Bang Duda

Bang Duda
55. Ayanda dan Gio



Seminggu sudah Amanda mendiamkan Rion dan seminggu sudah Ayanda dibuat pusing dengan pengeluaran perusahaan yang sangat besar.


"Kalo kayak gini terus bisa-bisa gulung tikar ini," gumamnya.


Dilihatnya Gio sudah rapih dengan pakaiannya. Sudah hampir dua Minggu suaminya selalu saja melewatkan sarapan dan juga makan malam. Pulang pun selalu tengah malam.


"Dad," panggil Ayanda seraya memeluk pinggang Gio.


"Daddy harus berangkat ya, Mom," ucapnya dan melepaskan pelukan istrinya.


Pergi ke kantor tanpa mengecup kening ataupun mengecup bibir. Sedih hati Ayanda, di masa-masa kehamilannya yang sudah membesar dan dia mengharapkan perhatian lebih namun, suaminya seolah menghindar.


"Sabar ya Nak. Daddy mu sedang sibuk, nanti ada saatnya Daddy bermain dengan kalian lagi," lirihnya.


Hari ini entah kenapa Ayanda ingin sekali pergi ke mall. Ayanda langsung menghubungi Sheza memintanya untuk menemani Ayanda jalan ke mall.


Siangnya Sheza sudah tiba di apartment Ayanda diantar oleh Azkano.


"Kano, aku minjem Sheza ya. Si kembar pengen jalan-jalan," ucapnya.


"Iya Kak, buat calon ponakan aku apa sih yang nggak," balas Azkano sambil mengelus perut buncit Ayanda.


"Kamu jangan ganjen, dan jagain Kak Ay," ucap Kano kepada Sheza.


Sebelum Kano kembali ke restoran, tak lupa Kano mencium kening Sheza dengan lembut. Sheza yang dikecup, hati Ayanda yang sedih dan matanya nanar. Dia rindu perlakuan manis suaminya, dia rindu keposesifan suaminya.


Sheza dan Ayanda pun menuju mall. Sepanjang perjalanan wajah Ayanda sangat muram. Dia selalu mengecek ponselnya secara berkala namun tidak ada chat ataupun panggilan dari suaminya. Membuatnya semakin sedih. Ibu hamil tingkat kesensitifannya lebih tinggi. Begitu pikirnya.


Mereka sampai di mall. Ayanda dan Sheza hanya berkeliling tanpa belanja apapun. Mood Ayanda sangat-sangat jelek hari ini.


Ayanda pun mulai merasa lelah, dia mengajak Sheza untuk makan disalah satu restoran high class. Semua olahan seafood dipesan oleh Ayanda. Padahal dia sendiri kurang begitu suka dengan seafood. Berhubung Sheza pecinta seafood hari ini Ayanda akan memanjakan lidah Sheza.


Baru saja pesanan mereka dihidangkan di atas meja, tiba-tiba wajah Ayanda berubah merah padam. Gelak tawa Gio dengan seorang wanita membuat Ayanda naik darah. Tanpa berbicara apapun, Ayanda langsung menghampiri table suaminya dan juga wanitanya.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Giondra.


"Ini yang Daddy katakan sibuk," bentaknya.


Semua orang yang berada di dalam restoran memusatkan perhatian mereka kepada Ayanda dan juga Gio. Tak terkecuali Sheza yang sangat syok melihatnya.


"Jika kamu sudah bosan denganku, ceraikan aku!" pinta Ayanda dan kini melenggang pergi meninggalkan Gio yang membeku di tempatnya.


Ayanda langsung menghubungi seseorang untuk menjemputnya sekarang juga. Gio pun berlari mengejar istrinya, namun dia tidak menemukan Ayanda. Sopir dan pengawalnya pun masih berada di parkiran.


"Kemana kamu, Mommy?" gumamnya.


Tanpa pikir panjang, Gio langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Remon dan juga wanita itu begitu saja.


Dengan berlari Gio menuju apartmentnya. Dia cari ke semua ruangan tapi, Ayanda tidak ada. Dia menghubungi rumahnya yang lain namun semua penjaga rumah mengatakan jika Ayanda tidak ada.


Rasa khawatir melanda Gio sekarang. Dia mengingat jika kandungan istrinya lemah. Terlalu banyak berpikir dan stress akan berakibat fatal.


Malam pun tiba, semua anak buahnya tidak bisa menemukan Ayanda. Echa pun semakin gelisah dan mulai menangis dipelukan Beby. Mereka sudah berkumpul di apartment Gio tidak terkecuali Rion dan juga Arya.


"Kalo sampe Mamah kenapa-kenapa Echa gak akan pernah maafin Papa," teriak Echa dengan air mata yang bercucuran.


"Ay," panggil lembut Andri.


"Aku melihatnya sendiri, dia merangkul wanita itu. Dia tertawa bahagia, sedangkan denganku ...."


Andri langsung memeluk tubuh Ayanda. Dia tahu Ayanda sedang ingin dimanja suaminya. Masa-masa kehamilan tua pasti merasa serba salah dalam melakukan semua kegiatan. Sudah tidak nyenyak tidur apalagi dalam kandungan Ayanda bukan hanya satu bayi tapi ada dua bayi. Andri tahu, Ayanda hanya ingin perhatian suaminya.


Akhirnya, Ayanda pun terlelap dengan wajah yang masih teramat sedih. Ingin sekali Andri menghubungi keluarganya namun, dia juga kasihan kepada Ayanda. Ayanda ingin menenangkan hatinya saat ini.


Gio sama sekali tidak tidur malam ini. Hatinya sangat tidak tenang. Hingga ketukan pintu membuat wajahnya berbinar. "Itu pasti Mommy," gumamnya.


Gio langsung membukakan pintu dengan semangat. Tatapan tidak bersahabat datang dari Sarah. Ya , dokter Sarah berkunjung ke apartment Gio.


"Kenapa kemarin lu gak bawa kontrol istri lu?" tanya Sarah dengan sedikit emosi.


Gio hanya terdiam, dia benar-benar lupa.


"Lu tau kan, jika obat penguat kandungan itu habis dan istri lu tidak mengkonsumsinya, lu tau kan akibatnya apa?" jelas Sarah.


Tubuh Gio lemas seketika. Sikap yang dia pikir biasa ternyata diartikan lain oleh istrinya. Hingga dia lupa jadwal pemeriksaan kandungan Ayanda. Dan sekarang istrinya tidak ada, dia pun tidak tahu istrinya ada di mana. Dalam pikiran Gio, Ayanda tidak akan nekat pergi ke luar kota


Pagi hari, kram perut dirasakan oleh Ayanda. Namun, ini biasa terjadi di pagi hari. Ayanda bergegas membersihkan diri. Andri mengantarkan sarapan ke kamar Ayanda. Roti bakar dan juga susu ibu hamil. Tak berselang lama, Ayanda sudah keluar dari kamar mandi.


"Makan sarapannya," titah Andri.


Ayanda hanya tersenyum dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia pun memejamkan mata karena sedikit merasa pusing.


"Gua hubungin laki lu, ya. Biar dia nemenin lu di sini," imbuh Andri. Hanya gelengan kepala yang Ayanda jawab.


"Ay ...."


"Gua ke sini pengen nenangin hati dan pikiran," sahutnya.


Jawaban Ayanda membuat mulut Andri terbungkam. Dia tahu Ayanda berkepala batu. Semakin dipaksa semakin keras. Akhirnya, Andri mengalah dan Andri pun meninggalkan Ayanda sendiri di rumah karena dia harus ke toko milik Ayanda di Malioboro.


Di Jakarta Gio sudah berkeliling mencari Ayanda, hingga nama satu kota muncul di pikirannya. Dia menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Ayanda di Yogyakarta. Tak lama Gio pun mendapat kabar jika benar Ayanda ada di Yogyakarta.


"Maafkan, Daddy," gumamnya.


Gio langsung menghubungi Remon agar mempersiapkan penerbangannya ke Yogyakarta hari ini juga. Semua agenda Gio hari ini dibatalkan. Perjalanan Jakarta- Yogyakarta begitu lama bagi Gio. Di dalam pesawat hatinya sudah tak karuhan. Ada ketakutan yang dia rasakan.


Sepeninggalan Andri, Ayanda masih merasakan kram perut dan sakit pinggang yang semakin panas. Kepalanya pun mulai terasa berat. Dia mencoba bangun dan dengan tertatih menuju dapur. Baru saja keluar kamar pandangannya mulai gelap dan Ayanda pun tak sadarkan diri.


"Berapa lama lagi, Mon?" tanya Gio yang sudah sangat gelisah di dalam mobil.


"Sepuluh menit lagi, Boss."


Semoga kamu baik-baik saja di sana Sayang. Kembarnya Daddy jangan menyusahkan Mommy, batinnya.


...****************...


Makasih komennya, ini aku sisipkan rumah tangga Ayanda dan Gio ya. Banyak yang kangen katanya 😀


Tunjuk jari yang kangen sama Papa Gi dan Mamah Yanda.


Jempol, komen dan juga vote ya Sayang ..