
"Riana, semoga kamu baik-baik saja di sana," ucapnya kepada sebuah figura kecil yang sedang dia tatap.
Bibirnya mampu tersenyum, tapi hatinya sangat terluka. Bukannya dia lari dari masalah. Dengan Amanda pergi, mungkin akan membuat keadaan kembali membaik.
Pada kenyataannya sudah lebih dari empat bulan ini Amanda hanya menjadi penghias dalam rumah Rion. Mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal. Sakit? Sudah pasti. Tapi, mereka tetap kompak dalam menjaga Riana.
Rion sedang mengusap lembut rambut Riana yang hendak terlelap. Wajah Riana sangat mirip Amanda. Apalagi senyumnya, kedua anak Rion tidak ada yang mirip dengannya. Echa mirip sekali dengan mamahnya begitu pun Riana.
Ayah, Bunta mana? Li dak yat bunta.
Kalimat itu yang terngiang-ngiang di kepala Rion. Pertanyaan putrinya hari ini mampu dia jawab. Tapi besok? Lusa? Dan seterusnya. Apa masih bisa dia membohongi putrinya?
Rion mencium kening Riana, laku menyelimutinya. Ada sesak di hatinya. Suara ponsel membuyarakan rasa sesak itu.
"Iya, gua ke sana."
Gio lah yang menghubungi Rion, ada sesuatu yang harus dia bicarakan. Namun, Gio memilih untuk membahas semuanya di rumah Arya. Dia takut jika, Echa syok.
Setibanya Rion di sana, sudah ada Arya, Azka dan juga Gio. Rion pun mendekat ke arah tiga sahabatnya itu. Gio menyerahkan beberapa lembar foto kepada Rion. Matanya membulat dengan sempurna.
"Bang Sat!" pekiknya.
"Nyari mati tuh orang," timpal Arya.
Tak lama salah satu orang suruhan Gio datang ke kediaman Arya. Gio dan tiga sahabatnya mendengarkan dengan seksama penuturan dari orang itu.
"Dendam?" tanya Rion.
Orang suruhan Gio hanya mengangguk. "Target dia adalah anak dan istri Pak Rion, bukan Neng Echa."
Keempat orang itu sedikit terkejut mendengarnya. "Semenjak kebangkrutan Resky, Dimas tidak bisa diterima di sekolah manapun dan dia dijauhi oleh semua orang. Hingga dia memilih mengakhiri hidupnya. Dan istri dari Resky sekarang berada di rumah sakit jiwa. Karena depresi berat kehilangan putra kesayangannya."
"Dimana Resky?" tanya Rion penuh dengan amarah.
"Sudah ditangani pihak yang berwajib. Bukan hanya anak dan istri Bapak saja yang menjadi targetnya. Keluarga bos juga menjadi sasarannya. Hanya saja, perlindungan keluarga bos sangat rapat dan selalu tercium gerak-geriknya. Tujuannya sama, ingin menghabisi istri dan anak bos yang kembar. Ketika semuanya tiada, dia akan menculik Echa dan menyiksanya hingga dia puas. Itulah rencananya," terang orang suruhan Gio
"Bi adab," pekik Rion.
Semua orang yang berada di ruangan itu penuh dengan amarah. Dan pastinya Gio dan Rion tidak akan membebaskan Resky begitu saja.
Di rumah sakit, Echa terus terdiam. Dia merasa bersalah karena memiliki hati yang keras. Seharusnya dia memaafkan bundanya. Dan pastinya Amanda tidak akan pergi.
"Jika aku memaafkan Bunda, ini tidak akan terjadi," gumamnya.
"Ini bukan salah kamu, ini keinginan Tante Manda. Dia butuh kesendirian untuk menenangkan hatinya. Dan dia juga sangat merasa bersalah kepada kamu, karena kamu telah rela mengorbankan nyawa kamu demi mereka."
"Aku ingin ketemu Bunda," katanya
"Setelah kamu sembuh, kita cari Bunda," ujar Radit.
Psikis Amanda pun sangat terguncang, Radit bisa merasakan itu. Dari raut wajah Amanda saja sudah terlihat jelas, jika dia tenggelam dalam kepedihan.
Sedangkan Rion, dia membaringkan tubuhnya di kamar utama. Aroma tubuh Amanda masih tercium di sana. Ada rasa rindu meskipun belum sampai sehari Amanda meninggalkannya.
Hari-harinya bisa Rion lewati dengan baik tanpa Amanda di sisinya. Dia benar-benar menjadi ayah dan ibu untuk Riana. Dan Riana pun selalu senang bermain bersama Rion.
1 minggu.
2 Minggu.
1 bulan.
Amanda sudah meninggalkan Rion dan juga Riana selama satu bulan lamanya. Ada ruang kosong di hati Rion. Begitu juga Riana.
Riana tumbuh menjadi anak yang mandiri. Dia sudah tidak terlalu bergantung kepada Mbak Ira. Dia bisa bermain sendiri dan juga makan sendiri.
Riana menatap Barbie yang sedang duduk disebuah meja. Tatapan Riana sangat sulit diartikan.
"Bunta, Ayah, tata, Li."
"Li ngin pelti meleta." Riana berlari ke kamar utama dan naik ke atas tempat tidur. Dia tengkurap di bantal yang biasa bundanya pakai.
"Li nin Bunta." Mbak Ina dan juga Mbak Ira tak kuasa menahan air matanya. Anak sekecil itu sudah bisa menyembunyikan perasaannya.
Ketika sang Ayah datang, Riana kembali menjadi anak yang riang. Sungguh Riana yang tidak ingin membuat ayahnya bersedih dan marah.
Kehadiran Ayanda mampu mengusir kesedihan Riana. Riana selalu memeluk tubuh Ayanda dan tidak ingin lepas dari gendongannya. Ayanda mengerti bagaimana perasaan anak ini. Riana seperti Echa kecil.
"Riana kangen Bunda?" Riana hanya tersenyum.
"Ata Yayah."
Ayanda mengecup kening Riana sangat dalam. Dia sangat merasakan kerinduan yang dirasakan Riana kepada ibunya.
Selama ini bukannya Gio tidak mencarinya, hanya saja akses Amanda seperti ada yang membatasi. Gio juga yakin, ada campur tangan Juna di dalam kepergian Amanda. Hanya orang-orang penting yang mampu membatasi pencarian seseorang.
Echa diam-diam sering mencari bundanya bersama Radit. Dia tidak tega melihat Riana yang selalu bilang, "Li anen bunta." Hati Echa terasa tercabik-cabik mendengarnya.
Sebisa mungkin Echa menjadi pelipur luar bagi Riana. Dia selalu meluangkan waktunya untuk bermain bersama Riana, meskipun dia juga tengah sibuk mempersiapkan ujian nasional. Terkadang saking lelahnya, Echa tertidur bersama Riana dengan buku yang masih di tangan.
Hati Rion sangat sakit, beginilah nasib seorang suami yang ditinggal oleh istrinya. Perlahan Rion mengambil buku yang ada di tangan Echa. Dia menyelimuti kedua putrinya, lalu mengecup kening mereka bergantian.
Rion hanya bisa menatap foto pernikahan mereka yang berada di atas nakas. Dia tersenyum pahit melihatnya. Sorot matanya sangat sulit untuk diartikan.
Hari ini Echa pulang agak siang karena sedang ada rapat guru-guru. Dia langsung menemui Riana di rumah ayahnya. Riana berhambur memeluk Echa.
"Ain ta," imbuhnya.
"Kakak ganti baju dulu, ya." Riana pun mengangguk.
Setelah berganti pakaian, Riana mengajak Echa bermain di halaman depan. Mereka sangat asyik bermain. Riana yang tertawa lepas dan Echa pun ikut bahagia melihat adiknya riang seperti itu.
Riana berhenti dan menuju pagar, ada sepasang mata yang menatap Riana dengan tatapan pedih.
"Bunta," teriak Riana.
Echa berlari ke arah Riana, adiknya sudah mengeluarkan air mata. "Kenapa Ri?" Echa pun menggendong tubuh Riana.
"Bunta," ucapnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Riana menunjuk ke arah seberang jalan.
Echa melihat ke arah kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa di sana. "Tidak ada Riana, Sayang. Tidak ada siapa-siapa di sana."
"Bunta," panggilnya.
Hati Echa sakit mendengar panggilan lirih adiknya. Betapa adiknya ini sangat merindukan Bundanya. Echa membawa Riana ke dalam rumah.
Seseorang melambaikan tangan ke arah Riana dan tangis Riana pun pecah.
"Bunta ... Li au bunta ...."
*****
Happy reading ....
Aku sedih, views turun terus padahal aku up 2 bab loh sehari 🤧 Aku lagi semangat nulis masa kalian beginiin aku sih 🤧
Ayo dong tinggalin jejak kalian di kolom kimentar, ketika ada notif Up LANGSUNG BACA JANGAN TIMBUN-TIMBUN BAB.
Hari ini aku up 2bab, 1 bab lagi terbit jam 12.00.