung duka, amarahnya masih membara terhadap Amanda.


"Sudah, tapi ...."


...****************...


Tunggu bab-bab selanjutnya ...