
Satu jam sebelum landing, wajah bahagia Echa terpancar sangat jelas. Dia sangat merindukan kedua orangtuanya. Papanya serta adik-adiknya.
"Bahagia banget ya, Yang." Hanya senyum yang merekah yang menjadi jawaban dari Echa. Echa pun tak segan melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.
"Tidak ada kebahagiaan selain bertemu dengan keluargaku." Sudut bibir Radit terangkat mendengarnya. Kecupan demi kecupan Radit layangkan kepada Echa. Membuat Genta sangat bahagia melihatnya.
"Mau tinggal di mana nanti?" Sebuah pertanyaan yang membuat Echa menegakkan kepala.
"Aku ingin di rumah Mamah. Sampai aku lahiran, boleh?"
"Apapun akan aku ijinkan, Sayang." Echa semakin erat memeluk tubuh Radit. Suaminya tidak pernah mempermasalahkan apapun yang diinginkan oleh Echa. Asalkan istrinya bahagia. Sudah cukup untuk Radit.
"Tapi, kalo Papih minta kamu nginep di rumahnya. Kamu mau kan?" Radit berucap dengan sedikit keraguan. Karena hubungan Echa dengan sang Abang yang tidak terlalu harmonis. Berbeda dengan hubungan Echa dengan Rival.
"Asal kamu gak ninggalin aku selama kita nginep di sana." Masih ada rasa takut di hati Echa. Dia masih enggan untuk bertemu dengan Rindra sang kakak ipar. Yang membuat hubungannya dengan Radit semakin memburuk ketika pacaran dulu.
"Iya, aku gak akan ninggalin kamu. Tangan aku pun akan terus menggenggam kamu. Agar tidak ada yang bisa macam-macam sama kamu."
Echa tersenyum bangga kepada Radit. Sungguh anugerah luar biasa memiliki suami Raditya Addhitama. Sosok pria yang menyayangi Echa dengan sangat tulus. Kasih sayang yang dulu pernah hilang dari ayahnya tergantikan oleh kasih sayang suaminya sekarang.
Pesawat landing dengan selamat di Bandara. Mereka sudah dijemput oleh ajudan pribadi Genta. Radit dengan posesifnya menggenggam tangan sang istri. Apalagi, kehamilan Echa kali ini membuat Echa semakin cantik dan juga berisi.
"Langsung ke rumah Papa kamu?" Genta membuka suaranya di kursi penumpang depan. Echa yang sedang meletakkan kepalanya di bahu Radit mengangguk mantap.
Perjalan dari Bandara ke rumah Gio memakan waktu cukup lama. Karena kondisi jalanan yang cukup padat. Radit tak hentinya mengusap perut istrinya yang sudah membuncit.
"Pegel gak? Atau ada yang dirasa?" Echa menggeleng.
"Nanti pijitin kaki aja pas mau tidur," sahutnya. Radit mengusap kepala sang istri sambil menjawab iya.
Rutinitas Radit sebelum tidur adalah memijat kaki Echa karena sering pegal-pegal. Ketika Echa sangat menikmati pijatan lembut Radit, Radit merasa sangat bahagia. Dan memijat kaki sang istri menjadi candu sendiri untuk calon ayah itu.
Dahi Echa mengerut ketika melihat banyak mobil yang terparkir di depan rumah sang Papa. Begitu juga Genta yang sedikit menatap bingung. Radit menatap ke arah Echa. Hanya gedikan bahu yang Echa berikan.
Radit membuka pintu mobil dan membantu istrinya untuk keluar dari dalam mobil. Ingin rasanya Echa berlari. Namun, tatapan tajam Radit membuat Echa patuh. Radit terus menggenggam tangan Echa. Mereka disambut bahagia oleh para pelayan.
"Tuan, Nyonya sedang ada tamu keluarga Pak Rion." Mata Echa berbinar ketika mendengar nama ayahnya.
"Ayah."
Echa terus menarik tangan Radit agar berjalan sedikit cepat. Sedangkan Genta hanya memperlihatkan tatapan datar. Sulit diartikan. Langkah Echa, Radit dan Genta seketika terhenti ketika mereka mendengar suara bantingan yang cukup keras. Mereka saling tatap dan kemudian melanjutkan langkah mereka kembali.
Mendengar suara wanita yang Echa cintai bergetar. Echa melepaskan genggaman Radit dan berjalan dengan langkah panjang. Dirinya mematung, melihat air mata sang mamah yang menetes dan melontarkan kata-kata yang sangat menusuk di telinga.
"Kenapa kamu tampar dia? Apa salah anakku?"
Dada Echa sedikit sakit mendengar ucapan Ayanda. Dan tatapan tajam itu Ayanda perlihatkan kepada Riana dan Amanda yang sedang menunduk.
Satu kata yang mengingatkan Echa akan masa lalunya. Ditampar oleh ibu sambungnya. Dan masih berbekas sakitnya di hati sampai sekarang.
"Ma-mah."
Semua mata tertuju pada suara seorang wanita yang sangat mereka rindukan. Mereka melihat ada tiga orang yang sedang berdiri tak jauh dari ruangan itu. Menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Sedangkan Genta, bibirnya menyeringai penuh makna.
Rion segera bangkit dari duduknya dan menatap putri yang sangat dia rindukan. Air matanya meluncur begitu saja. Begitu juga Ayanda. Membuat Echa tak kuasa menahan tangisnya. Tangis bahagia dan tangis sakit karena mendengar sebuah kata yang sangat horor di telinganya.
"Dek." Rion berhambur memeluk tubuh Echa dan tak kuasa menahan tangisnya. Begitu juga Ayanda. Sejenak dia melupakan kemarahannya ketika kedatangan putri tercinta.
Amanda dan Riana merasa terselamatkan karena kehadiran Echa. Mereka menganggap masalah ini tidak akan dilanjut lagi. Hanya akan ada adegan haru biru yang tercipta.
"Kalian jangan nangis," pinta Echa. Echa meraih kedua orangtuanya dan meletakkannya di atas perutnya.
"Cucu-cucu kalian sangat merindukan kalian." Air mata Ayanda dan juga Rion tidak bisa terbendung lagi. Mereka menangis haru dan juga bahagia.
Melihat adegan tersebut, Riana mendengus kesal. "Anak kesayangan Ayah datang."
Dengusan Riana terdengar ke telinga Gio. Sehingga Gio menatap Riana dengan tatapan semakin tidak suka. Sedangkan si kembar merasa sangat bahagia bisa melihat kakaknya. Tetapi, mereka membiarkan kedua orangtua kandung Echa melepas rindu terlebih dahulu. Dari kecil, Gio sudah memberi pengertian kepada si kembar siapa Echa sebenarnya. Dan respon si kembar malah di luar dugaan.
"Tak apa, Daddy. Kak Echa adalah Kakak kami. Kakak adalah anak Mommy. Berarti saudara kami juga. Kami tak peduli dari mana asal usul Kakak. Yang kami tahu, kami sayang Kakak."
Didikan yang penuh kasih sayang, membuat si kembar pun penuh dengan kasih sayang. Menyayangi Echa dengan sangat tulus. Seperti mereka menyayangi kedua orangtua mereka. Dan sikap sang kakek yang sering mengutamakan kakaknya pun tidak membuat si kembar sakit hati. Malah justru semakin membuat si kembar ingin menjaga Echa seperti Daddy dan Kakek mereka yang menjaga Echa dengan sangat baik.
"Papa, apa Papa tidak rindu dengan putrimu ini?" Tangan Echa sudah dia rentangkan. Menandakan dia ingin dipeluk oleh super Hero dalam hidupnya.
Dengan senyum yang mengembang, Gio mengahampiri Echa dan memeluk tubuh putrinya yang sedikit membulat. "I miss you, so much."
Gio tidak bisa berkata, dia hanya mengeratkan pelukannya. Menahan rasa haru nan bahagia di hatinya.
"Apa Papa tidak ingin menyapa cucu-cucu Papa?" Gio pun tersenyum. Dia tundukkan tubuhnya dan mengusap lembut perut sang putri.
"Cucu-cucu Aki, tumbuh jadi anak-anak hebat seperti Mamah kalian, ya." Ucapan yang sederhana tapi membuat Echa menitikan air mata.
"Pada lebay," gerutu Amanda dengan tatapan tidak suka.
Genta yang sedang menyapa cucu kembarnya menatap sinis ke arah dua wanita di depannya ini. Namun, mereka tidak menyadari tatapan mematikan dari Genta. Setelah menyapa cucu-cucunya yang sudah beranjak dewasa dan semakin tampan. Genta duduk di depan Amanda dan juga Riana sambil memegang benda pipih di tangannya. Dengan lincahnya jarinya menari-nari di atas layar ponsel.
"Siapkan bukti yang saya perlukan. Kirimkan sekarang juga."
...----------------...
Happy reading ...
Semoga mengobati penasaran kalian .. 😁