Bang Duda

Bang Duda
269. Tinggalkan (Musim Kedua)



Setelah acara ulang tahun si kembar, dua pelakor kurang pengalaman itu sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Kehidupan keluarga Rion dan juga Gio berjalan dengan selayaknya keluarga yang bahagia.


Rengekan Aksa dan juga Aska yang meminta Echa untuk makan di luar membuat Echa berdecak kesal.


"Kalian tau gak sih, kalo kita ini gak boleh keluar sama Daddy dan Mommy," sentak Echa pada si kembar.


Si kembar pun menunduk ketika mendapat sentakan dari sang kakak. Semarah-marahnya Echa, dia tidak akan pernah membentak adiknya. Namun, kali ini dia sedang merasakan sakit di perutnya dan mendengar rengekan kedua adiknya membuat kepala Echa pusing.


Tak berselang lama, Echa menghampiri si kembar di dalam kamar mereka. Echa sangat menyesal karena telah membentak kedua adiknya.


"Abang, Adek, maafkan Kakak," sesalnya.


"Gak apa-apa Kak, Abang dan Adek patut dibentak kok," sahut Aksa.


Echa merasa semakin bersalah, dia hanya bisa menghela napas kasar. Dia diberi amanah agar tidak pergi keluar selama kedua orangtuanya pergi ke Australia.


Namun, melihat Aksa dan Aska yang murung seperti ini membuat Echa merasa kasihan. Kedua adiknya hanya ingin makan di tempat mie ayam bakso kesukaan mereka. Apa harus Echa tak menuruti permintaan kedua adiknya ini?


Echa mengambil jaket dan kunci mobil, dia pun mengalah dan mengajak si kembar untuk makan di luar. Si kembar yang murung pun kini kembali ceria.


"Abang mau semua, ya," serunya.


"Adek juga," sahut Aska.


"Non, pake sopir aja. Mbak takut Non kenapa-kenapa. Udah malam," imbuh kepala pelayan.


"Gak apa-apa, Mbak. Cuma ke depan doang kok," tolaknya.


Echa pun membawa mobilnya bersama si kembar. Tak berapa lama, mereka pun tiba di kedai mie ayam bakso kesukaan si kembar.


Echa merasakan perutnya yang semakin sakit. Namun, dia masih menemani si kembar yang dengan lahapnya menikmati makanan yang jarang sekali mereka makan.


"Kakak gak pesan?" tanya Aksa.


"Gak, Kakak minum teh manis anget aja," sahutnya.


Ponsel Echa berdering, Radit menghubungi Echa.


"Sayang, kamu di mana?"


"Aku lagi ngajak di kembar makan."


"Kamu kenapa gak hubungi aku? Kan Papa dan Mamah kamu bilang, terlalu bahaya kamu keluar sendiri."


"Iya, kasihan si kembar ingin makan bakso."


"Ya udah, kalo kamu udah sampai rumah langsung kabarin aku, ya. Perasaan aku gak enak soalnya."


"Iya, ini kita udahan kok. Aku bayar dulu, ya. Terus aku langsung pulang."


Sambungan telepon pun berakhir. Echa membayar semua pesanan si kembar. Dan mereka pun kembali ke rumah.


Selama perjalanan menuju rumah, Aksa merasa ada yang mengikuti mobil mereka dari belakang. Dan benar saja, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan mobil kakaknya dengan posisi melintang.


Dari mobil itu keluar tiga orang pria berbadan kekar. Echa mencoba menghubungi Radit, namun tak ada jawaban dari kekasihnya.


Dengan kasar, ketiga pria itu mengetuk kaca mobil dan berteriak, "buka."


Kedua adik Echa terlihat takut, begitu juga Echa. Hanya saja dia mampu menutupi ketakutannya.


"Ketika Kakak buka kunci mobil, kalian langsung lari," titahnya.


Aksa dan Aska pun mengangguk mengerti. Echa melirik ke arah si kembar seperti memberikan isyarat kepada mereka.


Klik!


Dengan cepat si kembar keluar dari mobil dan berlari. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat salah satu pria itu meletakkan pisau di leher Echa.


Satu orang lain sedang memegangi tangan Echa dari belakang. Dan satunya lagi sedang menggerayangi tubuh Echa. Ada bulir bening yang menetes dari mata indahnya.


Keadaan Echa sangat lemas karena sedari tadi dia menahan sakit di perutnya. Aksa yang melihat kakaknya dijahati seperti itu langsung berlari ke arah tiga pria itu. Dia menabrak diri dengan sangat keras hingga tubuh pria yang menggerayangi Echa terjatuh.


"Kurang ajar," geramnya.


Dari belakang, Aska memukul punggung pria yang sedang memegangi tangab kakaknya dengan sebilah balok. Pria itu pun oleng. Namun, pria itu tak tinggal diam dan dia merebut balok yang dipegang Aska lalu memukul balik tubuh Aska sebanyak dua kali hingga Aska tergelatak.


"Adek!" teriak Echa dan juga Aksa.


Dengan amarah yang sudah memuncak, Aksa menyerang tubuh pria yang dia tabrak. "Abang jangan!" teriak Echa.


Pria yang berada di hadapan Echa pun menyeringai jahat. Dia menyentuh bibir Echa dengan jarinya dan mendorongnya hingga tubuh Echa terbentur ke badan mobil. Echa benar-benar tidak bisa berkutik dan tubuhnya sengaja dijepit oleh pria itu


"Biarkan adikmu mati, dan kita akan bersenang-senang," ucapnya. Pria itu mulai mendekatkan wajahnya ke bibir Echa namun, dengan cepat Echa meludahi dan tepat mengenai matanya.


"Si Alan! Mau dikasih yang enak malah nolak," pekiknya.


Pria itu pun langsung menampar keras wajah Echa, hingga lehernya terkena goresan pisau. Karena tangan kiri si pria itu dipakai untuk meletakkan pisau di leher Echa. Tamparan itu membuat sudut bibir Echa mengeluarkan darah segar.


Datang lagi satu orang pria yang telah melumpuhkan Aska. Dia mulai membuka paksa jaket yang dikenakan Echa. Setelah berhasil dia mulai menyentuh tubuh Echa dan mulai membuka kancing piyama Echa satu per satu.


Air mata yang sedari tadi Echa tahan luruh dengan derasnya.


"Ayah!" teriaknya.


***


Rion yang sedari tadi terpejam di ruang kerja pun terbangun karena bermimpi hal yang buruk tentang putrinya.


"Echa," gumamnya.


Rion mencoba menghubungi ponsel Echa namun, tidak ada jawaban. Dia mencoba menghubungi ke nomor ponsel kepala pelayan di rumah Gio. Begitu terkejutnya Rion, ketika kepala pelayan mengatakan jika, Echa dan si kembar belum kembali dari dua jam yang lalu.


Rion pun mulai panik, dia turun ke lantai bawah menuju kamarnya dan menyambar kunci mobilnya di atas nakas.


"Abang mau ke mana?" tanya Amanda yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ma ...."


Ponsel Rion berdering dan Raditlah yang menghubunginya.


"Kenapa Dit?"


....


"ApA rumah sakit?"


Amanda menatap Rion dengan tatapan bingung. Wajah Rion benar-benar sulit diartikan.


"Kita ke rumah sakit," ajaknya pada Amanda dengan nada sedih.


Sesampainya di sana, Rion dan AMnda sudah ditunggui Radit di depan ruang perawatan di kembar. Radit menceritakan keadaan si kembar. Luka mereka cukup serius sehingga mereka harus mendapatkan perawatan yang intensif. Dan mereka pun belum juga sadarkan diri.


Rion mantap sedih ke arah Echa yang sedang menggenggam tangan adik-adiknya. Air mata menetes membasahi pipi Echa. Ada siluet penyesalan yang sangat dalam


"Dit, kondisi Echa bagaimana?" tanya Amanda.


Meskipun dia bukan ibu kandung dari Echa, dia merasakan ada sesuatu hal yang Echa sembunyikan.


"Echa baik-baik saja," sahut Radit dengan wajah sedih.


Rion menatap Radit, dan Radit pun menganggukkan kepala. Radit tahu, Rion ingin memeluk tubuh putrinya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Dek."


Echa menoleh ke asal suara, air matanya mengalir sangat deras. Tibuhnya tak mampu untuk berdiri. Rion pun langsung memeluk tubuh Echa dengan sangat erat.


Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya isakan yang terdengar sangat lirih yang keluar dari mulut Echa menandakan jika dia sangat sedih sekaligus takut.


"Ada Ayah dan Bunda yang akan menemani kamu. Papa dan Mamah sudah diberi tahu?" Echa pun mengangguk.


Setelah mendapat kabar dari Radit tentang kondisi kedua putranya, Ayanda menangis sejadi-jadinya. Gio hanya bisa menangkan istrinya. Butuh waktu 15 jam untuk mereka tiba di Jakarta.


****


Keesokan paginya, Radit menghampiri Echa yang sama sekali tidak terpejam. Echa menunggu kedua adiknya terbangun.


"Kamu juga harus istirahat, Sayang," imbuhnya.


Echa menatap nanar ke arah Radit, Radit segera memeluk tubuh kekasihnya ini. Rion dan Amanda yang baru datang membeli sarapan menyuruh Echa untuk beristirahat.


Radit menatap Echa dengan tatapan memohon. Dan Echa pun menurutinya. Radit membantu Echa untuk berdiri dan juga berjalan. Setelah keluar dari kamar perawatan si kembar, Radit menyuruh Echa untuk duduk di kursi tunggu. Dan dia mengambil kursi roda.


Radit mendorong kursi roda itu ke sebuah kamar perawatan. Untungnya, Radit membawa Echa ke rumah sakit milik papihnya.


Radit merebahkan tubuh Echa di atas kasur. Lalu Radit membuka kancing atas kemeja yang Echa gunakan.


"Yang, ini harus segera dijahit. Sudah sedikit menganga," jelas Radit.


Echa pun sedikit meringis ketika Radit menyentuh lehernya. Radit duduk di samping Echa dengan menggenggam tangannya. "Apa kamu yakin?" Echa pun mengangguk. Radit hanya menghela napas kasar.


Hampir seharian ini Echa beristirahat setelah dilakukan hecting (penjahitan luka robek). Addhitama masuk ke dalam kamar itu dan menatap ke arah Radit.


"Kamu serius Dit?" tanya Addhitama.


"Ini permintaan Echa, Pih," jawabnya seraya menggenggam tangan Echa yang sedang tertidur nyenyak karena pengaruh obat.


Keadaan si kembar belum sadar, namun dokter mengatakan tidak ada yang serius hanya keretakan tulang biasa. Semua orang yang sedang menunggui di kembar pun dapat bernapas lega.


"Echa ke mana?" tanya Arya.


"Lagi istirahat, dia semalaman gak tidur. Sangat terlihat jelas di mata Echa jika dia merasa sangat bersalah akan hal ini," lirih Rion.


"Ini bukan salah siap pun, ini murni musibah. Musibah kan kita gak pernah tau kapan datangnya," sahut Azkano.


Sore hari Ayanda dan juga Gio tiba di Jakarta. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Tibanya di rumah sakit, Ayanda sedikit berlari menuju kamar kedua putranya.


Air mata Ayanda menetes ketika melihat keadaan kedua putranya masih terpejam. Hatinya sangat sakit melihat keadaan Aksa yang wajahnya dipenuhi luka lebam.p Begitu juga, tatapan datar yang Gio tunjukkan.


Tak berselang lama, pintu kamar perawatan si kembar terbuka kembali. Semua mata tertuju pada Echa dan Radit yang baru saja masuk.


"Kenapa kamu gak jagain adik kamu?" bentak Gio.


Semua orang pun terdiam mendengar suara keras dari Gio. Begitu juga Echa, dia hanys tertunduk dalam. Sedangkan Ayanda tak hentinya menitikan air mata.


"Selama ini Papa mengajarkan kamu menjadi anak yang penurut, bukan jadi anak Pembangkang," serunya lagi.


Air mata Echa pun rembes, menerima bentakan dari orang yang tidak pernah membentaknya ternyata rasanya sangat sakit.


"Bagaimana kalo adik-adik kamu terluka parah atau meregang nyawa?"


"Udah Gi, sabar. Ini musibah," ujar Rion.


"Ini bukan musibah, tapi kelalaian Kakaknya," sahut Gio dengan nada sangat marah.


Suasana semakin panas, Radit mengajak Echa untuk keluar dari kamar si kembar. Ayanda yang ingin mengejar Echa pun ditahan oleh Gio.


"Biar dia menyadari kelalaiannya."


Sungguh sedih hati Echa, dan dia menuruti ajakan Radit. Ketika Radit membuka pintu, panggilan lirih terdengar.


"Kak."


Ternyata suara lemah itu suara Aksa. Echa menoleh sebentar ke arah Aksa dan dia pun tersenyum ke arah adik pertamanya. Namun, tubuh Aksa sudah ditutupi oleh keluarga yang sudah mendekat.


Echa merasa dunianya telah berubah, Dia memang patut disalahkan. Jika, dia tidak lemah kepada rajukan si kembar, mungkin ni tidak akan terjadi.


"Mau ke mana?" tanya Radit yang sedang mendorong Echa yang tengah duduk di kursi roda. Karena sesungguhnya dia tidak boleh banyak bergerak.


"Antar aku ke rumah. Aku ingin mengambil beberapa barangku. Lalu, bawa aku pergi," pintanya.


"Sayang," ucap Radit.


"Aku memang patut disalahkan. Aku memang Kakak yang lalai," imbuhnya.


Radit berjongkok dihadapan Echa. Dia memeluk tubuh Echa yang sudah menangis.


"Jangan bicara seperti itu, ini adalah kecelakaan. Bukan hanya si kembar yang terluka tapi kamu hampir meregang nyawa," jawab Radit.


"Apapun akan aku korbankan untuk kedua adikku," lirihnya.


Di dalam kamar perawatan, Aksa sudah mulai sadar. "Abang, jangan buat Mommy khawatir," ucap Ayanda seraya memeluk tubuh Aksa.


"Mommy, Kakak," ucapanya pelan.


"Jangan menanyakan Kakak dulu, kamu yang di sini sedang sakit bukan Kakak," sahut ketus Gio.


'Tapi ...."


Dokter datang untuk memeriksa keadaan Aksa dan juga Aska. "Sebentar lagi kembarannya juga akan sadar," ucap dokter.


Selang satu jam, perlahan Aska membuka matanya. Dan matanya mencari seseorang.


"Kakak."


"Mommy, Kakak mana?" tanya Aska yang sedang dipeluk Ayanda.


"Sembuh dulu, ya. Baru iya ketemu Kakak."


****


Di kamarnya, Echa menatap setiap sudut ruang ini. Perlahan, dia berjalan ke arah lemari pakaiannya. Dia masukkan beberapa baju ke dalam tas ransel sedang miliknya.


Dia letakkan beberapa ATM yang diberikan Gio untuknya. Dia tidak ingin menyusahkan papanya. Dan Echa tahu, sekarang Gio tengah membencinya.


Ponsel pemberian sang Papa tidak dia bawa. Dia hanya membawa ponsel pemberian dari Radit yang selama ini tidak dia gunakan.


Setelah selesai, Echa pun menutup kamarnya kembali dan meninggalkan rumah itu bersama Radit.


Radit melajukan mobilnya menjauhi ibukota. Mereka mempunyai waktu empat jam untuk tiba di sebuah apartment mewah milik Echa. Apartment yang dia beli dari hasil bekerja dengan sang kakek.


Sesampainya di unit milik Echa, Radit khawatir melihat wajah Echa yang sangat pucat. Radit langsung membaringkan tubuh Echa.


"Sayang, kita ke rumah sakit, ya. Wajah kamu pucat banget." Echa pun menggeleng.


"Temani aku di sini," pintanya.


****


Keesokan paginya, Ayanda merasa gelisah. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya.


"Kenapa Mom?" tanya Gio. Ayanda pun menggeleng.


"Dad, jangan terlalu keras terhadap Echa. Kasihan," ucap Ayanda.


"Mom, ketika anak kita salah kita juga harus tegas kepada dia. Agar apa? Agar dia tahu yang namanya tanggung jawab," sahut Gio.


Mulut Ayanda pun terkunci ketika melihat ketegasan yang terbalut marah di wajah Gio.


"Mommy akan pulang sebentar, Mommy ingin melihat putri Mommy," balas Ayanda.


Gio pun menghela napas kasar. Gio juga sadar, jika dia sudah sangat keras kepads Echa. Apalagi mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dia ucapkan.


Gio pun mengikuti istrinya dan meninggalkan si kembar bersamaan perawat. Sesampainya di rumah, Ayanda langsung naik ke kamar Echa. Kamar Echa masih gelap. Ayanda menyangka putrinya masih terlelap.


Ayanda menghidupkan lampu kamar Echa. Namun, kasurnya masih sangat rapi dan tidak ada orang yang tidur di sana. Ayanda membuka kamar mandi dan dia pun tidaklah menemukan Echa.


Tak sengaja, Ayanda melihat ponsel Echa di atas meja rias. Alangkah terkejutnya ketika melihat beberapa ATM dan juga black card yang tergeletak tak jauh dari ponsel Echa. Dan ada secarik kertas di sana.


Mah ...


Tolong sampaikan salam sayang Echa untuk Aksa dan juga Aska. Serta sampaikan permintaan maaf Echa kepada Papa karena telah mencelakai anak kandung Papa. Echa memang patut disalahkan dan Echa juga terima jika kalian membenci Echa. Semuanya Echa terima dengan lapang dada.


Echa tahu, kata maaf saja tidak akan pernah membuat keadaan kembali seperti semula dan tidak akan membuat Papa menghentikan marahnya kepada Echa.


Biarkan Echa pergi, Echa tidak ingin membuat keadaan semakin panas. Echa tidak ingin Papa semakin membenci Echa jika melihat Echa. Echa sadar diri, hidup Echa hanya menumpang pada Papa. Echa juga sangat mengerti perasaan Papa, tidak akan ada seorang Ayah yang tidak marah jika melihat anaknya terluka seperti itu, apalagi Papa adalah ayah biologis si kembar. Sekali lagi, Echa minta maaf, jika selama ini Echa menjadi parasit dalam keluarga Mamah dan Papa.


Semua pemberian Mamah dan Papa Echa kembalikan. Maaf, jika selama ini sudah merepotkan. Echa sayang kalian.


Surat itu pun terjatuh ke lantai, air mata Ayanda sungguh sudah tidak tertahankan. Inilah yang membuat hatinya gelisah seakan separuh nyawanya hilang.


Ayanda melihat ke arah meja, semua kartu yang berisi uang cukup banyak Echa tinggalkan. Ponsel yang selalu dia dan juga Gio memantau Echa pun dia tinggalkan.


"Jangan tinggalkan Mamah, Kak?" lirihnya.


***