
Keharuan sekaligus kebahagiaan yang menyelimuti sepasang suami-istri ini harus berakhir karena perut Rion yang terasa mual kembali.
Dia terus mencoba memuntahkan isi perutnya namun, hanya air yang keluar. Seharian kemarin perutnya tidak bisa menerima makanan. Apa yang dia makan langsung dia keluarkan lagi.
"Kenapa Abang yang harus merasakan ngidamnya? Kenapa gak Manda aja?" ucapnya sambil memijat tengkuk leher sang suami.
Setelah dirasa perutnya nyaman, Rion membersihkan mulutnya lalu menghadap sang istri. Seulas senyum yang terukir di bibirnya.
"Gak apa-apa, Sayang. Mungkin si adeknya ingin Ayahnya merasakan apa yang dulu Bundanya pernah rasakan pas mengandung si kecil," ujar Rion sambil membelai lembut pipi Amanda.
"Kamu jangan sedih, Abang gak apa-apa. Asal kamu selalu ada di samping Abang, mual itu sedikit menghilang."
"Maaf," kata Amanda.
"Kamu gak salah dan mungkin ini keinginan si Adek," ucapnya dengan tangan yang mengusap lembut perut rata sang istri.
"Yang penting kamu jaga calon anak kita baik-baik. Dengan Abang yang merasakan ngidam, kamu lebih leluasa untuk makan apa yang kamu mau. Dan ingat makan makanan yang bergizi, ya. Supaya si Adek tumbuh sehat di dalam sana."
Amanda tersenyum ke arah Rion dan dia pun masuk ke dalam dekapan hangat Rion. Tak hentinya Rion mengecup ujung kepala Amanda.
"Abang mau ke kantor?" tanya Amanda yang sudah melihat suaminya rapi.
"Iya, pernikahan Arya seminggu lagi, kan. Dia sudah harus mempersiapkan semuanya."
"Nanti Abang gimana kalo mual-mual dan muntah-muntah?" tanya Amanda.
"Kamu ikut Abang ke kantor, temani Abang dan jagain Abang," ucapnya dengan senyum jahil.
"Gak mau," tolak Amanda.
"Ya udah, nanti kalo Abang mual dan muntah berarti yang ngurusin Abang asisten Abang, ya. Si Kalila," godanya.
"Jangan," bentak Amanda.
"Ya udah tunggu, Manda ganti baju dulu," ucap Amanda.
Rion tertawa melihat Amanda cemburu. Inilah yang dia inginkan selalu dekat dengan istrinya. Setelah selesai berpakaian, Amanda menghampiri suaminya yang sedang mengecek laptopnya.
"Bang, ayo."
"Bentar, Sayang. Nanggung," sahut Rion.
"Ya udah Manda tunggu di dapur, ya."
Setelah Rion selesai, dia keluar dengan hidung dan mulut yang sudah ditutupi masker. Penciumannya sangat sensitif akhir-akhir ini.
"Yang," panggil Rion dengan sedikit berteriak.
Amanda menghampiri suaminya yang sudah keluar kamar. Rion langsung menggandeng tangan istrinya menuju mobil. Pak Mat yang akan mengantarkan Rion dan juga Amanda ke kantor.
Rion terus menggenggam tangan Amanda dan membaringkan kepalanya di bahu sang istri. Dengan mata yang terpejam.
"Abang belum sarapan, loh. Manda bikinin roti bakar ini," ucap Amanda.
"Nanti aja, Yang," sahut Rion.
Amanda pun tidak mau memaksa karena bisa berimbas suaminya ini mual lalu muntah-muntah. Tibanya di kantor, Rion dengan posesifnya menggenggam tangan Amanda. Sapaan dari para karyawan lain hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Rion.
Setibanya di lantai atas, Kalila dengan sopan menyambutnya. Namun, dibalas dengan tatapan tajam oleh Amanda. Membuat Kalila hanya bisa mengelus dada.
"Ngapain bawa bini lu kerja?" tanya Arya yang sudah duduk manis di mejanya.
"Berisik lah, pergi sonoh," usir Rion.
"Gimana? Jadi gak?" tanya Arya pada Amanda.
Hanya anggukan dan seulas senyum bahagia yang menjadi jawaban dari Amanda.
"Baru sore ini mau mastiin ke dokter kandungan," imbuh Amanda.
"Alhamdulillah," ucap syukur Arya.
"Amin," jawab Amanda.
Arya pun terkekeh sedangkan Rion menatap Arya dengan tatapan kesal. "Udah waktunya lu cuti, gua kasih 2 Minggu buat senang-senang," ujar Rion.
"Bentar amat, sebulan lah," tawar Arya.
"Lu kira ini kantor bapak moyang lu," bentak Rion.
"Ternyata pria ngidam lebih sensitif dari wanita ngidam," ledeknya sambil tertawa.
"Kebiasaan banget deh kalo ketemu udah kaya tom and Jerry," ujar Amanda.
"Ya udah gua balik, selamat menikmati hari-hari mual lu," ledek Arya sambil tertawa.
"Setan," teriak Rion.
Amanda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua pria dewasa yang seperti anak kecil jika bertemu.
"Sarapan dulu, ya. Abang belum makan apa-apa."
Amanda membuka kotak makan yang sengaja dia bawa. Dia menyuapi roti bakar ke dalam mulut suaminya. Mata Rion menatap laptop di depannya sedangkan mulutnya asik mengunyah.
"Habis," ucap Amanda senang.
Rion menatap istrinya dan senyumnya pun mengembang. "Makasih, Sayang," ucapnya lalu mencium bibir sang istri.
"Ini kantor Bang," sentak Amanda.
"Cuma nempel doang," sahut Rion sambil tertawa.
Dari pagi sampai sore Amanda menemani Rion di kantor. Sebenarnya bosan, tapi suaminya menginginkan dirinya untuk selalu bersama dia. Benar saja, Rion mau makan dan juga tidak merasakan mual di perutnya. Hanya saja, Rion hanya ingin meminum minuman yang asam.
Jam empat sore Amanda dan Rion sudah keluar dari kantor. Mereka menuju salah satu rumah sakit. Setibanya di sana perut Rion terasa diaduk-aduk kembali. Bau rumah sakit membuatnya pusing dan mual.
"Yang, pusing," ucapnya yang kini bersandar di bahu sang istri.
Amanda dengan lembut memijat kening suaminya. Banyak pasien yang lain yang tersenyum melihat tingkah manja Rion.
Tak lama nama Amanda dipanggil, mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan dokter. Amanda menceritakan semuanya termasuk hasil testpacknya pagi ini.
"Silahkan berbaring di sini," titah sopan seorang dokter kandungan wanita.
Setelah cairan gel dingin diolesi di perut rata Amanda, dokter pun melengkungkan senyum.
"Selamat Pak, istri Anda benar hamil," ujar dokter.
Rona bahagia sangat terlihat di wajah tampan Rion meskipun tertutup masker. Begitu juga Amanda. Setelah melakukan USG mereka berdua duduk kembali di hadapan dokter.
"Kandungannya masih sangat rentan. Jadi, usahakan jangan melakukan hal yang berat-berat dulu," jelas dokter.
"Kalo hubungan suami istri boleh gak?" Sontak Amanda memukul lengan Rion. Dokter hanya tertawa.
"Boleh, asalkan dilakukan dengan lembut," jawab dokter.
Rion pun terlihat sangat sumringah, beda dengan Amanda yang menatap suaminya kesal. Dokter memberikan beberapa resep untuk Amanda konsumsi selama kehamilan.
Setelah selesai mereka menuju ke apotik untuk mengambil obat. Tangan Rion dan Amanda terus saling menggenggam. Disela menunggu obat Amanda membuat story WA tentang kehamilannya.
Tak lama kemudian ponselnya terus berdering. Senyuman Amanda melengkung indah. Bukan hanya dia dan suaminya yang bahagia akan kehamilan ini, tapi semua orang yang dekat dengannya dan juga suaminya turut bahagia. Terlebih mantan istri suaminya.
Ayanda : Selamat Sayang, jaga baik-baik calon anak kalian.
Amanda : Iya, Mbak. Insya Allah kita akan jaga dengan sangat baik.
Ayanda : Semoga anak kalian cewek ya, biar nanti aku jodohkan dengan salah satu dari si kembar 😁
Amanda : Wah, boleh-boleh. Anak aku akan jadi calon menantu dari salah satu orang terkaya di Asia.😁
Amanda hanya terkekeh geli membaca isi chat antara dia dengan Ayanda. Semoga di kehamilan kali ini dia bisa menjaga amanah dari Allah dengan baik. Dan bisa melihat hasil karyanya dengan sang suami.