
"Kembalikan!" sentak Echa.
Radit hanya terkekeh mendengar raut kesal gadis di hadapannya. Dia mengecek ponsel Echa dan dia pun hanya berdesis.
"Ini cowok yang bikin kamu Meleng pas nyebrang," ucap Radit.
Echa memicingkan matanya, ada raut tidak suka di wajahnya. "Handphone kamu rusak, besok aku ganti yang baru," ucap Radit sambil memasukkan ponsel Echa ke dalam saku celananya.
"Gak rusak, itu cuma ke gores doang," sahut Echa.
"Kamu denger kan, tadi aku bilang apa sama Papa kamu. Aku akan bertanggungjawab semua. Termasuk mengganti handphone mu," jelas Radit.
"Aku mohon, kembalikan ponselku," pinta Echa dengan wajah yang mengiba.
Radit melihat wajah Echa sendu seperti itu akhirnya tidak tega. Dia memberikan ponsel Echa namun, ketika tangan Echa hendak meraihnya diangkatlah ponsel itu.
"Siapa nama mu?" tanya Radit.
"Ck, tidak usah pura-pura tidak tahu. Di ranjang ini sudah tertulis kelas siapa namaku," ketus Echa.
"Ya sudah, ponselmu akan aku buang. Besok aku ganti yang baru." Radit hendak memasukkan ponsel Echa ke dalam sakunya namun, ditahan oleh Echa.
"Namaku Elthasya, keluarga dan sahabatku memanggilku Echa."
Radit pun tersenyum, dia mengulurkan tangannya ke hadapan Echa. "Aku Raditya," katanya.
Echa melihat tangan Radit lalu dia pun menyambut tangan Radit dengan ekspresi datar dan dingin. Hingga suara langkah yang tergesa-gesa mendorong pintu dengan sangat kerasnya. Matanya memicing tajam ke arah tangan yang saling berjabat.
Plak!
Tamparan keras dan terasa panas mendarat dengan sempurna di pipi Radit. Radit hanya tersenyum sambil memegang pipinya yang sudah dipastikan merah. Sedangkan Echa sangat terkejut melihat tindakan mamahnya.
"Pasti kamu kan yang nabrak anak saya hingga seperti ini. Ngaku!" bentaknya dengan suara paling tinggi.
Satu pukulan mendarat di pipi Radit lagi. Kali ini Radit hampir tersungkur dan ada darah di sudut bibir Radit.
Rion sudah menarik kerah baju Radit dan matanya menyiratkan emosi yang tidak terkontrol. Echa yang melihatnya sangat amat ketakutan. Dia takut jika, ayahnya menyakiti Radit.
"Aw." Ringisan Echa membuat Radit dengan cepat menekan tombol darurat membuat kedua orangtua Echa membeku.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaan Echa. "Cepat tangani dia, Dok. Tadi dia kesakitan," ujar Radit dengan wajah yang penuh dengan kepanikan.
Dokter pun memeriksa kaki Echa. Dokter hanya mengatakan tidak apa-apa. Karena jika kakinya bergerak sedikit akan terasa sakit dan ngilu.
Radit pun mengelus dadanya merasa dia lega. Echa menatap Radit dengan sorot tak terbaca. Mata mereka pun bertemu, mereka saling pandang satu sama lain. Manik mata merkea seolah sedang berbicara.
Gio datang dengan membawa bungkusan makanan. Dahinya mengerut ketika melihat sudut Radit terluka. "Kalian apakan Radit?" tanya Gio kepada istri dan Rion.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rion pada Radit yang sedang menyeka sudut bibirnya.
"Tidak apa-apa, Om. Saya sudah siap menerima semua ini, kok."
Hati Echa terenyuh mendengar penuturan Radit. Ucapan Radit terdengar sangat tulus, dan apapun yang dilakukan oleh orangtua Echa terhadapnya, Radit selalu menerima dan menyunggingkan senyum.
"Pa, ada tisue basah sama Betad*ne di dalam tas Echa. Bersihkan dengan itu," ujar Echa.
Gio membuka tas Echa dan mengambil apa yang dikatakan oleh putrinya. Sebelum Gio mengobati Radit, Gio menjelaskan kronologi kecelakaan putrinya kepada Rion dan juga Ayanda. Agar mereka tidak salah paham. Terlebih, Radit bertanggungjawab atas semua biaya pengobatan Echa.
"Biar Mommy yang mengobati lukanya," ujar Ayanda pada Gio.
"Maafkan Tante ya, Radit," ucap Ayanda tulus sembari mengobati luka Radit.
"Tidak apa-apa, Tante."
Suara pintu terbuka membuat semua mata tertuju pada pintu kamar. "Sayang, kamu tahu dari mana ...."
***
Yang ingin tahu kenapa Riza berubah? Insya Allah tengah malam aku up ya .. tapi, aku Boleh minta tolong gak?
Kalo Bang Duda up langsung dibaca ya jangan ditimbun, cs mempengaruhi level karya ku. Biar semangat nulisnya kalo tiap bulan level naik.
Happy reading ...