
**Hay ...
Mana komen kalian? Sepi banget deh lapakku dah kayak kuburan China 😪
Oiya, sebelumnya aku minta maaf kalo untuk ke depannya gak bisa up tiap hari dan waktu up-nya gak tentu. RL aku sekarang lebih sibuk karena usaha yang aku jalani aku **handle **semua seorang diri karena sang mantan sedang fokus dan mengembangkan bisnis yang lain. Aku usahain up tiap hari kok kalo sempet, doain aja ya supaya ide lancar terus dan aku sehat selalu.
Thank you semuanya ....
Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya ...😁**
...****************...
Ketika matahari sudah menampakkan cahayanya pada bumi, semua orang sudah bersemangat untuk menikmati udara pagi hari di tepi pantai. Tak terkecuali Rion dan Amanda yang masih dalam kondisi belum berbaikan.
Sedangkan Echa berada di kamar Riza. Memastikan jika Riza sudah meminum obatnya. Riza tahu, Echa sedang tidak baik-baik saja. Akan tetapi, dia tidak ingin mengusik karena pasti akan sakit. Apalagi penyebabnya adalah dirinya.
"El."
Echa menatapnya dengan wajah sendu, terlihat jelas siluet kesedihan di mata gadis yang Riza sayangi.
"Aku gak suka kamu murung karena aku," ujar Riza yang kini menggenggam tangan Echa.
"Za, jika aku bisa bernegosiasi dengan Tuhan, aku ingin meminta kepada Tuhan untuk mengambil sedikit sisa umurku dan diberikan kepada kamu," lirihnya.
Riza menangkup wajah Echa, bulir bening jatuh di pelupuk matanya. "Aku dengan keras akan menolaknya. Aku tidak ingin melihat gadis yang aku sayangi terlalu banyak berkorban untuk aku. Cukup kamu temani aku sampai aku menutup mata," jelas Riza seraya mengusap air mata Echa.
"Aku benci ucapan kamu itu, seakan kamu itu pesimis akan hidup kamu sendiri," sentak Echa.
Dia berdiri dan ingin meninggalkan Riza namun, Riza mampu meraih tangan Echa dan menariknya agar masuk ke dalam dekapannya.
"Aku gak suka kamu ngucapin kata itu, aku gak suka." Tangisnya pecah dalam pelukan Riza, membuat hati Riza teramat sakit mendengar suara tangisan gadis yang sangat dia sayangi.
"Maaf." Riza memeluk erat tubuh Echa dan dibalas tak kalah eratnya oleh Echa.
Dari balik pintu, Ayanda meneteskan air mata. Betapa malangnya nasib putrinya ini. Apalagi mendengar suara hati Echa tadi malam membuat dadanya semakin sesak.
Tadi malam pukul 00.15 wib Ayanda ingin mengecek kamar putrinya. Apa sudah tidur atau belum. Dia juga merasa bosan karena Gio sedang sibuk dengan Remon. Ada masalah pekerjaan yang mengharuskan Gio meninggalkan Ayanda untuk beberapa jam ke depan.
Baru saja memegang gagang pintu, samar-samar terdengar suara putrinya yang sedang menumpahkan kesedihannya kepada dua sahabatnya.
"Izinkan gua menyerah satu hari aja," pinta Echa.
"Gua juga butuh ruang untuk menumpahkan segala kesedihan gua. Gua juga perlu waktu untuk menata ulang hati gua agar terlihat baik-baik saja." Ucapan Echa terjeda dan sekarang suara Isak tangis mulai terdengar.
"Padahal setiap hari hati gua sakit, ngeliat Riza yang terus menahan sakit supaya gua gak khawatir."
Ungkapan dari hati Echa yang terdalam dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.
"Kalo lu udah gak kuat, jujur. Jangan terus siksa hati lu kayak gini," sahut Sasa.
"Lu berhak bahagia Cha," timpal Mima.
"Bahagia gua sekarang ini adalah melihat Riza sembuh," sahutnya dengan suara yang sangat bergetar.
Mima dan Sasa memeluk tubuh Echa dengan eratnya. Cewek yang tidak pernah menganggap Riza kini, menjadikan Riza sebagai prioritas hidupnya yang utama.
"Begitu sayangnya kah lu sama Riza? Sampe rela ngelakuin ini semua," tanya Sasa.
Echa menatap kedua sahabatnya secara intens. "Rasa sayang gua ke Riza sama seperti gua sayang kalian berdua."
Echa hanya terdiam, dia sendiri juga bingung dengan perasaannya ini. Ketika Riza mengatakan dia pergi, hati dan tubuhnya sangat menolak. Jujur, Echa tidak mau kehilangan Riza.
"Kalian tahu, sekarang ini tugas gua sangat berat. Gua harus bisa jadi obat untuk Riza tapi, gua juga bisa jadi peluru yang mematikan untuknya."
"Bertahan sakit pergi pun sulit," sahut Mima dan Sasa berbarengan.
"Jika gua bisa berbicara dengan Tuhan, gua hanya ingin minta satu hal. Berikan Riza kesempatan kedua agar dia juga menemukan bahagia," lirihnya.
Seketika Ayanda memegang dadanya yang teramat pedih mendengar ucapan putrinya ini. Apa yang bisa dia lakukan sekarang?
"Terimakasih sudah melahirkan gadis yang sangat luar biasa," ucap Marta yang ternyata mendengar semua isi hati Echa di dalam sana.
"Putra saya sangat beruntung karena menyayangi anak Anda," sambungnya.
Ayanda hanya tersenyum, ada terselip rasa bangga dengan sikap Echa tapi, juga ada rasa sedih yang teramat menusuk sanubari.
****
Aku sayang sama kamu. Rasa sayang ku akan aku bawa sampai mati, batin Riza
Kenapa semakin hari aku semakin ingin selalu dekat dengan kamu? Dan tidak ingin kamu pergi walaupun sekejap, batin Echa.
Dua remaja ini bergelut dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan, Ada dua pasang mata yang menyaksikan kepiluan mereka.
"Putri kita anak yang hebat. Pasti dia bisa melalui semuanya," ujar Gio.
"Semoga saja, Mommy tidak ingin masa remajanya meninggalkan luka yang menyakitkan namun, tak berbekas."
"Echa itu adalah cerminan diri Mommy. Dulu, Mommy juga seperti itu. Selalu saja ingin membahagiakan putri Mommy tanpa pernah memikirkan hati Mommy seperti apa," ungkap Gio.
"Sakit, hancur, terluka selalu Mommy telan sendiri. Menutupi semuanya demi melihat putri Mommy bahagia," sambung Gio.
"Tidak akan ada air mata tanpa bahagia. Hadiah itu tidak selalu dibungkus dengan indah," sahut Ayanda.
Gio tersenyum ke arah istrinya lalu mengecup keningnya. Inilah yang membuat Gio jatuh cinta dan tidak bisa beprapling dari Ayanda. Echa membuka pintu dan terlonjak karena ada mamah dan papanya di balik pintu. Melihat keharmonisan keluarga mamahnya membuat hati Echa tenang dan damai.
"Sudah?" tanya Ayanda.
Echa hanya menganggukkan kepala. Dia mendekat ke arah Ayanda dan menggenggam tangan sang mamah.
"Terimakasih, Mamah sudah banyak berkorban untuk kebahagiaan Echa," ucapnya dengan suara yang sudah bergetar.
"Ternyata sangat sulit, ketika hati sakit tapi bibir harus tertawa. Ternyata rumit, menelan rasa sakit seorang diri agar selalu terlihat tegar dan tidak apa-apa."
Ayanda langsung mendekap tubuh putrinya yang pasti sudah lelah dengan semua dramanya. "Kamu sangat hebat, Mamah salut sama kamu."
"Setelah hujan turun, pasti akan ada pelangi yang indah. Begitulah kehidupan, setelah ada kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. Tuhan sudah menyiapkan kebahagiaan untuk kamu, hanya saja Dia masih merahasiakannya," ujar Gio.
Echa mencoba tersenyum ke arah sang papa tanpa melepaskan pelukan hangat sang mamah. Dibalik pintu, kini Riza menunduk dalam.
Apa aku terlalu memaksa kamu, El? Mencintai tanpa dicintai apa akan seperti ini? Berujung dengan kata TERPAKSA. Maafkan aku El ...
***
Happy reading ...