
Riana dan Echa tertawa puas ketika berada di dalam mobil. Rion yang baru saja masuk ke dalam mobil hanya menggelengkan kepalanya.
Riana dan Echa ber-tos ria seraya tersenyum penuh kemenangan. Riana pun menceritakan tentang keusilan Aska ketika pagi hari. Rion dan Echa pun tertawa.
"Usil banget tuh anak," ujar Echa.
Rion memarkirkan mobilnya di kedai es krim kesukaan Riana. Wajah bahagia Riana terlihat sangat jelas.
"Ayo!" Riana pun menggenggam tangan Rion dan Echa. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Vera yang baru saja keluar dari tubuh toko es krim tersebut.
Vera terkejut ketika melihat anak Rion menggandeng mesra tangan wanita yang dia kenali. Namun, Rion, ECha dan Riana tidak menyadari jika, itu adalah Vera.
Vera kembali masuk ke toko es krim tersebut dan memilih mengintai mereka bertiga. Dia mengirimkan gambar kepada Dea yang baru saja dia ambil.
Riana dengan riangnya menyuapi Rion dan Echa. Mereka tertawa bahagia, seperti keluarga bahagia.
"Siapa wanita itu sebenarnya?" gumam Vera.
Echa mengecek ponselnya, ada notif pesan dari Ronald. Echa hanya tersenyum tipis. Echa memberikan kode kepada Riana dengan tatapannya. Riana di gadis cerdik pun mengangguk. Mereka semakin dekat dan terus saling bercanda dan berpelukan. Menghabiskan waktu bersama ayah tercinta mereka.
Sedangkan di sekolah, Dea masih menunggu Chika yang masih ada jam pelajaran tambahan dadakan. Matanya melebar ketika melihat pesan dari Vera. Hatinya sangat sakit melihat gambar tersebut.
Tak lama sebuah mobil Alphard putih berhenti di depan Dea. Dea memicingkan matanya ketika melihat siapa yang keluar dari mobil itu.
Dea tidak berani menatap manik mata cantik itu, Sedangkan wali murid yang lain tersenyum hangat kepada Ayanda. Mereka meminta maaf atas sikap mereka kemarin. Karena yang bersalah bukanlah Ayanda, Ayanda hanyalah sebagai korban dari fitnah yang tersebar.
Mereka berbincang hangat layaknya teman. Tutur kata lembut dari Ayanda membuat semua orang merasa nyaman mengobrol dengan Ayanda. Meskipun dia adalah istri pengusaha kaya raya, namun Ayanda tidak sombong dan songong seperti istri para pengusaha lain.
Apalagi Ayanda selalu membawa makanan untuk para wali murid yang sedang menunggu anak-anak mereka. Tak lupa juga, dia membagikan makanan yang dibawanya untuk pedagang pinggir jalan.
"Makasih banyak Mom," ucap salah seorang wali murid.
"Baik banget sih Mom. Hati Mom terbuat dari apa sih?" ujar wali murid yang lain.
"Ya ampun kok pada berlebihan begini. Saya hanya ingin menjalin silaturahmi, kok," sahut Ayanda seraya tersenyum
"Tantenya Chika, sini gabung sama kita," panggil salah seorang wali murid kepada Dea.
Dea pun tersenyum ke arah para wali murid yang lain. Dea menganggukkan kepalanya dan menangkupkan kedua tangannya.
Ayanda menatap hangat ke arah Dea, sedangkan Dea tidak berani menatap Ayanda.
"Mommy!" teriak Aksa.
Aksa pun memeluk tubuh Ayanda, diikuti Aska yang juga memeluk tubuh sang Mommy.
"Mommy, ulang tahun Adek ingin makanan-makanan bareng teman-teman kelas Adek, ya."
"Iya Mom, Abang pun ingin."
"Baiklah," sahut Ayanda.
Wali murid yang ada di sana hanya melebarkan matanya. Semudah itu Ayanda menuruti permintaan anak-anaknya.
"Untuk para wali murid di sini, saya tunggu kedatangan kalian semua untuk menghasdiri acara syukuran bertambahnya umur kedua putra saya Minggu besok, ya. Tidak usah membawa apa-apa, kita hanya makan-makan saja," ucapnya sangat sopan.
"Tapi, kami gak tahu rumah di kembar Mom," kata salah seorang wali murid.
"Lebih baik berkumpul di sini saja, nanti ada kendaraan khusus yang menjemput anak-anak dan ibu-ibu semua," jawabnya.
Semua wali murid pun mengangguk setuju. Ayanda pun pamit kepada para wali murid yang masih rada di sana.
"Ya Allah, baik banget ya. Meskipun kaya tapi, gak sombong sama sekali," ucap wali murid yang memakai kerudung.
Dea mencuri dengar apa yang sedang mereka katakan. Ini kesempatan untuk Dea dan Vera mengetahui di mana rumah Gio.
Ketika malam tiba, keluarga kecil Gio berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati cemilan yang baru saja Echa pesan melalui aplikasi online.
"Dad, Mommy mau mengadakan acara makan-makan untuk merayakan ulang tahun si kembar Minggu depan," ujarnya.
Gio yang baru saja menyesap kopi pun menatap ke arah istrinya. "Sewa EO (event organizer) aja. Daddy gak mau Mommy kecapean. Jadwal Mommy minggu ini kan padat banget," sahut Gio.
Echa yang melihat dan mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari sang papa untuk sang mama tersenyum bahagia.
"Kok Echa iri ya sama kalian," godanya.
Gio dan Ayanda pun merentangkan tangan mereka. Echa dengan segera memeluk tubuh kedua orangtuanya.
"Tetaplah menjadi keluarga harmonis hingga Kakek Nenek. Tetaplah temani Echa dan berada di samping Echa hingga kalian melihat cucu-cucu kalian lahir," lirihnya.
Hati Ayanda sangat terenyuh mendengarnya. Ucapan yang benar-benar tulus dari seorang Elthasya Afani untuk kedua orangtuanya.
Si kembar yang sudah selesai menghabiskan cemilan, ikut bergabung dengan sisa coklat yang ada di jari mereka.
"Kembar!" seru Echa.
Aksa dan Aska pun berlari ke kamar mereka seraya tertawa puas. Mereka langsung mengunci kamar. Sudah dipastikan, kakaknya akan marah.
Wajah Echa sudah penuh dengan cokelat. Si kembar dengan sengaja mengelapkan tangan mereka ke wajah Echa.
"Perawatannya mahal ini," keluhnya.
"Coba cek rekening kamu. Sudah Papa transfer untuk biaya perawatan wajah kamu."
Wajah Echa pun berbinar mendengarnya. Dengan cepat dia meraih ponsel di atas meja. Bibirnya tersenyum bahagia melihat isi saldonya yang semakin membuncit.
"Makasih Papa," ucapnya. Echa hendak mencium Gio namun, ditolak mentah-mentah olehnya.
"Cuci muka dulu," titahnya.
Echa pun merengut kesal, sedangkan Ayanda tertawa melihat tingkah Echa. Dengan usilnya Echa mengecup pipi Ayanda dan tertinggal bekas cokelat di pipi mulusnya.
Pelakunya tentu saja kabur karena takut dengan amukan sang singa betina. "Love you, Mom," teriaknya sambil melayangkan ciuman jarak jauh.
Gio pun tertawa melihat tingkah laku anak gadisnya ini. Dia mengambil tisu basah lalu disapukan ke bekas cokelat yang menempel di wajah istrinya.
"Makasih, Dad." Ayanda menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Coba Mommy cek saldo di rekening yang Daddy berikan," titahnya.
Ayanda membuka ponselnya. Matanya melebar ketika melihat digit nol yang semakin bertambah.
"Makasih Dad," ucapnya sambil mengecup bibir sang suami. Gio tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia menahan tengkuk Ayanda dan bertindak lebih dalam lagi.
"Papa ... Mama ...!" pekik Echa yang baru saja selesai mencuci wajahnya. Dia sudah menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
Kedua orangtua Echa yang baru saja akan masuk ke dalam babak baru pun terpaksa berhenti karena mendengar pekikan dari Echa.
"Kalian telah menodai mata suci Echa."
****
Ada notif Up langsung baca, jangan ditimbun-timbun.