Bang Duda

Bang Duda
263. Sangat Mudah (Musim Kedua)



Echa dan ayahnya pun pergi meninggalkan kantor. Mobil Echa dibawa oleh Arya. Karena hari ini Arya memang tidak membawa kendaraan.


"Ayah, Echa turun di cafe itu aja, ya," pintanya.


"Kamu udah ijin belum sama Mamah." Echa hanya mengangguk. Rion pun menuruti permintaan putrinya. Cafe itu memang tempat Echa menghabiskan waktu bersama Radit ataupun kedua sahabatnya.


"Kalo udah selesai hubungi Ayah, biar Ayah yang jemput." Echa mengacungkan ibu jarinya.


Echa disambut oleh para karyawan di sana yang sudah mengenal Echa. Salah satu pelayan pun membawakan minuman dan cemilan kesukaan Echa.


"Makasih."


Echa membuka ponselnya, ada lengkungan senyum di bibirnya. Dia hanya tinggal menunggu. Menunggu siapa? Hanya Echa yang tahu.


Selang lima belas menit, orang yang benar-benar ditunggu Echa datang dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.


Brakk!


Suara gebrakan meja terdengar sangat keras, hingga minuman dan makanan Echa bergeser. Echa hanya menatapnya dengan tenang.


Para pegawai di cafe itu pun menenangkan orang yang akan bersikap kasar kepada Echa. Sedangkan Echa hanya melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap Dea dengan begitu santai.


"Anda mabok lem? Tiba-tiba menggebrak meja saya?" sergah Echa.


Wanita itu menajamkan penglihatannya ke wajah Echa. Dia terlonjak ketika mengetahui jika yang menggandeng tangan pujaan hatinya itu wanita yang menjemput si kembar.


"Bukannya kamu pacar Pak Gio?" Echa pun tersenyum.


"Ngapain kamu bermesraan dengan kekasih saya?"


"Kekasih?" Echa pun tertawa.


"Sejak kapan seorang pengusaha muda sekelas Rion Juanda memiliki kekasih seperti Anda?" ejeknya.


Dea semakin geram dengan perkataan dan sikap Echa yang terdengar sangat merendahkan dirinya. Dia mengeluarkan beberapa foto dan video Echa dan Rion tadi di parkiran. Bisa dia jadikan alat untuk mengancam Echa.


"Ada apa dengan video dan foto itu?'" Echa masih bersikap santai menghadapi Dea yang sudah bertanduk.


"Akan saya sebarkan, agar citra dari sedang Rion Juanda seorang pengusaha muda semakin tercoreng." Seringai licik pun terlihat di wajah Dea.


"Foto dan video itu mah gak ada apa-apanya. Anda mau lihat foto dan video panas saya dengan Mas Rion? Ketika kami sedang ...."


"Stop!" pekik Dea.


"Ada hubungan apa kalian berdua?" tanya Dea dengan penuh penekanan.


Echa mendekatkan wajahnya ke arah Dea. "Hubungan yang lebih dari sekedar teman, dan lebih dari seorang istri."


Mata Dea pun melebar dengan sempurna. Refleks tubuhnya pun mundur ke belakang karena terkejut dengan ucapan Echa.


"Bohong!" seru Dea.


Echa menunjukkan foto dia bersama Rion ketika acara ulang tahun Echa yang ke-17. Echa memandang ayahnya dengan tatapan penuh cinta. Mereka saling tersenyum dengan tangan yang saling menggenggam. Apalagi Rion memberikan cincin bermata manis kepada Echa. Dan dia juga memasangkan cincin itu di jari manis Echa.


Tubuh Dea lemas, kakinya seperti tidak sanggup menopang tubuhnya. Echa hanya tersenyum ke arah Dea. Dan dia menyodorkan gelas berisi air mineral kepada Dea.


"Minum dulu, takut Anda lupa caranya bernapas," ejeknya lagi.


Dea masih tidak ingin mempercayai ucapan demi ucapan dari Echa. Tapi, foto itu bukanlah foto editan. Karena dia sudah mempelajari ilmu fotografi.


"Apa Anda masih tidak percaya?" Dea pun hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Echa.


Echa menunjukkan video kepada Dea, sontak matanya terlihat nanar dan tubuhnya gemetar.


"Jangan pernah macam-macam dengan saya. Atau Anda akan tau akibatnya seperti apa."


Sungguh kata-kata yang sangat mematikan. Apalagi video itu menunjukkan kecurangan-kecurangan yang Dea lakukan terhadap para customer dan juga penanam modal.


Wajah Dea sudah pucat pasi, tenyata perempuan di depannya ini bukanlah lawan yang mudah untuknya. Echa memiliki beberapa kartu As yang akan mematikan lawan dalam sekejap.


Suara Barito seseorang membuat Echa menoleh. "Sayang."


Dea sangat amat terkejut melihat siapa yang datang menghampiri mejanya dan juga dia. Apalagi mendengar sebutan sayang, membuat Dea semakin terkejut.


Pak Gio.


Echa memeluk tubuh pria dewasa itu. "Kita ke hotel sekarang," ajak si pria. Echa pun mengangguk.


Sebelum pergi, Echa mendekat ke arah Dea dan berbisik. "kalian susah kan mendapatkan dua pria kaya ini, tapi bagiku ini sangatlah mudah."


Ejekan sebelum pergi Echa lontarkan kepada Dea dengan seringai licik nan jahat.


****


Happy reading ....