Bang Duda

Bang Duda
271. Kesakitan



Dengan cepat Gio menghubungi seseorang untuk menyiapkan pesawat pribadi miliknya. JIka, menggunakan kendaraan roda empat sudah dipastikan akan lama.


Tanpa pamit dan tanpa izin kepada istri dan anak-anaknya, Gio pergi meninggalkan rumah sakit itu dan menuju bandara.


Gio benar-benar merasa bersalah karena sudah membentak Echa dalam masalah ini. Dan Echa mencoba untuk baik-baik saja di hadapan semua orang ketika dirinya hampir meregang nyawa.


Ayanda benar-benar syok mendengarnya. Dia hanya bisa menangis dan memeluk kedua putranya.


"Kakak pergi," lirih Ayanda.


Tangis si kembar pun pecah, hati Ayanda semakin hancur. Dihadapkan dengan kenyataan yang sangat menyakitkan dengan keadaan anak-anaknya.


Rion dan Arya yang baru saja tiba di rumah sakit tercengang melihat Ayanda dan si kembar sedang menangis dengan saling berdekapan.


"Ada apa Dek?" tanya Rion.


Ayanda menoleh ke asal suara dan dia langsung memeluk tubuh mantan suaminya. "Anak kita terluka parah."


Rion terdiam, tak dapat mencerna apa yang dikatakan oleh mantan istrinya.


"Maksud kamu apa? Mas gak ngerti."


Aksa dan Aska menceritakan apa yang terjadi dengan Echa. Luka yang Echa dapatkan dan tusukan yang Echa terima


Bukan hanya Rion yang terkejut akan hal ini. Tangan Arya mengepal sangat keras dan ingin sekali membunuh orang yang sudah mencelakai keponakan kesayangannya ini.


Arya teringat akan ucapan Rival kemarin. Tidak sengaja Arya bertemu di parkiran rumah sakit ini. Dan Rival mengatakan jika rumah sakit ini milik papihnya.


Arya keluar dari kamar perawatan si kembar, Dia beralih ke tempat pendaftaran dan menanyakan tentang data di kembar.


"Pasien yang bernama Ghassan Aksara Wiguna dan Gatthan Askara Wiguna sudah ada yang menjamin," ujar petugas.


"Boleh saya tahu?" tanya Arya.


"Maaf, kami tidak bisa memberitahukan masalah ini. Karena ini bersifat rahasia," sahut sopan petugas.


Arya pun pergi dan dia sedikit curiga jika, pembiayaan si kembar ditanggung oleh Echa. Karena Echa lah yang membawa si kembar ke rumah sakit.


Dalam waktu kurang dari satu jam, Gio sudah tiba di Bandung. Dia dan Remon bergegas ke rumah sakit yang disebutkan oleh orang suruhannya.


Tibanya di sana, Gio langsung berlari ke IGD. Namun, dan tidak menemukan Echa. Dia menanyakan ke resepsionis pasien atas nama lengkap Echa. Hati Gio lega ketika mendapat jawaban Echa memang dibawa ke rumah sakit ini.


Tapi, dia kembali kecewa ketika si resepsionis mengatakan jika Echa dirujuk ke rumah sakit yang lain karena ketidak lengkapan alat di rumah sakit ini.


Gio mendapatkan alamat rumah sakit yang menjadi rujukan Echa. Dan dia langsung menuju ke sana bersama Remon. Setelah mereka sampai di rumah sakit rujukan, Gio bergegas menanyakan pasien rujukan atas nama anaknya. Namun, pihak rumah sakit mengatakan jika pasien atas nama yang Gio sebutkan tidaklah ada.


Haruskah Gio percaya? Gio tetaplah Gio, dia menggunakan kekuasaannya untuk menemui direktur rumah sakit ini. Dan ternyata rumah sakit ini masih ldi bawah naungan Wiguna Grup. Setelah direktur itu memeriksa data rahsia, memang tidak ada nama yang dicari oleh Gio.


Ada kekecewaan di hatinya, tapi Gio tidak menyerah. Dia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Echa di semua rumah sakit di Bandung. Gio berjanji, dia tidak akan pulang tanpa membawa Echa.


Sedangkan Echa, masih merangkul lengan Radit dan bersandar di bahu kekasihnya seraya menahan sakit. Ketika Echa masuk ke rumah sakit, Echa melihat beberapa orang suruhan papanya ada di depan rumah sakit.


"Kamu yakin?" tanya dokter Eki.


Ya, yang menangani Echa adalah dokter Eki. Dokter yang pernah menangani mamahnya. Entah kebetulan apa memang sudah jalannya, Echa meminta bantuan kepada dokter Eki. Dengan sedikit penjelasan dari Radit, dokter Eki pun bersedia membantunya. Namun, dengan catatan dokter Eki yang akan memantau kondisi Echa.


"Tolong bantu aku, aku tidak ingin Papa mengetahui kondisiku," pintanya.


Radit dan dokter Eki membawa Echa ke sebuah klinik kecil di Bandung untuk memeriksa luka di perut Echa. Benar yang dikhawatirkan Radit. Harus dilakukan hecting ulang pada luka di perut Echa.


Dokter Eki meminta agar Echa dirawat di klinik ini. Karena dokterr praktek di tempat ini adalah sahabat dokter Eki. Namanya dokter Kania.


Dokter Kania pun melakukan hecting ulang karena banyak bergerak hecting bagian atas terbuka. Tusukan jarum dan tarikan benang membuat Echa menitikan air mata. Radit masih setia di samping Echa.


"Ada aku di sini, Yang. Aku akan menemani kamu," ucapnya seraya menggenggam tangan Echa.


Dokter Kania tersenyum ke arah pasangan ini. Radit menjadi sasaran kesakitan Echa namun, Radit hanya tersenyum dan menikmati cakaran maupun gigitan Echa.


Dokter pun memberikan obat kepada Echa untuk menghilangkan rasa sakitnya. Wajah Echa perlahan mulai segar. Namun, gurat kesedihan masih lah terlihat jelas.


"Kamu dirawat dulu ya, di sini. Untuk memantau lambung kamu yang luka nanti dokter Eki yang turun tangan." Echa pun mengangguk.


Sedari tadi tangan Radit selalu menggenggamnya. Echa melihat tangan Radit terluka karena kesakitannya tadi. "Maaf," sesal Echa.


Radit tersenyum seraya mengusap lembut kepala Echa. "Gak apa-apa, aku akan selalu berada di samping kamu. Tadi Papih nanya kabar kamu. Mungkin besok Papih akan menjenguk kita di sini."


Ada kebahagiaan yang menjalar di hati Echa. Ketika dia sendiri seperti ini, ada Radit dan juga Addhitama yang selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada Echa. Seakan hidup Echa selalu dikelilingi dengan keberuntungan.


***


Tugas Rion kali ini bukan hanya mencari Echa. Tapi, mencari para pelakunya. Tangannya sudah sangat gatal ingin memasukkan tiga pelaku dan dalangnya ke liang lahat.


"Kita temui Pak Addhitama," ujar Arya.


Rion memicingkan matanya tak mengerti dengan ucapan Arya.


"Pak Addhitama adalah Pemiliki dari rumah sakit si kembar dirawat. Gua curiga dia tahu keberadaan Echa," lanjut Arya lagi.


Rion dan Arya pun bergegas menemui Addhitama. Setibanya di sana kebetulan sekali mereka bertemu langsung dengan orang yang mereka cari.


"Maaf, Pak. Pasti Anda tahu di mana Radit dan putri saya berada," ujar Rion.


Addhitama hanya terdiam, bukan hanya orangtua Echa yang Terluka hatinya mendengar Echa terluka parah dan hampir diperkosa oleh tiga pria sekaligus.


"Saya tahu, hanya saja Echa melarang saya untuk memberi tahu," sahut Addhitama.


Rion dan Arya pun terdiam, apalagi melihat tatapan sedih yang Addhitama tunjukkan.


"Echa pergi bukan karena takut, dia hanya tidak ingin membuat semua orangtuanya sedih dengan kondisinya saat ini." Addhitama menyerahkan foto terbaru Echa yang Radit kirim.


Tubuh Rion terasa lemas, hatinya mencelos melihat Echa yang menahan sakit dengan wajah sangat teramat pucat.


"Di mana Echa sekarang, Pak?" Rion benar-benar memohon kali ini.


"Besok kalian ikut dengan saya," imbuhnya.


****


Ada notif UP langsung baca, jangan ditimbun-timbun.