Bang Duda

Bang Duda
215. Undangan Makan Malam



Waktu terasa cepat berlalu. Echa menghabiskan waktunya hanya untuk belajar dan belajar. Dia tidak ingin mengecewakan orangtuanya. Dia ingin lulus dengan nilai terbaik.


Keempat orangtua Echa selalu mendukung penuh apa yang ingin Echa raih. Meskipun, sampai sekarang Amanda belum tahu akan rencana Echa untuk kuliah di luar negeri.


Setiap hari Rion dan juga Amanda beserta Riana selalu datang ke rumah Ayanda hanya untuk melihat putri mereka. Mereka selalu membawa apa yang Echa sukai.


"Kak, istirahat dulu," ucap Ayanda. Sudah dua jam lebih Echa menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal latihan untuk ujian.


"Sebentar lagi, Mah."


Ayanda membawa piring diisi dengan makan-makanan sehat, lalu duduk di samping putrinya. Dia menyuapi putrinya hingga makanan di piring tak tersisa.


"Makasih, Mah." Ayanda hanya tersenyum.


"Jika, nanti kamu jauh dari Mamah, momen inilah yang akan Mamah rindukan." Echa pun menghentikan kegiatannya. Dia menatap mata sang Mamah dengan penuh cinta.


"Echa juga pasti akan merindukan Mamah, merindukan hangatnya pelukan Mamah," ujarnya.


Echa pun memeluk tubuh sang Mamah. "Mamah tau gak, ada satu hal yang pastinya akan sangat sangat Echa rindukan," imbuhnya.


"Apa?"


"Ocehan dan Omelan Mamah." Ayanda pun tertawa begitu juga Echa.


"Oiya, malam ini ada undangan makan malam dari Pak Addhitama." Echa menatap mamahnya dengan tatapan tak terbaca.


"Jangan takut, Kak. Ada Mamah dan juga Papa. Radit pun ada di sana," imbuhnya.


"Tapi ...."


"Kita semua disuruh datang, Kak. Tidak ada penolakan." Ayanda pun bangkit dari duduknya dan membawa piring kotor meninggalkan Echa.


Ada ketakutan yang Echa rasakan. Apalagi jika dia harus bertemu dengan Rindra. Laki-laki yang membuat hubungannya dengan Radit terluka.


Echa mencoba menghubungi Radit, namun tak kunjung ada jawaban dari Radit. Membuat rasa takut di hati Echa muncul kembali.


Malam pun tiba, Ayanda, Gio dan juga si kembar sudah siap. Namun, Echa tak kunjung turun. Ayanda dan Gio menghampiri putri mereka, dan ternyata Echa masih asyik dengan ponselnya dan masih memakai piyama tidur. Ayanda hanya menggelengkan kepalanya.


"Kak, kita mau berangkat loh," kata Ayanda.


"Mama dan Papa aja, Echa gak ikut," sahutnya.


"Kak, apa pernah Papa mengajarkan untuk menolak undangan orang lain?" Echa pun terdiam.


Gio menghampiri Echa dan mengusap rambutnya dengan penuh kelembutan. "Ada Papa, Kak. Sedikit saja dia menyentuh kamu, akan Papa kirim dia menghadap Tuhan." Hanya keseriusan yang Echa lihat dari sang Papa. Dia tahu, Papanya tidak akan main-main dengan ucapannya.


Echa pun akan ikut pergi bersama Mamah dan Papanya. Setelah bersiap, dia turun ke bawah menemui orangtuanya. Hanya seulas senyum yang Ayanda dan Gio tunjukkan.


Selama perjalanan, hanya keheningan yang tercipta. Echa terus menatap layar ponselnya. Dia berharap ada balasan atau jawaban dari Radit. Wajah cemasnya sangat terlihat.


Setelah tiba di kediaman Addhitama, mereka semua disambut oleh Addhitama dan juga Rival serta Rindra. Tidak nampak kehadiran Radit di sana, ada ketakutan yang melanda hati Echa. Dia takut Radit pergi lagi.


Mereka berbincang-bincang santai, tangan Echa yang tak lepas merangkul lengan Papanya. Apalagi Rindra terus menatap Echa dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Om, Kak Radit ke mana? Kok Echa gak liat Kak Radit."


Addhitama pun tersenyum. "Dia sedang mempersiapkan sesuatu sebelum dia kembali ke Ausi."


Deg.


Jantung Echa seakan berhenti berdetak. Apa Radit akan meninggalkannya lagi? Apa Radit tidak akan menunggunya?


Echa pun hanya terdiam, dia bergelut dengan pikirannya sendiri. Echa tidak peduli orang-orang dewasa itu berbicara apa. Tangannya dengan sangat lincah mengetikkan sesuatu di layar benda pipihnya.


Rival hanya tersenyum tipis melihat wajah Echa yang sedikit panik. Sedangkan Rindra, hanya memutar-mutar cincin di jari manisnya dengan mata yang tidak beralih memandang Echa.


Hidangan yang tersedia sangatlah banyak. Mereka tinggal memilih apa yang mereka inginkan. Echa hanya mengambil cumi, beef dan juga kentang goreng.


Mereka sudah duduk di meja yang sudah dipersiapkan. Sedangkan Echa hanya menusuk-nusuk makanannya dengan garpu karena tidak ada selera untuk makan. Pikirannya melanglang buana memikirkan Radit.


🎶


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Echa terdiam mendengar suara yang sangat dia kenali. Dia memberanikan diri untuk melihat ke arah depan. Radit dengan menggunakan kemeja hitam dan celana hitam yang terus berjalan menghampiri Echa dengan membawa satu buket bunga.


🎶


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang ku tahu


Ku ingin melamarmu


Radit bersimpuh di hadapan Echa dengan memberikan buket bunga. Dan dia pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak merah berbentuk hati dan di dalamnya ada dua cincin bermatakan berlian indah.


"Aku ingin serius sama kamu. Aku tahu kamu baru akan lulus SMA. Tapi, akan menunggu kamu hingga kamu lulus kuliah nanti. Aku ingin menjaga kamu."


Mata Echa sudah berkaca-kaca. Secepat inikah Radit yakin kepada dirinya. Tidak dipungkiri, Echa pun sangat merasa nyaman dengan Radit. Seolah tubuh dan hatinya tidak ingin berpisah dengan Radit.


"Itu hanya sebatas simbol aja, Radit ingin mengikat kamu dari sekarang. Radit sudah sangat yakin kepada kamu," jelas Addhitama.


Echa menatap Papa dan Mamanya. Kedua orangtua Echa hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Tapi, dia juga memiliki Ayah dan Bunda yang harus dia tanya terlebih dahulu. Dia takut orangtuanya yang lain tidak setuju.


"Ayah percaya sama Radit." Suara yang mampu memecah kekhawatiran Echa.


Echa menoleh ke asal suara. Ayah dan Bundanya sedang tersenyum sangat tulus. Air mata Echa pun tak mampu dia bendung.


Dia beralih menatap Radit, lalu menganggukkan kepalanya. Radit pun tersenyum bahagia. Dia memakaikan cincin itu di jari manis Echa. Begitupun Echa yang memasangkan cincin di jari manis Radit.


"Makasih, Sayang." Radit memeluk tubuh Echa lalu mengecup kening Echa sangat dalam.


Semua orang yang berada di sana teramat bahagia. Karena ini sudah keputusan dua keluarga, mereka tahu Radit dan Echa pernah sama-sama terluka. Ternyata cinta mereka sangatlah kuat hingga akhirnya kesedihan Echa membawa kebahagiaan untuk mereka. Mereka dipersatukan kembali. Luka yang tergores di hati mereka masing-masing, mereka coba untuk menyembuhkannya lagi secara bersama.


Dibalik kebahagiaan Radit dan Echa, ada hati yang teramat sakit. Hati yang belum bisa menerima kekalahan. Hati yang masih memendam cinta yang teramat dalam. Meskipun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


****


Semoga kalian suka ...


Ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun-timbun. Aku berjuang untuk nulis di kondisi drop ku demi kalian loh sayang.


Kalian cukup bantu aku dengan selalu setia membaca up terbaru Bang duda tanpa menimbun-nimbun. Jika, kalian selalu seperti itu. Level Bang Duda akan naik terus dan akan mempengaruhi pendapatan butiran uang koin aku.


Love you ...