
"Mau ke mana lu?" pekik Rion.
Jam sebelas siang Arya sudah membereskan mejanya. Dan bersiap untuk pergi. Namun, tarikan di kerah kemeja Arya membuat langkah Arya terhenti.
"Lepasin, leher gua kecekek." Rion pun melepaskan tarikannya.
"Mau ke mana lu?" sentak Rion lagi.
"Mau jemput anak lu Rion Juanda. Mau beliin apa yang diminta sama anak gadis lu," geram Arya.
Rion menatap Arya dengan tatapan yang tidak biasa. Membuat Arya sedikit takut.
"Bhas, kenapa lu sayang banget sama anak gua? Terutama si Echa?" Pertanyaan ini yang selalu berputar-putar di kepala Rion selama tiga belas tahun ini. Arya seperti menjadi ayah kedua bagi Echa.
Arya pun mendudukkan kembali tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia memejamkan matanya sejenak, mengenang kebersamaannya dulu bersama Echa kecil.
16 tahun yang lalu ...
Arya tidak sengaja bertemu Ayanda di salah satu retail milik Genta Wiguna. Ternyata Ayanda bekerja di sana. Arya pun menanyakan keberadaan Echa. Seketika wajah Ayanda pun murung. Setelah Ayanda menceritakan keadaan Echa, Arya memaksa Ayanda untuk mempertemukannya dengan Echa kecil.
Ayanda pun menyetujuinya, tapi dengan syarat Arya tidak boleh memberitahukan keberadaannya kepada Rion. Mau tidak mau, Arya pun menyanggupi syarat yang diberikan Ayanda. Asalkan dia boleh menemui Echa kapan saja.
Tiba sudah mereka di salah satu rumah sakit di Bogor. Baru saja masuk ke ruang perawatan Echa, kakinya terasa sangat sulit digerakkan. Dia melihat seorang anak yang berusia dua tahun sedang terbaring lemah di ranjang pesakaitan dengan segala selang di tangannya. Meskipun dalam keadaan lemah, anak itu masih bisa tersenyum.
Hati Arya sakit melihatnya. Ingin sekali dia memberitahu Rion karena selama ini Rion juga tak hentinya mencari anak dan istrinya yang telah dia terlantarkan.
"Ayah?"
Kata itu yang membuat dada Arya terasa sesak. Mata anak itu sangat berbinar dan dia merentangkan tangannya meminta untuk dipeluk.
Dengan hati yang sangat perih Arya mendekat ke arah Echa kecil dan memeluknya. "Ayah Echa?"
Air mata Arya pun menetes. Apakah anak ini sangat merindukan ayahnya. "Om bukan Ayah Echa. Om teman Ayah Echa." Wajah kecewa dan sedih nampak sekali di wajah pucatnya.
"Om, bisa bawa Ayah ke sini?" Bibir Arya tersenyum tapi hatinya menjerit penuh kepedihan.
"Tidak bisa, Ayah Echa sedang berada jauh. Tapi, Echa bisa menganggap Om seperti Ayah Echa. Apapun yang Echa minta akan Om turuti."
"Bener? Main juga?" Arya pun mengangguk. Wajah sedih Echa pun berubah menjadi riang dan tubuhnya kembali bergerak aktif. Mata Arya melebar ketika melihat darah Echa sudah naik ke selang infus.
Arya panik dan langsung memanggil dokter. Tapi, tidak dengan bocah ini. "Huh, sakit lagi." Hanya itu yang Echa kecil ucapkan.
"Cha, semua alat ini apa tidak membuat kamu sakit?" Echa pun menggeleng.
"Satu yang membuat Echa sakit. Belum bisa ketemu Ayah Echa."
Dari ucapan Echa itulah yang membuat Arya selalu merasa bersalah kepada Echa. Karena dia sudah mau mengikuti keinginan Ayanda. Padahal Echa sangat membutuhkan ayahnya.
Seminggu sekali Arya akan menyempatkan waktu untuk ke Bogor menemui Echa kecil dan mengajaknya jalan-jalan. Setiap ada tukang mainan, Echa hanya bisa memandangnya. Ketika Arya tawari pun, Echa selalu menolak.
"Kata Mamah, Echa tidak boleh merepotkan orang lain." Hati Arya pun terenyuh mendengar ucapan anak balita ini.
Setiap Arya mendatangi Echa, Arya selalu membawakan mainan dan juga pakaian untuk keponakan kecilnya ini. Echa pasti akan sangat bahagia. Dari wajah bahagia Echa lah yang membuat Arya jatuh cinta kepada bocah kecil anak dari sahabatnya ini. Cinta yang dia miliki seperti cinta yang dimiliki seorang ayah untuk putrinya.
****
Hati Rion mencelos mendengar penuturan Arya. "Gua sayang sama Echa, dia udah gua anggap kayak anak gua sendiri."
Sungguh sangat dalam apa yang dikatakan oleh Arya. Hati Rion mencelos mendengarnya. Dan dia juga bahagia karena sahabatnya ini sangat menyayangi Echa.
Sesuai janji Arya, dia menjemput Echa di kediaman Rion. Echa pun sudah bersiap dengan memakai celana jeans panjang dan kaos yang longgar dengan sepatu kets warna putih.
"Makin keren aja penampilan lu," puji Arya. Echa pun hanya tersenyum.
Setelah sampai mall dan toko sepatu yang Echa mau, Echa malah menatap Arya setelah melepaskan sepatu yang sudah dia coba.
"Om," panggil Echa.
"Hm." Arya sibuk dengan ponselnya.
"Om ada uang gak buat beliinnya?" Arya pun menoleh ke arah Echa. Dia pun tersenyum sambil mengacak-acak poni Echa.
"Pilih aja mana yang lu mau. Sekalian pilih satu lagi itu dari Beby," imbuhnya.
"Om beneran ada uangnya?" tanya Echa lagi.
Beginilah aslinya Echa. Ketika dia meminta sesuatu kepada Arya pasti dengan rengekan dan ketidak sabaran. Tapi, ketika sudah datang ke tempatnya, Echa juga yang takut. Dia takut jika Arya tidak mampu membelikannya. Karena apa yang Echa minta itu harganya terbilang mahal.
"Gak usah khawatir, Om akan penuhi janji Om. Begitu juga Kak Beby," sahut Arya penuh dengan kelembutan.
Echa pun memilih dua pasang sepatu sesuai dengan keinginannya. Dan totalnya hampir 30 juta. Setelah selesai berbelanja sepatu, Echa mengajak Arya untuk masuk ke dalam toko perlengkapan bayi.
Echa dengan gembiranya memilih satu demi satu baju bayi yang lucu dan beberapa perlengkapan bayi yang lainnya. Echa bukanlah gadis yang gila belanja diskonan.
Di keranjang yang dia bawa sudah penuh semua dengan aneka baju bayi dari usia 0-12 bulan. Beserta sepatu, kaos kaki, topi dan printilan yang lainnya. Semua yang Echa beli sudah ber-SNI dan juga bahan yang nyaman serta adem untuk bayi.
Arya hanya menggeleng melihat kelakuan Echa. Setelah Sampai kasir, mata Arya melebar dengan sempurna ketika melihat total belanjaannya.
"Hampir dua puluh juta," gumamnya.
Setiap model baju yang Echa ambil itu berjumlah tiga buah. Hanya berbeda warna saja. Sedangkan lebih dari sepuluh model baju yang Echa pilih. Dari baju yang terlucu hingga model aneh-aneh yang Echa pilih. Semuanya Echa pilih dengan warna netral. Karena belum tau jenis kelamin anak Om-nya ini apa.
Sudah tiga paper bag besar di tangan Arya dan juga Echa. "Ini gak salah?" tanya Arya.
"Enggak Om."
"Itu tadi uang lu semua?" Echa pun mengangguk.
"Uang tabungan Echa dari uang jajan bulanan Papa dan Ayah," sahutnya.
"Makasih banyak," ucap Arya.
"Ini buat anak, Om. Jadi, Om gak usah beli baju buat dedeknya," sahut Echa dengan senyum lebarnya.
"Takutnya, Echa keburu berangkat ke Ausi lagi." Arya yang baru saja menyuapkan makanan pesanannya sontak menjatuhkan sendoknya.
"Gak usah bercanda," sentak Arya.
"Serius, Om. Echa akan melanjutkan kuliah di Ausi. Ke sini hanya untuk melepas rindu dengan orang-orang yang Echa sayangi."
****
Up langsung baca ya, aku lagi dag dig dug takut level turun. Kalo turun auto aku End ya Bang Duda-nya.