
Sedangkan Gio terus mengumpat kesal karena semua orang suruhannya belum mengetahui siapa dalang dari kejadian ini. Tiga pria itu sudah diringkus dan sudah ditahan pihak yang berwajib. Namun, mereka sama sekali tidak mau membuka suara siapa yang menyuruh mereka.
"Inilah yang Daddy dan Papa takutkan. Dunia bisnis ini sangatlah kejam," gumamnya.
Sebenarnya Gio melarang ketiga anaknya itu untuk keluar karena kondisi memang sedang tidak baik. Banyak teror disekeliling Gio serta Genta. Dia ke Australia untuk menemui sang ayah dan membicarakan hal ini dengan sang ayah.
Ronald yang ditugaskan untuk menjaga Echa ditarik Genta karena masih ada yang lebih genting di sana. Dan sekarang, kedua putranya terbaring lemah di rumah sakit. Karena Echa yang tidak menuruti perintah Gio. Ada alasan dibalik larangan Gio. Alasan yang tidak Gio utarakan karena pasti akan membuat ketiga anaknya takut.
Pintu ruang kerja Gio terbuka, Ayanda menghampiri Gio dengan wajah sendu dan jejak air mata yang menghiasi pipinya. Tanpa kata, Ayanda menyerahkan surat yang ditinggalkan Echa beserta ponsel dan kartu-kartu yang tidak dia bawa.
Hati Gio hancur membacanya, terlebih semua pemberiannya tidak ada yang Echa bawa sama sekali. "Setelah si kembar pulih, Mommy akan mencari putri Mommy," tukasnya.
Ayanda meninggalkan Gio begitu saja, ada sedikit rasa kecewa di hatinya. Tapi, dia juga tahu suaminya melakukan itu semua untuk kebaikan anak-anaknya. Jika, Echa patuh kepada ucapan sang papa, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Ayanda langsung menghubungi Rion, mantan suaminya wajib tahu tentang kepergian Echa. Karena dia adalah ayah kandung dari Echa. Rion pun terkejut, dan dia akan mencari Echa hari ini juga.
"Setelah si kembar pulih, aku akan membantu Mas mencari Echa."
"Kamu fokus pada si kembar aja ya, biar Mas yang cari putri kita."
Gio yang berada di belakang Ayanda mendengar semua yang dikatakan istrinya dengan mantan suaminya. Gio hanya menghela napas kasar.
"Daddy akan mencari Echa," ucap Gio.
"Tidak usah repot-repot, Daddy fokus aja terhadap pelaku yang mencelakai di kembar. Biar aku dan Mas Rion yang akan bekerja sama mencari anak kami," sahutnya dingin.
Di Bandung.
Kondisi Echa semakin lemah, Radit menyingkapkan baju Echa dan dia menghela napas kasar ketika jahitan luka di perut Echa yang semakin memerah karena Echa terlalu banyak bergerak. Radit menatap sedih wajah kekasihnya yang masih terlelap dengan tangan yang masih menggenggam tangan Radit. Seakan Echa memerlukan perlindungan.
"Di sini kamu yang terluka parah, tapi kenapa kamu yang tidak ingin memberitahukan kepada mereka semua? Satu centi lagi pisau itu masuk ke pinggangmu itu akan mengenai organ tubuh kamu. Kenapa kamu selalu ingin terlihat baik-baik saja?"
Perlahan mata Echa terbuka, dia tersenyum lemah ke arah Radit, Radit tahu, Echa sedang menahan sakit di perutnya. Karena sepertinya harus dilakukan hecting ulang melihat kondisi pinggang Echa memerah seperti ini.
"Mau ke kamar mandi?" Echa pun mengangguk.
Radit membopong tubuh Echa masuk ke dalam kamar mandi. Sudah Radit sediakan kurus untuk Echa membersihkan tubuhnya. Semuanya sudah Radit siapkan supaya kekasihnya itu tidak kesusahan.
"Kalo udah beres, panggil aku lagi ya."
Sebenarnya Radit tidak tega melihat Echa seperti ini. Semalaman pun Echa mengigau selalu menyebut Papanya. Echa benar-benar merasa bersalah akan kejadian ini. Padahal, Echa lah yang menyelamatkan di kembar dari ketiga pria jahat itu.
Radit masih bergelut dengan pikirannya sendiri, dia tidak menyadari jika Echa sudah keluar dari kamar mandi. Panggilan Echa membuat Radit tersadar.
Radit tersenyum ke arah Echa, lalu bersimpuh di hadapan Echa yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur. Dia menatap manik mata cantik Echa yang terlihat sangat sendu.
"Kamu pergi karena takut dengan Papa kamu?" Echa pun menggeleng. Dia menstabilkan napasnya terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Aku hanya tidak ingin melihat mereka semua sedih karena kondisiku. Mereka akan sangat histeris jika melihat kondisiku sekarang. Jika, Papa marah aku terima. Di sini memang aku yang salah. Aku terlalu lemah menghadapi si kembar. Tapi, setidaknya aku sudah membuat mereka selamat, itu yang terpenting," jelasnya.
"Ketika kondisiku sudah pulih, aku akan menemui mereka kembali. Sekaligus meminta izin untuk tinggal bersama Om Andri di Jogja," lanjutnya lagi.
Air mata Echa pun luruh jika mengingat kejadian itu. Ketika dia berteriak memanggil ayahnya disitulah dia berpasrah akan keadaannya yang mungkin akan dinodai oleh para pria bejat di hadapannya. Namun, tidak disangka Aska terbangun dan dengan kerasnya dia menghantam kepala dua pria yang sedang mencoba membuka kancing piyama Echa dengan batu yang cukup besar hingga mereka berdua tersungkur, dan Echa bisa terlepas dari mereka.
"Aku takut." Radit memeluk tubuh kekasihnya ini. Sudah pasti akan ada trauma yang melekat di hatinya.
"Kita ke rumah sakit, ya. Hecting di perut kamu buruk sekali," ujar Radit.
Echa pun mengangguk, namun tiba-tiba dia meringis kesakitan dan wajahnya sangat pucat. Radit langsung membawa tubuh Echa ke rumah sakit terdekat.
****
Rion dan Arya mencoba menghubungi Andri dan juga Bu Dina serta Nisa. Namun, jawaban mereka sama. ECha tidak ada di sana.
Rion sudah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari Echa ke segala pelosok. Begitu juga Ayanda, sesalah apapun Echa dia tetaplah anaknya. Ini semua bukanlah murni kesalahan Echa tapi, musibah untuk keluarganya.
Dalam diamnya pun, Gio mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Echa. Dia lupa akan sakit yang diderita Echa. Dia lupa jika Echa adalah anak yang berbeda. Sedikit kata kasar yang keluar dari mulutnya bisa menjadi sebuah kesakitan untuk Echa.
"Maafkan Papa," lirihnya.
Tak lama, dia mendapat kabar dari orang suruhannya jika dia menemukan mobil Radit di sebuah rumah sakit di Bandung Orang itu pun mengatakan jika Radit datang dengan seorang wanita. Gio langsung berangkat ke sana ditemani Remon. Namun, dia terlebih dahulu ke rumah sakit tempat si kembar dirawat.
Di rumah sakit Aksa dan juga Aska terus saja menangis dan memanggil-manggil kakaknya.
"Sembuh dulu ya, nanti kita bertemu dengan Kakak," ucap Ayanda yang memaksa untuk tersenyum.
"Mommy, Kakak gak kenapa-kenapa kan? Kakak gak terluka kan?" tanya Aksa bertubi-tubi.
Ayanda mengerutkan dahinya tak mengerti. Ayanda melihat Echa kemarin baik-baik saja.
"Kan yang terluka itu kalian," sahut Ayanda.
"Tidak Mommy, Abang lihat leher Kakak mengeluarkan darah," ungkap Aksa.
"Dan pe-pe-rut Kakak tertancap pisau," sambung Aska.
Mangkuk bubur yang Ayanda pegang pun jatuh berserakan. Air matanya mengalir sangat deras mendengar penuturan di kembar.
Gio hanya mematung di tempatnya ketika mendengar semuanya dari mulut si kembar. Sedari tadi dia sudah berada diambang pintu.
"Maafkan Abang Mommy, Abang gak bisa jagain Kakak. Abang gak bisa lindungin Kakak, malah Kakak yang lindungin Abang dari orang jahat. Malah Kakak yang terkena pukulan balok," jelasnya lagi.
"Adek belum bisa mengikuti perintah Daddy dengan baik. Yaitu menjaga Mommy dan Kakak, dua wanita kesayangan Adek."
Hati Ayanda campur aduk dibuatnya. Remuk sudah pasti, sedih jangan ditanya lagi. Hanya tetesan air mata yang mengutarakan bagaimana hatinya saat ini. Anak yang disalahkan oleh Papa sambungnya ternyata pahlawan untuk keselamatan kedua putranya.
****
Ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun.