Bang Duda

Bang Duda
249. Salah Lawan (Musim Kedua)



Rion mendapat telepon dari Arya jika dirinya harus berangkat ke kantor polisi sekarang.


"Yang, Abang tinggal dulu, ya.'


"Mau ke mana?" tanya Amanda.


"Kantor polisi."


"Ngapain?" Amanda menatap tajam ke arah Rion.


"Jangan bilang kalo Abang ...."


"Hahahaha, biar kapok," sahut Rion dengan nada penuh kemenangan.


Amanda hanya menggelengkan kepalanya. Kedekatan Rion dengan Gio, membuat Rion menjadi lelaki yang cepat bertindak. Apapun akan dia lakuka dalam memecahkan segala masalah yang ada.


Ron mencium kening Amanda sebelum pergi. "Ada Mbak Ina yang akan nemenin kamu." Amanda pun mengangguk.


Tubuh Dea mematung dengan sempurna ketika mendengar penuturan dua pria di hadapannya. Ternyata mereka polisi. Dengan sopan, polisi itu mengajak Dea untuk membawanya ke kantor.


Ada rasa takut di hati Dea. Di sini dia tidak memiliki siapa-siapa. Tidak akan ada yang bisa menolongnya jika dia masuk bui.


Apa karena berita ini?


Dea mencoba menerka-nerka. Karena baru kali ini dia dipanggil oleh pihak yang berwajib. Dengan rasa takut dia pun mengikuti kedua polisi tersebut.


Di kantor polisi, sudah ada dua orang yang Dea kenali. Ya, mereka Putri dan juga Vera.


"Sudah lengkap semua," ucap salah satu penyidik.


Mereka bertiga mulai diinterogasi oleh satu orang yang berada di depan mereka. Dan satu orang lain sedang fokus menatap laptopnya dengan jari yang sudah siap menari-nari di atas keyboard.


"Apa benar saudari Putri yang menulis berita ini." Sang penyidik memberikan print-an berita yang Putri tulis.


"Sa-saya disuruh, Pak." Putri menunjuk ke arah Vera dan juga Dea.


"Mereka yang menyuruh saya," lanjutnya.


"Sa-ya hanya mengantar dia, Pak." Vera menunjuk ke arah Dea.


Dea hanya menatap ke arah Vera dengan tatapan tajam. Ini semua ide Vera tapi, kenapa Vera yang menuduhnya. Seakan semua ini adalah kesalahannya.


"Apa benar saudari Dea?"


Dea hanya terdiam. Tidak ada jawaban dari mulutnya. "Diam Anda saya nyatakan iya," tegas Pak penyidik.


"Apa sih motif kalian?" tanya seseorang yang sedari tadi duduk bersama kedua polisi yang menjemput Dea. Dia pun sama memakai jaket hitam.


"Cinta, Pak," sahut Vera.


"Kamu?" tanya orang itu menunjuk kepada Vera. Dengan cepat Vera pun menggeleng. "Dia," ucap Vera sambil menunjuk ke arah Dea.


"Ckckck, penampilan kamu sungguh sangat cantik. Tapi, kenapa hati kamu sangatlah busuk," cibir Endro. Ya, pria itu adalah pengacara dari Rion yang sudah stand by sedari tadi.


Suara langkah kaki terdengar menghampiri mereka semua. Semua mata menatap ke arah seorang pria tampan yang membuat hati Dea berdegup kencang.


"Pantes si Dea mati-matian pengen dapetin ini laki," gumam Vera.


"Masih berani kamu menatap saya?" sinis Rion.


Dea pun langsung menunduk. "Apa Anda mengenalnya Pak?" tanya penyidik ke arah Dea.


"Ya, saya pernah bertemu."


Ucapan Rion terdengar sangat menakutkan. Suasana ruangan ber-AC-pun terasa sangat panas.


"Saksi belum datang?" tanya Rion pada Endro.


"Belum Pak."


Penyidik terus bertanya kepada tiga orang pelaku ini. Hingga suara sedikit gaduh terdengar dari arah luar. Seseorang yang sangat tampan masuk ke dalam ruangan. Tiga wanita itu terheran-heran ketika orang-orang yang berada di sana berdiri menyambut kedatangan orang itu.


"Masya Allah, tampannya," gumam Vera.


"Kapan nyampe?" tanya Rion yang kini duduk di sebelah Gio.


"Baru aja landing."


Gio menatap Vera yang juga sedang menatapnya. Senyuman genit dan menggoda Vera tunjukkan. Rion pun ikut melihat ke arah yang Gio lihat.


Tangan Gio menyuruh Vera untuk menghadapnya. Dengan tidak tahu diri, Vera pun mendekati Gio. Rion dan Remon hanya saling tatap. Dan Remon pun menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Ba-bapak panggil saya?" tanyanya ragu.


Gio hanya menepuk sofa yang berada di sampingnya. Sungguh hati Vera ingin meloncat dari tempatnya. Dia bisa memandang dengan dekat wajah tampan pria itu.


Dengan cepat Vera pun duduk di samping Gio. Mata Vera benar-benar tidak bisa dikendalikan. Tangan Vera sudah mulai berani naik ke atas paha Gio. Lalu, menyentuh tangan Gio.


"Saya tidak percaya wanita secantik kamu ini yang menyebarkan foto itu," ucap Gio dengan senyuman manisnya dan matanya memandang hangat ke arah manik mata Vera. Membuat Vera benar-benar semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.


Apalagi wangi maskulin pada tubuh Gio membuat tangan Vera semakin berani bergerak. Kini tangannya mulai bergerak ke dada bidang Gio. Vera dan Gio tidak mempedulikan di sekitar mereka banyak mata yang menonton mereka.


"Apa yang akan kamu berikan jika saya membebaskan kamu," ucap Gio yang masih menatap Vera.


"Tubuhku akan menjadi jaminannya. Dan aku akan memuaskan mu, Pak," bisik manja Vera.


Seringai licik pun muncul di bibir Gio. Tangan Vera sudah mulai menyentuh pipi mulus Gio.


"Apa kamu yakin bisa memuaskan saya?" Mata semua orang melebar mendengar ucapan Gio.


Tangan Rion sudah mengepal dengan sempurna. Ingin rasanya dia menonjok wajah Gio, beraninya dia bermain wanita di hadapan Rion.


"Tentu saja, Pak," sahut Vera dengan suara manjanya.


"Mon." Tangan Gio sudah meminta sesuatu kepada Remon. Remon pun mengeluarkan satu pack tisu basah.


Gio menatap dua orang yang berada di belakang Remon, dan mereka pun mengangguk patuh. Dua orang itu pun menyeret paksa tubuh Vera agar menjauh dari Gio.


"Apa-apaan ini?" Vera tidak terima diperlakukan kasar seperti ini.


Dia melihat Gio sedang mengelap bekas jejak tangan Vera di tubuhnya. Tidak cukup dengan satu lembar tidur basah. Gio memerlukan hampir lima lembar tisu basah untuk menghilangkan jejak yang menjijikan dari tangan Vera.


"Apa kamu kira kamu lebih pantas dari istri saya?" sentak Gio kepada Vera.


"Kamu hanya mengecoh orang dari penampilan mu. Padahal aslimu tidak lebih dari seorang wanita malam," cibir Gio.


Seorang perempuan datang menghampiri Gio dan merangkul lengannya dengan erat. Sedangkan Dea menunduk dalam. Tidak berani menegakkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Ayanda.


"Tolong bersihkan semua wajah Daddy dengan tissue basah ini," pinta Gio.


Ayanda menatap ke arah Rion namun, Rion hanya menggelengkan kepalanya. Dengan telaten Ayanda membersihkan wajah Gio dengan tangan Gio yang merengkuh pinggang Ayanda.


"Mon, ambilkan baju ganti saya." Remon pun mengangguk patuh.


Remon memberikan baju ganti itu kepada Gio. "Daddy tidak ingin ada jejak wanita itu di baju Daddy," ucapnya sambil menatap tajam ke arah Vera. Gio menarik tangan Ayanda menuju kamar mandi di kantor polisi.


"Kalian tahu kan dia itu siapa?" tanya Remon.


"Mantan istri dari pengusaha bakery yang kalian beritakan itu adalah istri dari CEO Wiguna grup," terang Remon.


Dea, Vera dan juga Putri semakin ketakutan mendengarnya. Wajah Gio memang tampan tapi, dia memiliki sisi kejam yang tidak memandang bulu.


"Kalian salah lawan, malah menantang maut," imbuh Endro.


***


Jangan bosen kalo ada notif UP langsung baca ya ... jangan ditimbun-timbun.