
Rion, Ayanda dan juga Amanda masih asyik berbincang sedangkan Riza dan juga Echa sedang bermain dengan si kembar tampan.
"Tante, nyetak anak kembar ganteng-ganteng begini ada resep khusus gak sih?"
Ayanda hanya tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Riza. Sedangkan Rion sudah memukul bahu Riza.
"Sekolah dulu yang bener jangan nanya yang aneh-aneh," geram Rion.
Echa hanya terkekeh geli melihat ayahnya yang tidak pernah akur dengan Riza. Selalu saja ada perdebatan diantara mereka..
"Ya ampun Om, cuma nanya doang juga. Ya kali aja bisa berbagi resep gitu," ujar Riza.
Sekarang Rion menjewer telinga Riza hingga Riza memohon ampun kepada Rion karena telinganya sudah memerah.
"El, tolongin aku napa? Panas ini telinga aku," pinta Riza.
"Gak mau, suruh siapa bahas yang aneh-aneh." Echa malah tertawa puas melihat telinga Riza yang memerah.
"Oh jadi itu kalung pemberian Riza?" tanya Ayanda. Echa hanya menganggukkan kepalanya.
"Boleh Tante tau kenapa kamu manggil El?"
"Anggap aja itu panggilan sayang dari aku Tante," ujar Riza sambil mengusap-usap telinganya yang masih panas.
"Nanti Abang sama Adek juga manggil Kakak dengan sebutan Kakak El aja, ya," ucap Echa kepada si kembar yang sedang terjaga.
Seulas senyum terukir dari bibir Ayanda melihat putrinya. Ada rasa bahagia dan juga sedikit rasa takut di hatinya. Ayanda takut, jika nanti Echa tidak bisa menerima kepergian Riza. Ayanda merasakan sudah ada benih-benih cinta yang Echa rasakan namun, Echa belum menyadarinya.
Suara ketukan pintu membuat Amanda bangkit dari duduknya. Senyumnya merekah ketika melihat Juna datang ke rumahnya. Amanda membawa Juna bergabung bersama mereka di ruang keluarga.
Mata Juna terpana dengan sosok seorang wanita yang sangat cantik di hadapannya. Senyumannya sangat menyejukkan hati Juna, seakan dia melihat almarhum istrinya.
Rion yang menyadari keterpukauan kakak iparnya terhadap mantan istrinya, hanya tersenyum tipis.
"Biasa aja liatinnya, mantan istriku memang cantik dan baik hati," bisik Rion.
Juna menatap ke arah Rion. "Dia punya herder, herdernya galak dan kejam," ucap Rion seraya tertawa.
Herder? Apa maksudnya? batin Juna.
Setelah Amanda membuatkan kopi untuk Juna dia baru memperkenalkan Juna kepada Ayanda.
"Mbak, ini Kakak aku. Juna namanya," ujar Amanda.
Ayanda tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Ayanda." Juna pun menjabat tangan Ayanda tanpa berkedip karena benar-benar tersihir dengan senyuman Ayanda.
"Maaf, tangannya." Juna pun dengan malu langsung melepaskan jabatan tangannya.
Rion dan Amanda hanya terkekeh melihat wajah Juna. Pesona Ayanda tidak pernah luntur meskipun sudah turun mesin untuk kesekian kalinya.
Mereka pun berbincang hangat dan tertawa gembira karena melihat kekonyolan Riza dan juga Rion. Namun, mata Juna seakan tak mau berhenti untuk memandangi wajah cantik Ayanda. Sedangkan yang dipandangi sedang asyik dengan anak kembarnya.
"Assalamualaikum."
Ucapan salam dari seseorang membuat orang yang berada di ruang keluarga menoleh. Mata Echa berbinar dan langsung berhambur memeluk tubuh tegap Gio.
"Apa? Aku cuma sahabatan Papa."
"Anak Papa udah gede ternyata. Sebentar lagi Papa punya mantu dong," goda Gio.
Echa hanya merengut kesal tetapi. tangannya masih melingkar di pinggang Gio.
"Jangan pernah sia-siakan orang yang menyayangi kamu." Echa hanya menganggukkan kepala.
Gio disambut hangat oleh istrinya. Pelukan dan kecupan hangat di kening selalu Gio berikan kepada Ayanda.
"Si kembar nakal gak Mom?"
"Mereka betah di sini Dad," jawab Ayanda yang kini sudah duduk di samping suaminya.
Juna yang melihat keromantisan Gio dan Ayanda hanya dapat menghela napas kasar. Inilah yang dibilang herder oleh adik iparnya.
Mata Riza tak berkedip melihat ketampanan Gio. Sedangkan Gio belum menyadari ada teman dekat putrinya di hadapannya.
"Kenapa liatin Papa akunya begitu?" tanya Echa.
"Bener kata Mima dan Sasa, ganteng tingkat dewa." Echa hanya terkekeh mendengar jawaban Riza.
"Pa," ucap Echa yang memotong pembicaraan antara Rion dan juga Gio.
"Kenapa Sayang?"
"Ini Riza, sahabat aku," ujar Echa.
Gio menatap Riza tajam membuat nyali Riza menciut. "Kamu punya modal apa deketin putri kesayangan saya?" cecar Gio dengan wajah serius.
Riza menatap Echa dan Echa hanya mengangkat bahunya seolah tidak tahu.
"Aku emang gak punya apa-apa Om. Hanya punya rasa sayang dan cinta yang tulus untuk putri Om."
Lemparan tisue mengenai kepala Riza membuat semua orang tertawa. Siapa lagi pelakunya jika bukan Rion. Gombalan receh Riza mampu membuat Rion darah tinggi saat itu juga.
Gio pun tersenyum ke arah Riza dan menepuk bahunya. "Bahagiakan Echa dan selalu buat dia tersenyum," pinta Gio.
"Itu pasti Om." Riza menjawab dengan nada yakin.
Riza melirik ke arah Juna, Rion dan juga Gio yang sedang berada di depannya. Tiga pria tampan dan mapan.
"Kok aku merasa paling jelek ya diantara Om-Om ini," keluh Riza.
Semua orang pun tertawa mendengar keluhan Riza dengan wajah memelasnya.
"Baru sadar kamu, kalo kamu itu kurang tampan," ledek Rion.
Riza hanya mendengus kesal mendengar ledekan dari ayah kandung Echa. Kehadiran Riza mampu membuat suasana rumah menjadi sangat hidup dan ceria.
****
Happy reading ....