Bang Duda

Bang Duda
190. Perjalanan Hidup



Rion menatap wajah Arya dan dia mengangguk mantap. Sedangkan Azka dan juga Gio menatap Rion dengan penuh selidik.


"Apa sekejam itu lu sama istri gua?" tanya Gio.


"Dulu, yang ada di otak gua itu cuma duit, duit dan duit. Ketika istri gua udah gua kasih uang banyak, ya udah. Pasti dia akan bahagia," jawab Rion sendu sambil menatap putrinya.


"Dan ketika gua dititik kesuksesan, wanita lah yang menjadi godaan gua. Benar kata orang, harta, tahta, wanita itulah godaan untuk pria." Rion menghela napas kasar.


"Kalian tau gak, gua itu kejam banget sama Yanda," lirihnya.


"Ketika dia ingin diperhatikan selepas melahirkan gua selalu sibuk dengan pekerjaan gua. Sampe gua gak peduli apa dia udah makan atau belum."


"Hingga suatu malam, gua baru pulang dari toko. Dia nanyain pesanannya, gua gak tau dia pesan apaan dan gua bentak dia. Dia hanya bilang begini, ya udah mungkin Mas gak baca pesan yang aku kirim."


"Dia lanjut menimang Echa yang memang sedang rewel. Dan ketika gua baca pesan yang dia kirim gua benar-benar bersalah. Ternyata gas, beras dan bahan pokok di rumah abis. Dia gak bisa keluar karena Echa lagi manja dan gak bisa ditinggal. Seharian dia gak makan, pas gua masuk ke kamar, Yanda udah tertidur dengan meringkuk dan memegangi perutnya," sesalnya.


Ketiga pria yang mendengar cerita Rion pun hanya terdiam, bergelut dengan pikirannya masing-masing. Rion adalah suami yang kejam. Begitulah yang benak mereka katakan.


"Kenapa Kak Ay bertahan sama lu? Padahal lu udah sangat kejam," tanya Azka.


"Echa, Echa adalah alasan utama dia bertahan. Karena dia tidak ingin Echa merasakan kasih sayang yang kurang seperti dirinya. Dia adalah anak yang dianak tirikan oleh ibunya."


"Terlalu banyak kesalahan yang gua lakukan untuk Yanda, hingga pada akhirnya dia memilih melepaskan diri dari gua."


"Gua ini bodoh, gua ini egois dan gua juga jahat. Gua telah menyia-nyiakan intan permata yang udah gua genggam dan dibutakan oleh cinta yang pada akhirnya membuat gua menderita." Rion menyeka ujung matanya. Menceritakan masa lalunya seperti menyayat hatinya sedikit demi sedikit. Perih sungguh perih.


Sheza yang mendengar penuturan Rion hanya menutup mulutnya tak percaya. Pria yang dulu pernah dia cintai ternyata memiliki jejak masa lalu yang sangat kejam dan tidak memiliki hati.


Amanda menyentuh tangan Sheza, dan meminta Sheza agar mendorongnya kembali ke ruang perawatannya. Sheza mengangguk pelan, pasti Amanda terkejut mendengar cerita Rion tentang dirinya di masa lalu.


Setelah masuk ke dalam ruang perawatan, Amanda dibantu Ayanda untuk berbaring di tempat tidur.


"Mbak," panggil Amanda.


"Iya."


"Maafkan Bang Rion yang telah kejam kepada Mbak setelah melahirkan Echa," ucapnya dengan suara berat.


Ayanda pun terhenyak dengan ucapan Amanda, dia menatap lekat pada wajah Amanda.


"Mbak sudah memaafkannya meskipun belum bisa melupakan perbuatannya. Tapi, mbak sudah mengikhlaskannya. Karena Mbak tidak mau menyimpan dendam kepada Mas Rion."


"Sudah jalan takdir Mbak seperti ini, disakiti dan dikhianati terlebih dahulu baru mendapatkan cinta dan sayang yang tulus dari orang yang sangat sabar dan juga penyayang."


"Luka di masa lalu sangatlah membekas, tapi sebisa mungkin Mbak tidak mengingatnya. Dan satu hal yang harus Mbak lakukan, yaitu ikhlas."


"Dengan mengikhlaskan semua yang telah terjadi membuat Mbak bisa berdamai dengan masa lalu. Dengan kesakitan, kesedihan, kepiluan dan juga luka yang dalam."


"Mbak, bisakah Manda menjadi seperti Mbak? Mbak wanita baik tapi, kenapa begitu teganya Bang Rion menyakiti Mbak?" tanya Amanda yang tidak bisa membendung air matanya.


Ayanda hanya tersenyum. "Kamu lebih baik dari Mbak, Nda," jawab Ayanda sambil menggenggam tangan Amanda.


"Inilah cara Tuhan untuk memisahkan Mbak dan juga Mas Rion, agar Mbak memiliki pendamping hidup yang lebih baik dari Mas Rion. Begitu pun Mas Rion, memiliki pendamping yang lebih baik dari Mbak. Yaitu kamu," ujar Ayanda sembari tersenyum tulus.


"Kak Ay, hatimu terbuat dari apa?" tanya Beby kagum.


"Wajar jika, Pak Gio rela menunggu hampir sepuluh tahun demi mendapatkan wanita yang berhati malaikat ini," ucap Sheza.


"Tidak usah berlebihan, aku cuma manusia biasa. Hanya saja aku menerapkan ilmu ikhlas dalam setiap masalah yang aku hadapi."


"Luka dimasa laluku amatlah dalam, jika aku masih tidak terima dengan luka itu pasti aku tidak akan bahagia seperti sekarang ini. Apapun yang terjadi pada diriku, aku selalu menganggap ini adalah hadiah yang Tuhan berikan untukku. Dan hadiah tidak selalu terbungkus indah, kan."


Ketiga wanita ini sangat kagum pada Ayanda. Wajar saja seorang Giondra Aresta Wiguna tidak bisa move on pada sosok janda satu anak ini.


"Yang terpenting, sekarang ini Mas Rion sudah berubah. Dia tidak menyakitimu kan ketika masa kehamilan mu?" Amanda menggeleng.


"Dia sangat siaga Mbak." Ayanda pun tersenyum.


"Itulah cara Mas Rion untuk menebus kesalahannya dahulu. Dan dia sangat menyayangimu dan juga putrimu."


"Dia selalu meneteskan air mata ketika melihat putri kalian. Dari raut wajahnya ada penyesalan yang sangat mendalam. Karena dulu, dia tidak pernah menatap wajah putrinya hingga kami diusir pun mungkin hanya terhitung jari dia menatap Echa," ucap Ayanda dengan senyum hambar.


"Mbak ...."


" Tidak apa-apa Nda. Yang penting sekarang Mas Rion sangat menyayangi Echa melebihi nyawanya."


Amanda pun tersenyum ke arah Ayanda. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Pintu ruangan terbuka, Echa masuk ke dalam membawa makanan yang dia beli di kantin. Amanda menatap nanar ke arah Echa. Putri kecil yang tidak mendapatkan sentuhan hangat tangan ayahnya kini menjelma menjadi anak gadis yang cantik jelita.


"Cha, boleh Bunda peluk kamu?" Echa menatap ke arah Mamahnya, Beby dan juga Sheza bingung. Dia pun menganggukkan kepalanya dan mendekat ke arah Amanda. Dan Amanda pun memeluk tubuh Echa.


"Apa kamu membenci Ayah ketika kamu tahu bahwa Ayah telah menyakiti Mamah?" tanya Amanda.


"Tidak, Echa tidak pernah sekalipun membenci Ayah. Echa tahu, Ayah sangat menyesal dengan masa lalunya yang telah Ayah perbuat kepada Echa dan juga Mamah."


"Jika Echa marah apa untungnya? Toh, darah Ayah masih mengalir pada diri Echa. Dan itu tidak akan merubah hubungan darah Echa dengan Ayah karena Ayah tetap ayah kandung Echa."


"Apapun keburukan Ayah, itu tidak akan mengubah status Echa sebagai anak kandungnya, kan. Yang terpenting, Ayah sudah berubah dan menyayangi Echa. Tidak penting Ayah seperti apa di masa lalu. Setiap manusia pasti memiliki masa lalu," jelasnya.


"Cha ...."


"Mamah selalu mengajarkan untuk selalu memaafkan agar Echa tidak menyimpan dendam," ungkapnya lagi.


Rion dan ketiga pria itu mematung di balik pintu yang memang terbuka setengah, mereka mendengar semua ucapan Echa.


"Anak lu tumbuh menjadi gadis yang sangat baik. Didiklah putri lu supaya jadi anak yang baik seperti Echa. Jangan sia-siakan kesempatan ini, dan jangan mengulang kesalahan yang fatal lagi," ucap Arya yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang Rion Juanda.


*****


Komen mana komen ...🤧


Happy reading ....