
Ketika malam Gio menemui Aska di kamarnya. Dia sedikit tersentak dengan ucapan Aska yang menyebut Ayanda sebagai perebut pacar orang. Rasa curiga sedikit muncul di hatinya.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Gio mencari tahu siapa orang yang berbicara seperti itu kepada putranya. Aska memang anak yang mudah terpengaruh berbeda dengan Aksa yang memiliki pendirian yang kuat seperti dirinya.
Dia pun mendapat e-mail dari orang kepercayaannya. "Nekat juga ini orang."
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Gio sudah bersiap untuk keluar. "Mau ke mana Dad?" tanya Ayanda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ada urusan, Sayang," sahutnya seraya tersenyum manis.
"Malam-malam begini?" Ayanda menajamkan matanya.
"Daddy mau ke apartment Remon. Mau bahas masalah di perusahaan yang berada di Surabaya. Daddy besok akan ke Surabaya," ujarnya.
"Kalo Daddy bohong, Mommy potong sosis Daddy biar bogel," ancamnya
Gio pun tertawa dan mengecup bibir sang istri. "Gak akan Sayang. Perusahaan itu memang sedang ada masalah. Daddy janji, setelah pembahasan selesai Daddy langsung pulang." Ayanda memeluk tubuh suaminya sangat erat.
"Ngadepin Aska itu harus pintar, biarin aja dulu dia begitu," kata Gio yang sudah mengusap lembut punggung istrinya.
"Daddy berangkat, ya." Ayanda pun mengangguk. Sebelum pergi, Gio mengecup kening Ayanda dengan sangat lama.
Remon sudah menjemput Gio, dan mereka pun pergi menuju ke apartment Remon. Setibanya di sana, mereka berdua disambut oleh beberapa orang kepercayaan Gio dan juga polisi.
"Apa yang Anda temukan Pak Gio?" tanya Afnan. Salah satu polisi yang menangani kasus trio busuk hati.
Remon menyerahkan flashdisk kepada Afnan. Dan dia langsung mengecek flashdisk tersebut.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Afnan sambil menunjuk ke gambar Sella.
"Anda kenal?" Afnan pun mengangguk.
"Dia asisten Cantika, dan Vera itu adalah sepupunya Cantika."
"Mereka sekongkol?" Afnan pun mengangguk menjawab pertanyaan Remon.
"Sepertinya Cantika sangat dendam kepada Anda." Gio hanya menghela nafas kasar.
"Dia mantan pacar boss yang sedikit gila," celetuk Remon.
Afnan pun mengerti dengan apa yang dikatakan Remon. Mereka pun menyusun rencana untuk menjebak Cantika.
"Ketiga wanita buruk hati itu udah bebas?" Afnan pun mengangguk.
"Baguslah, tinggal Rion yang kita ajak kerja sama." Remon hanya menggelengkan kepalanya jika sudah menyangkut ide gila plus jahat dari sang bos.
***
Dering ponsel Rion mengganggu sang pemiliknya apalagi jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Gua ngantuk," jawabnya.
"Gua di taman rumah sakit. Temuin gua di situ "
Mulut Rion hendak memaki-maki Gio namun, dia urungkan karena melihat istrinya yang sedang damainya sudah masuk ke alam mimpi. Setelah mencuci muka, dia menuju tempat yang Gio katakan.
"Lu ngapain sih? Tengah malam juga, udah kaya medi," sungut Rion.
Remon dengan kasarnya menekan pundak Rion agar duduk. Sungguh malang nasib bokong Rion karena yang dia duduki kursi yang terbuat dari besi.
"Pelan ngapa Mon. Makin tepos nih," maki Rion sambil menyentuh bokongnya yang terasa sakit.
Gio menceritakan semuanya kepada Rion. Dan Rion pun siap untuk membantu Gio. Bagaimana pun, Gio dan Ayanda sudah sangat sering membantunya dalam hal apapun.
"Dea dipengaruhi Vera?" Gio pun mengangguk.
"Lu besok ke rumah gua, Ayang lagi butuh teman untuk curhat tentang Aska. Karena gua bilang besok gua harus ke Surabaya." Rion pun mengangguk.
"Emang apa yang bakal itu asisten mantan lu lakuin?" tanya Rion.
"Dia disuruh ngambil video lu sama istri gua yang lagi pelukan."
"Terus mau diapain tuh video?"
"Dikasih ke media, jadi trending lagi kan." Rion hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Dia dendam sama lu?" Gio pun mengangguk.
"Gua kira lu laki-laki yang gak banyak dosa. Ternyata sebelas dua belas sama gua," ledek Rion.
"Bang Ke lu!"
Remon yang tertawa terbahak-bahak mendengar ledekan dua pria di hadapannya ini.
****
Di kediaman Ayanda hanya Rion yang terlihat santai. Apalagi dia masuk dalam skenario yang Gio buat.
"Lu gak marah muka lu ada di siaran langsung media sosial?" tanya Arya heran.
"Biarin aja, siapa tau aja bawa hoki ke toko kita."
"Amin," sahut Amanda.
"Laki bini mabok sabun," ucap Arya sambil menggelengkan kepala heran.
"Si Andra lagi, tumben-tumbenan jadi binatang lambat," sungut Arya.
Ayanda semakin tertunduk mendengar ucapan Arya. Dia berharap suaminya akan cepat kembali menemani dirinya. Namun, suaminya malah tidak bisa dihubungi sama sekali.
Beeya yang sudah bosan dengan film Ayah dan Mommy-nya kini meraih remote di atas meja. Dia menghidupkan layar besar. Ketika dia hendak memindahkan channel siaran, Beeya berteriak girang.
"Daddy ada di tipi. Hore Daddy masuk tipi."
Semua orang yang berada di sana langsung menujukan mata mereka untuk melihat layar besar dihadapan mereka.
"Konferensi pers ini saya buat untuk meluruskan pemberitaan miring tentang istri saya. Mungkin dari kalian banyak yang tidak mengetahui siapa istri saya. Inilah istri saya, Ayanda Rashani."
Ada layar besar di belakang Gio dan terpampang foto istrinya di sana. Dan ada juga foto pernikahan mereka berdua.
"Jadi benar rumor tentang Anda yang dikhianati oleh istri Anda?" tanya salah satu wartawan.
Gio pun tertawa. "Istri saya tidak pernah mengkhianati saya. Saya sangat kenal dengan laki-laki yang sedang memeluk istri saya di video tersebut."
"Orang itu mantan suami istri Anda kan?" Gio pun mengangguk.
"Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, tapi kalian lah yang membuat berita ini menjadi salah. Banyak yang dipotong dan juga ditambahkan dalam video ini. Karena saya memiliki video lengkapnya."
Gio menganggukkan kepala kepada Remon dan Remon pun memutar video tersebut. Suara riuh terdengar sekarang. Ya, yang Remon putar adalah video Cantika dengan Sella
"Itu kan model Singapura yang menjadi brand ambasador salah satu krim wajah ternama," ucap wartawan wanita.
"Betul itu. Dia Cantika," sahut si temannya.
Gio pun tersenyum penuh kemenangan hari ini. Inilah yang akan dia lakukan ketika ada hama pengganggu yang mencoba mengusik ketenangan hatinya.
Konferensi pers pun berakhir dan Gio pun meninggalkan tempat itu. Tak lama, ponselnya berdering bibirnya terangkat dengan sempurna.
"Nak Gio, maafkan Cantika. Perusahaan Om terancam gulung tikar." Suara yang terdengar sangat lirih dia seberang sana.
"Maaf Om, Cantika sudah sangat keterlaluan. Awalnya masih saya maafkan, ternyata dia semakin nekat. Kewajiban saya melindungi keluarga saya." Gio langsung mengakhiri panggilan telepon tersebut dan dia bergegas pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Ayanda langsung memeluk tubuh Gio dengan isakan tangis. "Makasih Daddy," ucapnya.
Gio mengecup ujung kepala istrinya, dan terus menenangkan Ayanda.
"Gua kira lu diem aja," ejek Arya.
"Gua gak akan tinggal diam kalo udah menyangkut keluarga gua," sshut Gio.
"Aska," lirih Ayanda.
"Biarkan saja, biar Daddy yang mendidiknya."
Rion dan Amanda saling pandang. Mereka sangat bahagia, apalagi Rion sudah berterus terang kepada Amanda dan juga yang lain tentang keterlibatannya dalam masalah ini.
"Daddy memang terbaik," ucap Beeya sambil mengacungkan dua ibu jarinya
"Daddy tampan gak tadi di tv?"
"Banget." Beeya langsung mengecup pipi Gio karena mereka sudah duduk lesehan di ruang keluarga.
"Kalo Papah?" tanya Arya.
"B aja," sahutnya.
Semua orang pun tertawa dengan ocehan Beeya. Dan mereka melupakan ada seorang anak yang sedang mengurung diri di kamarnya.
***
Jangan bosen ya, Up langsung baca. Biar level karyaku gak turun. Kesetiaan kalian sangat mempengaruhi level karyaku. Mohon bantuannya ya ....
Untuk cerita Yang Terluka insha Allah besok akan mulai up lagi. Terus dukung karya aku ya ...
Happy reading ...