Bang Duda

Bang Duda
64. Credit Card



Sore ini, Ayanda sudah diperbolehkan pulang. Gio sudah memesan hotel yang sangat nyaman untuk mereka tinggali beberapa hari ke depan. Echa sudah kembali ke Jakarta bersama Beby. Sedangkan Azkano dan Sheza langsung terbang ke Singapura.


Di tengah perjalanan Ayanda melebarkan matanya ketika melihat pengeluaran yang semakin membengkak. Gio langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari tahu. Tak lama, data dikirimkan oleh orang suruhan Gio. Alangkah terkejutnya Ayanda ketika melihat transaksi terakhir kemarin dan hari ini yang menghabiskan dana dua ratus lima belas juta.


"Daddy akan bereskan ini. Mommy jangan banyak pikiran ya," ujar Gio seraya mengecup kening istrinya.


Selama di perjalanan Gio terus terhubung dengan orang suruhannya dan harus meng-update semua informasi kepada Gio.


"Credit card," gumamnya.


"Mom, Rion megang corporate credit card gak?" tanya Gio.


"Ya, kartu kredit perusahaan dipegang oleh Mas Rion," jawab Ayanda.


"Hubungi dia, suruh ke hotel tempat kita menginap," tegas Gio.


Di hotel lain, seorang pria sedang asyik meminum susu yang berasal dari sumbernya. Amanda hanya bisa pasrah, seperti seorang ibu yang sedang menyusui anaknya.


"Bang, ponselmu terus saja berdering. Angkatlah dulu," pinta Amanda.


"Biarkan Sayang, Abang belum puas," balasnya.


"Udah hampir dua jam loh," ungkap Amanda.


"Ya udah kalo Abang gak mau angkat telpon itu, gak akan ada jatah Mimi lagi," tegas Amanda.


Mau tidak mau Rion melepaskan his*p*nnya, Amanda hanya berdecak kesal melihat daerah dadanya yang berubah menjadi warna merah.


"Sayang, Abang harus ke hotel tempat Ayanda menginap." Hanya anggukan yang menjadi jawaban.


Sebelum berangkat Rion mengecup kening Amanda dulu. Dan berpesan jangan keluar kamar. Rion pun menuju hotel yang telah Ayanda beritahukan tadi. Setelah sampai di sana sudah ada Gio dan Ayanda seperti hakim. Rion mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Credit card Mas pakai untuk apa?" tanya Ayanda.


"Mas tidak pernah menggunakannya, kamu tahu kan dari dulu Mas gak pernah berniat untuk membuat kartu kredit. Ini pun Mas bikin kartu kredit perusahaan," jelasnya.


"Lihat ini," ujar Gio dengan menunjukkan print laporan keuangan.


Rion melebarkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pengeluaran yang luar biasa besarnya.


"Terakhir lu pake kapan?" tanya Gio.


"Terakhir ...."


"Dinda minjem buat bayar belanjaannya," ujar Rion.


Rion mengambil kartu kreditnya, dan memberikannya kepada Ayanda.


"Ini bukan kartu kredit mu, Mas," ujar Ayanda.


"Lihat, nomornya saja tidak sama. Hanya banknya yang sama," jelas Ayanda.


"Jadi ...."


"Kartu kredit lu dituker, dan itu kartu limitnya lima ratus juta per hari karena dipakai untuk kebutuhan perusahaan kan. Makanya tagihannya bisa menumpuk seperti itu," terang Gio.


"Wanita tidak tahu diuntung," geram Rion.


"Gua udah meminta pihak bank untuk memblokir. Karena gua tahu itu bukan lu yang make," jelas Gio.


Mereka pun membicarakan rencana selanjutnya untuk menutup tagihan yang sedemikian banyaknya ini. Mereka tidak akan bertindak dahulu sebelum ada bukti yang benar-benar konkrit.


Ponsel Rion berdering, dengan cepat Rion mengangkat telponnya. Wajah Rion berubah khawatir. Dia pun segera pamit kepada Gio.


"Kenapa?" tanya Gio.


"Amanda," ucapnya dengan nada yang sangat cemas.


Gio dan Ayanda pun mengikuti Rion menuju ke hotel tempatnya menginap. Sudah ada Arya di depan pintu kamar Rion. Dengan cepat Rion membuka pintu, alangkah terkejutnya Amanda sudah bersimbah darah di lantai. Rion langsung mengecek denyut nadi Amanda dan langsung membawa tubuh istrinya ke rumah sakit. Tidak hanya Rion yang panik, Gio, Arya dan juga Ayanda pun ikut panik.


Hanya kebisuan yang Rion tunjukkan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rion untuk saat ini. Hingga Amanda ditangani tim medis pun Rion masih membeku.


"Mas," panggil Ayanda lembut.


"Aku takut," lirih Rion yang kini menunduk dalam. Ayanda berusaha menenangkan mantan suaminya.


"Aku yakin dia kuat, dia tidak akan kenapa-kenapa," ujar Ayanda. Meskipun sebenarnya Ayanda juga takut. Darah yang dikeluarkan Amanda sangat banyak, beda dengan keadaan Gio ketika kena tusukan Ayuna.


"Gua udah suruh pihak hotel untuk mencari tahu semuanya. Dan menutup berita ini dari media. Lu tenang aja," ucap Gio.


Dari kejauhan, ada mata yang sangat terlihat sedih dan memancarkan rasa bersalah sangat dalam.


"Maafkan aku," gumamnya.


****


Maaf up-nya telat, lagi sibuk di dunia nyata. Maaf ya kalo bab ini kurang memuaskan kalian, judulnya terpaksa up demi kalian.


Happy reading semua ...