
Sedih views turun drastis ðŸ˜
Apa karena puasa banyak dari kalian yang tidak membaca novel?
...****************...
Sedangkan di villa sedang ada acara interogasi. Keempat bocah sedang menginterogasi Radit layaknya terdakwa.
"Beneran Om mau nikah sama Kak Echa?" Pertanyaan pertama dilontarkan oleh Aksa.
"Iya."
"Emang semuanya sudah setuju?" Sekarang, Aska yang bertanya.
"Sudah."
"Tapi, kami gak setuju," sahut Aska.
"Ri juga."
"Bee juga."
"Kan Om gak perlu mendapat persetujuan dari kalian. Yang penting para orangtua Kak Echa setuju. Itu udah cukup," jawab Radit sambil memakan mie dalam cup.
"Gak boleh!" larang Beeya.
"Om gak boleh bawa Kak El. Kakak El milik Bee," ucap Beeya.
"Om emang akan bawa Kakak El tinggal di luar negeri. Dan jauh dari kalian," goda Radit.
Keempat bocah yang mendengar perkataan Radit terlihat sangat sengit. Dan Radit terkekeh dalam hati.
Kasih sayang anak-anak ini sangatlah besar kepada Echa. Kedekatan mereka membuat mereka enggan berpisah dengan sang kakak. Terlebih si kembar yang memasang wajah merengut kesal.
Pelukan hangat dari belakang membuat Raditya tersenyum. Namun, keempat anak ini malah terlihat cemburu dengan kedekatan Echa bersama Radit.
"Kakak, jangan peluk-peluk Om itu. Bee gak suka," oceh Beeya seraya menarik tangan Echa agar menjauh dari Radit.
"Ri juga gak suka sama Om itu. Om itu mau pisahkan Ri dengan Kakak," adu Riana pada Echa.
"Jangan pergi lagi Kak. Abang ingin selalu dekat Kakak," ucap Aksa.
"Denger ya kesayangan Kakak, Ketika Kakak sudah menikah Pati Kakak akan mengikuti suami Kakak. Berhubung Om Radit kerjanya di Australia, jadi Kakak harus tinggal di sana bersama Om Radit."
"GAK BOLEH!" jawab keempat anak itu bersamaan.
Jawaban mereka membuat semua orang yang sedari tadi memperhatikan mereka tertawa.
"Kudu siapin banyak sogokan lu, Dit," ujar Arya.
"Segitu baru empat, dua lagi masih di Singapura. Puyeng-puyeng dah tuh ngeladenin bocah-bocah super," timpal Rion.
Seperti biasa Radit hanya tersenyum menanggapi ucapan dari calon ayah mertuanya.
Echa pun dibawa oleh keempat anak-anak kecil membuat Radit tersenyum tipis. Radit malah bahagia melihat Echa dekat dengan adik-adiknya.
Ayanda menghampiri Radit yang masih melanjutkan memakan mie instan di dalam cup.
"Kenapa makan mie instan?" tanya Ayanda yang sudah duduk di depan Radit.
"Cuma makanan ini yang bisa Radit masak," sahutnya seraya tersenyum.
"Daddy!"
Merasa dirinya dipanggil Gio pun menghampiri Ayanda. Dan duduk di samping istrinya.
"Ada apa?"
"Ini kenapa calon mantu kita cuma dikasih makan mie instan?" omel Ayanda.
"Lah, semuanya juga makan mie instan," sahut Gio santai.
"Kenapa gak delivery aja sih makanan sehat. Jangan dibiasain makan mie instan. Gak sehat," oceh Ayanda pada Gio.
Gio berdecak kesal dan menatap sengit ke arah Radit. "Sekarang istri saya pun lebih sayang sama kamu dibanding saya," dengus Gio.
Radit tertawa mendengar omelan dari calon papa mertuanya. Cubitan panas mendarat di pinggang Gio. "Mau ikut-ikutan kaya ayahnya Echa. Musuhin calon menantunya, iya," sengit Ayanda.
"Ya ampun Mommy, Sakit Mom. Mommy tuh salah minum obat atau apa sih. Pulang dari rumah sakit kok gak ada lembut-lembutnya sama Daddy," keluh Gio seraya menahan sakit di perutnya karena ulah istrinya.
Radit hanya menggelengkan kepala melihat pasutri di depannya. Meskipun berdebat seperti ini sangat terlihat jelas cinta yang mereka miliki sangatlah kuat.
Karena kesal, Gio membopong tubuh Ayanda menuju kamar milikinya. "Daddy akan menghukum Mommy di kamar."
"Hukuman yang nikmat kalo itu mah," gumam Radit.
Radit menatap pasutri lainnya yang meskipun sudah menikah lama masih saling bermesraan. Sudut bibir Radit terangkat dengan sempurna. Sudah dua jam, Radit berada sendiri di belakang taman. Sedangkan dua pasutri lain entah kemana. Sepertinya mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi anak-anak mereka bersama Echa.
Kantuk pun mulai menyerang Radit. Perlahan Radit merebahkan dirinya di bangku kayu yang dia duduki. Kebetulan bangku itu cukup panjang dan juga lebar. Bisa untuk menopang tubuhnya.
Setelah perjanjian dengan keempat adik-adiknya. Echa pun akhirnya diperbolehkan keluar oleh mereka. Echa ke arah taman belakang, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Echa terus mencari Radit ke semua ruangan tapi, Radit tetap tidak ada.
Dan Echa kembali ke taman belakang, dia melihat ada kaki yang menjuntai di bangku taman. Echa segera mendekat dan bibirnya melengkung. Orang yang dia cari ternyata sedang terlelap.
Echa duduk di rerumputan dan memandang setiap inchi wajah kekasihnya ini. Lengkungan senyum itu tidak pernah pudar dari bibir Echa.
"Makasih Ay, udah sabar nemenin aku dari aku terpuruk hingga aku bisa menjadi wanita mandiri seperti sekarang ini. Makasih telah berjuang untuk kesembuhan aku."
Echa mengecup kening Radit sangat dalam. Radit yang terlelap merasakan ada kehangatan di keningnya, perlahan membuka matanya. Bibirnya tersenyum karena bibir Echa masih menempel di bibirnya.
"Boleh minta lebih dari itu gak?"
Suara Radit membuat Echa gelagapan. Echa malu dengan kelakuannya karena sudah mencium kening Radit.
"Ka-kamu ...."
"Aku ingin ini," tunjuk Radit ke arah bibir Echa.
Dengan cepat Echa menggeleng. Echa bangkit dari duduknya, tapi tangan Radit mampu mencekal Echa. Hingga Echa terjatuh di atas tubuh Radit.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang."
Ucapan Radit mampu mempertemukan manik mata Echa dan juga Radit yang menyorotkan rasa cinta yang sangat kuat dan besar.
"Aku juga mencintaimu, Ay."
Radit bangkit dari tidurnya dan dengan tubuh Echa yang masih berada di atas tubuhnya. Hingga posisi Echa berada di pangkuan Radit.
Mereka hanya saling pandang tanpa saling bicara. Seakan mata mereka lah yang sedang berbicara. Radit mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Echa. Logika Echa ingin menolak tapi hatinya juga ingin merasakan kiss yang sesungguhnya. Yang katanya bisa membuat orang kecanduan.
Lima centi.
Empat centi.
Tiga centi.
Dua centi.
Dan ....
Mata Echa sudah terpejam. Namun, bukan bibir pink milik Echa yang Radit cium. Melainkan kening Echa.
Gemuruh di hatinya berangsur berubah menjadi rasa kecewa. Dan ketika Radit melepaskan bibirnya di kening Echa, hanya seulas senyum yang Radit berikan.
"Aku sudah janji kepada diriku sendiri. Aku tidak akan menodai bibir atas dan bawahmu yang masih suci. Aku ingin meraihnya ketika kamu sudah halal untukku."
"Aku sayang kamu, Elthasya."
Air muka Echa berkaca-kaca mendengar ucapan Radit. Dia pun memeluk tubuh Radit dan tak hentinya mengucapkan syukur karena telah dipertemukan dengan laki-laki yang sangat sabar dan juga penyayang seperti Papanya.
Sedangkan di kamar Arya dan Beby. Desahan kenikmatan melantun dengan indahnya hingga lenguhan panjang keluar dari mulut Arya.
"Cabut Pah, cabut," pinta Beby.
Namun, Arya semakin menekannya hingga masuk ke area paling dalam dan menyemburkan benih di dalam rahim sang istri. Dan tubuhnya terkulai lemas di atas tubuh Beby.
"Kenapa di dalam? Sudah tiga hari Mamah gak konsumsi pil KB, Pah," ujar Beby dengan wajah khawatir.
"Biarin Mamah Sayang, sudah waktunya kita bikin adik untuk Beeya," jawab santai Arya.
Dan di kamar yang lainnya, Amanda sedang bersungut-sungut karena suaminya tak kunjung selesai. Sudah hampir dua jam tapi suaminya masih saja tetap kuat.
"Cepetan atuh, udah perih," sungut Amanda.
"Sabar, Sayang." Jawaban yang membuat Amanda semakin kesal.
Dan di kamar utama, pria yang katanya ingin menghukum sang istri malah mendapat hukuman dari istrinya. Ya, Gio harus puasa lagi setelah seminggu puasa dia harus kembali puasa selama seminggu ke depan. Sungguh seperti puasa di bulan Ramadhan.
Tubuh Gio tertunduk lesu mendapati kenyataan pahit yang dia terima.
"Sabar ya, Daddy Sayang."
...----------------...
Bantu aku ya, kalo ada notif up langsung baca jangan ditimbun-timbun.