
Radit kembali ke kamar perawatan sang istri dan matanya melebar ketika melihat Echa tengah menangis sambil memeluk erat tubuh Nesha.
"Ini ada apa, Mbak?" tanya Radit sedikit panik.
"Ba," panggil lirih Echa. Radit segera memberikan pelukan hangat kepada sang istri. Dia tak hentinya memberikan kecupan hangat di ujung kepala Echa.
"Ada yang sakit?" Echa menggeleng.
"A-a-apa yang menyelamatkan aku, Abang Rindra?" Selama Radit dan Echa menikah. Baru kali ini Echa menyebut nama Abangnya.
"Iya, Sayang. Kebetulan Abang dan istrinya lewat lorong itu," ujar Radit. Tangisan Echa semakin keras dan dia semakin mengeratkan pelukannya kepada sang suami.
"Aku ingin bertemu Abang," pintanya.
Lengkungan senyum di bibir Nesha terlihat jelas. Tak terasa air matanya menetes. Doa yang selalu dia panjatkan kepada sang pencipta akhirnya terkabul juga. Doa yang sederhana namun, lama dikabulnya. Yaitu, ingin bertemu dengan perempuan yang sudah membuat suaminya jatuh cinta terlalu dalam. Dan sulit untuk melupakan, yang tak lain adalah istri dari Raditya adik dari Rindra.
"Wajar, suamiku tidak bisa melupakanmu dengan mudah. Kamu memang wanita berbeda. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Bukan hanya parasmu yang cantik. Tetapi, hatimu pun sangat cantik. Aku beruntung memiliki adik ipar sepertimu," batin Nesha.
"Ketemunya nanti aja, ya. Abang lagi ke pemakaman dulu," jawab Radit dengan seulas senyum.
"Siapa yang meninggal?"
Radit menatap ke arah Nesha hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban. Bertanda Nesha tidak mengatakan apapun kepada Echa.
"Anak Om Satria." Echa menutup mulutnya tak percaya. Kedatangan dia ke rumah sakit ini untuk menjemput kepulangan anak dari Omnya Radit. Dan ternyata, menjemput bayi itu pulang ke alam keabadian.
Radit menceritakan semuanya kepada Echa membuat Echa terdiam di tempat. Sama halnya dengan Radit. dia sedang membayangkan jika anak itu adalah salah satu anak dari mereka. Depresi itulah yang akan terjadi kepada dirinya.
Dan di kediaman Rion, Rion menghampiri Iyan yang tengah duduk di tepian tempat tidur. "Sedang apa kamu, Yan?" Iyan menoleh ke arah sang ayah. Hanya tatapan sendu yang dia berikan.
"Iyan takut, jika mimpi Iyan itu jadi kenyataan." Rion mendekap hangat tubuh sang putra.
"Mimpi kamu memang jadi kenyataan," ucap Rion.
Tes.
"Itu kelebihan yang kamu miliki, Iyan. Hanya orang-orang istimewa yang memilki kemampuan seperti ini."
"Tapi, Iyan takut," lirihnya.
Rion terus mendekap hangat tubuh Iyan mencoba menyalurkan ketenangan.
"Adek bayi itu apa ...."
"Anak Bunda," potong Rion.
Tangis Iyan semakin keras, dia melihat jelas bagaimana bentuk bayi itu. Hanya bagian kanan dari bayi itu yang utuh.
Iyan mengambil pensil dan juga kertas. Dia mencoret-coret kertas putih itu. Hingga terbentuk sebuah gambar yang dia tunjukkan kepada sang ayah.
"Begini bentuk adik Iyan," tuturnya pada Rion. Mata Rion melebar ketika melihat sketsa gambar dari Iyan yang sangat menyeramkan.
Ya, Tuhan. Apa ini karma untuk mereka? Anak yang tidak berdosa harus meninggal dengan cara yang sangat tragis seperti ini?
"Dan Iyan mimpi lagi. Ada anak laki-laki yang sedang menuntun Bunda. Membawanya ke sebuah Padang rumput yang indah. Namun, di sana ada dua pintu. Pintu satunya dijaga oleh orang berbaju putih dengan wajah yang tidak jelas, tapi mengeluarkan cahaya. Dan pintu satunya lagi dijaga oleh orang yang berpakaian hitam dengan wajah yang menyeramkan. Anak laki-laki itu ingin membawa masuk Bunda ke pintu itu. Tetapi, orang berpakaian serba itu melarangnya. Dan tubuh Bunda malah ditarik paksa oleh orang berbaju hitam. Memasukkan Bunda ke pintu sebelahnya. Baru saja Bunda didorong masuk, suara jeritan sangat keras terdengar hingga keluar. Sedangkan anak laki-laki itu seperti dilindungi oleh orang berbaju putih. Kemudian. dia dibawa masuk oleh orang berbaju putih ke dalam pintu yang berbeda."
Iyan menatap ke arah Rion ketika sudah menjelaskan panjang lebar. "Apa maksud mimpi Iyan ini, Ayah?"
Deg.
Jantung Rion seperti berhenti berdetak. Pikirannya tengah mencerna ucapan Iyan. Anak laki-laki dan Amanda.
"Apa jangan-jangan ...."
...****************...
Komen banyak dulu baru aku lanjut ....
Insha Allah lebih dari 3 bab hari ini.