
Amanda menatap Juna dengan penuh kekecewaan. Hatinya sakit, kecewa dan tidak menyangka. Ternyata Kakaknya yang selalu dia banggakan malah memiliki sifat yang sangat tidak manusiawi.
"Di sana Mamih pasti sangat kecewa melihat sikap Kak Jun seperti ini," lirih Amanda.
Mendengar kata Mamih membuat Juna menundukkan kepala, bayangan tentang wajah sang Mamih mengitari kepalanya.
"Maafkan Juna, Mih," sesalnya.
"Kak Jun tahu, bertahun-tahun Nda mencoba untuk menutup telinga tentang kabar di luaran sana tentang Kak Jun. Nda sangat yakin, itu hanyalah fitnahan belaka. Karena Nda tau Kak Jun, Kak Jun tidak akan melakukan itu. Tapi ternyata?" Amanda pun terisak.
"Kak Jun yang Nda banggakan malah menjadi sosok yang menyeramkan. Kak Jun yang Nda anggap sebagai pahlawan ternyata seorang pembunuh handal. Apa Kak Jun tahu bagaimana perasaan Nda?" Emosi Amanda sudah meluap dan tidak terkontrol.
"Seperti ditusuk belati panjang berkali-kali hati Nda, Kak. Sakit hatI Nda," ucapnya seraya menangis.
"Hanya Kak Jun yang Nda miliki. Hanya Kak Jun tempat Nda untuk pulang dan berkeluh kesah. Hanya Kak Jun keluarga yang Nda miliki. Tapi, kenapa Kak Jun seperti ini?" teriaknya.
"Nda seperti anak sebatang kara saat ini. Tidak memiliki keluarga dan juga tidak ada tempat untuk mengadu. Tempat yang selama ini Nda anggap nyaman, sekarang telah berubah menjadi neraka jahanam. Sungguh kecewa Nda, Kak Jun," ungkapnya yang telah hentinya menangis.
"Kak Jun melakukan ini semua karena Kak Jun ingin menebus kesalahan Kak Jun kepada istri Kak Jun. Ayanda adalah reinkarnasi dari Meera, dan Kak Jun ingin bersama dia."
Semua orang tersentak mendengarnya. Apalagi Gio yang sudah bersiap menghantam wajah Juna. Sentuhan hangat tangan Ayanda mampu sedikit meredamkan emosi Gio.
"Wajah serta sikapnya sama persis seperti Meera. Dan Kak Jun ingin memilikinya."
Plak!
Tamparan keras mendarat sempurna ke pipi Juna. Tamparan yang berasal dari tangan Amanda.
"Kak Meera sudah meninggal Kak. Itu Mbak Aya, istri Pak Gio dan juga mantan istri Bang Rion," sentak Amanda.
"Dia istri Kak Jun, dia Ameera," tolak Juna.
Gio melepaskan rangkulan lengan istrinya. Dia mendekat ke arah Juna dengan wajah yang sangat sulit diartikan.
"Ini alasanmu mencelakai ketiga anakku?" ucap Gio penuh dengan kemarahan.
"Hahahaha, anakmu hanya dua. Satu lagi hanyalah bocah pengganggu dan bukan anakmu," sahut Juna yang menatap tajam ke arah Gio.
Bugh!
"Si Alan!" pekiknya.
Bukan hanya Gio yang menghajar Juna, Rion dan Arya yang sedari tadi menahan emosi pun ikut andil untuk menghajar Juna. Amanda hanya menjadi penonton dari kebrutalan yang tiga pria ini lakukan kepada kakak angkatnya. Sedangkan Ronald, sedang duduk manis menonton acara yang jarang sekali terjadi. Biasanya Ronald lah yang harus melakukan kegiatan tersebut.
Wajah Juna pun sudah bersimbah darah, tapi senyum licik masih terukir dari bibirnya.
"Aku akan mendapatkan Meera ku," ucapnya.
Gio sudah mengangkat tangannya namun, suara sang istri membuatnya mengurungkan niatnya. Ayanda menggelengkan kepala. Seolah memberi isyarat untuk tidak melakukan itu lagi.
Ayanda menarik kursi tepat di hadapan Juna. Dia duduk di sana dengan menggenggam tangan Gio yang berdiri di sampingnya.
"Apa karena aku, kamu melakukan hal kejam ini?" tanya Amanda penuh dengan kelembutan.
"Meera, itu kamu kan, Meera."
"Aku Ayanda bukan Ameera," sahut Ayanda.
"Tolong jawab pertanyaan ku yang tadi," pinta Ayanda lagi.
Juna menatap lekat-lekat ke arah wajah Ayanda. Yang ada dipenglihatannya itu adalah Ameera.
"Aku tahu kamu sangat menyayangi anak-anakmu. Terlebih putrimu hasil buah cintamu dengan suami adikku. Dia adalah ancaman terbesar untukku dalam mendapatkan kamu. Karena dua wanita pejuang cinta pun kalah sama anakmu itu," jelas Juna.
"Dan dua anak kembar itu ... jika mereka mati, tidak akan ada ikatan yang lebih kuat lagi antara kamu dengan suamimu. Terlebih kamu tidak bisa mengandung lagi, jadi tidak akan ada anak diantara kalian. Itu lebih mudah untukku memisahkan kalian."
Ayanda dan semua orang yang berada di sana tersentak mendengar penuturan dari Juna. Alangkah picik dan sadisnya hati dan pikiran Juna.
"Sebegitu yakinnya kamu akan dapat memisahkan aku dengan suamiku?" tanya Ayanda.
"Kenapa tidak? Aku akan menjebak suamimu dengan Cantika dan melaporkannya ke media. Dan sudah pasti nama suamimu akan tercoreng serta perushaaannya akan dilanda masalah besar. Dan kamu juga pasti akan menceraikannya. Bukankah kamu tidak suka dikhianati?"
Ayanda menggelengkan kepalanya. Ternyata sedikit banyak Juna mengetahui tentang dirinya. Apa yang dikatakan asistennya tentang seseorang yang selalu mengikuti dirinya benar adanya. Namun, Ayanda tidak pernah bercerita kepada Gio. Dia tidak ingin suaminya semakin khawatir.
"Aku memang tidak suka dikhianati, tapi aku percaya suamiku bukanlah orang yang seperti itu. Harta dan tahta yang suamiku miliki tidaklah membuatnya lupa diri serta lupa istri. Dia selalu mengutamakanku serta anak-anakku," balas Ayanda.
Ada raut kemarahan di wajah Juna ketika Ayanda mengatakan hal seperti itu dengan tangan yang terus menggenggam tangan suaminya. Dan kali ini, Gio mengecup mesra puncuk kepala Ayanda di hadapan Juna.
"Juna, aku ini bukan istrimu. Aku adalah istri dari Giondra Aresta Wiguna. Istrimu sudah menghadap sang pencipta karena kejahatanmu," lanjut Ayanda.
"Tidak! Aku tidak membunuh Meera. Aku tidak membunuhnya," teriak histeris Juna.
"Jika bukan kamu, lalu siapa yang membunuhnya?" tanya Ayanda lagi.
"Bukan aku, aku tidak akan tega membunuh isteri dan anakku. Aku tidak sekejam itu," lirihnya.
Mereka yang berada di sana hanya saling melirik tidak mengerti. Juna seperti memiliki dua kepribadian.
Amanda yang masih kecewa pun mengusap lembut pundak Juna. Bagaimana pun dia juga merasakan ada hal yang aneh pada diri kakaknya.
"Kak Jun, siapa yang membunuh Kak Meera?" tanya Amanda lembut.
"Minuman yang dibawakan Cantika yang katanya obat untuk menyembuhkan penyakit Meera."
Mata mereka yang ada di sana pun melebar dengan sempurna mendengar penuturan dari Juna.
"Setelah Meera meminumnya, dia langsung tertidur. Tidur untuk selamanya," ucap Juna yang kini terisak.
"Meera pergi bersama anakku juga, putri cantik ku," lirihnya,
Setiap perkataan Juna terasa sangat menyayat hati bagi mereka yang mendengarnya. Dapat dirasakan penyesalan yang mendalam yang Juna rasakan.
"Ijinkan Kak Jun untuk memiliki Ayanda. Dia adalah Meera, Kak Jun ingin menebus segala dosa yang sudah Kak Jun perbuat kepadanya. Bermain di belakangnya hingga menghasilkan Chika. Anak Kak Jun bersama Cantika."
Amanda pun menggeleng dan mengusap rambut Juna. "Kak Jun tidak boleh mengambil apa yang bukan milik Kak Jun. Mbak Aya milik Pak Gio. Dia bukan Kak Meera, Kak Meera sudah bahagia di sana dan sudah pasti bertemu dengan Mamih," terang Amanda.
Air mata Juna pun tumpah, mendengar nama Mamih serta Meera seperti sayatan pilu yang dia terima.
Gio menatap istrinya begitu pun istrinya. Mereka berdua mendekat ke arah Amanda dengan tangan yang tak saling melepas dari genggaman.
"Bawa Kakakmu ke psikiater. Setelah itu, barulah kita proses dia secara hukum," imbuh Gio.
Amanda pun mengangguk, dia menatap dua orang di depannya dengan rasa terimakasih yang luar biasa. Meskipun sudah disakiti, mereka berdua masih memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi.
Gio menyuruh Ronald dan anak buahnya untuk membawa Juna ke psikiater. Dan mereka pun pergi meninggalkan gudang tersebut.
Ayanda terlebih dahulu keluar dari gudang untuk menerima telpon dan masuk ke dalam mobil. Baru saja dia hendak membuka pintu mobil, seseorang memanggilnya dan menancapkan pisau ke perut Ayanda.
"Mommy!" teriak Beeya.
***
Nungguin Bang Duda gak nih? 😁