
Hubungan Aksa dengan Riana belum juga membaik. Aksa masih menjauhi Riana. Bukan tanpa sebab, Aksa tidak suka dengan sikap Riana yang mencoba untuk mewujudkan keinginannya dengan cara kotor. Ya, seperti weekend pagi yang terjadi di kamar Aksa.
Ciuman dari Riana adalah ciuman pertama untuk Aksa. Tapi, ciuman itu terasa hambar. Tidak ada desiran aneh yang Aksa rasakan ketika bibir Riana menempel pada bibirnya. Tidak ada getaran-getaran hebat yang membuat Aksa menimpali ciuman tersebut. Tanpa rasa, itulah yang Aksa rasakan.
Apa mungkin hatinya sudah membeku? Layaknya es di kutub Utara.
Riana setiap hari datang lebih awal dan menunggu Aksa di depan kelasnya. Lagi-lagi, Aksa menghindar. Tapi, Riana tak pantang mundur. Dia terus menunggu Aksa. Hingga di sore hari yang mendung, Riana memberanikan diri pergi ke rumah Aksa. Kebetulan hari ini jadwal pertemuan rutin antara keluarga mereka. Dan Riana tahu, Aksa tidak ikut. Hanya Aska yang tidak akan melewati momen tersebut.
Riana sudah mengetuk pintu dan disambut oleh pelayan. Namun, pelayan tidak diijinkan untuk membawa masuk tamu baru ke dalam rumah Giondra. Alhasil, Riana menunggu di teras rumah.
Ketukan pintu membuat Aksa yang sedang terbaring malas beranjak membukakan pintu.
"Ada tamu, Den."
"Siapa?" tanya Aksa.
"Cewek."
"Suruh pergi aja, Mbak. Bilang sayanya tidur." Aksa kemudian menutup pintu kamarnya. Dia menyangka jika perempuan-perempuan centil lah yang sengaja datang menemuinya.
"Maaf, Neng. Den Aksanya sedang tidur." Riana terdiam sejenak. Apa dia harus pulang sekarang?
"Ya udah, biar saya tunggu di sini aja, Mbak." Pelayan pun mengangguk. Dia tidak bisa melarang karena itu bukan haknya.
Gerimis berubah menjadi percikan air hujan yang memberi aroma khas ketika air menyentuh tanah. Bukan hanya hujan, angin beserta petir pun menambah kesan seram sore ini. Tapi, Riana tetap bertahan di depan rumah Aksa. Demi untuk mendapatkan maaf dari sang pujaan hati. Dia bertekad untuk terus berjuang. Dia tidak ingin menyerah begitu saja.
Tangan Riana sudah memeluk tubuhnya. Hawa dingin sudah merasuki tulangnya. Namun, yang ditunggu tak kunjung keluar. Riana memberanikan diri untuk pergi ke halaman samping. Dia masih cukup mengingat lokasi rumah Daddy-nya seperti apa.
Tubuh yang terkena guyuran hujan tidak dia hiraukan. Dia hanya berharap bisa bertemu dengan Aksa. Dan ternyata ingatannya masih tajam. Ada tangga penghubung antara halaman samping dengan lantai dua. Dia menaiki undakan tangga demi tangga dengan tubuh yang sedikit menggigil. Antara tangga dan juga balkon itu ada pintu besi yang terkunci. Dengan susah payah, Riana menaiki pintu itu. Pintu yang hanya setengah dari tinggi badannya.
Dengan tubuh gemetar, dia mengetuk jendela kamar. Ketukan pertama tidak ada jawaban, ketukan kedua masih diabaikan, dan ketukan ketiga barulah orang yang ingin sekali dia temui menyingkap gorden jendela kamarnya. Riana mencoba tersenyum dalam keadaan kedinginan. Dan Riana dapat melihat laki-laki itu menggerakkan bibirnya dan memanggil namanya.
"Riana."
Aksa segera membuka pintu kamar tersebut. Tapi, tubuh Riana sudah terjatuh ke lantai dengan bibir yang sudah membiru dan tubuh yang sudah sangat dingin.
Dengan sigap, Aksa membawa tubuh Riana ke kamarnya. Dibaringkannya tubuh basah Riana di tempat tidur. Tidak Aksa pedulikan kasurnya akan basah. Dengan telaten Aksa mengeringkan tubuh Riana yang basah. Dari wajah, tangan, dan kaki. Dan Aksa mematikan AC yang ada di dalam kamarnya. Menuruni anak tangga dan meminta pelayan perempuan untuk menggantikan pakaian Riana. Kemudian, Aksa ke kamar sang Mommy. Mencari pakaian untuk dipakai Riana.
"Den, ini kan perempuan yang tadi bertamu," ucap si pelayanan.
Aksa tertohok mendengarnya. "Kenapa gak bilang kalo Riana yang datang?" sentak Aksa.
"Cepat ganti," titahnya.
Wajah panik Aksa sudah terlihat jelas. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan kepada Riana. Tanpa berpikir panjang, dia menghubungi kakak iparnya yang berada di London.
"Apa Bang?"
"Bandit, Abang video call ya."
Sambungan telepon pun berubah menjadi video call sekarang.
"Kenapa muka lu?"
Aksa menyorot tubuh Riana dengan kamera ponselnya sehingga Radit sedikit berteriak dari sambungan video di sana.
"Kenapa bisa begitu? Cari mati lu sama Kakak lu," sentak Radit.
"Abang gak tau, Bandit. Tau-tau dia ada di balkon kamar terus tersenyum lalu pingsan," lirih Aksa.
"Kasih minyak angin, terus buatin teh manis hangat. Gua rasa dia cuma kedinginan doang," ucap Radit.
"Gua gak akan bilang, tapi ntar juga dia tahu dari Ayah atau Iyan."
Aksa menghela napas kasar. "Riana benar-benar sayang sama lu, Bang."
Ucapan Radit menyentuh hati Aksa. "Gua tau, lu masih hancur. Gak ada salahnya kan lu bersikap biasa aja ke Riana. Jangan menghindari dia terus. Kasihan dia nangis terus tiap malam. Selalu curhat sama bini gua."
"Tapi, Abang gak mencintainya Bandit."
"Gua gak maksa lu buat mencintai dia. Cinta memang gak bisa dipaksain. Tapi, bersikap biasa dan wajar aja ke Riana. Dia itu sayang sama lu. Meskipun, nantinya lu gak bisa balas perasaannya yang penting lu gak nyakitin dia sekarang," jelas Radit. Aksa pun mengangguk mengerti.
"Gua lagi banyak pasien. Gua tutup dulu, ya. Jaga Riana." Aksa pun mengangguk patuh.
Walaupun hubungan Radit dan Aksa selalu dipenuhi dengan perdebatan karena memperebutkan Echa. Tapi, mereka justru sangat dekat. Aksa selalu menceritakan hal apapun kepada Radit. Dan tidak akan sungkan meminta bantuan kepada Radit di saat kondisinya terhimpit. Dengan senang hati Radit akan membantu Aksa serta akan menjadi pendengar setia ketika Aksa bercerita. Kakak ipar yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Itulah Radit di mata Aksa.
Radit terus mendekatkan minyak angin ke hidung Riana. Serta mengoleskannya dengan lembut di pelipis Riana. Perlahan mata Riana terbuka. Dia menatap sekeliling ruangan. Dan dia juga mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya. Namun, dilarang oleh Aksa.
"Jangan bangun dulu."
Suara yang sangat Riana rindukan. Suara yang telah hilang beberapa hari dalam hidupnya kini muncul kembali.
"Abang," lirihnya.
"Maafkan Ri, Bang." Tetesan bulir bening membasahi ujung matanya.
Aksa sungguh tidak tega melihatnya. Aksa menghapus air mata yang telah menetes di ujung mata Riana. "Jangan nangis lagi."
Aksa membantu Riana untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang. Menatap mata Riana yang sedih seperti melihat manik mata kakaknya. Aksa segera berhambur memeluk tubuh Riana.
"Maafkan Abang, Ri."
Riana sungguh tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis dan membalas erat pelukan Aksa. Pelukan yang sangat Riana rindukan.
"Kamu kenapa gak bilang mau ke sini?" Riana menggeleng.
"Bukankah nomor Riana, Abang blokir?" Aksa sedikit terkejut dengan ucapan Riana.
Aksa segera mengecek ponselnya. Ternyata benar nomor Riana Aksa blokir.
"Maaf."
"Ri memang pantas mendapatkan perlakuan itu, Bang," sesalnya sambil menunduk dalam.
Lagi-lagi Aksa menarik Riana ke dalam pelukannya. Memeluknya erat dan tak segan melayangkan kecupan di ujung kepala Riana.
"Jangan pernah lakukan itu kepada laki-laki lain. Karena mereka akan memanfaatkan kamu," ancam Aksa.
Riana mengangguk patuh. Kemudian, Riana mengacungkan jari kelingking milikinya ke hadapan Aksa. "Kita baikan."
Aksa tersenyum mendengar ucapan Riana. Mengingatkannya akan masa-masa SD di mana mereka sering bertengkar. Dan setelah bertengkar pasti diantara mereka ada yang mengajak baikan.
"Ya, baikan," sahut Aksa sambil menautkan jari kelingking milikinya.
Senyum pun mengembang di bibir mereka. "Jangan marah lagi. Ri, sedih didiemin Abang." Kemudian Riana meletakkan kepala di bahu Aksa. Hanya dijawab dengan sentuhan hangat tangan Aksa yang mengusap lembut ujung kepala Riana.
...----------------...
Happy reading ...
Maaf telat, akunya ngantuk banget. Gak bisa melek.