Bang Duda

Bang Duda
248. Ditangkap (Musim Kedua)



Dan Ayanda pun tahu siapa wanita itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


Tak lama, Rion pun keluar dari kamar perawatan sang istri untuk membeli makanan dan juga camilan untuknya dan juga Amanda.


Hati wanita itu berdegup dengan cepat ketika melihat seseorang yang dia kagumi hadir di depannya. Matanya sangat berbinar ketika melihat wajah tampan sang pujaan hati.


"Ya, aku harus melakukan ini," gumamnya.


Dia melihat lantai rumah sakit masih licin. Dia berjalan dengan cepat untuk menjalankan rencananya.


Satu ....


Dua ....


Tiga ....


"Mas," panggil Ayanda. Langkah Rion pun terhenti dan dia berbalik ke arah Ayanda.


"Loh kok balik lagi?" tanya Rion yang sudah menghampiri Ayanda.


Dan dari arah belakang terdengar suara benda terjatuh. Namun, Ayanda langsung merangkul lengan Rion dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Aw," ringis Wanita itu.


"Sudah ketahuan lantainya abis dipel, si Mbaknya jalan kaya orang ketinggalan kereta. Mana pake baju yang buat nyapu lantai," oceh cleaning service.


Bukannya membantu, si Mamang OB malah menggerutu kesal. Bukan tanpa alasan, pekerjaan yang harusnya selesai kini harus dikerjakan ulang. Bagaimana nasib si wanita itu? Sudah pasti jadi tontonan orang-orang yang berada di rumah sakit.


Ayanda menghela napas lega ketika bisa menjauhkan sang mantan suami dari kecoak nakal. Dia tahu, Rion sudah berubah. Tapi, dia juga takut jika penyakit Rion akan kumat.


"Kamu kenapa Dek?" Rion benar-benar heran dengan Ayanda.


"Kita bicarakan di tempat lain," sahutnya.


Sebelum pergi dengan Rion, Ayanda pergi menemui sopirnya terlebih dahulu. Agar sopirnya tetap menunggu di rumah sakit.


Rion melajukan mobilnya ke sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari rumah sakit. "Ada apa, Dek?" tanya Rion ketika mereka sudah duduk dan memesan kopi.


"Mas, aku mau tanya." Rion hanya mengangguk.


"Kalo ada wanita yang mendekati Mas, ketika keadaan Amanda seperti ini. Apa Masa akan merespon dia?" Pertanyaan Ayanda membuat Rion tak mengerti.


"Kok kamu nanyanya begitu?"


"Tolong jawab, Mas," pinta Ayanda.


"Mas tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Sudah cukup kamu pergi dari hidup Mas. Sudah cukup, Mas jauh dari anak Mas. Mas tidak ingin hal itu terjadi lagi."


"Mas sudah tidak muda lagi, Dek. Mas hanya ingin menghabiskan sisa waktu Mas untuk merawat dan juga melihat kedua anak Mas tumbuh dengan baik. Hingga mereka berdua menikah," jelasnya.


"Jika, wanita itu lebih dari Amanda?" Pancing Ayanda.


"Mas mencintai Amanda bukan karena kelebihannya. Tapi, karena kekurangannya. Mas sama Amanda sama-sama manusia yang penuh dengan dosa. Dia menerima Mas dengan segala kekurangan Mas saja, Mas sudah merasa sangat amat bersyukur. Apalagi, Amanda mau belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Itu sudah membuat Mas bahagia, Dek," tuturnya.


Ayanda tersenyum bahagia mendengar penuturan Rion. Mantan suaminya perlahan memang sudah banyak berubah. Kabar tentang wanita yang banyak mengagumi Rion selalu terdengar di telinga Ayanda. Namun, mantan suaminya tidak pernah menggubris mereka. Dia selalu menunjukkan kemesraan dengan istrinya kepada para kolega dan juga rekan bisnisnya. Tujuannya, agar mereka semua tahu bahwa dirinya telah memiliki istri.


"Sebenarnya ada apa, Dek?" Sekarang giliran Rion yang mendesak Ayanda untuk berbicara.


"Ada seekor kecoak yang mencoba masuk ke dalam rumah tangga, Mas."


"Maksudnya?" tanya Rion.


"Ada wanita yang sudah lama mengagumi, Mas. Sampai sekarang dia belum bisa move on. Masih selalu memandang Mas dari jauh," ungkap Ayanda.


"Siapa?" Ayanda hanya tersenyum.


"Nanti Mas akan tahu," sahutnya.


"Dek ...."


"Aku tidak mau bersuudzon, Mas. Tapi, dari segi penuturannya aku mengenalnya. Mas juga mengenalnya," ucap Ayanda seraya tersenyum.


"Wanita itu memakai gamis dan bercadar bukan?" Ayanda pun tersentak mendengar ucapan Rion.


"Mas tahu dari mana?" tanya Ayanda.


"Nisa pernah bilang, katanya sering ada wanita yang memakai gamis dan bercadar menatap ke arah rumah Mas. Hampir tiap hari katanya," ujar Rion.


"Ternyata tangguh juga," gumam Ayanda seraya tersenyum tipis.


Ayanda menyentuh tangan Rion dan menatapnya dengan penuh permohonan. "Cukup aku yang Mas sia-siakan. Cukup aku yang Mas sakiti. Jangan pernah ada Ayanda-Ayanda yang lain. Bahagiakan Amanda, bahagiakan Echa, dan bahagiakan Riana."


Rion mengusap lembut punggung tangan Ayanda seraya tersenyum. "Makasih Dek, selalu menjadi alarm pengingat untuk Mas. Mas janji, tidak akan pernah menyia-nyiakan mereka. Makasih, sudah sangat peduli dengan keluarga kecil, Mas." Ayanda pun membalasnya hanya dengan senyuman manis.


Bagi orang yang tidak tahu, melihat kebersamaan dan kedekatan mereka seperti ini, pasti menyangkanya Rion dan juga Ayanda adalah sepasang suami-istri.


"Mas jaga Riana juga, ya. Takutnya Riana yang akan dijadikan alat," imbuh Ayanda sebelum keluar dari mobil Rion. Mereka sudah kembali ke rumah sakit.


"Pasti, Dek."


Keesokan harinya, suara gaduh terdengar di rumah Ayanda. "Mommy," panggil Aksa dan juga Aska yang sedang berlari ke arah Ayanda.


"Ada apa?" sahutnya.


Si kembar menyerahkan tablet mereka kepada Ayanda. Mata Ayanda pun melebar dengan sempurna, tapi tak lama ujung bibirnya terangkat dengan samar.


"Mom ...."


Ayanda mengusap kepala si kembar dengan bergantian. "Mommy tidak akan mengkhianati Daddy, Sayang. Dan kamu tahu siapa pria di sana?" Si kembar pun mengangguk.


"Ayah," jawab mereka berbarengan.


"Kalian tahu Ayah itu Daddy-nya siapa?"


"Kakak," jawab mereka lagi.


"Mommy, tapi Adek takut kalo Daddy marah sama Mommy," kata Aska.


Aska lebih pendiam dari Aksa. Namun, lebih peka dan perasa dibanding Aksa.


"Tidak akan, Dek. Mommy jamin," tutur Ayanda seraya memeluk tubuh kedua putranya.


"Kenapa Mommy dan Ayah ada di berita ini?" cecar Riana yang sedang melihat gambar di tablet si kembar.


"Mommy dan Ayah sedang ngopi bareng, Ri." Riana hanya ber-oh ria. Karena dia belum cukup mengerti. Berbeda dengan si kembar.


Dilain tempat, Arya bergegas akan menemui Rion. Kopi yang baru saja akan masuk ke tenggorokannya menyembur dengan sempurna ketika membaca berita online pagi ini.


"Papah mau ke mana? Belum jam tujuh," ujar gadis kecilnya yang sedang melihat ke arah jam dinding yang jarum pendeknya belum ke angka tujuh.


"Papah harus menemui Ayah, Sayang."


"Bee ikut," seru Beeya.


"Gak boleh Sayang. Ayah sedang berada di rumah sakit. Bunda sedang sakit," jelasnya. Beeya hanya terdiam


"Nanti kalo Bunda udah pulang ke rumah, Bee bisa main di rumah Bunda sepuasnya, oke?" Beeya pun mengangguk.


Dengan langkah seribu, Arya menuju ruang perawatan Amanda. Ketika dia masuk, Rion sedang menyuapi istrinya.


"Ngapain lu pagi buta ke sini?" sarkas Rion ketika melihat orang yang masuk ke kamar perawatan Amanda.


"Buka berita online hari ini," titah Arya.


Rion masih tidak menggubris perkataan Arya. Dia masih sibuk menyuapi istrinya. Tingkah Rion membuat Arya geram sendiri.


"Gua yakin pasti banyak wartawan di kantor," kata Arya.


Amanda pun mencoba membuka ponsel pintarnya. Dia juga merasa terkejut dengan pemberitaan yang ada.


"Bang," lirihnya.


Rion dan Arya menoleh ke arah Amanda. Rion hanya tersenyum dan mengusap puncak kepala sang istri.


"Kamu percaya kan sama Abang?" Amanda pun mengangguk.


Arya merasa sangat lega. Dia sebenarnya takut, jika Amanda akan marah dan keadaan akan semakin kacau.


Berita ini pun sudah sampai ke telinga Gio. Gio hanya memicingkan matanya.


"Hubungi kantor pembuat beritanya." Remon pun menuruti perintah dari Gio.


Gio langsung menghubungi sang istri. "Sudah Daddy kerahkan beberapa orang di sana supaya tidak mengganggu, Mommy."


Gio tahu bagaimana istrinya. Terlebih, semalam Ayanda sudah bercerita tentang obrolannya dengan sang mantan suami. Kedai kopi yang mereka datangi pun Gio tahu.


Setelah sambungan telpon terputus Gio mendengus kesal. "Berita murahan."


Sora hari kemarin.


Dua orang wanita datang ke sebuah kantor berita online ternama. Mereka menyerahkan beberapa foto kepada teman mereka yang bekerja di sana.


"Aku sungguh tidak berani, yang akan kalian up ini bukan orang sembarangan," terang si laki-laki yang bekerja di kantor berita online.


"Gak usah takut, UP aja. Berita ini pasti akan trending," imbuh si wanita bercadar.


Ada dendam di hatinya karena Ayanda telah membuatnya malu di rumah sakit. Tergelincir di lantai basah.


"Ini memang akan trending. Tapi, kepalaku pasti akan kena sleding," sahut si laki-laki.


Dengan cepat si laki-laki itu pun menolak. Konsekuensinya sangat besar jika menerbitkan berita ini. Selain kantor yang akan kena sanksi, sudah dipastikan dia juga harus angkat kaki.


Dua wanita itu tak patah arang. Mereka teringat, bahwa mereka juga masih memiliki teman yang bekerja di kantor berita online. Sebut saja dia Putri.


"Serius?" tanya Putri antusias ketika melihat foto yang dua wanita itu berikan.


Putri adalah pekerja baru yang sedang mencari nama dan perhatian semua orang. Apapun akan dia lakukan.


"Oke, akan langsung aku muat." Dengan mudahnya Putri menyetujuinya. Tanpa dia tahu, nantinya dia kan berurusan dengan siapa.


***


Semakin siang berita semakin memanas. Gio masih mengumpulkan semua bukti. Dan dia akan pulang ke Indonesia sekarang juga.


Ayanda pun masih santai dengan semua pemberitaan. Masih asyik duduk manis sambil nyemil buah-buahan. Serta matanya yang tak terlepas dari layar iPad. Karena dia sedang memeriksa semua usahanya.


"Nyonya, maaf saya mengganggu," ucap salah seorang pelayan.


"Ada apa?"


"Di luar banyak orang yang berseragam hitam," lapornya.


"Biarkan saja, mereka yang akan menjaga rumah ini hingga Daddy-nya si kembar kembali ke Jakarta." Pelayan pun mengangguk mengerti. Dan dia kembali ke tempat tugasnya.


Di rumah sakit, perasaan Amanda sangat tidak karuhan. Dia mengkhawatirkan Ayanda.


"Bang, Mbak Aya?" Rion menunjukkan foto Ayanda yang sedang bersantai dengan cemilan di tangannya.


"Bisa sesantai itu?" Amanda benar-benar heran. Dan Rion pun mengangguk.


"Ketika berita itu tidak benar, ngapain dipikirin," imbuh Rion.


"Manda takut, kalo Pak Gio marah," ujarnya.


"Kalo dia marah, paling Abang yang kena tonjok," sahut Rion santai.


"Bang, Manda tuh serius," sentak Amanda.


Rion pun menghampiri Amanda dan duduk di samping tempat tidurnya. "Gio bukanlah orang bodoh. Dan Gio juga tahu kebenarannya seperti apa. Jadi, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja," ucapnya sambil mencium tangan Amanda.


"Kepercayaan kamu dan juga Gio yang membuat hubungan Abang dengan Yanda semakin erat." Amanda masih menatap manik mata Rion.


"Percayalah, rasa sayang Abang terhadap Yanda hanya sebatas adik dan keluarga." Amanda pun mengangguk dan tersenyum.


Di rumah minimalis, dua wanita yang memakai pakaian tertutup namun, memiliki hati yang sedikit busuk sedang tertawa. Mereka merasa berhasil.


Apalagi baru saja muncul berita, perselingkuhan Rion Juanda terjadi karena istrinya mengidap sakit parah. Sungguh kejam berita itu.


"Bentar lagi juga dia pisah," ujar si teman wanita bercadar.


"Kok aku merasa jahat banget, ya," sesalnya.


"Gak jahat, kamu hanya sedang berusaha," sahut si teman.


Memang si wanita bercadar itu sedang berusaha, tapi berusaha dengan menggunakan cara kotor dan licik. Membuat berita tidak benar agar semua orang membenarkannya. Pada akhirnya, gunjingan di sana sini dan pastinya akan membuat kepercayaan istri Rion terkikis.


"Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini. Dan aku ingin sekali memilikinya. Padahal, aku pun tahu dia telah memiliki keluarga," tuturnya.


"Mencintai suami orang itu lebih menantang. Apalagi jika kita bisa merebut hati laki-laki itu. Dan masuk ke dalam kehidupannya," balas si teman.


"Ah, kadang aku tak habis pikir. Ini memang perasaan cinta atau bisikan setan semata."


Wanita bercadar itu hanya menghela napasnya dengan kasar. Pertemuan yang awalnya hanya meminta kerja sama, tapi malah dia sendiri yang tersihir akan rupa pemilik usahanya.


Bayang-bayang wajah Rion seakan tidak pernah hilang dari ingatannya. Perjanjian yang dia sepakati duku, bersama dua orang pria dan satu wanita pun dia langgar. Seperti manusia yang tak tahu balas budi.


"Gak usah dipikirin lah, kalo kamu suka sama dia perjuangin lah. Siapa tahu kan dia menyimpan rasa yang sama terhadap kamu. Gak apa-apa jadi yang Kedua juga. Yang kedua biasanya lebih dimanja." Si teman bagaikan setan yang terus menjerumuskannya.


"Gimana kalo dia nolak?"


"Pepet terus sampe dapat. Banyak cara yang bisa kamu lakukan. Kalo dia gak luluh, kamu bisa coba cara lain. Masih ada dua peluru yang bisa kamu gunakan."


Setelah temannya pulang, wanita itu hanya menyandarkan diri di sofa rumahnya. Dia melihat ke arah seisi rumah. Rumah yang dia dapatkan karena bantuan wanita baik hati. Rumah hasil kerja kerasnya dalam mengembangkan toko kue. Tanpa bantuan uang itu, dia tidak akan pernah bisa hidup enak seperti ini.


"Maaf, aku egois. Aku juga punya perasaan yang tidak bisa aku tahan," gumamnya.


Dia terus mengecek berita terkini hari ini. Berita tentang perselingkuhan pengusaha bakery ternama dengan mantan istrinya masih menjadi trending topik. Dan sakitnya sang istri pengusaha menduduki urutan kedua.


Bahagia dan juga campur sedih. Dia seperti manusia yang jahat. Padahal dia juga wanita. Istri dari orang yang dia kagumi juga wanita. Bagaimana jika posisinya dibalik?


Dering ponselnya membuat dia berhenti memikirkan semua itu. Dia mengerutkan dahi ketika melihat siapa yang menghubunginya.


"Ada apa Put?"


"Gawat, De. Gawat."


Mulutnya baru saja hendak terbuka namun, ketukan pintu membuatnya menjeda panggilannya sejenak.


Dua orang yang memakai jaket hitam sudah ada di depan rumahnya. Salah satu dari mereka menyerahkan satu buah amplop cokelat kepada si wanita.


Matanya membulat ketika membaca surat yang ada di tangannya. "Ke-kenapa ditangkap?" tanyanya syok.


"Ikut kami, nanti Anda bisa menjelaskannya di sana."


***


Happy reading ...


Jangan nimbun-nimbun cerita ya, ada notif UP langsung baca. Hanya itu yang aku pinta dari kalian untuk terus mendukung karya remahan aku.